Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Boen dan Lima Falsafahnya

Kamis, 01 Juni 2006
Oleh : Eddy D. Dwinanto/Firdanianty

Membangun Kalbe dari nol hingga menjadi perusahaan farmasi terbesar se-Asia Tenggara, jelas prestasi yang tak kecil. Nilai-nilai apa yang ditanamkan sang pendiri kepada seluruh karyawan? Apa lagi impian yang mengganggunya?

15 menit berlalu. Santi, sang sekretaris, berjalan menghampiri kami. “Mari, silakan masuk,” ujarnya ramah. Ia menggiring kami ke salah satu ruang rapat di Lantai 5 Gedung Enseval, Cempaka Putih, Jakarta Timur. Tak lama kemudian, sosok yang kami tunggu-tunggu itu datang. “Selamat pagi,” sapa pria ini hangat. Dibalut kemeja lengan pendek berwarna putih dengan motif garis-garis dan celana pantalon hitam, ia berdiri menyalami kami satu per satu dengan senyumnya yang ramah.

Tubuhnya tak terlalu tinggi, tapi juga tidak bisa dikatakan pendek. Mungkin tingginya sekitar 160 cm. Wajah tuanya tak dapat disembunyikan. Keriput menghiasi pipi dan tangannya. Rambutnya juga sudah menipis, berwarna abu-abu dan disisir ke belakang. Namun, untuk ukuran pria berusia 73 tahun, ia masih kelihatan sehat dan penuh semangat. Penampilannya pun rapi. Ia memakai kacamata warna emas dan jam tangan berwarna senada, yang tampaknya sudah melekat di tangannya cukup lama. Telepon seluler disarungkan di pinggang kanannya. Ia terlihat bersahaja. Padahal, lelaki yang kami datangi ini, Boenjamin Setiawan, adalah salah seorang pendiri sekaligus pemegang saham Grup Kalbe Farma — perusahaan farmasi dan produk makanan bayi terbesar se-Asia Tenggara.

Pagi itu, Kamis, 18 Mei 2006, dr. Boen — demikian sapaan akrabnya — dengan telaten meladeni berbagai pertanyaan kami. Selama kurang-lebih dua jam, ia berkenan membagi pengalamannya dalam membangun dan membesarkan Kalbe.

Kisah ini dimulai pada 1961. Saat itu Boen muda baru saja kembali dari menimba ilmu farmakologi di University of California, AS. Dua tahun kemudian, ia bersama teman-temannya dari Jurusan Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mencoba membangun pabrik obat, tetapi sayang, gagal. “Ketika itu saya sangat bersemangat. Namun, saya tak punya pengalaman dan tidak bisa berguru ke orang-orang yang sudah sukses,” tutur Boen mengenang pengalaman pertamanya membangun bisnis. Akhirnya, Boen dkk. yang tidak mengerti bisnis harus menerima kenyataan bahwa usaha mereka tak dapat dilanjutkan lagi.

Kegagalan membangun bisnis bersama teman-teman ternyata tak menyurutkan langkah pria yang berasal dari keluarga sederhana ini. Maka, ketika temannya yang berlatar belakang ilmu farmakologi, dr. Tan, dan seorang rekan dari Apotik Husada mengajaknya berbisnis, ia pun tak menolaknya. Namun, lagi-lagi usahanya gagal lantaran tidak seorang pun di antara mereka bertiga memahami soal bisnis. “Kami tidak berhasil lantaran tidak kompak dan tidak memasukkan modal yang besar. Jadi, tidak jalan,” ujarnya enteng. Jawaban dr. Boen memancing rasa ingin tahu, kapokkah ia? “Saya hampir saja terbang ke Belanda untuk menerima tawaran kerja,” jawabnya kalem. Namun, ia melanjutkan, “Untuk ketiga kalinya saya mencoba lagi. Kali ini bersama kelima saudara kandung saya.”

