Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Obat Herbal Tradisional dan Kemandirian Nasional

Kamis, 04 September 2008
Oleh : Prih Sarnianto

Kembali ke alam. Itulah tren saat ini. Namun, untuk masalah terapi penyakit, banyak di antara kita, terutama yang tinggal di perkotaan, tak kelewat nyaman memercayakan diri pada obat-obatan dari bahan alami. “Dokter aja nggak mau meresepkan herbal,” demikian alasan yang sering dikemukakan.

Mengapa? Setidaknya ada dua alasan yang membuat para dokter tak nyaman memberikan herbal buat pengobatan.

Pertama, ini yang sering mengemuka, dididik menurut kaidah keilmuan Barat, kalangan kedokteran menuntut bukti bahwa herbal yang akan diresepkan betul-betul manjur dan aman. Artinya, herbal harus lulus uji klinis yang ketat laiknya obat farmasetika ― uji double-blind yang berulang-ulang, dalam skala besar dan randomized.

Padahal, sebagian besar obat herbal tradisional dikembangkan tanpa kontrol ilmiah modern untuk membedakan efek plasebo, kemampuan tubuh menyembuhkan diri, dan benefit aktual herbal tersebut. Maklum, obat herbal tradisional diyakini khasiatnya berdasarkan bukti empiris. Sejarah penggunaan turun-temurun selama berabad-abad telah dianggap cukup sebagai bukti efficacy dan safety yang tinggi.

“Penelitian cara Barat, yang evidence-based itu,” kalangan herbalist mengkritisi, “banyak mengabaikan historical use obat herbal.” Para ahli obat alami ini meyakinkan bahwa tradisi dapat jadi panduan untuk pemilihan faktor-faktor semacam dosis optimal, spesies dan waktu panen herbal, serta populasi yang jadi target pengobatan.

Alasan kedua, obat herbal tidak cespleng ― kerjanya lambat. Di sisi lain, tak sedikit dokter yang khawatir dinilai “tidak manjur” kalau pasien tak lekas sembuh. Kekhawatiran ini jadi salah satu faktor yang mendorong banyak dokter, terutama di negara berkembang yang aturan mainnya tak jelas, dengan gampang memberikan obat-obat semacam kortikosteroid dan antibiotika untuk infeksi virus biasa, termasuk flu. Padahal, kedua golongan obat keras yang jamak diketahui tak bermanfaat untuk melawan infeksi virus ini memberikan khasiat yang lebih rendah ketimbang, katakanlah, jamu tolak angin yang relatif murah.

Di negara-negara maju, yang para dokternya memberikan obat secara lebih rasional, pemberian obat keras untuk penyakit ringan terlarang. (Di Singapura, sebagai contoh, obat keras tak hanya ditandai dengan kata peringatan dalam empat bahasa resmi Negeri Pulau itu, antara lain “Rachun” [Melayu] dan “Poison” [Inggris] sehingga dokter enggan meresepkan kalau tak perlu betul!). Kendati demikian, menurut Journal of the American Medical Association, di Amerika Serikat yang hanya mewakili 4% populasi dunia, 106 ribu meninggal dan 2,2 juta lainnya akibat dampak serius efek samping obat farmasetika, pada 1994.

Kenyataan seperti inilah, plus beberapa faktor lain termasuk kepercayaan religius, yang mendorong banyak orang kembali ke alam. Bahkan di Jerman, kalangan kedokteran telah cukup lama meresepkan herbal. Di negeri yang industri farmasinya termasuk termaju di dunia ini, obat herbal (ekstrak tumbuhan, teh herbal, minyak esensial) dijajakan bersama obat farmasetika di apotek-apotek.

Di Inggris, pendidikan untuk mencetak medical herbalist diselenggarakan oleh universitas negeri. Beberapa universitas yang menawarkan program B.Sc. di bidang herbal medicine antara lain University of East London, Middlesex University, University of Central Lancashire, University of Westminster, University of Lincoln dan Napier University (Edinburgh).

Di India dan Cina, masuknya cara pengobatan Barat tak menggusur sistem pengobatan tradisional. Pemerintah New Delhi dan Beijing masing-masing justru mendukung pengembangan Ayurveda dan Pengobatan Tradisional Cina (PTC) ― melalui riset, pendidikan dan standardisasi. Dengan demikian, dua kawasan dengan budaya tua ini bukan saja mampu menjaga pengobatan tradisional tak putus sejak dipraktikkan ribuan tahun lalu, melainkan juga mengekspornya untuk mendatangkan devisa. (Indonesia yang kaya-raya rerempahan dan empon-empon justru jadi salah satu pengimpor besar obat herbal dan bahan baku obat herbal).

