Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Strategi dan Peluang Obat Herbal

Kamis, 04 September 2008
Oleh : Sudarmadi

Market size produk obat herbal sudah mencapai triliunan dengan peluang yang semakin menjanjikan. Tak sedikit perusahaan yang sukses menikmati gurihnya ceruk ini dengan strategi masing-masing.

Meraih omset ratusan miliar rupiah dari penjualan satu merek produk obat herbal.

Bagi sebagian pebisnis, kalimat itu mungkin khayal belaka. Maklum, selama ini produk herbal masih dikonotasikan sebagai produk tradisional dan lebih sering diidentifikasikan sebagai bisnis skala kecil mainan pelaku usaha kecil-menengah.

Pada 10-15 tahun lalu, anggapan itu mungkin sahih. Namun, roda zaman berputar. Siapa pun yang berpandangan “herbal tak bisa menjadi bisnis besar” mesti cepat-cepat merevisi pendapatnya. Cobalah berkunjung ke dapur beberapa perusahaan penggiat produk-produk herbal seperti Soho Industri Farmasi, Sido Muncul, Dexa Medica, Jamu Jago, Darya Varia dan Pharos. Mereka bisa membuktikan tebalnya kue bisnis herbal.

Sido Muncul, sebut saja. Dalam sebulan dikabarkan mampu meraih omset di atas Rp 200 miliar dari Tolak Angin dan bahkan di atas Rp 350 miliar untuk Kuku Bima. Lalu, Soho. Sumber SWA menyebut omsetnya kini sekitar Rp 2 triliun. Dari total penjualan sebesar itu, produk berbahan bahan baku alam (natural medicine) — baik herbal maupun nonherbal — menyumbang 40%. Dan menariknya, dalam tiga tahun terakhir, produk-produk herbal Soho selalu tumbuh dua digit. Kinerja produk-produk mereka mudah dibaca dari penetrasi Curcuma Plus, Diapet hingga Laxing yang menyebar ke banyak tempat.

Gurihnya potensi produk herbal tak lepas dari banyaknya ceruk yang bisa digali. Dari sisi proses pembuatannya, setidaknya ada tiga ceruk yang bisa digarap. Pertama, jamu, jenis herbal yang khasiatnya telah diketahui sejak zaman nenek moyang. Kedua, pasar herbal terstandardisasi yang khasiat dan keamanannya telah dibuktikan melalui uji praklinis (diujikan pada hewan). Ketiga, fitofarmaka, obat herbal terstandardisasi yang diuji secara klinis (dites pada manusia).

Besarnya ketiga ceruk ini memang belum ada yang menguantifikasi, kecuali jamu. “Pasar jamu per tahun Rp 2,9 triliun,” kata Irwan Hidayat, Presdir Sido Muncul. Sebagai pembanding, data IMS menyebut besar bisnis farmasi di Indonesia Rp 25 triliun/tahun.

Bila melihat ketersediaan bahan baku di Tanah Air, peluang memproduksi dan memasarkan produk herbal sesungguhnya sangat luas. Seperti dijelaskan Hindrianto Lukas, Direktur Pengelola Soho Industri Pharmasi, Indonesia memiliki ribuan spesies tanaman yang patut dibanggakan. Mulai dari temulawak (curcuma xanthoriza), kencur, jahe, pegagan hingga sambiloto. Bila diolah, bahan-bahan itu berkhasiat meningkatkan nafsu makan dan stamina serta membantu menyembuhkan berbagai penyakit, mulai penyakit hati, reumatik dan radang, serta menurunkan kolesterol.

Di Jawa Barat, contohnya, kini terdapat 13 komoditas tanaman obat yang bisa menjadi andalan. Mulai dari jahe, lengkuas, kencur, kunyit, lempuyang, temulawak, hingga kapulaga. Tahun 2007 produksi tanaman obat di provinsi tersebut mencapai 161.484 ton. Ini belum menyebut Jawa Tengah yang ditengarai menjadi pusat tanaman obat sehingga banyak perusahaan jamu yang beroperasi di daerah itu.

