Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Orang-orang Kepercayaan dr. Boen

Kamis, 01 Juni 2006
Oleh : Henni T. Soelaeman

Sejak membangun Kalbe,  dr. Boen sudah mencanangkan untuk memberikan tahtanya kepada para profesional. Siapa saja orang kepercayaannya? Mengapa mereka betah di Kalbe? 

Sukses perusahaan, salah satunya, diakui dr. Boenjamin Setiawan terletak pada manusianya. “Kalau mau survive, kuncinya ya pada manusianya,” ujar pendiri  Grup Kalbe Farma ini. Tentu bukan sembarangan manusia. Dalam kacamatanya, manusia yang pintar dan terbaiklah yang seyogyanya mampu menggelindingkan perusahaan hingga terus bertumbuh dan bertumbuh. Diakui Boen, sejak awal ia sudah memercayakan pengelolaan perusahaaan kepada profesional. “Kalau terus dipegang keluarga akan banyak kelemahannya,” kata Presiden Komisaris Grup Kalbe Farma ini. Tak heran, sejak 1970-an ia sudah mempersiapkan bibit-bibit unggul untuk posisi manajemen puncak di masa depan lewat program management trainee.

Para profesional yang mendapat kepercayaan untuk menduduki posisi strategis itu adalah orang-orang yang sudah diseleksi dan ditempa. “Saya ingat waktu itu ada 8 calon yang dinilai dan dievaluasi untuk melihat mereka cocok di posisi mana,” ungkapnya. Selain  yang terbaik, pintar, dan memiliki emotional intelligence tinggi, Boen juga sangat mengedepankan faktor dedikasi, disiplin dan integritas bagi para profesional andalannya. Inilah sosok para profesional pilihan, andalan, dan kepercayaan Boen.

 

Johannes Setijono: Dari Awal Sudah Menjadi Nomor Satu

Kalau ada pemilihan profesional yang paling lama bertahan di satu perusahaan, mungkin Johannes Setijono jawaranya. Bergabung dengan Kalbe sejak tahun 1971, lulusan Farmasi dari Institut Teknologi Bandung ini memulai karier di Kalbe sebagai medical representative (medrep).  Hanya perlu waktu lima tahun bagi  Jo –begitu pangilan akrabnya – untuk mendapat kepercayaan menempati pos Direktur Pemasaran. Tahun 1998, posisi puncak bahkan dipercayakan kepadanya. Sebelum menjadi orang nomor satu di Kalbe, ia juga pernah ditugaskan menjadi Presdir PT Dankos Laboratories dan PT Bintang Toedjoe.

Sejak Kalbe mencanangkan untuk menempatkan para profesional di jajaran manajemen puncak, Jo memang menjadi salah satu kandidat andalan dan pilihan  Boen. “Dari calon-calon yang dinilai dan dievaluasi ternyata diketahui Johannes nomor satu,” ungkap Boen yang pada 1975-1976 mulai mempersiapkan kaderisasi kepemimpinan Kalbe di masa depan.

Diakui Jo, sebagai perusahaan, Kalbe menjadi pelopor management by professional. “Coba perhatikan perusahaan farmasi lokal, hampir semuanya presdir atau direksinya dipegang oleh pemilik perusahaan atau anaknya,” ungkap Jo. Menurutnya, karier terbuka yang diberikan Kalbe kepada profesional membuat banyak profesional, termasuk dirinya, tak mau berpindah ke lain hati. Meski diakuinya tawaran menggiurkan kerap menghampirinya. Ia mengaku loyalitas dan dedikasi yang diberikannya karena ia juga mendapat suasana kondusif dan kekeluargaan. “Pelatihan untuk pengembangan diri  guna meningkatkan skill manajemen juga terus dikembangkan perusahaan,” ujarnya.

Di mata Jo, Kalbe sangat berbeda dari perusahaan farmasi lokal lainnya.  Ia menilai sejak berdiri, Boen sudah memiliki Tim Riset & Pengembangan serta Tim Pengembangan Bisnis yang menjadi kekuatan perusahaan. Kekuatan inilah yang kemudian melahirkan produk-produk yang unggul dibandingkan dengan kompetitor. Salah satunya adalah Promag yang menjadi pionir produk antasit (obat nyeri lambung) OTC. “Sebelumnya produk semacam ini hanya dijual melalui resep dokter,” kata Jo. Promag juga mendobrak cara pemasaran obat dengan kampanye iklan.  “Kami mulai melakukan gaya pemasaran baru,” tambahnya.

