Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Interaksi Teofilin (Bagian 1)

1 Comment


Kasus
Siti Bariyah, seorang guru 50 tahun, datang ke apotek di suatu malam. Dia telah menggunakan salbutamol dan fluticasone/salmeterol inhaler dan menggunakan tablet oral lepas-lambat teofilin (400mg dua kali sehari) untuk mengelola emfisema, sebuah bentuk penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) selama beberapa tahun. Siti Bariyah adalah perokok berat dan baru-baru ini memutuskan untuk berhenti merokok. Dia meminta saran kepada apoteker apakah dia dapat memulai terapi pengganti nikotin (nicotine replacement therapy, NRT) disaat masih menggunakan teofilin untuk mengelola PPOK?

Apoteker dengan tenang menganalisa kasus sambil membuka buku-buku.

Teofilin merupakan turunan xantin digunakan dalam pengobatan asma dan PPOK stabil untuk membuat rileks otot polos bronkus. Obat ini memiliki indeks terapeutik yang sempit; konsentrasi serum teofilin dari 10-20mg/L diperlukan pada sebagian besar pasien, meskipun beberapa mungkin pada level yang lebih rendah sudah memadai untuk mengontrol gejala.

Peningkatan kecil dalam konsentrasi serum dapat mengakibatkan keracunan, terutama pada pasien dengan tingkat lebih dari 20mg/L. Pasien mungkin mengalami gejala toksisitas serius seperti kejang dan aritmia, namun sebelumnya muncul gejala seperti mual dan muntah.

Gejala toksisitas teofilin:
• Mual
• Muntah
• iritasi lambung
• Diare
• Palpitasi
• Takikardia
• Aritmia
• Sakit kepala
• Stimulasi sistem saraf pusat
• Insomnia
• Kejang

Apoteker membuka buku BNF 67 (2014), disitu tertulis untuk teofilin oral konsentrasi serum harus diukur lima hari setelah terapi dimulai, dan setidaknya tiga hari setelah setiap penyesuaian dosis. Setelah dosis pemeliharaan ditegakkan, level teofilin dapat dipantau setiap 6-12 bulan (Martindale 38, 2011).

Berurusan dengn obat terapetik sempit, apoteker selalu mengingat prinsip ini: gunakan merek/brand obat yang sama !!! Hal ini untuk menghindari perubahan yang tidak perlu untuk konsentrasi serum teofilin karena kemungkinan adanya variasi dalam tingkat absorbsi antar-merek yang berbeda.

Lalu, apoteker kembali mengingat pelajaran Kimia medisinalnya.

Obat ini dimetabolisme di hati oleh isoenzim sitokrom P450, terutama CYP1A2, untuk demetilasi dan produk hidroksilasi. Banyak obat berinteraksi dengan teofilin dengan menghambat atau menginduksi metabolismenya oleh CYP1A2 (Lihat Tabel 1. Obat yang biasa digunakan yang berinteraksi dengan teofilin). Induksi CYP1A2 membuat klirens teofilin menjadi lebih cepat, yang mengarah pada penurunan dan konsentrasi serum sub-terapi.

Tabel 1. Obat yang biasa digunakan yang berinteraksi dengan teofilin

12573802_1689430591305966_5466873307656244558_n

 

Metabolisme teofilin dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti merokok dan mungkin jenis kelamin. Perbedaan genetik dalam fungsi CYP1A2 juga dapat mempengaruhi metabolisme teofilin. Sampai sejauh ubu, belum diketahui perbedaan ini dapat mempengaruhi metabolisme.

Perokok yang menggunakan teofilin umumnya cenderung membutuhkan dosis yang lebih tinggi dibandingkan non-perokok karena asap rokok mengandung senyawa yang sangat populer, poliaromatik hidrokarbon (PAH), yang menginduksi CYP1A2. Berhenti merokok akan mengakibatkan peningkatan konsentrasi teofilin serum, dan mungkin toksisitas, jika dosisnya tidak dikurangi.

Jika ibu Siti Bariyah ingin berhenti merokok, dia perlu dipantau untuk perubahan konsentrasi serum teofilinnya; pengurangan dosis hingga sepertiga mungkin diperlukan setelah satu minggu (menurut paper Lee et al., 1987). Ibu Siti Bariyah harus disarankan untuk membahas keinginannya untuk berhenti merokok, karena efek ini akan berpengaruh pada pengobatan teofilinnya, dengan menemui dokter sebelum menetapkan tanggal untuk berhenti merokok.

Karena yang berpengaruh dalam meningkatkan klirens teofilin adalah aksi dari PAH (poliaromatik hidrokarbon dalam asap rokok, bukan nikotin), maka NRT tidak akan mempengaruhi konsentrasi teofilin ibu Siti Bariyah dan NRT dapat diberikan.

Bupropion atau varenicline juga dapat diresepkan untuk membantu ibu Siti Bariyah berhenti merokok. Namun, bupropion memiliki risiko yang berhubungan dengan munculnya kejang walau pada dosis obat kecil. Produsen bupropion menyatakan penggunaan bersamaan teofilin mungkin menurunkan ambang kejang, sehingga lebih meningkatkan risiko pasien kejang, dan merekomendasikan dosis bupropion maksimal 150 mg setiap hari (GSK, 2013).

Bersambung … (semoga makin memperkaya pengetahuan teman-teman apoteker semua).

Ref. Kasus diambil dari the Pharm Journal 293(7818):2014 dengan modifikasi.

Tulisan lain bermanfaat: 3_terapi berhenti merokok dan int obat

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

One thought on “Interaksi Teofilin (Bagian 1)

  1. terima kasih atas infonya..
    saya mau share info ini kepada teman2 apoeteker yang lain, gmana baiknya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s