Dari sisi kualitas, bahan baku dari Indonesia tak kalah bagus dari ekstrak bahan herbal asal luar negeri. Irwan Hidayat termasuk pengusaha yang sudah membuktikan sendiri kebenaran pernyataan itu sewaktu membandingkan khasiat ekstrak tribulus terrestris — salah satu bahan baku untuk membuat jamu Tolak Angin. Dia pernah mengimpor bahan itu, tapi kemudian mencoba membudidayakan sendiri. “Ternyata, kandungan khasiat yang ditanam di Indonesia lebih tinggi dari yang saya impor,” ujar Irwan yang sejak penemuan itu berketetapan membudidayakan sendiri seluruh bahan baku produk obat herbalnya.

Ada kecenderungan yang selama ini muncul ketika berbicara potensi produk herbal, yakni selalu mengarah pada produk hilir saja, mulai dari jenis multivitamin, baik obat-obatan over the counter (OTC) maupun yang resep. Tentu, hal ini tak bisa disalahkan. Hanya saja, sebenarnya potensi menekuni bisnis hulu, atau bahan bakunya, juga terbuka.

Diam-diam, malah ada sejumlah perusahaan Indonesia yang memasok bahan-bahan produk herbal ke pabrik-pabrik obat multinasional di luar negeri. Charles Saerang, Presdir Nyonya Meneer, mengidentifikasi, ada sekitar 400 tanaman obat asal Indonesia yang potensial digarap menjadi industri hulu herbal berorientasi ekspor. Menggarap sektor hulu ini, menurut Charles, juga lebih mudah. “Hilir lebih sulit dimasuki karena banyak standar yang harus dipenuhi seperti izin perdagangan. Produk hulu juga berstandar, namun tidak sesulit produk hilir.”

Nyonya Meneer menyuplai bahan jamu untuk perusahaan asal luar negeri seperti Bayer. “Kalau tak dengan cara itu, sampai mati pun saya tidak bisa masuk ke sana,” ungkap Charles. Dia mengamati, walau persentase konsumsi obat herbal di negara maju cukup besar, umumnya masyarakat di sana tidak tahu asal-usul rempah-rempah yang mereka konsumsi. “Mereka membeli dari India sementara pelaku India sendiri mengambil bahan jamu dari Indonesia,” katanya.

Tak hanya Nyonya Menner, Soho pun mengekspor produk herbal ke Malaysia, Mongolia, Nigeria, Myanmar, Mauritius, Lebanon dan Brunei Darussalam. Hanya saja, yang diekspor Soho berupa produk Curcuma Plus, bukan ekstrak temulawak.

Memang tak bisa dimungkiri, membahas pasar domestik, ceruk yang sedang ramai dibicarakan ialah sisi hilirnya, baik dalam bentuk produk obat OTC, ethical, fitofarmaka maupun jamu. Sejauh ini, dalam daftar pemain yang menggeluti bisnis jamu, nama-nama yang muncul tentu tak asing lagi. Mulai dari Sido Muncul, Jamu Jago, Nyonya Meneer, Air Mancur, Jamu Iboe, Jamu Borobudur, hingga perusahaan jamu lain yang skalanya lebih kecil. “Jumlahnya 650-an perusahaan,” ungkap Irwan. Sementara itu, pemain di bisnis herbal dari kalangan industri farmasi ada kecenderungan jumahnya makin banyak. Mulai dari PT Mecosin Indonesia, Konimex, Bintang Toedjoe, Deltomed Laboratories, Kimia Farma, Dexa Medica hingga Soho.