Boen memiliki lima saudara kandung. Empat di antara mereka — beserta dirinya – berlatar belakang pendidikan dokter dan farmasi. Hanya satu orang, adik bungsunya, yang memiliki latar belakang berbeda, ekonomi. Akan tetapi, dalam perjalanan selanjutnya, adik bungsunya inilah yang berperan besar mengurusi masalah keuangan dan penjualan di perusahaan. “Saya lebih ke product development dan manajemen,” kata Boen. Mengenai identitas kelima saudara kandungnya, ia memohon agar SWA tidak menampilkannya. Yang pasti, menurutnya, ia dan kelima saudaranya sangat kompak membangun Kalbe hingga menjadi seperti sekarang.

Boleh dikatakan, bersama kelima saudaranya inilah kesuksesan diraih. “Kami berhasil karena kompak dan masing-masing berani mengeluarkan modal cukup banyak,” ungkap pria kelahiran Tegal, 23 September 1933 ini. Ketika itu, katanya melanjutkan, “Kami menyetor sejumlah uang yang langsung dipakai untuk membeli bangunan bekas bengkel.” Lantaran modal sudah disetor dan dibelanjakan, mau tak mau muncul komitmen yang kuat untuk meraih keberhasilan. “Kami sudah membeli gedung di Tanjung Priok. Jadi, kami tidak bisa mundur. Kalau tidak, kami merugi,” ujarnya sambil tertawa. Dari situ Boen mengambil kesimpulan, untuk memulai bisnis perlu komitmen, modal, dedikasi dan solidaritas. Selain itu, “Saya juga selalu mengatakan, at the right time. Waktunya juga pas. Bisa dibilang, hokilah. Ha-ha-ha,” katanya dengan tawa berderai.

Hoki. Boen berpendapat, salah satu yang menyebabkan Kalbe bisa tumbuh besar adalah faktor ini. Tahun itu, 1966, Soeharto baru saja dilantik menjadi Presiden RI. Kala itu, pemerintah mulai membuka izin bagi penanaman modal asing di Tanah Air, sehingga perusahaan-perusahaan farmasi besar dari negara lain mulai berdatangan. Di antaranya, Pfizer, GSK dan Boehringer. Mereka sudah pasti membawa teknologi terbaru dan sangat piawai dalam hal pemasaran. Saat itu, perusahaan farmasi lokal yang lebih dulu eksis, seperti Dupa dan Soho, menjual obatnya dengan harga murah. Sementara perusahaan asing yang masuk belakangan, berani menjual produknya dengan harga mahal. Lalu, apa yang dilakukan Boen dan saudara-saudaranya? “Saat itu kami masuk dengan harga di tengah-tengah,” ujarnya membuka rahasia. Strategi harga ini di kemudian hari membuahkan hasil yang tak mengecewakan.

Pada 1968, Boen mulai terpicu mengembangkan riset di bidang farmasi. Ia berpendapat, perusahaan farmasi harus didukung riset yang kuat. Sejak itu, ia semakin serius membangun perusahaan farmasi yang berbasis pada riset dan pengembangan. “Saya ketemu Pak Wim Kalona dari Dupa (Dupa Surabaya, perusahaan farmasi – Red.). Saya meminta dana ke Pak Wim yang jumlahnya sekarang sekitar Rp 30 juta untuk meneliti obat tekanan darah dan kencing manis. Tak disangka, Pak Wim langsung mengeluarkan cek tanpa tanya apa-apa lagi. Sejak itu, saya berangan-angan mendirikan industri farmasi,” katanya sumringah.

Di tahun yang sama, Boen dan keluarganya merasa perlu menerapkan iklim profesionalisme di perusahaan. “Kalau terus dipegang keluarga akan banyak kelemahannya,” katanya memberi alasan. Selanjutnya, Boen terus memperbanyak jajaran profesional di dalam pengelolaan perusahaan. Untuk memperoleh kandidat terbaik, pihaknya dibantu LPPM sebagai konsultan manajemen. “Yang selalu saya tekankan adalah the best and the brightest, yang pintar dan terbaik. Jadi, emotional intelligence-nya harus tinggi,” ujarnya.

