Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Salip-menyalip di Industri Farmasi

Kamis, 29 April 2004
Oleh : Prih Sarnianto.

Persaingan di industri farmasi mungkin yang paling dinamis di antara industri yang ada di Indonesia. Setiap tahun selalu terjadi kejutan: ada saja perusahaan yang terpelanting dari Jajaran 10 Besar.

 

Pada 2003, dua pemain asing ? Aventis dan Abbott ? tercecer, bahkan Abbott sampai keluar dari Jajaran 20 Besar. Yang menggantikan mereka adalah Pfizer (kampiun Amerika Serikat yang terkenal dengan Viagra-nya) dan Phapros (BUMN asal Semarang yang beken dengan Antimo-nya).

 

Pfizer meroket melalui merger di perusahaan induk sehingga anak perusahaan di Indonesia kemudian juga digabungkan. Sementara itu, Phapros menyalip di tikungan dengan merebut sebagian pangsa pasar generik yang terlepas dari genggaman Indofarma. Terguncang skandal ‘salah pencatatan inventori?, Indofarma sendiri merosot ke peringkat ke-10 ? menggantikan Konimex (produsen Paramex asal Solo) yang melejit ke peringkat ke-8.

 

Di Jajaran Lima Besar juga terjadi kejutan. Kampiun asal Palembang, Dexa Medica, yang pada 2002 masih di peringkat ke-6 (waktu itu Pfizer belum merger) menyodok ke peringkat ke-3. Dengan demikian, Bintang ?Extra Joss? Toedjoe dan Tempo ?Hemaviton? Scan masing-masing tersalip ke peringkat ke-4 dan ke-5.

 

Di posisi puncak? Sanbe Farma masih berkibar walau pada 2003 pertumbuhan Kampiun obat ethical(terutama antibiotik) ini hanya 18,40% dibanding 44,39% pada tahun sebelumnya. Akan tetapi, jika dihitung sebagai kelompok usaha, Grup Kalbe masih di atas. Penjualan gabungan Kalbe Farma (peringkat ke-2) dan Bintang Toedjoe saja sudah lebih tinggi ketimbang Sanbe ? belum lagi kalau ditambah dengan penjualan Dankos (ke-13), Sakafarma, Hexpharm Jaya, Finusol Prima, Sanghiang Perkasa, Woods dan Lab Goupil. Dan bukan tak mungkin pula, pada 2003  penjualan Grup Dexa yang terdiri dari Dexa Medica yang tumbuh pesat (32,03%) plus Ferron dan Novo Nordisk juga telah melampaui Sanbe.

 

Kita boleh bangga, di industri farmasi perusahaan nasional mampu jadi tuan rumah di negeri sendiri. Pada 2003, hanya satu PMA yang berhasil menembus Jajaran 10 Besar. Buat mempertahankan posisinya di puncak, Sanbe konon berencana merambah ke subsektor bioteknologi farmasi dengan membeli teknologi. Tak diketahui, apakah rencana masuk ke subsektor yang pertumbuhannya (di negara maju) paling cepat ini (mencapai 30% lebih) yang membuat rencana ekspansi mereka dua tahun lalu ke produk infus tertunda.

 

Pada 2004? Perubahan diperkirakan masih bakal terjadi, walau perusahaan nasional masih tetap dominan. Jika merger antara Novartis dan Aventis terjadi, raksasa PMA itu bisa dipastikan akan menerobos Jajaran 10 Besar di posisi cukup tinggi (peringkat ke-5 atau ke-6), seperti Pfizer pada 2003. Dengan masuknya perusahaan gabungan Novartis-Aventis, dua PMA akan bercokol dan Indofarma bakal tergusur dari Jajaran 10 Besar walau, misalnya, tahun ini mereka berhasil membuat rapornya biru setelah melakukan write-off besar, Rp 80 miliar lebih.

 

BUMN farmasi lainnya, Phapros, yang selama dua tahun berturut-turut lari kencang dengan pertumbuhan di atas 40% per tahun, setidaknya akan melejit ke peringkat ke-7. Maklum, distribusi Antimo sudah diambil alih kembali dari Enseval yang membuat penjualan OTC andalan Phapros itu jeblok dua tahun berturut-turut (bahkan mencapai titik terendah pada 2003) dan cengkeraman mereka di obat generik akan semakin erat. Patut dicatat, pada 2003 penjualan Amoxycillin generik Phapros meroket ke peringkat ke-7 dari peringkat ke-24 (pada 2002) dan ke-66 (pada 2001).


URL : http://202.59.162.82/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=332

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s