Masih dari kalangan industri farmasi, Dexa juga termasuk pemain yang serius mengembangkan pasar herbal, khususnya fitofarmaka. Sejauh ini Dexa sudah memasarkan merek Stimuno untuk penguat sistem imun, ada juga Tripoten yang merupakan suplemen alami pria untuk meningkatkan stamina dan vitalitas. Ada lagi Toxilite (produk suplemen untuk mengoptimalkan detoksifikasi oleh hati) dan obat resep Divenplus. “Kami memang tak akan membuat produk herbal dalam jumlah sporadis, tapi fokus pada beberapa produk yang terstandardisasi dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Ferry Sutikno, Direktur Pengelola PT Dexa Medica.

Bila diamati, pemain-pemain produk herbal yang sukses umumnya memang sadar pemasaran dan sadar branding. Lihat saja Curcuma Plus, produk ini aktif dipromosikan sejak tahun 2000. Demikian juga, Diapet dan Laxing yang juga dari Soho, atau Stimuno dan Tripoten dari Dexa, serta Kuku Bima dan Tolak Angin dari Sido Muncul. Selain giat membangun jaringan distribusi dan kanal penjualan, mereka sangat peduli mengedukasi konsumen langsung melalui promosi di berbagai media baik televisi, koran maupun majalah. Dan rupanya, kesungguhan mereka berbalas dengan hasil yang positif.

Yang mesti dicatat, meski industri herbal menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan yang menjanjikan, tak berarti dinamika bisnis ini tanpa kendala dan tantangan berat. Diakui Irwan, berbisnis obat herbal cenderung agak repot, mulai dari menyediakan bahan baku, memproses dan membuatnya secara terstandar. “Ini tidak seperti obat farmasi yang mekanisasi dan prosesnya tidak rumit. Kami harus membangun sendiri.”

Tak hanya itu, dukungan dari sisi keilmuan juga masih kurang, tak seperti industri farmasi. Ini khususnya terjadi di Indonesia. Ferry juga melihat obat tradisional Cina bisa berkembang karena dasar-dasar keilmuannya dibangun. Demikian pula, ayuferda dari India. “Obat herbal Indonesia harusnya demikian, ada keilmuannya. Makanya, kelompok akademisi harus dilibatkan, bersama-masa pemerintah mempromosikan, dan diprogramkan dengan baik,” katanya.

Pendapat Charles setali tiga uang. Dia menunjuk contoh kurangnya pendidikan tentang jamu di Indonesia. “Jurusan jamu hanya ada di UGM (Universitas Gadjah Mada),” ujarnya. Tak mengherankan, Indonesia kekurangan sumber daya manusia yang mengerti seluk-beluk jamu dan tahu mengelola jamu secara klinis.

Kurangnya SDM diperparah minimnya penelitian tentang jamu. “Siapa yang meneliti jamu? Berapa puluh profesor yang meneliti temulawak? Tapi mana hasilnya?” ucap Charles restoris. Dia menyayangkan, umumnya penelitian hanya menjadi tumpukan buku yang memenuhi rak-rak perpustakaan kampus dan belum ada penelitian terintegrasi antarkementerian. Dalam analisisnya, industri obat Cina bisa berkembang pesat seperti sekarang karena infrastruktur negaranya mendukung. Contohnya, ada jurusan tentang obat herbal dengan jumlah pengajar mencukupi.

Ini belum membicarakan kendala perizinan yang tak melindungi pengusaha Indonesia. Charles mencontohkan, Nyonya Meneer baru diperbolehkan memasuki pasar Cina setelah tiga tahun berusaha. Itu pun harus dengan membayar Rp 2 miliar. “Sedangkan produk Cina masuk ke Indonesia cukup dengan Rp 500 ribu. Ya, nggak fair dong,” ucapnya. Jangan heran, pihaknya pun sempat meminta Badan Pengawasan Obat & Makanan Indonesia mengatur masuknya obat herbal impor.

Dari sisi pengadaan bahan baku, solusi yang dilakukan Sido Muncul dengan mengusahakan perkebunan sendiri sepertinya bisa dicontoh. Cara ini tampaknya juga mulai dilakukan Soho. Melihat potensi bahan baku herbal yang cukup besar di Tanah Air, Soho segera menangkap peluang mengembangkan perkebunan temulawak seperti disarankan Presiden Susilo Bambang Yudoyono pada The First Symposium on Temulawak belum lama ini.