Pernyataan itu sudah dibuktikannya. Johannes Setiono, CEO Kalbe saat ini, adalah orang yang bergabung dengan perusahaan ini sejak masih menjadi mahasiswa tingkat akhir di Institut Teknologi Bandung. Waktu itu, Johannes menyambi kerja di Kalbe sebagai detailer. Setelah lulus dan seusai dikirim wajib kerja ke Pulau Bangka, ia kembali lagi ke Kalbe dan terus berkarier hingga sekarang. “Johannes merupakan peraih peringkat pertama program Management Trainee di masa awal diperkenalkannya program ini pada 1970-an di Kalbe,” kata Boen mengungkap sosok Johannes.

Dijelaskannya, Management Trainee merupakan program untuk menilai dan mempersiapkan jajaran manajemen Kalbe di masa depan. Di program ini Kalbe memilih 15-20 calon manajer terbaik, kemudian ditempatkan di perusahaan-perusahaan lain. “Tahun 1975-76 kami sudah mencari bibit-bibit unggul untuk posisi top management. Saya masih ingat, waktu itu ada 8 calon yang kami nilai dan evaluasi. Pak Jonannes berada di urutan nomor 1. Dia selalu jadi yang nomor satu, bahkan sejak masih di bangku sekolahnya dulu,” tutur Boen memuji Johannes.

Sejak itu pula, Boen bersaudara mulai berkenalan dengan konsep nilai-nilai (values) dan budaya perusahaan. “Saya ingat, pada 1968, rekan saya Pak Andri mengatakan, perusahaan harus punya falsafah,” ungkapnya mengenang. Waktu itu Boen tidak mengerti, mengapa perusahaan harus mempunyai falsafah. “Saya berusaha mempelajari maksud Pak Andri dengan membaca berbagai literatur. Setelah membaca, barulah saya merasa kalau itu benar.”

Selanjutnya, Boen bersaudara mencoba menelusuri nilai-nilai apa yang ingin mereka tanamkan kepada seluruh karyawan Kalbe. Dari situlah mereka menciptakan lima falsafah Kalbe, yang tertuang dengan nama Panca Krida. Seperti apakah penjabarannya?

Pertama, terus beradaptasi dan tumbuh agar bisa bertahan. “Saya kira ini penting. Saya mengatakannya dengan mengambil contoh dari alam. Di alam kita bisa melihat pohon-pohon yang bisa hidup ribuan tahun karena terus tumbuh,” ujarnya. Ia meyakini, bila suatu makhluk berhenti tumbuh, lonceng kematian akan berbunyi.

Kedua, stakeholders juga harus ikut tumbuh dan beradaptasi. Ia memaparkan, ada 6 stakeholder di dalam lingkungan Kalbe, yakni karyawan, shareholder, pemasok, pelanggan, bankir, pemerintah dan masyarakat umum. “Itulah tujuannya kenapa perusahaan harus survive dan beradaptasi. Semata-mata untuk kepentingan para stakeholder-nya,” kata Boen berfilosofi. Filosofi yang amat segaris dengan temuan Collins dan Poras dalam bukunya, Built to Last.

Ketiga, people. “Kalau mau survive, kuncinya manusia. Ini resep paling penting,” ujarnya menandaskan. Manusia yang seperti apa? “Manusia yang DJITU,” jawabnya tegas. “Ini merupakan akronim Disiplin dan Dedikasi, Jujur dan Jeli, Inovatif dan Inisiatif, Tulus dan Tanggung jawab, serta Ulet dan Unggul,” katanya serius. Akronim DJITU disusun Boen 3-4 tahun setelah Kalbe berdiri. “Saya kira pakai akronim DJITU akan lebih gampang mengingatnya,” ia menambahkan. (Lebih jauh tentang konsep DJITU, lihat Boks).

