Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Dua Tan di Dua Era: Mengukir Kejayaan Soho

Kamis, 05 Februari 2009
Oleh : Yuyun Manopol, Kristiana Anissa & Moh. Husni Mubarak

Tan Senior (Tan Tjhoen Lim) adalah pendiri dan perintis Grup Soho, dan Tan Junior (Tan Eng Liang) adalah pengembangnya. Sama-sama berprinsip sederhana, disiplin, terencana, bersikap profesional, dan suka mengapresiasi SDM. Namun, Tan Jr., yang lulusan master di luar negeri, membumbuinya lagi dengan modernisasi perusahaan.

Siang tengah hari bolong, 13 Desember 2008. Suara gemuruh dan teriakan tanda sukacita membahana di Hall D Jakarta Trade Expo, Kemayoran (Pekan Raya Jakarta) pada acara family gathering Grup Soho. Pemicunya, Komisaris Utama kelompok usaha ini, Tan Eng Liang, mengumumkan bahwa seluruh karyawannya yang berjumlah sekitar 3.600 orang akan memperoleh uang tanda kasih Rp 1 juta per orang. Sama rata, mulai dari level terendah sampai tertinggi.

Toh, uang tanda kasih seperti ini sejatinya bukan barang baru di Soho, karena sudah berjalan selama empat tahun terakhir. Namun, ia menjadi kejutan yang menyenangkan karena krisis finansial global telah ikut membuat lesu darah industri farmasi. Hingga acara kumpul-kumpul ini dimulai pun tak ada awak Soho yang mengetahui bakal memperoleh rezeki tiban ini. Boleh jadi, aksi Tan Eng Liang membagi-bagi uang itu untuk menunjukkan kepada karyawannya bahwa perusahaan tempat mereka bekerja baik-baik saja. Gaya sang big boss itu sendiri, kontras dengan keriuhan suasana saat itu, tetap dengan ketenangannya, dan hanya tersenyum tipis.

Lelaki kelahiran Jakarta 16 Juli 1948 itu selama ini memang dikenal sebagai sosok yang tenang, tak banyak cakap, tapi disegani. Bahkan di tengah kerumunan massa yang mencapai belasan ribu karyawan yang berjejal mengikuti tayangan film-film buatan karyawan Grup Soho, ia tampil low profile. Ia berbaur bersama para karyawannya. Tak ada penjagaan atau pendampingan yang istimewa buat pria berperawakan sedang ini. Bahkan, tak sedikit karyawannya yang tak tahu bahwa dialah bos besar kelompok usaha tempat mereka mencari nafkah. Buktinya, tubuhnya kerap bertubrukan dengan karyawan yang berjejal antre untuk menonton di ruang-ruang yang disediakan panitia. “Terus terang, tak ada beban apa-apa buat saya. Saya memang seperti ini,” ujarnya enteng tentang sikapnya yang tak terlalu suka menonjolkan diri itu.

Tak banyak orang yang mengenal Tan Eng Liang. Maklum, wajah dan profilnya jarang menghiasi media-media di Tanah Air. Bahkan pria yang memegang status permanent resident di Australia ini hanya satu bulan sekali ke Indonesia. Keluarga Tan memang menetap di Negeri Kanguru. Putra kedua dari tiga bersaudara ini pun tak sebeken nama Soho, yang belakangan naik daun karena kinerjanya yang fantastis.

Soho saat ini boleh dibilang rising star di industri farmasi nasional. Dari sisi penjualan, perusahaan ini berhasil melesat ke posisi ketiga pada kuartal ketiga 2008 di antara semua perusahaan farmasi di Indonesia. Padahal sebelumnya, Soho selama tiga tahun (2005-2007) hanya bertahan di posisi ke-7.

Meskipun terkesan tak terlibat banyak di Soho, sebenarnya Tan Eng Liang sudah mulai bergabung di perusahaan ini cukup lama. Tepatnya setelah kepulangannya ke Indonesia dari Jerman pada 1976. Saat itu ia baru saja menyelesaikan pendidikannya dengan meraih gelar master di bidang fisika. Ia menceritakan, saat itu ayahnya, Tan Tjhoen Lim (dikenal sebagai Tan Senior) mengajaknya untuk rapat atau sekadar bertemu dengan para mitra bisnis di dalam dan luar negeri. Belakangan ia ditempatkan di bagian logistik. Alasannya, sebagai master di bidang fisika juga programming, ia bisa membuat sistem logistik bagi perusahaan “Waktu itu saya banyak pindah-pindah bagian. Terus terang saya agak lupa. Yang pasti saya banyak belajar di berbagai bidang,” ujar Tan Eng Liang, alias Tan Junior. Sampai detik kematian ayahnya, Tan Eng belum pernah naik kelas. Posisinya di perusahaan hanya manajer, sedangkan ayahnya sebagai komisaris utama. Namun ketika posisi komisaris utama kosong ia menggantikannya sejak 1997 hingga sekarang.

