Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Dankos Laboratories: Terbiasa Menerapkan Nilai-nilai GCG

Kamis, 28 April 2005
Oleh : Yuyun Manopol & S. Ruslina

“Membuang sampah di taman, pot, selokan, jalan, toilet, bukanlah karyawan dan tamu Dankos Laboratories.” Demikian kalimat yang tertera di belakang pintu toilet PT Dankos Laboratories Tbk. Di samping tulisan itu, tertera pamflet berisi tulisan “5R: Rapi, Rawat, Resik, Ringkas dan Rajin” yang menjadi nilai-nilai perusahaan. Selain itu, juga ada tempelan mengenai jadwal piket petugas kebersihan plus bel, sehingga jika fasilitas toilet ini rusak atau kotor, si pengguna bisa menghubungi petugas. Begitulah pemandangan yang kita jumpai ketika memasuki toilet perusahaan yang berada di Jl. Rawa Gatel III Kav.36-38, Kawasan Industri Pulogadung, Jakarta Utara ini, selain kondisi bersih, kering, wangi dan apik. Tampaknya, bagi Dankos, nilai perusahaan tak hanya dimulai dari hal-hal besar, tapi juga menyentuh ruangan kecil yang sering disepelekan: toilet.

Kalau Dankos memperhatikan hal-hal yang terkesan kecil semacam itu, apalagi untuk hal yang lebih besar seperti praktik penerapan tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance (GCG), Toh, di mata Herman Widjaja, Presiden Direktur Dankos, GCG bagi awak Dankos juga sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Alasannya, nilai-nilai dalam GCG seperti mematuhi etika bisnis, memperlakukan karyawan secara adil, bekerja sama dengan kalangan serikat pekerja, serta menjalankan komunikasi dan transparansi informasi, sudah dilakukan Dankos sejak lama. “Jadi, nilai-nilai GCG sendiri sudah diterapkan dari dulu,” katanya mengaku.

Herman berpendapat, penerapan GCG butuh proses panjang. Tak bisa dijalankan sekaligus, harus tahap demi tahap. Sebab, menurutnya, hal ini menyangkut banyak faktor, mulai dari komitmen sampai kesiapan pemegang saham, manajemen puncak dan karyawan.

Komitmen ini tampak dari nilai (value) dan aturan perusahaan yang dikodifikasi dalam Dankos Quality Excellence. Isi DQE cukup komprehensif, mencakup berbagai dokumen, antara lain CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik) yang juga dikenal dengan istilah Good Manufacturing Process, ISO 9001, ISO 14001, SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja), OHSAS 18001 (juga tentang keselamatan dan kesehatan kerja), serta Best Practices yang terdiri dari 5R, Internal Customer Satisfaction, Toll-in Toll-out Customer Satisfaction, Total Productive Maintenance dan Dankos Customer Care. “DQE sudah menjadi budaya di Dankos,” ujar Herman bangga.

Nah, ketika GCG dilembagakan sebagai suatu konsep formal, menurut Herman, Dankos tak canggung lagi menerapkannya. Boleh dibilang, pada 2001 Dankos mulai menerapkan GCG walaupun belum mengikuti acuan formal dan standar. Sebutlah kelembagaan Komisaris Independen, yang sudah dirintis pada tahun itu. Baru pada 27 November 2002 Dankos membuat Pedoman GCG yang dijalankan hingga kini. Dengan pembuatan dokumen tertulis ini, Dankos ingin menunjukkan komitmen yang lebih besar pada penerapan GCG.

Istimewanya, Dankos tidak menggunakan konsultan, baik dalam penerapan maupun dokumentasi praktik GCG. Manajemen Dankos, menurut Herman, mengembangkan konsep pelaksanaan GCG dari hasil belajar di luar, seperti mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Indonesian Institute for Corporate Governance. Yang tak kalah penting, perusahaan induknya, PT Kalbe Farma Tbk., mendukung pelaksanaan GCG di Dankos.

Meskipun merancang sendiri, Dankos memiliki kelengkapan struktur yang cukup memadai bagi penerapan GCG. Selain fungsi komisaris independen dan sekretaris perusahaan, produsen Fatigon ini memiliki beberapa komite fungsional. Namun, dalam struktur organisasi Dankos tak ada direktur kepatuhan (compliance director) yang kini bisa ditemukan di perbankan. “Untuk perusahaan semacam kami, direktur compliance tidak umum,” ujar Justian Sumardi, Direktur Keuangan yang juga merangkap Sekretaris Korporat Dankos, memberi alasan. Di jajaran direksi Dankos, setelah presdir, hanya dikenal tiga direktur, yaitu direktur keuangan, direktur produksi (plant director), dan direktur (tanpa bidangnya karena bersifat umum Red.). Adapun bidang pemasaran dan pengembangan SDM dipimpin asisten direktur pemasaran dan manajer pengembangan SDM, yang bertanggung jawab langsung kepada presdir.