Keempat, mengedepankan ilmu pengetahuan dan penelitian. Menurutnya, ilmu pengetahuan penting sekali. Terlebih, di industri farmasi yang sangat knowledge intensive. “Kalau lihat di Internet, dana yang dikeluarkan untuk penelitian bisa mencapai 15% dari revenue. Itu sebabnya disebut knowledge intensive industries,” ungkap Boen yang Internet minded ini. Ia menuturkan, pasar dunia untuk obat-obatan sekitar US$ 600 miliar setahun. Berarti, dana yang dialokasikan untuk kegiatan penelitian senilai US$ 90 miliar setahun. Di Indonesia, pasar obatnya hanya US$ 2,2 miliar. “Masih kecil sekali,” ujarnya. Kalbe sendiri, menurutnya, mengalokasikan 2%-2,5% revenue-nya untuk kegiatan penelitian dan pengembangan. “Kami belum mampu seperti Pfizer yang sales-nya di seluruh dunia mencapai US$ 45 miliar. Untuk penelitian, mereka mengeluarkan dana US$ 7 miliar setahun.”

Falsafah terakhir, manajemen. “Kami menginginkan manajemen partisipatif-informatif. Menurut saya, dua-tiga kepala lebih baik daripada satu kepala. Partisipatif itu cara kerjanya selalu ramai-ramai, membuat keputusan bersama, tanggung jawab pun dipikul bersama,” kata Boen menjelaskan dengan semangat.

Lalu, bagaimana agar nilai-nilai itu melekat dan mendarah daging dalam diri karyawan? Boen mengaku tidak memiliki kiat khusus untuk menyebarkan nilai-nilai tersebut. Namun, setiap ada kesempatan ia selalu mengingatkan manajemen terhadap nilai-nilai itu. “Saya hanya menyampaikan nilai-nilai ini di setiap rapat. Saya tidak menyampaikannya sendirian ke karyawan, cuma ke direktur. Selanjutnya, merekalah yang akan meneruskannya ke karyawan.”

Di samping nilai-nilai yang tertuang dalam lima falsafah tersebut, Boen mengungkap, beberapa nilai pribadi yang dianutnya selama ini turut terbawa ke dalam budaya perusahaan seperti prinsip hidup sederhana, jangan menonjol (low profile), inovatif dan penuh dedikasi. “Ini semua nilai-nilai yang menurut saya penting,” ujarnya. Ia pun mencontohkan, 4-5 tahun lalu, dirinya menulis surat edaran ke posisi-posisi yang dinilainya basah, contohnya bagian pembelian dan pemasaran. Kepada mereka, Boen meminta supaya bersikap jujur dan tidak korupsi. Bahkan, pemasok pun dikiriminya surat agar berhenti menawarkan suap. “Mau tahu idenya dari mana? Dari Nestle dan Frisian Flag,” ujarnya membuka rahasia.

Tak hanya itu. Boen juga memberi contoh langsung. “Saya dari dulu mengatakan, mesti sederhana, jangan sok-sokan. Selain itu, penting adanya kebersamaan dan keterbukaan. Dari dulu, ruang kerja saya selalu dibuka. Siapa saja yang sedang kesulitan atau ada masalah, bisa datang langsung ke saya.”

Hasil dari penerapan nilai tersebut bisa dilihat dari cukup banyaknya karyawan yang bertahan di Kalbe. Johannes Setiono, salah satunya. “Di sini banyak karyawan yang betah, tapi banyak juga yang keluar,” ungkapnya jujur. “Bagi yang betah, saya rasa karena kami fair. Gajinya cukup, tidak didiskriminasi oleh keluarga saya, dan ada keterbukaan,” ia menambahkan.

Memang benar. Perlakuan yang fair kepada para profesional diakui eksekutif Kalbe. Johannes, CEO Kalbe, yang sejak awal wawancara namanya disebut-sebut Boen, misalnya, memaparkan, sejak awal Kalbe dibangun untuk menjadi perusahaan yang selalu menekankan pada inovasi. “Kami diajarkan membuat produk yang lebih baik daripada yang ada di pasar,” ujar Johannes. Karena memiliki visi yang jelas, sejak didirikan, Kalbe sudah memiliki tim riset dan pengembangan bisnis. “Kami selalu aktif mencari informasi dari luar negeri untuk mendapatkan produk-produk unggulan,” ungkapnya memberitahu.

