Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Open Eyes, Open Ears, Open Heart

Kamis, 09 Juni 2005
Oleh : Henni T. Soelaeman

Sebagai anak pemilik, Ferry A. Soetikno tak serta-merta menempati posisi empuk. Sebagai komandan perusahaan besar, penampilannya juga sederhana. Bagaimana gaya memimpin Ferry?

“Kapan kamu meraih kepercayaan penuh dari orang tua?” Sepenggal pertanyaan dari sebuah masa seperti menggema kembali di salah satu ruang meeting jajaran direksi PT Dexa Medica, lantai lima Graha Elnusa, Cilandak, Jakarta Selatan. Ferry Abidin Soetikno menyandarkan tubuhnya. Jemarinya mengusap dasi bergaris biru langit yang melingkar di kemeja putihnya. “Itu pertanyaan yang dilontarkan teman saya beberapa tahun silam,” ungkap Ferry, Direktur Pengelola Grup Dexa Medica.

Sejenak ia terdiam, seolah-olah ingin kembali menghadirkan satu masa yang masih direkamnya dengan baik. Agak jauh di sebelahnya, duduk Karyanto, Manajer Komunikasi Korporat PT Dexa Medica. Jarum jam di ruangan yang cukup lapang  dengan lebih dari 10 kursi yang mengelilingi meja besar itu menunjuk ke angka 12.43. Rabu, 18 Mei itu dibalut matahari cukup garang. Beruntung, pendingin ruangan bekerja maksimal sehingga sengatan udara panas tak menyelinap ke ruangan berdinding putih itu. “Ketika itu saya berpikir, apakah saya mesti meraih kepercayaan itu,” ujar Ferry.

Jawab itu akhirnya tiba jua. Regenerasi di perusahaan yang dibangun sang ayah, Rudy Soetikno, lebih dari seperempat abad silam, jelas tak mengenal ihwal pewaris. Tak mengenal istilah putra mahkota. Tampuk kepemimpinan tak begitu saja diraih Ferry. Regenerasi diberlakukan secara profesional dan berjenjang dengan melihat performa kerja yang bersangkutan. “Kebetulan saja saya salah satu anak pemilik,” tandas Ferry.  Menurutnya, kiprahnya di perusahaan sang ayah bukan karena hubungan biologis, tapi seperti juga profesional lain yang merentas karier di sebuah perusahaan. “Ayah saya tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk terlibat di sini (maksudnya, Dexa Medica — Red.) dan membantu mengurusi bisnisnya,” katanya.

Pasalnya, papar Ferry, ayahnya berprinsip buat apa perusahaan dikelola anak sendiri jika tidak benar dan seenaknya menjalankan karena mentang-mentang anaknya. Ferry sendiri punya pandangan, sebagai anak seharusnya tidak boleh bertanya dan menuntut orang tua untuk menjadikan anak-anaknya sebagai pewaris perusahaan. “Saya bersyukur keluarga kami tidak dimaraki suasana cakar-cakaran antaranggota keluarga tentang perebutan bisnis. Perilaku di antara keluarga kami tidak ada yang begitu,” ujarnya.

Ia mengaku,  keinginan untuk bergabung dengan PT Dexa Medica — selanjutnya disebut Dexa — murni atas inisiatif dan keputusannya sendiri. Sebagai profesional ia menilai perusahaan milik ayahnya itu bisa membuat aktulisasinya berkembang. Sebagai perusahaan, ia melihat Dexa terus tumbuh dan berkembang. Saat itu, ia melihat dan menganalisis potensi bisnis yang dimiliki Dexa  yang dapat dikembangkan kembali. “Saya ingin memberikan andil untuk memperbaiki posisi bisnis perusahaan di peta pasar farmasi Indonesia,” ungkap sulung dari tiga bersaudara ini.

Lebih dari itu, menurut Ferry, berkiprah di Dexa juga sebagai wujud tanda baktinya pada orang tua yang sudah susah payah membesarkan, mendidik dan menyekolahkannya. “Bagaimanapun saya dibesarkan dan disekolahkan dan bisa seperti ini adalah hasil jerih payah orang tua membesarkan perusahaan,” tuturnya.  Keputusan bergabung dengan Dexa juga karena diiringi niat untuk membuktikan bahwa dirinya mampu mengelola perusahaan dengan benar di mata pegawai-pegawai ayahnya yang seusia dengan ayahnya dan lainnya. “Sebagai anak pemilik, saya menjadi sorotan,  khususnya dalam hal memimpin,” tukasnya.

