Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Interaksi Obat: Belajar Mulai dari Mana?

Leave a comment


Beberapa kali di group ini sudah di posting tentang interaksi obat, mulai dari kasus dokter dari jurnal Lancet, Link video dari youtube, dan contoh-contoh lainnya. Mengapa diulang berkali-kali? Karena ini penting dan ini adalah “taring”-nya apoteker klo beneran mau ikut andil dalam optimalisasi penggunaan obat.

Kalo teman2 lihat di buku farmakoterapi, bab interaksi obat selalu muncul di awal-awal. Memberikan summary/re-call tentang pentingnya bagian ini. Teman sejawat dokter, juga mengharapkan ketika berhadapan dengan interaksi obat, pasti ada harapan apoteker bisa menjelaskan dengan baik dan memberikan solusinya.

Itu idealnya. Interaksi farmakokinetika, interaksi farmakodinamik, enzim sitokrom CYP, induksi enzim, inhibisi enzim, barbiturat, cimetidin, St Jons Wort, Tatro: tetap hanya sebatas sebagai kata kunci. Merangkai cerita, menjelaskan mekanisme, mencari solusi??….bye..

Ada begitu banyak pustaka, tapi saking banyaknya malah ga fokus. Ada sebuah buku tebal berisi tabel-tabel interaksi, pake tanda panah naik turun, berhalaman-halaman, apa mau diapalin?

“Jadi, gimana nih buat belajar interaksi obat. Saya dulu cuma dapet 2 sks doang di profesi, di S1 malah ga diajarin. Jadi pusing kalo ketemu CYP CYP CYP pake angka2 rumit”.

Berikut tips2 semoga bermanfaat:

1. Delete semua ebook tentang Interaksi Obat yang anda punya, sisakan 1 saja file yang bakal anda baca. Seringnya, hobi masyarakat kita, entah siapa pun, sukanya ngumpulin ebook, tapi ga pernah dibaca. Ada alasannya, tau kenapa? Karena dapetnya gampang. Cukup cari di Google ato blog orang, langsung ketemu. Beda ma negara maju yg harus berkorban puluhan-ratusan dolar utk beli ebook. “Is it photocopy book? Why you download e-book from that site? It’s illegal. We never do that” sebuah tamparan dari teman sebelah di bulan pertama.

2. Simpan dan sembunyikan rapat-rapat buku tebal bajakan yang berisi tabel2 interaksi obat pakai tanda panah2 itu. Kalo bukunya asli, boleh lah dipajang.

3. Un-instal semua software2 medical yang jarang dibuka itu. Kembali ke belajar jaman “jadul”, pakai buku cetak. Mengapa keseringan memasukkan obat A dan obat B di software lalu dilihat interaksinya, menjadi kurang bagus? Karena ini membatasi dan Anda ga akan pintar dengan ini. Tidak semua interaksi signifikan, walau beberapa kasus interaksi pernah dilaporkan. Jadi kudu kembali baca paper lagi, EBM lagi, bagaimana evidence-nya? Buatlah catatan sendiri, interaksi yang benar-benar well-established, didukung beberapa paper evidence-nya. Jika ini diterapkan, niscaya akan lebih confident dan performa tidak mengecewakan di depan klinisi.

4. Baca lagi Bab Farmakokinetika dan Farmakodinamika di Buku Farmakologi Dasar. Kadang orang sering mengabaikan bab ini dan bilang “aaah.. paling bahas ADME doang, itu mah sya udah hapal”. Eits, jangan sombong dulu, buka buku itu lagi (edisi terbaru kalo ada) dan baca baik-baik. Ga sesederhana absorpsi, distribusi, metabolisme, ekskresi doang. Beneran sudah faham bedanya reaksi fase I dan fase II? Enzim-enzim apa yang terlibat? Apa bedanya farmakokinetik dan farmakodinamik?

5. Pelan-pelan, coba mulai intip yg namanya Sitokrom P450 alias CYP CYP itu. Mengapa ada obat bisa menginduksi enzim ini? Mengapa juga ada yang menghambat? Sebenarnya menginduksi kerjanya, ataukah menginduksi ekspresinya (jumlahnya)?

