Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Mereka Muda dan Luar Biasa

Kamis, 26 Mei 2005
Oleh : Harmanto Edy Djatmiko

Para pemasar muda yang terpilih di ajang Young Marketers Award ini bukan saja pintar bikin konsep, tapi juga jago mengeksekusi pasar. Merekalah yang membuat pentas bisnis selalu semarak.

Memilih profesi sebagai pemasar di zaman sekarang sungguh semakin menantang. Bukan, bukan karena kebutuhan manusia sekarang terus meningkat sehingga profesi ini membuka banyak peluang sukses. Justru sebaliknya, dewasa ini hanya sedikit sekali kebutuhan masyarakat yang tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan. Seperti dituturkan konsultan pemasaran Italia, Pedro Guido, dalam bukunya The No-Need Society (Masyarakat yang Tak Butuh Apa-apa), saat ini praktis semua kebutuhan masyarakat telah dipenuhi (sekaligus menjadi rebutan) ribuan bahkan jutaan perusahaan di muka bumi ini. Artinya, tugas pemasar bukan lagi sekadar melayani pasar (yang telah disesaki pemain), melainkan menciptakan pasar-pasar yang sama sekali baru.

Karena berkait erat dengan proses penciptaan, tugas para pemasar zaman sekarang selain harus memahami konsep pemasaran baku (4P, STP, CRM, Experential Marketing dan entah apa lagi), mereka juga dituntut terus mengasah ketajaman kreativitas dan inovasinya. Ini jelas bukan pekerjaan mudah, karena mereka harus mampu menggabungkan dua cara berpikir yang satu sama lain saling bertentangan: konvergen dan divergen.

Cara berpikir konvergen bersifat logis dan terstruktur. Dari beragam data, fakta dan informasi yang masuk, lalu dianalisis dan diolah untuk sampai pada suatu jawaban yang pasti: benar atau salah. Cara berpikir demikian biasanya cocok untuk profesi yang menghendaki segala sesuatu yang serba eksak seperti peneliti, ahli matematika, statistik, fisika, kimia, teknik sipil, elektro, farmasi, dan sejenisnya. Seorang ahli farmasi yang bekerja di suatu perusahaan obat, misalnya, dituntut memiliki kesalahan nol ketika ia meracik ramuan obat tertentu. Kalau sampai salah, bisa berakibat fatal bagi konsumen.

Sebaliknya cara berpikir divergen cenderung irasional dan kurang terstruktur. Dari data, fakta dan informasi yang masuk (walau mungkin sangat minim), seorang yang cara berpikirnya divergen akan mampu memproduksi respons yang beragam dan tak berpretensi untuk sampai pada jawaban benar atau salah. Cara berpikir demikian dibutuhkan untuk profesi yang menuntut kreativitas seperti pelukis, penulis, komponis, dan semacamnya. Seorang pelukis yang melihat cerahnya langit suatu pagi di Jakarta, misalnya, bisa saja menggoreskan warna hitam legam di kanvasnya. Yang ditangkap sang pelukis boleh jadi wajah-wajah penghuninya yang serba tergesa-gesa, impersonal, dan tak punya waktu barang sejenak untuk menikmati beningnya langit. Sah-sah saja bila sang pelukis memandang langit Jakarta selalu kelam, karena langit dijadikan personifikasi penghuninya.

Kedua cara berpikir itulah yang harus dipadukan dalam diri pemasar di zaman sekarang. Ia harus memahami hal-hal yang eksak dan bisa dikuantifikasi (misalnya statistik mengenai kondisi riil konsumen/pelanggan, seperti status sosial ekonomi, demografi dan profil psikografi pelanggan). Dari masukan ini, ia mesti cerdas memilih strategi dan taktik yang tepat untuk membidik pelanggan berdasarkan konsep atau teori pemasaran yang sudah pernah dipelajarinya. Namun, pada saat bersamaan, ia juga dituntut terus kreatif dan inovatif mengembangkan cara-cara baru jika segala jurus yang pernah dipelajarinya ternyata tak mempan di lapangan. Itu sebabnya, banyak pemasar tangguh yang secara tak sadar menciptakan teori-teori baru di khazanah ilmu pemasaran.

Cerita-cerita seperti itu dapat Anda simak pada bagian lain Sajian Utama ini. Misalnya, Ferry Haryanto (29 tahun), pemasar muda, yang mampu mengantarkan merek Gery dari PT Garudafood bertumbuh sebagai brand yang kuat dan bertengger di posisi lima besar pasar biskuit nasional. Padahal, ketika ia dipercaya menangani merek ini lima tahun lalu (waktu itu umurnya masih 24 tahun), kondisinya sangat parah, bahkan divisi biskuit yang dipercayakan padanya nyaris dilikuidasi. Kini, merek Gery menjadi salah satu kontributor signifikan bagi pendapatan PT Garudafood. Bagaimana sepak terjang Ferry — begitu juga para pemasar muda lainnya — yang sigap mengombinasikan cara berpikir konvergen dan divergen, silakan buka halaman-halaman berikut.

Yang jelas, spirit itulah yang melandasi diselenggarakannya ajang tahunan Young Marketers Award (YMA). Yakni, terus mencari dan mengasah pemasar-pemasar muda berbakat yang sangat dibutuhkan di dunia binis negeri ini. Apalagi, seiring kencangnya angin persaingan bebas, tantangan bagi para pemasar muda ini bukan lagi sebatas pasar lokal, tapi juga di tingkat regional, bahkan global.

YMA pertama kali diluncurkan tahun 2003 dan tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga, hasil kerja sama antara Majalah SWA, MarkPlus & Co dan Indonesia Marketing Association (IMA). Patut dibanggakan, pada penyelenggaraan YMA 2005 — dan ini mencuat dari diskusi para anggota dewan juri — terjadi peningkatan kualitas peserta yang cukup signifikan. Umumnya mereka lebih bagus kinerjanya, baik dalam hal perencanaan, pengelolaan proses maupun pencapaian target atas produk/jasa yang mereka geluti. Ya, mereka memang masih muda, tetapi jangan tanya prestasinya.
URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=2688

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s