Alhasil, ketika ia memutuskan balik ke Tanah Air — setelah lama bermukim di Amerika Serikat — dan bergabung dengan Dexa, Rudy Soetikno, seperti dituturkan Ferry,  menyambutnya dengan gembira. “Meski tidak pernah meminta, tentu orang tua senanglah kalau anaknya mau ikut membantu mengembangkan perusahaan,” ungkapnya. Selain Ferry, putri semata wayang Rudy, Grace Soetikno pun ikut terlibat mengembangkan Dexa. Sementara satu anak lelaki yang lainnya, memilih berkarier sebagai dokter di AS.

Toh, tak serta-merta Ferry menduduki tahta empuk. Jabatan yang sekarang disandangnya pun, menurutnya,  diraihnya dengan kerja keras. Artinya, kepercayaan dan tanggung jawab lebih besar akan diberikan oleh Rudy seiring kinerja yang ditunjukkan Ferry. Sebagai anak pemilik, ia dan adiknya tidak berarti dapat berbuat seenaknya. Rudy tidak langsung menyerahkan tongkat komando ke tangan Ferry.  Tanggung jawab kepemimpinan dan pengambilan keputusan diberikan secara bertahap. Posisi orang nomor satu di Grup Dexa Medica masih berada dalam genggaman Rudy.  “Di kantor, beliau adalah bos saya,” katanya.

Karena sejak awal perusahaan sudah diformat secara profesional, tak pelak kepercayaan dan pendelegasian yang diterimanya secara bertahap dipandangnya sebagai suatu kewajaran. “Bagi saya, hal ini sebagai salah satu bentuk upaya bapak telah mengelola perusahaannya secara profesional. Karena pada saat pendelegasian tugas, saya pun didampingi dan diawasi olehnya dan orang-orang kepercayaan yang sudah menjadi pegawai sejak perusahaan berdiri yang bukan berasal dari keluarga,” Ferry menegaskan.

Menurutnya, sebagai atasan-bawahan, memang kerap terjadi perbedaan pendapat antara dirinya dan sang ayah. “Perbedaan pandangan sah-sah saja,” ujarnya. Ia mengaku dalam board of director meeting, bisa terjadi diskusi memanas karena adanya beda pandangan. “Selesai rapat ya biasa lagi, apalagi di rumah, seperti tak pernah terjadi apa-apa,” katanya. Menurutnya, beda pandangan yang dilontarkannya karena semata demi kemajuan dan kebaikan perusahaan. Prisnip yang dianutnya, no man hurt after meeting.

Dunia farmasi sejatinya sudah diminati Ferry sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Maklum, ia tumbuh dan dibesarkan di tengah keluarga apoteker. Usai menamatkan pendidikan SMA, kelahiran Palembang, 22 Juni 1961 ini melanjutkan ke ITB, mengambil bidang studi teknik kimia. Untuk menambah wawasan, Ferry lantas terbang ke AS. Di AS, ia berhasil menyelesaikan pendidikan master teknik kimia dari Universitas Washington, St. Louis (1986), serta MBA bidang pemasaran dan perencanaan strategis dari Universitas Pittsburgh (1987).

Tak cukup dengan bekal ilmu, Ferry lantas menimba pengalaman kerja di KC Pharmaceuticals Inc., Pomona, Kalifornia.  Di perusahaan itu, ia mengawali karier sebagai manajer keuangan & admisnistrasi. Kariernya terus meningkat ke posisi manajer plant; VP pemasaran; hingga dipercaya sebagai Chief Operating Officer. Setelah 6 tahun  merentas karier  di perusahaan itu, Ferry memutuskan pulang kampung dan bergabung dengan Dexa.

Debut pertama Ferry di Dexa dimulai sebagai Direktur Pengembangan Bisnis. Tanggung jawabnya saat itu adalah melihat dan menganalisis bagaimana potensi pengembangan perusahaan, portofolio produk, jangkauan distribusi, situasi dan posisi pasar produk Dexa, dan sebagainya. Setahun berselang, ia mendapat tugas sebagai Direktur Pemasaran. Sebagai nakhoda pemasaran, dia bertanggung jawab atas pemasaran seluruh produk Dexa . Saat itulah, dia mulai bekerja sama dengan tim pemasaran dan penjualan Dexa  “Saya menjadi tahu seluk-beluk secara riil tugas seorang medical representative (med rep) perusahaan,” Ferry mengakui. Menurutnya,  itulah babak baru baginya mulai terlibat aktif dan penuh dengan tim pemasaran, distribusi dan penjualan Dexa yang merupakan garda depan perusahaan. Tahun 1995,  Ferry dipercaya menempati pos Direktur Pengelola Dexa sekaligus Grup Dexa Medica, sampai sekarang.