Salah satu contohnya, Promag, produk antasit (obat maag) yang pertama dijual bebas dan diiklankan di media. Sebelumnya, produk semacam itu hanya dijual melalui resep dokter. Dari awal produk ini dipasarkan secara konsisten. Tak mengherankan, Promag kini menguasai 80% pangsa pasar obat sakit maag. “Bisa dibilang, Promag mendobrak cara pemasaran produk obat yang ada di Indonesia kala itu,” kata Johannes.

Dalam pandangan Johannes, kunci keberhasilan Kalbe adalah para pendirinya memercayakan pengelolaan perusahaan kepada profesional, selain memiliki nilai-nilai dan budaya perusahaan. Adapun nilai-nilai yang ditanamkan, antara lain integritas, bisa bekerja sama dalam tim, mau bekerja keras, tekun dan inovatif, serta mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. “Orang sebaik dan sehebat apa pun, kalau integritasnya tidak bisa dipegang, tidak akan dipakai di Kalbe,” katanya tegas.

Setelah berjalan 10 tahun, tepatnya 1976, Johannes berani mengatakan, manajemen Kalbe makin profesional. Sudah ada jabatan penting yang dipercayakan ke para profesional. Pria yang menjadi direksi sejak 1985 ini menceritakan, mulai 1977 manajemen malah mendatangkan beberapa ekspatriat. Para ekspat ini berasal dari Inggris, India, Filipina dan Jepang. Mereka ditempatkan sebagai direksi, dengan tujuan agar Kalbe bisa belajar bagaimana bila perusahaan dipimpin orang asing. Selain itu, berbagai pelatihan bagi karyawan pun terus digeber demi meningkatkan kemahiran SDM.

Bukti mengenai adanya profesionalisme di lingkungan Kalbe tak hanya dilontarkan Johannes. Direksi lain pun membenarkan. Bahkan, Direktur Kalbe Farma Herman Widjaja mengungkapkan, Boen sangat komit menjalankan budaya transparansi. Hal itu dibuktikan dengan mengimplementasikan good corporate governance sejak 2001. “Terobosan ini,” kata Herman, “sangat bagus.”

Di tempat lain, Direktur Pengelola PT Sanghiang Perkasa — anak perusahaan Kalbe — A. Teguh Nugroho, menuturkan, di Kalbe pikiran dan kreativitasnya terus dipacu untuk mengembangkan perusahaan. “dr. Boen pernah bilang, kalau kita makin banyak bergerak, hidup akan lebih bagus daripada diam saja. Makanya, organisasinya dibuat tidak bisa diam,” tutur alumni Universitas Parahyangan dan Prasetiya Mulya Business School ini. “Buat Kalbe, kalau kita tidak tumbuh, itu artinya lonceng kematian siap dibunyikan,” kata Teguh. Jangan heran, soal pertumbuhan selalu menjadi bahan pertanyaan Boen saat rapat. “Mulai dari pertumbuhan industri, pertumbuhan konsumsi, juga pertumbuhan kinerja perusahaan.”

Yang menarik, antidiskriminasi dan prinsip only the best and the brightest juga diberlakukan pada kedua anaknya, Shinta Devianti (28 tahun) dan Sanadi Boenjamin (26 tahun), yang kini ikut bergabung dengan Kalbe. Shinta adalah lulusan Jurusan General Studies Universitas Foothill, sedangkan Sanadi dari Jurusan Teknologi Informasi Universitas Bloominton. Shinta selama tiga tahun terakhir memperkuat Kalbe dengan tanggung jawab mengurusi corporate social responsibility. Sementara Sanadi sudah satu setengah tahun bergabung dengan anak perusahaan Kalbe, PT Enseval Putera Megatrading Tbk., di bawah komando Vidjongtius. “Sebenarnya, terserah mereka mau join atau tidak. Mereka mempunyai kehidupan sendiri,” tutur Boen bijak. Namun, mereka memilih bergabung dengan Kalbe. “Kan mencari kerja di luar susah. Akhirnya, melamar di perusahaan sendiri. Ya, diterima,” katanya berseloroh.