Dari ketiga direktur tersebut, dua direktur tak ada keterkaitan dengan pemegang saham. Jadi, hanya seorang direktur yang berasal dari pihak pemegang saham terbesar Dankos (Grup Kalbe), yakni Joseph Angkasa yang saat ini merangkap sebagai Presdir PT Bintang Toedjoe, anak perusahaan Dankos. Itulah sebabnya, posisi direktur yang ia pegang di Dankos tak disebutkan bidangnya, karena lebih bersifat formalitas.

Saat ini posisi sekretaris perusahaan juga dirangkap oleh direktur keuangan. Menurut Herman, perangkapan ini masih dimungkinkan karena pekerjaan sekretaris korporat dekat dengan direktur keuangan yang banyak membahas masalah keuangan perusahaan dan sama-sama banyak berperan mewakili perusahaan dalam berhubungan dengan pihak lain/luar. “Kami sedang mengader seseorang untuk jabatan ini. Jika hasilnya positif, tahun depan atau dua tahun lagi posisi ini bisa dipisah,” ujar Justian.

Sekretaris perusahaan berfungsi membantu dewan direksi melihat sejauh mana implementasi GCG dijalankan. Namun, Justian mengaku sejauh ini tak mengalami konflik kepentingan.

Untuk posisi komisaris independen, sosok yang dipilih benar-benar independen. Dalam arti, mereka bukan anggota keluarga pemilik Dankos, tapi dinilai punya reputasi baik. Saat ini Dankos memiliki dua orang komisaris independen. Mereka adalah Sri Arum Soetoepobroto (pensiunan apoteker senior) dan Slamet Soesilo (mantan Dirjen POM). Soal pemilihannya, menurut Herman, disesuaikan dengan peraturan BEJ.

Tugas komisaris independen adalah melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap penerapan GCG. Mereka juga berkewajiban memberi perlindungan bagi pemegang saham minoritas dan memberi masukan bagi direksi. Peran penting lainnya: menghindari terjadinya benturan kepentingan dalam pengelolaan perusahaan. “Kehadiran mereka diharapkan untuk menghindari campur tangan pemegang saham pengendali,” ujar Herman.

Selain komisaris independen, yang tak kalah penting adalah komite fungsional. Di Dankos, komite fungsional yang sudah ada adalah Komite Audit, Komite Nominasi, Komite Remunerasi dan Komite Asuransi. Yang pertama terbentuk adalah Komite Audit pada 10 Desember 2001. Komite ini diketuai seorang komisaris independen. Anggotanya terdiri dari seorang komisaris serta dua profesional yang independen dan berasal dari luar. Profesional ini disyaratkan memiliki pengetahuan di bidang akuntansi dan keuangan. Di Dankos pihak profesionalnya adalah Ernst & Young. Komite ini bertanggung jawab pada dewan komisaris. Tujuannya, supaya pekerjaan mereka tidak dipengaruhi direksi.

Peran Komite Audit cukup banyak. Antara lain, memberikan penilaian apakah sistem yang berjalan mencerminkan fungsi pengawasan internal. Lalu, komite juga menilai apakah perusahaan taat kepada hukum, peraturan perundangan dan kebijakan internal. Yang tak kalah penting, komite ini juga memberi penilaian apakah perusahaan dikelola dengan manajemen risiko yang memadai.

Adapun Komite Nominasi berperan menyusun pedoman tentang proses penunjukan dan penilaian terhadap calon dewan komisaris dan direksi. Komite ini juga melakukan proses penunjukan dewan komisaris dan direksi sesuai dengan pedoman yang ditentukan.

Lainnya adalah Komite Remunerasi, yang bertugas menyusun sistem penggajian dan pemberian tunjangan, serta remunerasi bagi dewan komisaris dan direksi secara wajar. Adapun Komite Asuransi memberikan persetujuan atas nilai pertanggungan asuransi atas aset perseroan yang diusulkan direksi.

Menurut Justian, komite fungsional berdiri sendiri-sendiri dan masing-masing ada ketuanya. Tujuannya, masing-masing komite tersebut bisa bekerja secara profesional dan independen. Ia mencontohkan dalam hal pencalonan komisaris independen. Di sini ada satu proses seleksi yang dilakukan oleh komite nominasi. Memang, dalam pemilihan komisaris independen, jajaran direksi dilibatkan untuk urun rembuk. Namun, keputusan akhir tetap di tangan komite. Selanjutnya, “Supaya ada fairness, transparansi, dan lain-lain, kami kembalikan lagi kepada Rapat Umum Pemegang Saham untuk diputuskan,” ujarnya.