Promosi dan perluasan tanggung jawab itu bukan semata-mata karena dirinya anak pemilik perusahaan. “Promosi ini memberikan kebanggaan bagi saya sebagai profesional. Artinya, ada kepercayaan yang meningkat dari atasan meskipun atasan saya tidak lain ayah sendiri,” paparnya. Di matanya, promosi ini juga menunjukkan dirinya dapat berkontribusi aktif pada perusahaan.

Ferry mengatakan, seluruh proses promosinya melalui prosedur resmi dan ada surat pengangkatannya. “Saya juga punya rapor yang siap dinilai ayah saya yang menjadi atasan saya,” tukasnya. Hal yang sama juga berlaku buat Grace, yang di Dexa bertindak sebagai Corporate Purchasing yang bertanggung jawab atas supply chain management bahan baku Dexa. “Bila adik saya membuat kesalahan, ya saya tegur karena secara struktur organisasi, saya menjadi atasannya,” ungkapnya. Toh, kritikan pedas yang bisa saja meruap di kantor tak sampai menyebar ke rumah. “Kami tidak akan membawa-bawa kritikan yang cukup membuat kuping panas di acara keluarga. Urusan pekerjaan tidak boleh dibawa ke rumah, dan urusan rumah tidak sampai terbawa ke kantor. Itu prinsip kami,” tandas Ferry menyoal hubungan kerja antara ayahnya, ia sendiri dan adiknya. Hubungan kerja seperti ini menurutnya butuh kedewasaan hati dan pikiran agar tidak mencampuradukkan urusan bisnis dan pribadi. “Harus tahu mana saat yang tepat untuk membicarakan persoalan pribadi sebagai kakak terhadap adik, atau sebaliknya,” ungkapnya.

Pola hubungan kerja antara dia dan adiknya sama seperti profesional lainnya. “Di kantor ya berlaku atasan-bawahan, di rumah ya kami seperti biasa cekakak-cekikik, biasalah kakak-adik,” ungkapnya. Menurutnya, bila adiknya dikritik karena pekerjaannya, adiknya tidak pernah sakit hati karena tahu posisi saya saat itu adalah atasannya. “Bahkan, Grace lebih straight to the point daripada saya jika dia merasa keberatan dengan kebijakan atau keputusan yang saya ambil,” tambahnya. Yang pasti, untuk memisahkan hubungan antara pekerjaan dan persaudaraan, wajib mematuhi dan menaati aturan perusahaan yang sudah ditetapkan. “Pokoknya satu sama lain sadar peran dan posisi serta tanggung jawab pekerjaannya. Simpel-simpel saja,” kata Ferry.

Profesionalisme dijunjung tinggi. Dalam memberdayakan ribuan karyawannya, Ferry juga mengelola layaknya sebuah keluarga besar. Ada kebersamaan dan saling membutuhkan satu sama lain. “Perusahaan ini sangat mengandalkan nilai saling hormat dan menghargai satu sama lain,” tuturnya. Ferry sendiri mengaku lebih menyukai perlakuan yang informal. Tidak harus protokoler yang njelimet dalam memperlakukan dirinya sebagai pemimpin perusahaan, terutama jika ada kunjungan ke lapangan. Ia lebih suka membawa tas atau kopor kecilnya  sendiri ketika turun atau naik pesawat ketimbang dibawakan staf. “Saya tahu maksud mereka menghargai saya sebagai atasannya, tetapi saya katakan dengan sopan bahwa hal itu tidak perlu. Selama kita masih mampu melakukannya sendiri, jangan merepotkan staf biarpun kita adalah atasannya,” ia menambahkan.

