Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan


Leave a comment

Sel T sitotoksik pun bisa kelelahan

Sel T sitotoksik (cytotoxic T lymphocyte, CTL) diberi amanah yang cukup berat yaitu melawan sel-sel tumor. Namun adakalanya sel T sitotoksik ini kelelahan sehingga gagal berproliferasi dan tidak bisa menghasilkan IL-2, TNF, dan IFN-gamma.
Apakah CTL yang kelelahan ini menampakkan ciri-ciri tertentu sehingga bisa diketahui oleh kita? Ya, tentu saja. Sebuah penelitian mencoba mengungkap fenomena ini berjudul “Targeting Tim-3 and PD-1 pathways to reverse T cell exhaustion and restore anti-tumor immunity” yang terbit di majalah JEM tahun 2010. Artikel ini cukup laris dan citasi hingga lebih 600 kali dan mendapat score 1 di f1000.
Kelelahan sel T menggambarkan keadaan disfungsi sel T yang pada awalnya diamati selama infeksi kronis lymphocytic choriomeningitis virus (LCMV) pada tikus (Ref). Studi lebih lanjut mengidentifikasi bahwa sel T yang lelah ditandai oleh ekspresi terus menerus dari molekul penghambat PD-1 (programmed cell death 1 ) dan blokade interaksi PD-1 dan PD-L1 (ligan PD-1) dapat membalikkan kelelahan sel T.
Kelelahan sel T CD*+ juga terjadi pada manusia, diantaranya pada kondisi infeksi:
  • HIV
  • HBV
  • HCV
Sebuah studi baru-baru ini pada pasien dengan HIV telah menunjukkan bahwa regulator kekebalan tubuh T cell immunoglobulin mucin (TIM) 3 meningkat pada sel T CD8+ yang kelelahan (Ref). Dengan demikian, Tim-3 dan PD-1 dapat berfungsi sebagai regulator negatif respons sel T.
Penelitian lain telah mengidentifikasi LAG-3 diekspresikan pada sel T yang kelelahan, dan walaupun pengobatan dengan anti-LAG-3 saja tidak mengembalikan fungsi sel T pada tikus yang terinfeksi LCMV, obat bersinergi dengan blokade PD-1 untuk memperbaiki respon sel T dan mengurangi viral load (Ref).
Advertisements


Leave a comment

The myths that make you feel guilty

by Lester Johnson

Every time I open a newspaper, I read a new piece of advice about what I’m doing wrong. I don’t drink enough water, I sleep too much, I don’t sleep enough … it can get depressing. So I decided to do some research myself and find out if I should really feel so guilty.

I’ve always felt bad because I find it difficult to get up in the morning – mainly because I can never sleep before 2 a.m. So while my colleagues arrive for work looking bright and fresh at eight o’clock, I arrive at ten, feeling grumpy. And everyone knows that people who get up early more productive, right? Wrong actually, according to a report from the University of Liege. Two hours after waking, researchers found that early birds and night owls are equally productive. But ten hours after waking, night owls like me are less tired and better able to concentrate! So next time I’m late for work I won’t apologise, I’ll just tell my boss that I’m a night owl – and that’s good!

Like many people, I constantly worry about the amount of exercise I take … or rather don’t take. I know I should spend hours in the gym every day and run marathons just for fun. After all, there’s no such thins as too much exercise, is there? Actually, according to a recent study, there is. Researchers studied top athletes who are now in their fifties and found that some of them had damage to their heart muscles. Men of the same age who didn’t exercise so intensively had no damage. So perhaps I’m doing the best thing by sitting at home on the sofa? Unfortunately not. It seems the best advice is still the old saying: moderation in all things.

Everyone says that young people spend too much time on the internet, and as someone who grew up with technology – a ‘digital native’ – I often worry that I might be an internet addict. But apparently, a recent study of Americans shows that it’s not young people who go online the most, it’s the middle-aged. The study found that18- to 24- year-olds spend around 32 hours a week online, but for 45- to 54-year-olds it’s 40 hours! However, it’s not all good news for digital natives. According to research, we are not as good as older people at actually using the internet. It seems we are too impatient and believe what we read too easily!