Di Dankos, dewan komisaris juga terbagi dua, yakni dewan independen dan non-independen. Mekanisme penunjukan komisaris ini dituangkan dalam suatu pedoman. Dalam pelaksanaan tugasnya, tiga bulan sekali diadakan rapat antara direksi dan dewan komisaris. Di sini direksi akan menjelaskan kinerja perusahaan. Adapun dewan komisaris melakukan penilaian apakah perusahaan sudah melakukan prinsip-prinsip GCG. Justian mengungkapkan, di Dankos dimungkinkan dilakukan review meeting yang melibatkan komisaris dan direksi. Isinya, tentang hasil yang dicapai bulan lalu, dan rencana perusahaan bulan depan.

Soal independensi tampaknya juga menjadi kepedulian Dankos. Hal ini tampak dari aturan, bahwa dewan komisaris dalam menjalankan tugas dan wewenangnya tidak dipengaruhi pemegang saham pengendali. Dewan komisaris juga harus terlepas dari hubungan afiliasi dengan direksi.

Dankos juga sudah melihat pentingnya transparansi, misalnya tentang perkembangan kinerja perusahaan. Transparansi ini tak hanya berlaku pada pemegang saham dan kreditor, tapi juga pihak lain yang berkepentingan. Untuk memudahkan hal ini, termasuk untuk para investor asingnya, Dankos meluncurkan website www.dankoslabs.com. Isinya, profil perseroan, produk, laporan keuangan tahunan audit, hingga berbagai berita tentang Dankos.

Bagaimana perlakuan perusahaan ini terhadap stakeholder lainnya seperti karyawan? Saat ini, Dankos telah membuat model job competency. Model ini berlaku untuk tiap level dan jabatan yang ada di perusahaan. Bagi karyawan yng belum memiliki kompetensi akan dilakukan pelatihan untuk mengembangkan kemampuannya. Adapun penilaian prestasi kerja dilakukan dua kali setahun.

Nah, agar seluruh karyawan mau menjunjung tinggi nilai-nilai perusahaan yang tertuang dalam DQE, Dankos berusaha menciptakan suasana kerja yang kondusif, dan bebas dari berbagai bentuk tekanan. Di sini, karyawan bebas mengungkapkan pendapatnya tentang pekerjaan. Begitu juga sebaliknya, atasan melakukan coaching kepada bawahannya untuk terus mengomunikasikan nilai-nilai tersebut.

Kini setelah sekian lama menerapkan GCG, Herman dan Justian mengaku telah merasakan sejumlah manfaatnya. Pertama, Dankos bisa meningkatkan rasa nyaman dan kepercayaan karyawan terhadap perusahaan. Sebab, ada keterbukaan dan akuntabilitas. Kedua, para pemegang saham minoritas – total sahamnya mencapai 28,5% – merasa dihargai haknya secara proporsional. Ketiga, harga saham Dankos dari tahun ke tahun semakin membaik. Keempat, dengan penerapan GCG secara baik, cara kerja dan kinerja perusahaan juga semakin baik. Karena perusahaan semakin efisien, produk-produk yang dijual perusahaan juga makin kompetitif. Imbasnya buat konsumen, mereka bisa mendapatkan harga yang terbaik.

Imam, staf penjual di Apotek Rini di Rawamangun, mengungkapkan bahwa proses order produk Dankos di Enseval (distributornya) relatif cepat. Jika pada pukul 09.00 dipesan, pada pukul 12.00 pesanan sudah tiba. Tenggang waktu pembayaran juga tak berbeda jauh dari yang lain, bisa dikredit selama 30 hari.

Sebagai perusahaan farmasi, Dankos memproduksi 76% produk over the counter, 20% produk ethical, dan sekitar 4% sisanya produk untuk memenuhi order pihak lain (toll manufacturing).

Seorang sumber SWA mengungkapkan, Dankos terbilang cukup fair dalam memberikan hak dividen pada investornya. Di Dankos, dividen bagi investor — seberapa pun besarnya — biasanya diberikan setiap tahun. Ia menambahkan, manajemen cukup gamblang melaporkan kinerjanya. Bahkan, penjualan tiga bulan terakhir yang biasanya jarang dimasukkan dalam Laporan Tahunan, ternyata juga disampaikan. Ia mengaku, pihak persero juga cukup memberi kesempatan bagi investor mengajukan pertanyaan serinci mungkin.

URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=2590

One thought on “Dankos Laboratories: Terbiasa Menerapkan Nilai-nilai GCG

  1. permisi, jika ingin ke pt dankos dr pintu gerbang kawasn industri naik apa ya kedlmnya? trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s