Sifat yang tidak bossy itu diakui Ferry menular dari ayahnya. Ia melihat dan mencontoh bagaimana ayahnya memimpin perusahaan dan memperlakukan karyawannya. Menurutnya, ayahnya masih sering terjun langsung dan melihat-lihat pabrik di Palembang. “Ayah saya berpesan dalam memperlakukan karyawan, aspek kekeluargaan itu penting,” katanya. Tak pelak, saat ia menjabat direktur pemasaran, ia mengenal dengan baik nama-nama 100 orang med rep-nya. “Kalau sekarang ditanya apakah saya kenal semua med rep Dexa yang berjumlah 1.000 orang, wah ya tidaklah,” katanya seraya tertawa berderai. Meski tidak hafal semua nama med rep dan karyawannya yang ribuan, bukan berati ia tidak menghargai karyawan.

Terus terang ia mengaku sangat menghargai karyawannya yang mau menyapa dan mengenalkan dirinya lebih dahulu, terutama di daerah. “Saya merasa terharu dengan perlakuan staf di daerah yang selalu berupaya memperlakukan saya  dengan lebih baik,” ungkapnya. Dia percaya hal itu tidak dilandasi alasan ingin ambil muka atasan, tetapi lebih sebagai kesopanan yang mereka rasa harus dilakukan, meski dirinya sudah menjelaskan tidak usah diperlakukan sampai seperti itu.

Ferry mengakui dirinya adalah sosok yang lugas dan situasional. “Saya  paling tidak bisa basa-basi atau muter-muter dalam menyampaikan sesuatu,” ujarnya. Alasannya, dia suka kepraktisan. Selain itu, caranya memandang persoalan akan ditarik sebab akibatnya. Ferry akan mempelajari situasinya mengapa terjadi persoalan itu. Dalam menghadapi persoalan pekerjaan dan perusahaan, Ferry  akan melihat kasusnya seperti apa, apa penyebabnya, bagaimana jalan keluarnya, pilihan-pilihan apa saja yang bisa diambil, dan sebagainya. Cara membahasnya pun tidak bertele-tele. Dia selalu menekankan rapat harus tetap fokus pada topik utama. Jadi, tidak ada persoalan yang tidak terselesaikan sekeluarnya dari ruang rapat. Dia paling tidak suka memendam persoalan. Cara memanggil stafnya untuk rapat, khususnya level direksi atau manajerial lainnya, Ferry lebih suka mengundang melalui sms atau via e-mail internal. “Jadi, tidak ada undangan yang sifatnya formal,” kata Ferry yang menyukai rekan kerja yang siap dengan topik yang akan dibahas dalam rapat.

Cara berkomunikasi Ferry yang straight to the point diamini Rika M. Novriadi. Direktur Komunikasi Strategis R&R ini menilai Ferry sebagai orang yang apa adanya dan sangat terus terang. “Beliau akan bilang bagus kalau bagus dan jelek kalau memang jelek,” kata Rika. Diakuinya, ia banyak belajar berbagai hal Ferry. “Terutama soal kesederhanaan dan perhatiannya yang tulus,” tambah Rika yang mengenal Ferry karena Dexa menjadi klien R&R untuk strategi komunikasi perusahaan. Menurut Rika, sebagai anak pemilik perusahaan farmasi papan atas sekaligus direktur pengelola, Ferry memiliki segalanya dan bisa melakukan apa saja. “Tapi, beliau sangat sederhana, penampilannya tidak branded. Jam tangan yang dikenakannya pun kalau tidak salah cuma Seiko. Ke mana-mana masih pakai Kijang,” tutur Rika. Kesederhanaan yang ditampilkan dalam keseharian itulah yang diakui Rika  memberikan banyak pelajaran baginya. “Ia tidak pernah mengajari saya tapi saya justru banyak belajar dari beliau,” tambahnya.

Dipaparkan Rika, Ferry juga mengajarinya untuk menghargai hidup dan menjadi dirinya sendiri. Rika bercerita, ketika ia menjadi korban malpraktik diet aquapunktur, Ferry mengingatkannya untuk menerima diri apa adanya. “Dia bilang, Rik, perempuan itu tidak selalu dilihat dari bentuk fisiknya. Terus terang, itu membuat mata saya terbuka dan belajar untuk menghargai segala anugerah-Nya,” tutur alumni Universitas Dr. Moestopo ini.