Sebuah sumber mengungkapkan sebelum ditunjuk sebagai komisaris utama, Tan Eng tak terlalu aktif di perusahaan yang kini usianya lebih dari separuh abad ini. Uniknya, Soho moncer justru ketika ia memimpin perusahaan yang kini terdiri dari empat unit usaha (PT Soho Industri Pharmasi, PT Ethica Industri Farmasi, PT Parit Padang, dan PT Global Ritel Inti).

Boleh jadi, keterlibatan Tan Junior di Soho mulanya sebuah keharusan. Maklum, ia anak laki-laki satu-satunya dari Tan Tjhoen Lim. Dua saudara perempuannya, Tan Giok Nio dan Tan Kin Nio, memilih peran sebagai ibu rumah tangga.

Tan Eng Liang yang saat dihubungi lewat telepon sedang berada di Sydney, Australia, mengungkapkan ayahnya merupakan sosok peletak fondasi awal perusahaan. ”Sebagai pemimpin perusahaan, almarhum ayah saya memiliki semangat kekeluargaan yang tinggi,” ujarnya. Ia menceritakan, sebelum berkembang seperti sekarang, kelompok usaha ini diawali dengan berdirinya PT Ethica Industri Farmasi pada 30 November 1946. Cikal bakal Grup Soho ini memproduksi obat injeksi dan oral seperti sirup.

Di mata Andreas Halim Djamwari, Presdir Grup Soho sekarang, Tan Senior adalah sosok yang sangat disiplin, keras dan sangat hemat (sederhana). “Contohnya ketika dinas ke luar kota, hotelnya sederhana, makannya sederhana. Pokoknya sangat sederhana,” ujar sarjana biologi dari Universitas Gadjah Mada yang sudah mengenal Tan Senior pada 1980-an itu. Sikap disiplin dan ingin segala sesuatunya terencana dengan baik akhirnya menular ke diri Tan Eng Liang.

Prinsip lain yang juga diwariskan Tan Senior adalah sedikit mungkin melibatkan anggota keluarga dalam perusahaan. Tan Junior mengungkapkan, hanya ada dua orang anggota keluarga besar Tan di dalam Grup Soho yaitu dia dan saudara iparnya. Saudara ipar itu sendiri tak ada dalam struktur perusahaan walaupun sering terlibat dalam pengelolaan perusahaan. Adapun istri dan anak-anak dia dan saudaranya tak bergabung di perusahaan. Alasannya, kalau itu dilakukan akan membuat rumit pengembangan bisnis. ”Kami ingin perusahaan ini profesional,” ujarnya tegas. Prinsip ini ia terus pegang hingga saat ini.

Menurut Tan Junior, ayahnya juga mewariskan sejumlah prinsip penting lainnya pada anak-anaknya, yaitu disiplin, on time dan berintegritas tinggi. Tan Eng mengakui, gaya ayahnya dalam menjalankan perusahaan masih sangat konservatif dan nyaris tanpa inovasi produk. Contohnya, produk obat bebas tidak digenjot habis-habisan.

Seorang sumber SWA mengutarakan, sebelum tahun 1995, Soho tak memiliki strategi pemasaran yang modern. Saat itu yang banyak dilakukan perusahaan adalah aktivitas penjualan saja. Maklum, Soho belum memiliki profesional yang andal dan berpengalaman di bidang farmasi. Strategi pemasaran produk berbasis herbal melalui simposium pertama kali dilakukan tahun 1995. Ketika itu Soho memelopori pemasaran produk herbal dengan cara etiket di Indonesia.

Manakala tampuk kepemimpinan Soho beralih kepada Tan Eng Liang tahun 1997, lelaki berpendidikan tinggi ini mulai memikirkan bagaimana membentuk Soho menjadi perusahaan yang modern. Ia menghendaki Soho tak sekadar bertahan, melainkan harus pula tumbuh sehat dan melakukan lompatan-lompatan spektakuler. Menurut Tan Eng, hal pertama yang ia pikirkan adalah SDM dan informasi. ”Dua hal ini merupakan kunci yang perlu diperhatikan,” ia menegaskan.

Tan Eng Liang kemudian melakukan pembenahan sebagai bagian dari proses perubahan. Yang pertama disoroti adalah teknologi informasi (TI) yang dibenahi sejak 1998 atau pada saat krisis moneter jilid satu. Pembenahan bidang ini, selain untuk mempersiapkan perusahaan menghadapi potensi masalah Y2K (millenium bug) ketika itu, juga untuk memudahkan pengambilan keputusan. Alhasil setelah pembenahan ini, TI Soho menjadi terintegrasi dan tersentralisasi. Boleh dibilang, Soho salah satu perusahaan farmasi lokal perintis dalam hal penggunaan TI yang tergolong sistematis dan mutakhir.