 

Joseph D. Angkasa: Karyawan Tumbuh Seiring Dinamika Perusahaan

Alumni bidang manajemen engineering dari University of Portland (1990) dan MBA dari Loyola Marymount University (1993) ini mengaku tertarik merentas karier di Kalbe, karena ia melihat kelompok usaha inilah yang sangat mengedepankan inovasi dan profesionalisme. “Perusahaan memberikan kesempatan kepada mereka yang ingin berkembang dan belajar mengikuti perkembangan perusahaan,” ungkap Joseph yang bergabung dengan Kalbe sejak tahun 1992.

Penilaiannya tidak keliru. Kariernya di Kalbe  makin melejit  seiring dengan perkembangan perusahaan. Sebelum dipercaya sebagai Presiden Direktur PT Bintang Toedjoe – jabatan yang diembannya sejak 2002 sampai saat ini – ia pernah menempati posisi Direktur PT Dankos Laboratories dan Direktur PT Kalbe Farma. “Saya bersyukur karena diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk belajar dan berkembang bersama tim yang saya pimpin,” ungkapnya.

Bagi Joseph, tanpa dukungan dan kerja sama tim yang solid, ia tidak akan bisa mencapai keberhasilan. Menurutnya, Bintang Toedjoe tidak hanya memberikan kontribusi dalam penjualan dan profit, tapi juga berkontribusi dalam sistem pembelajaran. “Pengembangan inovasi dan merek yang baik, juga proses supply chain yang baik,” kata Joseph yang sempat melayari karier di Deutsche Bank AG Jakarta dan KC Pharmaceuticals Inc.

 

Vidjngtius: Perusahaan Memberikan Ruang Gerak bagi Para Profesional

Potensi pasar yang cukup besar bagi Kalbe untuk berkembang dan merambah ke mancanegara, terlebih cara pandang dr. Boen yang modern dan sangat inovatif, mendorong Vidjongtius bergabung dengan Kalbe. “Apalagi tantangan dunia farmasi yang ketika itu didominasi pemain asing,” ujar sarjana akuntansi lulusan Universitas Trisakti  yang bergabung dengan Kalbe sejak 1990 ini. Ia mengaku, dirinya termasuk salah satu profesional yang loyal terhadap Kalbe. Pasalnya, perusahaan memberikan ruang gerak yang bebas bagi para profesional untuk berkarya dan berinovasi.

Vidjongtius mengawali  karier  di Kalbe sebagai Asisten II (staf) di Bagian Keuangan dan Akuntansi. Kariernya terus menanjak. Selang dua tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Manajer Keuangan dan Akuntansi. Hanya setahun bertahan di posisi itu, Vidjongtius mendapat promosi baru untuk menduduki posisi salah satu manajemen puncak di anak perusahaan Kalbe, PT Dankos Laboratories. Hanya empat tahun ia menempati pos Direktur Keuangan  Dankos, ia ditarik lagi ke Kalbe dengan posisi Direktur Keuangan merangkap Sekretaris Korporat. Jabatan ini diembannya sampai Desember tahun lalu. Sekarang bapak dua anak ini diserahi tanggung jawab sebagai Presdir PT Enseval Putera Megatrading Tbk.

Menurut pria berusia 41 tahun ini, peran dan tanggung jawab yang kini diembannya lebih besar dari sebelumnya. Pasalnya, distribusi merupakan ujung tombak bagi kesuksesan penjualan produk-produk Kalbe. Apalagi, ia pun masih bertanggung jawab untuk divisi teknologi informasi (TI) secara keseluruhan. “Saya memiliki pekerjaan rumah untuk mengintegrasikan seluruh sistem TI di dalam perusahaan,” tutur Vidjongtius yang memang gemar mengutak-atik komputer.  Diakuinya, paling tidak sekitar Rp 20 miliar per tahun digelontorkan perusahaan untuk membangun sistem TI.