Ferry sendiri mengaku berusaha untuk berempati kepada persoalan rekannya ataupun karyawannya. Tak jarang memang ia ditelepon oleh rekan kerjanya dalam kondisi emergensi membutuhkan obat keluaran Dexa sementara di pasar sedang kosong.
”Saya langsung telepon bagian distribusi dan minta ia mengirim obat itu segera, karena saya tahu obat itu sangat diperlukan untuk keperluan operasi,” paparnya. Sepanjang ia bisa melakukannya, ia akan menolong dengan senang hati. “Saya selalu memosisikan bagaimana kalau saya ada di posisi itu,” tambahnya. Kepedulian Ferry diakui Indri K. Hidayat, Direktur SDM Korporat Dexa. “Beliau punya empati yang tinggi pada anak buah yang kesulitan. Bahkan cenderung asertif untuk memberikan bantuan,” kata Indri yang juga menilai Ferry sebagai sosok yang terbuka dan tidak suka basa-basi.

Penggemar olah raga sepak bola ini memang merasa dirinya orang yang simpel. “Saya paling tidak suka merumitkan persoalan. Saya tidak akan membesar-besarkan persoalan kecil yang sebenarnya mudah solusinya,” ujar Ferry. Toh, dia tidak akan pernah meremehkan sebuah persoalan, biarpun sebenarnya persoalan itu sederhana. “Pandangan saya itu sebagai persoalan sederhana, tapi di benak karyawan bisa jadi itu  persoalan sangat penting,” sambungnya.

Selama lebih dari sedasawarsa menakhodai Dexa, Ferry jelas berperan aktif dalam memikirkan yang terbaik bagi perusahaan. “Ferry orangnya visioner, berani mendelegasikan hal-hal besar kepada stafnya, bergerak cepat, taktis, dan berani mengambil tantangan,” begitu pandangan Erwin Tenggono, Direktur Pengelola PT Anugrah Argon Medica, anak perusahaan Dexa. Erwin mengaku banyak belajar dari Ferry, terutama bagaimana cara memutuskan sesuatu dengan baik, menentukan visi, dan memperdalam pemasaran. Erwin mengaku sering berinteraksi dengan Ferry, dari mulai soal pekerjaan sampai hobi yang sama, yakni sepak bola. “Kami rileks, tidak terlalu formal,” kata Erwin yang mengenal Ferry sejak 1993.

Kepemimpinan Ferry yang visioner juga dilontarkan  Sofiarman Tarmizi. Ketua Bidang Apotek Gabungan Pengusaha Farmasi ini menilai Ferry mampu membawa Dexa bukan hanya berperan di industri farmasi nasional tapi juga ke tingkat global. “Saya kira tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya visi,” katanya. Hal senada juga disampaikan Rika. “Dia orang yang visioner dan  idealismenya tinggi,” ucapnya. Kiprah Ferry di organisasi Gabungan Pengusaha Farmasi, membuat kepemimpinan Ferry semakin lengkap. “Tidak saja pintar dan visioner tapi juga lebih wise lagi,” kata Rika berharap. Sementara di mata Dirjen POM Sampurno yang kerap bertukar buku dengan Ferry, sosok Ferry adalah sosok leader yang mempunyai wawasan luas dan sangat dinamis.

Sebagai motor penggerak Dexa. Begitulah memang banyak kalangan menilai Ferry. “Saya memang berusaha memberikan yang terbaik buat perusahaan. Tapi, saya bukan one man show di perusahaan ini. Perusahaan ini mengandalkan tim kerja yang solid dan kompak serta profesional,” ucapnya. Menurutnya, pengakuan orang-orang atas peran besarnya di Dexa mungkin karena ia tahu apa yang harus dilakukan perusahaan dalam 10 tahun ke depan. “Beliau sudah dapat menjelaskan bagaimana dan seharusnya bisnis Grup Dexa Medica sepuluh tahun mendatang,” ujar Indri.

Ferry sendiri mengaku ingin menjadi seorang pemimpin yang baik. Untuk itu, menurutnya, ia harus mengetahui kondisi di lapangan secara langsung.  Tak jarang memang Ferry melakukan inspeksi mendadak ke lapangan. Ia bukan tipe yang menerima begitu saja laporan dari staf dan duduk manis di belakang meja. Metode kepimpinannya adalah open eyes, open ears, open heart. “Bukan  berarti saya tidak memercayai staf. Ini sebagai bagian dari upaya pengontrolan atau cek dan ricek operasional perusahaan,” ungkap Ferry yang sering melakukan perjalanan keliling Nusantara dan mancanegara untuk mengunjungi dan melihat operasioanal tim Dexa seperti di Kamboja, Myanmar, Saigon, Manila dan Ho Chi Minh. “Ini travelling juga buat saya,” katanya.

URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=2854

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s