Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Injeksi Sanbe di Pasar Infus

Kamis, 23 Februari 2006
Oleh : Firdanianty dan S. Ruslina

Padalarang, Bandung, 12 Januari 2006. Sejumlah wartawan dan pelaku industri farmasi berdecak kagum melihat pabrik milik PT Sanbe Farma, yang baru saja diresmikan. Maklum, pabrik di atas tanah seluas 17 hektare itu bukan sekadar canggih, tetapi juga merupakan pabrik infus steril kemasan softbag pertama di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Dalam kesempatan tersebut, Presdir Sanbe Jahja Santoso memaparkan, keunggulan produk infusnya terletak pada teknologi yang digunakan, yaitu sistem sterilisasi 121°C dalam waktu 15 menit. “Teknologi ini merupakan yang pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara,” ujarnya bangga. Pabrik yang dilengkapi fasilitas produksi infus, ampul, vial, tetes dan salep mata, serta cairan perawatan lensa kontak ini juga menggunakan teknologi yang mengacu standar internasional dan current good manufacturing practice. Di lokasi yang berdekatan, Sanbe juga membangun waste water treatment plant untuk pengolahan limbah industri, serta pabrik Caprifarmando yang memproduksi sediaan obat seperti tablet, kaplet dan kapsul untuk obat over the counter maupun ethical.

Manuver Sanbe masuk pasar infus boleh dikatakan sebuah kenekatan. Betapa tidak, dari sisi dana, dikucurkan US$ 25 juta untuk mendirikan pabrik berkapasitas produksi infus steril sebanyak 20 juta softbag per tahun dengan jumlah karyawan sekitar 200 orang. Dari sisi persaingan, pasar produk infus steril saat ini sudah dikuasai pemain lain. “Saat ini Otsuka Group masih mendominasi pasar infus di Tanah Air. Bahkan, hampir 100% dari market size sebesar Rp 35 milliar per bulan dikuasai Otsuka,” ujar Manajer Penjualan Sanbe M. Bahlan. Di luar produk Otsuka, ia melanjutkan, sebenarnya ada beberapa merek infus lokal seperti Widatra. Namun, setelah ditelisik, “Ternyata masih di bawah payung Otsuka.”

Lalu, mengapa tetap nekat?

“Sanbe ingin mencoba memproduksi infus yang berbeda dari produk yang sudah ada di pasaran dan lebih unggul kualitasnya,” tutur Bahlan diplomatis. “Tujuan kami, mengisi pasar infus di segmen yang lebih ke atas,” imbuhnya. Maka, sasarannya bukan rumah sakit sembarangan. “Produk kami masuk ke rumah sakit kelas menengah-atas,” ujarnya. Namun, ia tak menutup kemungkinan produk berlabel Infusan ini ikut merambah segmen menengah-bawah bila memang ada permintaan yang cukup besar.

Untuk memenetrasi pasar, Bahlan mengaku tengah berjibaku ke seluruh provinsi di Indonesia memasarkan Infusan. Tahun pertama peluncuran, ia berharap meraih sekitar 20% total pasar di industri ini, untuk kemudian membesar di tahun-tahun kemudian. Untuk menggapai ambisi itu, Bahlan mengandalkan jaringan rumah sakit yang jumlahnya lebih dari 1.000 di seluruh Indonesia melalui distributor tunggal Sanbe, PT Bina San Prima, yang notabene anak perusahaannya.

Di luar jaringan rumah sakit, Sanbe juga mengandalkan 500 medical representative-nya yang tersebar di seluruh Indonesia, yang selama ini memiliki hubungan baik dengan para dokter di berbagai rumah sakit. Rencananya, RS Santoso di Bandung — yang bakal diresmikan April mendatang — menjadi rumah sakit pertama untuk pendistribusian Infusan dan beberapa produk baru Sanbe lainnya.

Menanggapi masuknya Sanbe ke bisnis infus steril, pengamat farmasi Ahmad Fuad Afdhal mengakui di pasar infus sebenarnya sudah ada beberapa nama yang eksis, terutama Kelompok Otsuka. Alhasil, ia melihat, Sanbe mencoba mencari pasar ceruk yang belum diisi produsen infus Tanah Air: segmen menengah-atas. “Untuk memberi benefit lebih, Sanbe menawarkan produk infus steril yang berkualitas tinggi dengan teknologi mutakhir,” ujar Fuad menggarisbawahi.

Sejauh ini, ia menilai, pasar infus masih terbuka luas meski jaringan Otsuka sudah lama terbentuk. Kendati masuk belakangan, Fuad tak mau meremehkan Sanbe. Pasalnya, perusahaan obat-obatan asal Bandung ini dikenal memiliki sepak terjang yang cukup kuat di industri farmasi. “Mereka jago membangun hubungan baik dengan para dokter dan rumah sakit,” katanya. Diakui Fuad, harga yang ditawarkan Infusan relatif lebih mahal dari produk pesaing, yakni Rp 10-11 ribu/kantong. Namun, ia memperhatikan, jumlah rumah sakit mewah kini tumbuh subur. “Mereka tentu membutuhkan produk yang upper skill,” tuturnya. Dengan demikian, Sanbe boleh berharap produk infusnya dapat menjelajahi ribuan rumah sakit di Indonesia.

URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=3998

One thought on “Injeksi Sanbe di Pasar Infus

  1. Sanbe emang baik ke dokter, tapi pelit ke karyawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s