Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Rapor Semester I/2005 Perusahaan Farmasi Publik

Kamis, 10 November 2005
Oleh : Prih Sarnianto.

Kinerja keuangan perusahaan farmasi publik semester I/2005 umumnya menurun. Di tengah suramnya langit bisnis farmasi, Dankos dan Phapros bagaikan bintang yang bersinar terang.

Tampaknya 2005 merupakan tahun yang berat bagi industri farmasi. Kita lihat saja. Dari 7 perusahaan farmasi publik, hanya satu yang kinerja keuangannya meningkat nyata: Dankos Laboratories. Anak perusahaan Grup Kalbe Farma ini per 30 Juni lalu melaporkan laba bersih Rp 151,61 miliar, meningkat 60,01% dibanding periode yang sama tahun 2004.

Memang, kinerja keuangan Indofarma juga meningkat dibanding semester I/2004 yang terpuruk kerugian Rp 12,76 miliar dari penjualan bersih Rp 229,70 miliar, tetapi rapor keuangannya masih merah. Per 30 Juni lalu, Indofarma masih merugi bersih Rp 9,78 miliar dari penjualan bersih yang juga menurun (jadi Rp 220,14 miliar). Dan, kalau pada semester II/2004 Indofarma dapat menutup kerugian sehingga akhir tahun mencetak laba bersih Rp 7,24 miliar, pada 2005 keadaan tampaknya akan lebih berat bagi perusahaan farmasi pelat merah ini.

Maklum, sekarang tak gampang lagi mereka mendapatkan windfall profit yang yang kelewat besar. Setelah PT Riasima Abadi (pabrik parasetamol) dilego tahun lalu, yang tersisa tinggal aset-aset yang tak gampang ditawarkan dengan harga pantas (PT Indofarma Global Medika dan extraction centre). Selain itu, proyek pengadaan nonobat dari pemerintah juga sulit diharapkan memberi kontribusi cukup besar karena mekanisme tender Departemen Kesehatan yang kian terbuka.

Keadaan Kimia Farma (KF) setali tiga uang. Penurunan laba bersih semester I/2004 yang mencapai 60,27%, dari Rp 35,70 miliar jadi Rp 14,90 miliar, juga diperkirakan bakal sulit ditutup karena, salah satunya, KF sedang menanamkan investasi besar (konon sampai Rp 250 miliar untuk beberapa tahun ke depan) buat membangun jaringan laboratorium klinik. Ketidakmampuan kronis KF membukukan laba ini — margin laba bersih yang selalu satu digit dan sering di skala rendah pula — sulit dimengerti karena perusahaan farmasi pelat merah terbesar ini memiliki jaringan apotek yang luas. Dan bisnis apotek, kita tahu, memberikan gross margin yang gemuk.

Prestasi buruk kedua BUMN farmasi tersebut sangat kontras dengan Phapros yang sering digolongkan sebagai perusahaan pelat merah (walau sebenarnya hanyalah anak perusahaan BUMN dan 40% lebih sahamnya dikuasai publik). Membukukan laba Rp 14,14 miliar — hanya sedikit lebih rendah ketimbang KF, tetapi dari penjualan bersih yang jauh lebih kecil (Rp 120,33 miliar versus Rp 704,12 miliar) — pada semester I/2005 Phapros sekali lagi telah membuktikan mampu berdiri sejajar dengan kampiun industri farmasi swasta dengan margin laba bersih 11,75% atau hanya kalah dari Dankos (17,51%). Bahkan, dilihat dari laba per saham yang mencapai Rp 168, maka nilai tambah yang diberikan Phapros kepada para investornya dua kali lipat Dankos (Rp 85/saham).

Kinerja keuangan Phapros yang berkilau — lebih baik atau setidaknya seimbang dengan perusahaan farmasi swasta publik terbaik — membuat rencana untuk menggabungkan anak perusahaan RNI itu dengan KF dan Indofarma yang sangat tidak efisien, menimbulkan pertanyaan besar. Pertama, jika merger itu dilaksanakan pasti akan membuat Phapros yang penjualannya jauh lebih kecil ikut terseret jatuh. Jika hal ini terjadi, pemegang saham Phapros (termasuk negara, melalui RNI) akan dirugikan.

Dari sisi mikro, RNI akan limbung karena selama ini Phapros adalah penyumbang laba langsung ataupun tak langsung terbesar BUMN itu (pendapatan dan laba Nusindo, anak perusahaan RNI di bidang distribusi, sebagian besar berasal dari bisnis yang diberikan Phapros). Pemerintah bahkan akan merugi nonmateri, karena tenggelamnya Phapros yang masih “berbau BUMN” itu akan mempertegas citra bahwa begitu sebuah bisnis dipegang pemerintah pasti akan hancur.

Kedua, masyarakat luas pun akan ikut menanggung rugi besar. Maklum, walau telah banyak swasta yang memproduksi obat generik, sebagai salah satu dari tiga BUMN yang mendapat mandat awal, produksi obat generik Phapros sangat besar dan cukup lengkap. Padahal, kita tahu, obat generik yang harganya lebih terjangkau itu adalah obat rakyat.
Sebaliknya, jika isu merger Kalbe Farma dengan Dankos benar, masyarakat mungkin akan diuntungkan. Terserapnya Dankos akan meningkatkan skala ekonomi Kalbe sehingga efisiensinya di industri farmasi pun akan terdongkrak — apalagi efisiensi Dankos lebih tinggi. Perlu dicatat, selama ini Kalbe juga memproduksi susu dan makanan bayi, selain obat-obatan.

Persaingan yang kian ketat di papan atas dengan Sanbe Farma dan Dexa Medica untuk merebut peringkat puncak jajaran industri farmasi nasional juga dapat diharapkan mendorong efisiensi mereka. Jika hal ini terjadi, industri farmasi nasional akan lebih kuat sehingga setidaknya mampu menangkal serbuan kampiun industri farmasi regional di era perdagangan bebas nanti.


URL : http://202.59.162.82/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=3555

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s