Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Dankos Laboratories: Raih Value Tinggi Berkat Inovasi

Minggu, 07 November 2004

Oleh : Ishak Rafick; Reportase: Farida Nawang Nurini Riset : Vika Octaviani

Dua tahun berturut-turut mampu bertengger di posisi pertama peringkat EVA kategori perusahaan di bawah Rp1 triliun. Kemampuan berinovasi membuat Dankos menciptakan value tinggi bagi pemegang sahamnya.

Kemampuan PT Dankos Laboratories Tbk. menciptakan value added patut diacungi jempol. Empat kali pemeringkatan SWA100 yang menggunakan pendekatan economic value added (EVA), anak perusahaan Grup Kalbe ini tak pernah membukukan angka EVA (adjusted) negatif. Hebatnya lagi, value added yang dihasilkannya makin besar.

Di tahun 2001, Dankos mencatat EVA Rp 21,67 miliar (berdasarkan laporan keuangan 2001) dan berada di peringkat 14 kategori perusahaan dengan aset di bawah Rp 1 triliun. Tahun berikutnya, ia mencatat EVA Rp 51,49 miliar dan berada di urutan ke-6. Tahun 2004 perusahaan yang berdiri pada 1974 ini berada di peringkat pertama dengan nilai EVA Rp 118,68 miliar. Posisi yang sama sebenarnya telah digapai tahun lalu, tapi saat itu angka EVA-nya masih Rp 72,44 miliar.

Kedigdayaan Dankos itu juga diakui Majalah Forbes Global edisi November 2004. Ini terlihat dengan dimasukkannya Dankos dalam deretan 100 perusahaan Asia Pasifik terbaik kategori aset di bawah Rp 1 triliun. Dalam daftar The Best under a Billion itu Indonesia menyumbang 8 nama perusahaan, jauh di atas Cina yang cuma menyumbang dua, Hong Kong lima dan India 6. Di deretan perusahaan Indonesia itu Dankos berada di posisi kedua, disusul saudaranya Enseval Putra Mega Trading di tempat ketiga. Tempat pertama diduduki Berlian Laju Tanker.

Presdir Dankos Herman Widjaja tak menutupi kegembiraannya, bahwa perusahaannya mampu meraih nilai EVA tertinggi di kelas perusahaan di bawah Rp 1 triliun. “Kami senang, gembira dan bangga bisa meraih kembali penghargaan The Best EVA ini,” katanya sumringah. Semua penghargaan itu tidak jatuh dari langit, tapi merupakan hasil kerja keras dan persiapan yang berkesinambungan. “Selama 1995-2000, manajemen telah menerapkan konsep CS atau customer satisfaction. Ini sangat terasa manfaatnya saat kami meluncurkan merek produk-produk besar seperti Extra Joss, Irex, dan sebagainya,” tutur Herman. Kini, lanjutnya, Dankos telah selangkah lebih maju melalui konsep customer value (CV), di mana ekspektasi konsumen tidak hanya dibentuk oleh apa yang dikomunikasikan perseroan, tapi juga oleh latar belakang dan motivasi konsumen serta gerak-gerik pesaing.

“Di tengah iklim persaingan yang semakin ketat, Dankos tidak hanya berusaha memuaskan pelanggan, tapi juga sekaligus memuaskan pemegang saham,” Herman menegaskan. Itu sebabnya, sebagai profesional dan orang nomor satu di Dankos, lanjut Herman, dia dan jajaran manajemen tak ingin terlena oleh penghargaan itu. Bahkan, sebaliknya dia berusaha menggunakan penghargaan itu sebagai tantangan bagi jajaran manajemen untuk mempertahankan prestasi yang telah diraih.

Keberhasilan produk tersebut di pasar, lanjutnya, karena perusahaan mempunyai konsep produk yang bagus, segmen pasar dan positioning-nya tepat. Sebagai contoh, dia menunjuk produk OTC-nya: Komix. Produk ini memiliki selling point unik, yaitu sekali minum atau single purchasing product. Konsumen dimudahkan Dankos dengan menyediakannya dalam bentuk sachet yang bisa dibawa dan mudah disimpan. Dankos juga mengembangkan satu produk baru dari Komix, yaitu Komix OBH. Ini melengkapi yang sudah ada, mulai dari Komix Papermint, Komix Jahe dan Komix Jeruk Nipis. Nampaknya lewat inovasi produk ini, Dankos ingin mengulang kesuksesannya di minuman energi yang mulanya dalam botol, lalu dibuatkan dalam kemasan sachet untukmembidik kelas menengah-bawah, dan berhasil.

Tak dapat dipungkiri, langkah dan inovasi Dankos di industri farmasi dan obat-obatan telah membuat industri ini bergerak penuh gairah. Produk multivitaminnya juga tak bisa dianggap enteng. “Kami telah berhasil mengembangkan produk multivitamin, terutama Fatigon dengan bintang iklannya Ari Wibowo. Fatigon diciptakan untuk mengisi pasar dan ditujukan bagi para pekerja keras yang tak mau capek dan lelah,” kata Herman. Sukses dengan Fatigon, kini Dankos maju lagi dengan Fatigon Spirit yang terang-terangan membidik mereka yang akan memulai pekerjaan atau aktivitas sehari-hari dan mampu membuat mereka bersemangat. “Fatigon Spirit juga diterima baik oleh pasar,” ia mengungkapkan. Ini, lanjut Harman, ditunjang oleh bentuk-bentuk komunikasi yang tepat, misalnya menggunakan bintang iklan Primus Yustisio yang sekarang sedang naik daun.