Yang tak kalah penting, para pemain juga mesti kreatif dalam memasarkan produk. Sekali lagi, produk herbal oleh publik belum disamakan dengan produk farmasi modern sehingga perusahaan butuh endorser yang bisa menjembatani. Contoh paling menarik dilakukan Irwan. Selain dengan mencitrakan bahwa produk herbal pas buat orang pintar, pihaknya terus melakukan standardisasi secara ilmiah untuk membuktikan temuan-temuannya. “Saya juga (menyelenggarakan) seminar tentang obat herbal ke lingkungan kedokteran supaya mereka percaya,” Irwan menceritakan perjuangannya. Ini belum termasuk upayanya membangun jalur distribusi sendiri.

Bagaimanapun, saat ini produk herbal makin menarik dikembangkan. Apalagi, kalangan rumah sakit juga mulai bersedia menerima kehadiran produk herbal untuk penyembuhan pasien dari yang sebelumnya hanya percaya pada produk farmasi. Tentu saja, ini berita besar, dan momentum ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Belum lagi kini ada gerakan global untuk kembali ke alam dan menghindari bahan-bahan kimia. Itu pasti akan menjadi booster pertumbuhan pasar produk herbal.

Namun, benar kata Ferry, potensi selamanya hanya akan menjadi potensi kalau tak kunjung digarap atau direalisasi. “Produk herbal harus jadi gerakan nasional. Harus konsisten, ada strategi, ada mimpi, dan untuk itu juga harus dikerahkan sumber daya, bukan saja manusia, juga uang, waktu, komitmen,” ujarnya tegas.

Ya, harus ada strategi karena meraih omset ratusan miliar rupiah dari penjualan satu merek produk obat herbal bukanlah mimpi.

Reportase: Fadlli Murdani, Herning Banirestu dan Rias Adriati
Riset: Ratu Nurul

Tip Mengggarap Produk Herbal

– Mengembangkan produk berbasis ilmu (scientific-based)
– Harga dan kualitas produk yang digarap bersaing dengan produk nonherbal
-Konsisten dan mendedikasikan diri sepenuhnya untuk pengembangan produk
– Terus menyosialisasi produk melalui berbagai media dan forum simposium, serta asosiasi kedokteran
– Membangun jaringan pemasaran alternatif dan aktif membuat terobosan pemasaran
– Terus mengembangkan ide penelitian baru dan menciptakan produk yang lebih kreatif dan berbeda dari produk perusahaan lain


URL : http://202.59.162.82/details.php?cid=1&id=8000

3 thoughts on “Strategi dan Peluang Obat Herbal

  1. Assalamu’alaikum. Saya sangat ingin sekali mengembangkan usaha obat tradisional. Tekad dan semangat saya 100% tapi pemahaman saya tentang industri kecil masih sangat butuh ajaran, masukan, pak. Bagaimana strategi yang bagus untuk melakukan usaha? Kira-kira berapa modal awal untuk mengembangkan usaha obat tradisiona? Saya sangat berterima kasih jika bapak berkenan menjawab pertanyaan saya. Syukron pak ☺

  2. assalamualaikum.. saya ingin bertanya. apakah bapak tau berapa banyak jumlah industri hulu terkait obat herbal di Indonesia? karena saya ingin mengembangkan usaha di bagian hulu itu. terimakasih. saya dari farmasi dan sekarang kuliah tentang Agronomi

  3. Ass…Perkenalkan nama saya Hasan As’ari, saya tinggal di Kabupaten Sukabumi,kebetulan di daerah saya melimpah tanaman bahan obat-obatan herbal,mohon info dan bantuannya supaya kami bisa memasarkan bahan obat-obtan tersebut,trimaksih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s