Pembenahan besar berikutnya adalah diterapkannya konsep Balanced Scorecard (BSC) pada 2005. Alasan Tan Eng, hal ini juga menyangkut perubahan budaya dan cara kerja perusahaan. ”Jadi, ini merupakan proses perubahan yang sangat fundamental,” katanya. Maklum, BSC merupakan peranti manajerial untuk menerjemahkan misi dan strategi perusahaan ke dalam tujuan dan ukuran yang diorganisasi ke dalam empat perspektif: keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta proses pembelajaran dan pertumbuhan. ”Beliau memang paling ngotot soal ini (TI dan BSC),” ujar Andreas.

Selanjutnya, untuk membuat perusahaan lebih profesional, Tan Junior memercayakan pada Andreas Halim Djamwari sebagai Presdir Grup Soho pada 2002. Tan mengaku sudah lama mengenal sosok Andreas. Kebetulan kala itu Andreas bekerja di sebuah perusahaan asing yang juga bekerja sama dengan perusahaannya. ”Pak Andreas bisa saya andalkan dan saya memberi otoritas padanya. Arahan pokok datangnya dari saya agar satu alignment. Pak Andreas bisa mengerti apa yang saya mau,” ujar laki-laki yang hobi mendengarkan musik dan baca buku ini.

Aspek lain yang juga penting di mata Tan Eng adalah SDM. Ia melihat, jika para karyawan termotivasi, mereka akan bekerja lebih baik dari yang diharapkan. “Turnover SDM kami termasuk rendah. Kecuali mungkin para pekerja lapangan, karena sebagian besar mereka anak-anak muda yang masih mudah mencari pekerjaan baru,” kata Andreas seraya menambahkan, 99% profesional yang berada di Soho merupakan orang Soho sendiri. Kecuali, jika sangat terpaksa, Soho mengambil profesional penting dari luar perusahaan.

Yang menarik, Tan juga meluncurkan serve over and above the rest (SOAR) dua-tiga tahun yang lalu. Ia menjelaskan SOAR ditujukan untuk memberi apresiasi kepada karyawan yang mampu menciptakan customer satisfaction yang paling baik. Motivasinya untuk meningkatkan layanan kepada konsumen. Tak lupa, ia membuat logo baru pula. “Saat ini kami sedang membentuk holding company yaitu Grup Soho. Tujuannya untuk meningkatkan kebersamaan,” ujar Tan Junior yang yang ikut pula menjadi juri dalam ajang SOAR di Pekan Raya Jakarta.

Sebagai sosok yang tinggal jauh di Australia, Tan Eng Liang punya gaya kepemimpinan yang berbeda. Ia membatasi diri untuk hanya memikirkan hal-hal yang strategis atau garis besar. Selanjutnya ia menyerahkan pada tim di Grup Soho untuk mengembangkannya. Ia menuturkan, meski dari segi lokasi cukup jauh ia tidak kesulitan dalam komunikasi, karena bisa lewat telepon, SMS, telekonferensi atau e-mail. ”Tidak setiap hari, tapi seminggu sekali. Tergantung ada masalah yang penting atau tidak,” ia berujar.

Kepercayaan dan dorongan yang besar untuk bekerja merupakan hal yang disukai Lukas – salah seorang karyawan kawakan – di Soho. Menurut mantan eksekutif perusahaan farmasi asing ini, ia sangat cocok dengan kondisi kerja di Soho karena mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan ide. ”Dan yang terpenting, top management mendukung,” kata pria yang telah bekerja selama belasan tahun di Soho ini.

Menurut Lukas, Tan Eng Liang ingin membentuk perusahaan yang tak hanya modern tapi juga go global. Itulah sebabnya sejak tiga tahun terakhir, Soho mengekspor ke luar negeri. Jumlahnya memang belum besar, hanya 1% dari total omset, dan sebagian besar merupakan produk berbahan baku curcuma. Ada 10 negara tujuan ekspor, di antaranya Nigeria, Malaysia, Myanmar dan Suriname.

Tan Eng Liang sendiri menyebutkan, ia menargetkan tahun ini ekspor Soho akan meningkat 5%-7%. Yang jelas, melihat kinerja Grup Soho yang begitu pesat, Tan semakin percaya diri. “Kami menargetkan pada 2015 akan go global dan memiliki pendapatan Rp 20 triliun,” ucapnya optimistis. Ia memimpikan, pada saat itu produk-produk Soho sudah bisa eksis di luar negeri.


URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=8714

5 thoughts on “Dua Tan di Dua Era: Mengukir Kejayaan Soho

  1. As one of the SOHO group employees, I feel working in this company is the right choice, where we can learn everything in this company. Go vision 2015 ” one vision , one team”

  2. Walaupun belum pernah melihat pak Tan secara face to face.. Tapi saya sangat yakin SOHO Group adalah perusahaan tepat untuk kita berkembang dan meniti karier.. Sukseskan VISION 2015..
    ONE VISION ONE TEAM

  3. Menurut saya bapak Tan Eng Liang adalah…BEST OF THE BEST LEADER…I LOVE SOHO…go fight to win soho…

  4. menurut saya pak Tan Eng Liang adalah…BEST OF THE BEST LEADER…. I LOVE SOHO.GO FIGHT TO WIN…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s