Apakah Sanadi yang dipersiapkan menjadi putra mahkota?

“Bisa jadi,” tutur Boen, “Akan tetapi, kami mengatakan kepada anak-anak bahwa kami mempunyai filosofi, bukan keluarga yang meneruskan perusahaan. Kami ingin orang-orang yang profesional. Jadi, yang the best and the brightest saja yang akan dipilih. Kalau tidak cocok, ya manajemen jangan memilih. Supaya perusahaan ini bisa jalan terus.” Ketika menuturkan ini, raut wajah Boen tampak bersungguh-sungguh.

Setelah puluhan tahun memimpin Kalbe, Boen mengungkap keinginannya pensiun. Lantas, apa yang akan dilakukan setelah pensiun? “Saya ingin mendalami stem cell. Saya mau bekerja sama dengan Fronhover (LIPI-nya Jerman – Red.) yang sudah berhasil menguji coba stem cell untuk penyakit stroke,” ujarnya. Stem cel adalah sejenis pengobatan regeneratif yang berasal dari sel yang masih sederhana, tetapi bisa diarahkan menjadi sel otak, sel jantung, atau apa pun, tergantung pada apa yang ditambahkan. “Saya kira dalam lima tahun bisa berhasil,” katanya optimistis.

Rekan sejawat Boen semasa sekolah di Fakultas Kedokteran UI, K.H. Chandra, tak heran bila Boen selalu ingin berkarya. “Pak Boen itu anak pintar. Kami berteman baik. Dulu ketika masih di HBS, dia masih kelas empat tapi sudah ikut ujian dan lulus,” komentar Chandra yang juga pemilik perusahaan obat luka Betadine. Di matanya, Boen adalah sosok yang sederhana dan ulet. “Dia sangat suka riset untuk inovasi baru, itulah yang sampai saat ini selalu Boen lakukan.”

Barangkali, karena datang dari keluarga yang sederhana dan berlatar belakang medis, Boen tumbuh menjadi seperti sekarang. “Saya kagum dengan Boen karena dia memulai Kalbe dari nol, dari garasi rumahnya. Obatnya dia racik sendiri. Dia pula yang memasukkan racikannya ke dalam kapsulnya. Keluarganya pun sangat kompak,” ujar Chandra memuji.

Kendati mendapat banyak pujian, Boen tidak besar kepala. Dia mengaku sekarang sudah tidak banyak terlibat dalam operasional Kalbe. Bahkan, saat proses merger yang berlangsung beberapa bulan lalu pun, Boen tidak banyak terlibat. “Kebanyakan Pak Johannes, saya sudah tidak lagi,” katanya seraya mengakui sedang mempersiapkan generasi kedua. Dalam hal ini, lagi-lagi, ia akan menyerahkan kepemimpinan Kalbe kepada sang the best and the brightest. Sekarang, Boen hanya mengikuti rapat sebulan sekali, yang dilakukan di awal bulan. Itu pun, sekadar untuk mendengarkan laporan keuangan.

“Sebagai presiden komisaris, sekarang dr. Boen tidak terlibat dalam kegiatan bisnis sehari-hari. Beliau lebih merupakan payung. Garis besar strateginya memang beliau yang menyampaikan. Kami dan manajemen lainnya yang menerjemahkan apa yang beliau inginkan itu,” Johannes menerangkan kontribusi Boen saat ini di Kalbe. Ia menilai, Boen seorang pemimpin yang visioner. “Terkadang pemikirannya terasa di awang-awang. Setelah berjalannya waktu, apa yang dipikirkan dr. Boen bisa kami jalankan.”