I’m not the kind of person who can talk on the phone, shop online and cook dinner all at the same time, but I keep reading that multitasking is an essential modern skill. Does this mean there is something wrong with me? I googled the subject and felt a little better. It seems, after all, that the human brain can’t do several things at the same time: it can only switch quickly from one task to another. If you try to do several things at once, experts say that you simply do each thing less well. According to workplace psychologist Steven Nguyen, we should stop worrying about multitasking. ‘Concentrate on what you are doing and do fewer things better,’ he says. Now that’s advice that I’m happy to follow!

Ref. Cutting Edge Student Book p.10

Quiz


1 Comment

Tentang NF-kappa B

Faktor transkripsi NF-kB adalah protein terkenal dan saking terkenalnya sampai pusing mempelajarinya. Tapi kalo basic signalingnya kudu faham dong, misal dia membentuk dimer di sitoplasma, dalam bentuk tidak aktif karena terikat IkB, dan kalo IkB difosforilasi oleh IKK maka NF-kB jadi bebas dan aktif; nah untuk bagian ini kudu tau.

Suatu pagi buka2 facebook dari Nature Reviews Immunology, dia ngeluarin artikel baru berjudul The non-canonical NF-kB pathway in immunity and inflammation. Seru juga bagian introduction-nya, banyak hal yang tidak saya tahu, dan saya tulis di sini. Mari kita gali lebih dalam tentang faktor transkripsi ini.

Famili NF-kB terdiri dari 5 anggota yaitu NF-kB1 p50, NF-kB1 p52, RELA (p65), RELB, dan c-REL. NF-kB1 p50 dan NF-kB1 p52 dihasilkan dalam bentuk protein prekursor yaitu masing-masing p105 dan p100; keduanya memiliki region IkB homolog pada C-terminal. Pembentukan NF-kB1 p50 dan NF-kB1 p52 matang dilakukan dengan cara degradasi bagian C-terminal tersebut yang dilakukan oleh proteasom; dinamakan pemprosesan p100 atau pemprosesan p105. Pemprosesan p105 adalah konstitutif, namun pemprosesan p100 diatur dengan ketat.

Aktivasi NF-kB terjadi melalui 2 jalur signaling utama: jalur sinyal NF-kB kaninikal dan non-kanonikal. Jalur kanonikal memediasi aktivasi NF-kB1 p50, RELA, dan c-Rel; sehingga dinamakan anggota famili NF-kB kanonikal. Jalur NF-kB non-kanonikal secara selektif mengaktifkan anggota NF-kB yang terikat p100, utamanya adalah NF-kB p52 dan RELB; selanjutnya dinamakan anggota famili NF-kB non-kanonikal.


Leave a comment

Autoimunitas dan penyakit autoimun

antibody-therapyDalam rangka untuk melindungi tubuh dari infeksi dan neoplasia (ketika antigen baru diekspresikan), sistem kekebalan tubuh (sistem imun tubuh) harus mampu membedakan diri (self) dari yang bukan dirinya (non-self). Sistem imun bawaan menggunakan sejumlah besar reseptor permukaan sel nonklonal (seperti TLR) yang berusaha membedakan secara kasar antara diri dan bukan dirinya untuk mengenali mikroba.  Continue reading


Leave a comment

Konsep Dasar Polymerase Chain Reaction (PCR)

download

Kary Mulis (1944- )

Polymerase chain reaction (PCR) atau reaksi berantai polimerase adalah teknik yang digunakan di laboratorium untuk membuat jutaan salinan bagian tertentu dari DNA. Teknik ini pertama kali dikembangkan pada 1983 oleh ahli biokimia Amerika, Kary Mullis. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam bidang Kimia pada tahun 1993 untuk karya rintisannya. Continue reading