 

Herman Widjaja: Iklim dan Budaya Kerja Sangat Menantang

Herman Widjaja (55 tahun)  mengaku tidak terpikirkan olehnya untuk pindah ke perusahaan lain. Padahal, ia sudah bergabung dengan Kalbe lebih dari dua dasawarsa. Dan, banyak pinangan yang menghampirinya baik dari headhunter maupun pemilik perusahaan. “Hati saya kok rasanya berat untuk menerima tawaran itu,” katanya.

Sosok berpenampilan kalem ini bergabung dengan Kalbe selulus dari Universitas Surabaya (1977). Ia mengawali karier sebagaimedical representative. Selanjutnya, dia sempat menjabat beberapa posisi kunci seperti Presdir PT Bintang Toedjoe (1996-2002); Presdir PT Dankos Labolatories (2002-2005); dan yang terakhir Direktur, Head of Ethical and Generic PharmaceuticalsKalbe (2005 hingga sekarang). Herman membawahkan beberapa pemasaran produk (line of business head). Di bawahnya terdapat 6 direktur yang menangani pemasaran produk, mulai dari  OTC, etikal, rumah sakit, dokter praktik, dokter spesialis, hingga institusi.

Iklim kerja yang kondusif dan keteladanan dr. Boen selama ini diakuinya menjadi salah satu alasan yang memberatkannya untuk hengkang dari Kalbe. “Iklim dan budaya kerja di sini sangat menantang hingga membuat orang betah untuk tinggal berlama-lama,” papar Herman. Menurutnya, kondisi di Kalbe tidak seperti kebanyakan perusahaan keluarga. dr. Boen, tambahnya,  lebih memercayakan operasional usahanya kepada para profesional di bidangnya. “Saat ini tidak ada satu pun anak kandung dr. Boen yang duduk sebagai direksi,” imbuhnya.

Komitmen Boen dalam hal membudayakan transparansi dengan implementasi good corporate governance sejak awal 2001 dinilainya sebagai terobosan bagus. “Hal-hal semacam inilah yang memotivasi saya untuk terus berkreasi di sini,” kata Herman bersemangat. Hubungan harmonis antara pemilik dengan direksi diakuinya membuat dirinya sangat merasa dihargai. “Komunikasi berjalan tanpa hambatan, termasuk dengan dr. Boen,” tuturnya.

Kendati tidak mengakui prestasinya selama ini, Herman sejatinya menetaskan produk-produk yang melegenda dan bagus dari sisi pemasaran, salah satunya Promag. Dengan mengandalkan lebih dari 2.500 tenaga pemasaran (pascamerger), ke depan dia optimistis akan terus konsisten menetaskan produk-produk besar yang bisa melegenda.

 

A. Teguh Nugroho: Organisasi Memacu Kreativitas

Sempat mencoba menjajal berkarier di tempat lain, toh A. Teguh Nugroho kembali lagi ke pangkuan Kalbe. “Di sini lebih teratur, sementara di tempat lain pendekatan bisnis keluarga sangat kental  terasa,” ujar Teguh yang kembali bergabung dengan kalbe pada 1999.  Di matanya, profesionalisme dijunjung tinggi di Kalbe. Para karyawan selalu dilatih dan diberi kesempatan yang terbuka untuk ikut bertumbuh bersama perusahaan. “Kami selalu di-improve,” kata Direktur Pengelola PT Sanghiang Perkasa ini.

Teguh merasa selama merintis karier di Kalbe,  pikiran, ide dan kreativitasnya selalu dipacu oleh organisasi. Ia menuturkan, dr. Boen selalu mengingatkan para karyawannya untuk banyak gerak, karena hidup akan lebih bagus ketimbang bila diam saja. “Buat Kalbe, kalau kami tidak tumbuh itu artinya lonceng kematian siap dibunyikan,” ujar lulusan Universitas Parahyangan dan Prasetiya Mulya ini. Sebagai petinggi di Sanghiang yang membawahkan produk Morinaga, Entrasol, Diabetasol, Prenagen dan Milna, kelahiran Purworejo tahun 1956 ini ditargetkan mencapai pertumbuhan penjualan dan profit 25% per tahun.


URL : http://202.59.162.82/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=4425

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s