Menurut Presdir Enseval Putera Megatrading Vidjongtius, sampai sekarang ia dan jajaran direksi lainnya masih sering berinteraksi dengan dr. Boen. Untuk event keluarga besar Kalbe, Boen selalu menyempatkan hadir dan berinteraksi dengan karyawan. “dr. Boen itu orangnya partisipatif. Ia selalu menyertakan setiap orang untuk terlibat dalam satu perbincangan,” ujar Vidjongtius yang mengaku sering berinteraksi dengan Boen.

Di luar pekerjaan, Boen kini sering melakukan fitness. Barangkali, inilah yang membuat dirinya selalu kelihatan bugar. Boen biasa berolah raga 2-3 kali seminggu. “Tadinya di Hilton Life Spa. Tapi, gara-gara ada three in one saya pindah ke Quantum di Menara Imperium Kuningan. Kalau ada waktu, saya datang ke sana paling sedikit dua jam. Satu jam treadmill, setengah jam berenang, setengah jam sauna, lalu istirahat tidur satu jam,” tutur Boen yang mengaku menggunakan hari Sabtu dan Minggu untuk berkumpul dengan keluarga.

Untuk aktivitas sosial, Boen meluangkan waktunya di Yayasan Kehati (Keragaman Hayati), Biodiversity Foundation, juga di Dewan Bisnis Nasional dan Yayasan Kreativitas. Ia pun masih sempat menjadi anggota dewan di Yayasan Semeru, yang peduli terhadap kaum miskin, bersama Palgunadi Setiawan, mantan pejabat PT Astra International.

Ke depan, ada beberapa keinginan Boen yang ingin diwujudkannya. Pertama, Kalbe terus tumbuh dan bertahan. Kedua, kepemilikan keluarga di Kalbe tetap ada, setidak-tidaknya sampai generasi kelima. Dan ketiga, Kalbe menjadi perusahaan kelas dunia. “Sekarang kami sudah melangkah ke regional, selanjutnya mendunia,” ujarnya mengenai mimpinya.

Diharapkannya juga, pada 2008 Kalbe sudah menguasai obat-obatan biogenerik. “Saat ini kami mengembangkan teknologi agar memiliki added value di tingkat regional. Di 2010 mungkin sudah bisa masuk ke Amerika. Yang juga saya bayangkan, Kalbe dapat mengembangkan teknologi stem cell. Semoga itu semua bisa dilaksanakan,” katanya penuh harap.

Reportase: Abraham Susanto, A. Mohammad B.S., Dedi Humaedi, Eddy D. Dwinanto, Herning Banirestu, Rina Suci, S. Ruslina
Riset: Elly Chandra P.

BOKS

Konsep DJITU

Djitu adalah singkatan dari Disiplin dan Dedikasi, Jujur dan Jeli, Inovatif dan Inisiatif, Tulus dan Tanggung jawab, serta Ulet dan Unggul. Penjabarannya:

Disiplin. “Bangsa Indonesia disiplinnya payah sekali. Kalau janji, sering tidak tepat waktu,” kata Boen. Dedikasi juga penting. “Kalau you mau melakukan sesuatu, mesti dengan passion, dengan senang hati.”

Kemudian, jujur. “Jujur di Indonesia juga masalah besar, karena korupsinya bukan main. Jadi, jujur itu penting,” ungkapnya. Selanjutnya, jeli melihat perubahan yang akan datang.

Inovatif dan inisiatif pun harus selalu ada. Lalu, tulus, yang berarti ikhlas alias jangan berpura-pura, dan mesti punya tanggung jawab. Berikutnya, ulet dan unggul. “Ini yang selalu saya tekankan.”

Selain itu, emotional intelligence dan cognitive intelligence sangat dibutuhkan pula. Inteligensi kognitif, berarti otaknya harus cerdas. Namun, pintar saja tidak cukup. Yang lebih penting, inteligensi emosionalnya. “Orang boleh pintar, tapi kalau tingkah lakunya bandit, berabe. Saya pikir, lebih baik emotional intelligence-nya yang diperbesar.”


URL : http://202.59.162.82/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=4426

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s