Berkibarnya Ayurveda dan PTC ikut mendorong berkembangnya industri farmasi berbasis bahan alam, nutraceutical, di Barat. Perkembangan ini menggembirakan, walau memberikan efek samping berupa konflik hak kepemilikan intelektual.

Salah satunya adalah ketika pada Desember 1993 University of Mississippi Medical Center memperoleh paten untuk penggunaan kencur (turmeric) sebagai obat. Council for Scientific and Industrial Research segera mengajukan sanggahan. Alasannya: para praktisi Ayurveda telah tahu betul khasiat kencur sebagai obat, bahkan telah memanfaatkannya selama berabad-abad. Lembaga resmi Pemerintah India ini memperkarakan paten tersebut sebagai bio-piracy. Setelah pertarungan sengit di pengadilan, pada Agustus 1997 US Patents and Trademark Office mengembalikan paten tersebut ke kalangan praktisi Ayurveda.

Pengobatan tradisional Indonesia mungkin tak memiliki fondasi filosofis sekokoh Ayurveda dan PTC. Namun, kita tahu, banyak obat asli Indonesia dipatenkan di Jepang dan negara maju lainnya. Hal ini setidaknya menandakan bahwa obat herbal tradisional kita bernilai tinggi. Sebab itu, tak ada alasan bagi kita semua, termasuk pemerintah, untuk tidak mengupayakan pelestarian obat herbal tradisional Indonesia, baik melalui riset, pendidikan maupun upaya lain.

Banyak obat farmasi yang saat ini diakui dunia kedokteran memiliki akar sejarah penggunaan yang panjang sebagai herbal, termasuk morfin, aspirin, digitalis, kinin dan efedrin. Kenyataannya, menurut WHO, sekitar 25% obat modern yang digunakan di AS berasal dari tanaman. Bahkan, kata “obat” dalam bahasa Inggris pun berasal dari bahasa Swedia ― “druug” yang berarti “tanaman yang dikeringkan.”

Di seluruh dunia, Organisasi Kesehatan Dunia ini memperkirakan, 80% populasi masih menggunakan obat herbal untuk beberapa aspek penanganan kesehatan primer. Obat farmasi terlalu mahal bagi sebagian besar populasi global, yang separuh lebih hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 2/hari. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, yaitu yang di pedesaan, jamu juga masih jadi bagian penting dalam penanganan kesehatan.

Sebab itu, sungguh memprihatinkan bahwa sebagian produsen jamu (kebanyakan yang kecil) mencampurkan secara ilegal bahan kimia obat (BKO) ke dalam produk mereka. Pencampuran ini memang memberikan efek terapi instan, tapi dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Apalagi, tak memiliki pengetahuan yang memadai, para perajin jamu tersebut sering menambahkan BKO dengan dosis yang tak lazim ― biasanya begitu tinggi.

Yang menggembirakan, telah tumbuh kesadaran untuk meneliti herbal yang secara tradisional digunakan sebagai obat secara ilmiah. Uji klinis yang dilakukan berbagai produsen obat saat ini telah menghasilkan lima fitofarmaka yang khasiat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk situasi darurat di mana waktu sangat krusial, seperti ketika tekanan darah pasien melonjak tinggi, diakui kalangan herbalist, obat farmasetika lebih efektif. Akan tetapi, untuk pemakaian jangka panjang, obat herbal (termasuk fitofarmaka yang, walau dikemas modern, berisi ekstrak terstandar dari tumbuhan) lebih aman, bahkan dapat membantu pertahanan pasien terhadap penyakit selain memberikan dukungan imunologis yang tak dimiliki obat farmasetika. Umumnya, obat herbal juga bersifat preventif terhadap penyakit, selain menyembuhkan.

Dengan upaya yang lebih terintegrasi ― yang tentunya membutuhkan dorongan pemerintah ― akan bisa dihasilkan lebih banyak fitofarmaka dari herbal asli Indonesia dan dalam waktu yang lebih cepat. Banyaknya pilihan obat herbal yang telah lulus uji seketat obat farmasetika ini dapat diharapkan membuat para dokter tergerak meresepkannya (setidaknya untuk pemakaian nondarurat) yang, pada gilirannya, akan mendorong lebih kencang pertumbuhan industri nasional secara umum, termasuk industri bahan baku dari yang paling hulu (perkebunan tanaman obat) dan bahan baku antara (ekstrak kasar herbal).

Dalam persaingan yang kian mengglobal, fitofarmaka dari herbal asli Indonesia memberikan comparative advantage kepada industri farmasi nasional. Dan, yang lebih penting, penggalian obat herbal dari khasanah obat tradisional asli Indonesia akan meningkatkan pula ketahanan nasional melalui peningkatan kemandirian dalam sistem penanganan kesehatan masyarakat.

*) Penulis adalah Redaktur Ahli SWA.


URL : http://202.59.162.82/details.php?cid=1&id=7998

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s