Category: Farmakologi Molekuler

Ikatan epinefrin pada reseptor beta-adrenergik

Pekan depan musim ujian defence, jadwal sudah diluncurkan, genderang perang pun mulai didengungkan. Teman-teman lab sudah mulai latihan presentrasi, belajar sana-sini, juga sibuk tanya sana-sini. Termasuk satu pertanyaan ini, gimana sih ikatan epinefrin pada GPCR? Continue reading “Ikatan epinefrin pada reseptor beta-adrenergik”

Advertisements

Inkretin mimetik dan DPP-4 inhibitor untuk penyakit diabetes

Charlina Detty V dan Ilmi Nur H

Hormon inkretin adalah hormon penting untuk mengatur glukosa. Hormon ini diproduksi oleh usus sebagai respon terhadap konsumsi makanan termasuk glukosa, asam lemak, dan serat. Continue reading “Inkretin mimetik dan DPP-4 inhibitor untuk penyakit diabetes”

Mekanisme aksi COX-2 inhibitor (celecoxib)

Oleh: Eva Karyati dan Fitri Wulan Ramadhani

Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan jaringan, yang berfungsi menghancurkan, mengurangi, atau mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu. Inflamasi disebabkan oleh pelepasan berbagai mediator yang berasal dari jaringan rusak, sel mast, leukosit, dan komplemen. Mediator-mediator nyeri antara lain prostaglandin, histamin serotonin, bradikin, leukotrien (Syarif, 1995). Continue reading “Mekanisme aksi COX-2 inhibitor (celecoxib)”

Peran inhibitor sodium glucose cotransporter 2 (SGLT2) pada terapi diabetes mellitus tipe 2

Oleh: Kaefiyah Nurul Insani, Laras Ratna Sari, Nita Triana Sari

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit kelainan metabolik yang dicirikan dengan hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein diakibatkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin, maupun keduanya (WHO, 2006). Continue reading “Peran inhibitor sodium glucose cotransporter 2 (SGLT2) pada terapi diabetes mellitus tipe 2”

Obat antimalaria dan mekanisme aksinya

Last update: September 12, 2018

Malaria merupakan masalah kesehatan masyarakat mendunia dengan perkiraan kematian 600 ribu per tahun. Pencegahan penyakit menggunakan vaksin tidak tersedia, sehingga pengobatan hanya mengandalkan dua metode yaitu pecegahan dan pemberian obat (kemoterapi).

Obat antimalaria saat ini target utamanya yaitu pada Plasmodium falciparum karena parasit ini menyebabkan kematian yang besar. Obat antimalaria tentu yang pertama kali terbayangkan adalah kina (genus Cinchona). Ini adalah obat kuno dan cikal bakal dari obat-obat yang ada saat ini. Banyak parasit Plasmodium falciparum yang sudah ga mempan (resisten) sama obat ini, sehingga diperlukan obat-obat baru yang lebih poten.

Masalahnya, industri farmasi ogah-ogahan mengembangkan obat dalam kelas ini. Mengapa? Karena ga prospek, dibandingkan penyakit kanker, diabetes, dan lainnya. Maksudnya ga prospek? Karena penderitanya rerata dari negara miskin, semisal Afrika dan negara tropis lainnya, jadi mereka ga kuat beli. Skema yang ada mungkin obat dibeli WHO, terus dibagikan ke mereka.

Masalah lain dalam obat antimalaria:

  • potensinya ga bagus
  • sukar larut (bioavaibilitas rendah)
  • adanya interaksi obat dengan obat lain yang sifatnya parah

Obat antimalaria lain yang beredar di Indonesia yaitu:

  • klorokuin
  • sulfadoksin-primetamin
  • primakuin
  • amodiakuin
  • derivat Artemisinin
  • artemisinin combination therapy (ACT)

Continue reading “Obat antimalaria dan mekanisme aksinya”