Produk consumer health memberi kontribusi sekitar 73% terhadap total pendapatan Dankos. Ini dibagi empat kelompok, yaitu: healthdrink, remedies product (OTC Pharma), multivitamin dan fito farmaka. Jadi, secara umum revenue itu masuk lewat dua pintu. Pertama, Dankos sendiri sebagai induk yang juga memproduksi multivitamin seperti Fatigon, obat penghilang flu Mixagrip, dan produk-produk etikal (Brainact, Cefazol, Cefizox, Cefotaxime, Cetriaxone, Foxim, Mikasin, Neurotam, Reskuin dan Spiradan).

Kedua, dari anak-anak perusahaannya: PT Bintang Toedjoe, PT Saka Farma Laboratories dan PT Hexpharm Jaya Loboratories. Bintang Toedjoe lebih banyak bergerak di consumer healthcare seperti healthdrink, OTC atau fito farmaka. Sakafarma bergerak di produk multivitamin seperti Sakatonik Liver dan OTC seperti Mextril. Hexpharm lebih banyak bergerak di produk generik yang pemasarannya tidak melalui media massa.

Menurut Herman, karena kontribusi produk consumer health besar, maka pengembangan produk diarahkan ke kelompok besar itu, misalnya Extra Joss LG, Komix OBH, Fatigon Spirit dan Irex Max. Produk utama yang diluncurkan perseroan, antara lain: Extra Joss, Fatigon, Fatigon Spirit, Komix, Mextril (tablet dan sirup), Mixagrip, OSK 16, Sakatonik (Liver, ABC, ABC Plus dan Grenk), dan Waisan.

Di bisnis obat-obatan penambah gairah pria, Dankos pun cukup punya nama. Ini bisa dilihat dari kesuksesan Irex masuk pasar, kemudian disusul Irex Max. Meski track record-nya sangat bagus, tak semua roduk Dankos sukses di pasar. Fiber misalnya, meski tak ditarik dari pasar, terpaksa dievaluasi ulang.

Herman mengakui, selain inovasi, faktor penting yang sangat berperan menyukseskan produk-produk Dankos dan anak-anak perusahaannya di pasar adalah strategi harga. “Kami selalu memilih harga yang terjangkau,” kata Herman. Agar mampu memberikan harga yang terjangkau, perseroan mencari berbagai alternatif, misalnya menemukan bahan baku atau kemasan yang lebih murah tanpa mengurangi kualitas, bahkan meningkatkan kualitas. Lalu, “Investasi untuk mempercepat proses produksi, sehingga bisa lebih efisien,” tambahnya cepat. Herman tak mengada-ada. Tahun lalu Dankos tercium telah menginvestasikan sekitar Rp 70 miliar untuk pengembangan fasilitas produksi dan menambah mesin baru.

Bagaimana Dankos mampu menjaga kualitas produk, tapi tetap bisa mempertahankan margin di kisaran 18%?20%? Menurut Direktur Dankos Justian Sumardi, perusahaan menerapkan berbagai sistem manajemen mutu, antara lain, Cara Produksi Obat Baik (CPOB) yang sekarang sedang menuju CPOB Terkini. Sementara itu, dalam soal manajemen sumber daya manusia, Dankos menerapkan competency based human resource management. Ini telah diterapkan sejak dua tahun lalu di jajaran Dankos. Secara keseluruhan, perseroan kini memiliki 3.400 karyawan, dan 1.100 orang diserap Dankos. Sisanya, tersebar di Bintang Toedjoe (Pulo Gadung dan Pulo Mas), Saka Farma (Semarang), dan Hexpharm (Cipanas).

Meski produknya telah sukses di pasar dan sahamnya sangat likuid di pasar modal, manajemen Dankos nampaknya tak mau berpuas diri dengan kinerjanya selama ini. Itu sebabnya Dankos tak segan menjalin aliansi strategis dengan perusahaan asing. Perusahaan farmasi di Indonesia, menurut Justian, umumnya formula based company. Artinya, mereka cuma mencampurkan molekul yang satu dengan yang lain, sampai ditemukan khasiatnya. Tak ada research based untuk menemukan atau menciptakan sesuatu yang belum ada. “Di sinilah pentingnya kami beraliansi dengan perusahan luar yang kuat di riset,” Justian menegaskan. Kerja sama itu berupa perjanjian lisensi dan kerja sama dalam pemasaran. “Perusahaan farmasi asing membutuhkan jaringan pemasaran yang luas, sementara Dankos membutuhkan produk-produk baru mereka yang masih dalam paten,” tambahnya terus terang.

Kini, Dankos telah menjalin kerja sama dalam bentuk perjanjian lisensi dengan Fujisawa Pharmaceutical Co. Ltd., Daiichi Pharmaceutical dan Mitsubishi Tokyo Pharmaceutical Co. Ltd. Tahun 2003 Dankos juga menandatangani perjanjian lisensi dengan Faes Pharma (Spanyol), Strakan (Ingrris), BBT Germany (Jerman), dan Procos (Italia). Produk lisensi dari perusahaan asing yang baru bekerja sama ini diluncurkan akhir tahun 2004 dan awal tahun 2005.
(swa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s