Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Kisah Petualang

Leave a comment


akhir pekan, sendirian, ga ada agenda keluar, pegang laptop, denger lagu.

Itulah kata kunci edisi pagi ini dan entah gimana ceritanya di Youtube kok sampe lagu karya Melly  “Pecinta Wanita”. Apa elu suka lagu ini? Ga juga. Cuma inilah hebatnya lagu, dimana kita mendengar pada suatu waktu, dia akan menarik ke memori masa lalu sewaktu lagu itu didengar, suatu momentum berkesan yang seolah-olah ga pernah lupa untuk diingat atau diceritakan berulang-ulang.

Seperti kejadian pagi ini, dimana tembang Pecinta Wanita dengan penyanyinya mirip abang-abang burjo sebelah kosan jaman dulu, menarik ke memori 10 tahun silam. Waktu itu di siang hari yang panas, Agustus 2006. Sekelompok mahasiswa semester 4 yang sedang menikmati liburan pergantian semester sedang berada di bus ekonomi. Bus yang membawa kami berempat berdesak-desakan bersama anak sekolah di kabupaten Grobogan, menuju tempat ajaib yang hanya ada di Indonesia. Sebuh daratan panas dan tandus dan sangat jauh dari lautan, namun dari daratan tersebut muncul semacam deburan ombak berasap dan air asin mengandung garam tinggi, Bledug Kuwu.

Di bus yang tak rapi, gak dapet tempat duduk, waktu sudah menunjukkan pukul 13an, perjalanan ke Bledug Kuwu, diputarlah ma abang sopir VCD koleksinya. Lagu pertama tentunya yang saya denger pagi ini, Pecinta Wanita, disusul lagu Remix yang sangat nge-hits di tahun itu. Kata teman saya dari Bantul dan teman yang sedang KKN di daerah Berbah, lagu itu menjadi “soundtrack nasional” di acara Tujuh Belasan di kampung-kampung, sebagai background Panjat Pinang ato balap karung. Masih ingat lagu ini kan? Bang…SMS siapa ini bang, bang pesannya pake sayang – sayang, haha…

Tujuan petualang kita hari itu sebenarnya adalah ke rumah teman yang terkenal dengan sate khasnya, Blora. Jujur baru di Jawa ini baru dengar nama kabupaten itu. Teman saya yang jangkung, gokil, dengan plat motor K nya dibawa kemana-mana, nawarin diri maen ke rumahnya. Sabtu pagi yang cerah, berlari-lari di stasiun Lempuyangan, mengejar Pramex arah Solo. Masih inget jaman dulu masuknya ga lewat pintu resmi, tapi lewat jalan tembusan dekat stadion Kridosono. Lupa juga dulu bayar ato enggak naik Pramex ini. Sampe di Purwosari, “Foto dulu di kereta, biar kayak kereta di Jepang” kata salah satu kawan yang pakai kaos kuning.

Dari stasiun, turun dan mencari sarapan. Menikmati jalanan Slamet Riyadi 10 tahun yang lalu di pagi hari, sungguh berbeda dengan sekarang. Ngambil beberapa gambar dan akhirnya tanya polisi posisi terminal Tirtonadi. Setelah mendapat penjelasan yang cukup, berhentilah kita menunggu bus menuju terminal yang nantinya akan membawa kami ke perjalanan berikutnya.

Perjalanan panjang membelah Jawa Tengah selatan menuju utara, setidaknya kami melewati kabupaten Boyolali, Grobogan (kota Purwodadi), dan sampailah di Blora pukul 3 sore. Disambut kelurga kawan dengan hangat dan menyantap makan siang meredam suara berisik perut sejak tadi siang.

Petang pun beranjak malam, kita mutusin pergi ke pusat keramaian. Ke alun-alun, menikmati wedang ronde, dan jalan-jalan utama di kota kecil itu. Pakai 2 motor, salah satunya pakai motor plat merah punya bokapnya kawan. Ga lupa sang tuan rumah nunjukin sekolah-sekolahnya jaman dulu. Menceritakan bupatinya yang suka kemajuan bahkan membangun lapangan golf. Juga cerita daerah Cepu yang kaya minyak yang sempat mau bikin provinsi sendiri, merger ma Bojonegoro dan sekitarnya.

Keesokan harinya, berpetualang ke daerah utara lagi yaitu Rembang. Daerah yang panas dan gersang, perjalanan satu jam sampelah di pusat kota. Selama perjalanan ditunjukin makam RA Kartini, kawasan Perhutani yang banyak penebangan liar, dan daerah Sulang penghasil minuman legen dan siwalan.

Sampe di Rembang, nyari batere dulu buat kamera. Kamera zaman dulu walo digital tapi masih pake batere A3. Nyari Alkaline susah ternyata di sini. Kamera yang akan diberdayakan untuk mengambil gambar TPI dekat pantai Kartini, tambang garam di pesisir utara, dan daerah Lasem yang ada makam salah satu Sunan terkenal. Sewaktu di tambang garam, kita gangguin petani garam, “ecak-ecak” nyobain nimba air ato ngangkut garam, padahal boongan. Dan pas momen ini, kawan yang pake kaos kuning nyanyi dalam hati doang, namun kawan yang pake kaos ijo kok nyanyi lagu yang sama. Tau kan ya lagunya band yang penyanyi selalu pake kacamata hitam, “Benci bilang cinta”.”Iya lho sering kayak gitu, saya nyanyi apa, teman sebelah kok nyanyi lagu yang sama” kata kawan berkaos kuning.

Perjalanan diakhiri dengan makan siang yang sangat spesial, Lontong Ayam Tuyuhan. Rasa emang udah lupa, tapi sempat ingat lontong ini enak banget. Berlokasi di pinggir sawah, beberapa penjual berjejer menjajakan dagangan yang sama. Enak, porsi bersar, dan murah. Lontong sepiring dengan daging ayam kampung yang alot, mungkin harganya cuma 7000 saat itu.

Malam, kecapekan, dan ga ada yang saya ingat sekarang. Yang keingat adalah kita dibeliin sate Blora ma bokapnya kawan yang baik hati. Keesokan paginya, perjalanan balik ke Jogja. Di antar ke tempat bus terdekat, di antar ibu-bapak dan adiknya kawan. Wajah sumringah pagi itu.

Kami merasa perjalanan ini berbeda, alasannya mungkin karena pake transportasi umum, mutus-mutus, jadi lebih banyak cerita. Dan tentunya gara-gara lagunya Irwansyah, Ria Amelia, ma Radja donk, hahaha..

Dari : Kisah Petualang

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s