Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan


Leave a comment

Bapak lagi apa ya?

IMG20180112114403

Sembari menunggu reaksi DNA sequencing, saya melongok pandangan luar dan tertarik pada bangunan kecil di tengah sawah itu. Ini bukan pertama kali saya melihatnya, dulu sering liat tayangan iklan di Waku Waku Jepang juga nunjukin bangunan serupa. Mungkin semacam gudang kali ya, tempat petani menyimpan peralatan pertanian, pupuk, dsb.

Sambil membayangkan ada apa aja di “rumah” tersebut, seketika pikiran ini meloncat ke puluhan tahun silam jaman saya belum masuk SD. “Ada ga ya Indrim, Thiodan, dan botol-botol yang ada gambar tengkoraknya?” Itu beberapa bahan insektisida yang masih tersisa teringat di kepala saya. Walau ternyata pengejaannya salah waktu itu, bukan Indrim tapi yang benar “Endrin”, bahan dalam botol coklat besar ini sangat populer waktu itu.

“Itu kali-nya baru di indrim” (Itu sungainya baru diberi Endrin”) yang artinya “Ayo cari ikan di sungai kecil dekat sawah kita” ajak teman saya. Dulu fahamnya, kali di “indrim” atau kali di “putas” (mungkin maksudnya garam Potasium bla…bla…) artinya adalah waktu buat cari ikan.

“Eh dimana di putasnya” tanya teman saya. “Itu di kali cabang 3 di ujung sana” jawab teman yang lain. Dan pikiran sederhananya, dimana pusat putas diberikan, berarti disana banyak ikan yang mati dan dengan mudah bisa diambil.

Screen Shot 2018-01-12 at 11.40.50

Kali (sungai) kecil yang dimaksud, yang sering di kasih Endrin

Dulu tidak faham betapa kami saat itu sedang bermain-main dengan racun yang sangat berbahaya. Endrin, begitu juga senyawa organoklorin lainnya, sudah dilarang penggunaannya oleh banyak negara. Efek toksiknya yaitu bisa mengganggu sistem saraf, dan makanan yang terkontaminasi Endrin (ikan yang mati karena zat ini) bisa berbahaya terutama pada anak-anak.

Lain cerita Endrin dan ikan, ada juga cerita menarik Endrin dan bapak saya. Sore hari sebelum besok adalah agenda “nyemprot”, bapak sudah menyiapkan alat tersebut. Keesokannya, biasanya setelah subuh, Bapak berangkat ke sawah sebelum matahari terbit. Saya tidak tahu alasannya saat itu mengapa sedemikian pagi.

Dan pukul 7 pagi, saya yang belum sekolah diajak ibu untuk “ngirim rantang”, artinya bekal berisi nasi, sayur, dan lauk untuk dikirim ke bapak sebagai sarapan. Senang kalo diajak ke sawah, karena bisa main-mainan alat semprot yang sudah selesai dipakai oleh bapak.

Bapak menyantap sarapan pagi, dan saya pun ikut sarapan lagi walau udah sarapan di rumah. Biasanya ibu menyisihkan sisa lauk untuk saya makan dalam porsi kecil di bagian tutup rantang itu.

rantanf.jpg

Memang petani tangguh kali ya badannya, meskipun sewaktu nyemprot Endrin, bapak ga pakai alat pelindung diri khusus, ga pakai masker, ga ganti baju dulu, ato boro-boro mandi dulu baru sarapan, tapi syukurnya bapak ga kenapa-kenapa.

Dan kian kini saya faham mengapa bapak berangkat pagi-pagi, kemungkinan adalah supaya insektisida tidak menguap jika disemprotkan sebelum matahari terbit. Dan kalau sempat terhirup, bisa berbahaya bagi tubuh.

Kembali ke “rumah” di sawah tepat depan kampus saya ini. Yang pasti, di rumah tsb ga bakal ada Endrin atau Thiodan karena pertanian disini adalah organik, ga pakai insektisida. Dan dari  “rumah” tersebut “Bapak lagi apa ya sekarang?” tanya hati ini rindu. Dan tak sadar reaksi sequencing pun telah selesai dan lanjut ke ethanol precipitation.

Nara, 12 Januari 2018.

Advertisements