6. Hapalkan obat2 penginduksi atau inhibitor enzim sitokrom. Barbiturat, fenitoin, karbamazepin, kebiasaan merokok/minum alkohol sang induktor enzim CYP yang poten. Cimetidin, klaritomisin, ketokonazol, antiretroviral, grapefruit juice, sang inhibitor enzim CYP. Sampai berapa lama induksi atau inhibisi berlangsung, seminggu, 15 hari atau 12 bulan?

7. Fahami jalur metabolisme obat, lewat CYP3A4 kah (misalnya)? Kalo ketemu obat di jalur ini, dan anda sudah hapal obat-obat point nomor 6, alarm otak kita kudu berbunyi. Apakah metabolit obat lebih toksik, atau inaktif, jika iya apa artinya dalam interaksi obat? Buku Kimia Medisinal Gisvold mengulas tuntas metabolisme obat dan jalur-jalurnya, dan jika faham bagian ini, semakin memudahkan dalam menjelaskan mekanisme interaksi. Mempelajari dengan baik interaksi farmakokinetika terutama di bagian Metabolisme, akan sangat membantu sekali. Interaksi farmakodinamika, lebih susah untuk dijelaskan karena lebih kompleks meliputi kejadian: interaksi antagonistik, interaksi sinergis/additif, sindrom serotonin (tramadol also involved here !!), dan interaksi obat uptake neurotransmiter.

8. Bagaimanapun, kita harus tau beberapa interaksi yang sangat terkenal dan mekanismenya, hapalkan. Kenali dan fahami interaksi dari obat-obat terkenal. Warfarin? Ya, memberikan efek parah jika berinteraksi dengan trimetropim/sulfa, eritromisin, amiodaron, ketokonazol/flukonazol, itrakonazol, metronidazol. Warfarin interaction most common cause for drug interaction hospitalizations !! Simvastatin dengan klaritomisin, bisa mengarah ke rhabdomyolisis (efek paling ditakuti, bisa mengancam nyawa. Glek..glek..). Pembahasan per golongan obat juga akan semakin membuat mudah, dengan membuat judul “Obat-obat yang meningkatkan risiko toksik –statin”, yaitu gol fibrat, antijamur azol, amiodaron, eritromisin/klaritomisin, protease inhibitor, verapamil/diltiazem (less nifedipin/amlodipin, except with simvastatin).

Adjust dosis dengan obat-obat ini tidak banyak membantu, so avoid. “Dapet dari mana info ini?”. Sy pernah diupload di group ini Desember lalu bukan? Video Youtube kuliah dari Prof. Dr. Douglas Paauw, University of Washington School of Medicine, yg di-share teman2 sy sampai puluhan kali. Beliau dokter keren di Amerika, bisa baca profilnya di Google. Sy sarankan simak kuliah gratis beliau sampai selesai (than share in wall). Taukah di video itu juga ada subtitle-nya.

9. Membuat solusi ketika menemukan kasus interaksi. Apakah menghindari salah satu obat, adjust dosis, waktu pemberian diubah, off dulu satu obat dan lanjut obat yang off tadi setelah selesai obat pertama. Bahas juga dengan pertanyaan apakah pasien menggunakan herbal tertentu (garlic, ginseng), perokok/peminum berat?

Mempelajari interaksi obat memang menantang, karena ga hanya interaksi obat-obat, tapi juga obat-makanan, obat-herbal, dll.

Ini hanya sebatas berbagi pengalaman, usaha lebih keras lagi mutlak diperlukan. From Zero to Expert. Ga mudah, kudu telaten, kudu konsisten, 2-3 tahun baru mulai tampak titik terang. Masukan tips2 lainnya sangat dinantikan.

Postingan menanggapi postingan bu Muvita Wati pagi ini. Selamat pagi bu Rin, ditunggu tulisan/sharing2 pengetahuannya

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s