Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Keamanan Bromokriptin dalam Menghambat Laktasi

Leave a comment


Badan POM September 2015 lalu mengeluarkan informasi keamanan produk obat yang mengandung bromokriptin. Informasi ini dibuat menyusul rekomendasi dari EMA terkait pembatasan penggunaan bromokriptin secara rutin dalam menghambat atau menghentikan produksi ASI setelah melahirkan.

Mari kita ingat kembali farmakologi dari bromokriptin. Bromokriptin adalah derivat ergot terhidrogenasi dengan aktivitas agonistik pada reseptor dopamin D2 dan agonis parsial pada reseptor D1.

Selain indikasinya untuk penanganan penyakit Parkinson, sejak tahun 1992 penggunaan bromokriptin dosis rendah secara resmi disetujui oleh regulator Perancis untuk menghambat laktasi. Bromokriptin telah disetujui beredar di Indonesia sejak tahun 1986.

Bagaimana mekanisem bromokriptin dalam menghambat produksi ASI? Bromokriptin adalah agonis reseptor dopamin, melalui jalur ini akan menghambat sekresi prolaktin, yaitu hormon yang menstimulasi kelenjar mammary. Sebagai hasilnya, bromokriptin mencegah atau menekan produksi ASI.

Berdasarkan kajian dari PRAC dilaporkan bromokriptin efektif dalam menghambat laktasi, namun memiliki efek samping yang jarang, tapi berpotensi fatal dan serius yaitu pada kardiovaskuler (serangan jantung), psikis, dan neurologis (stroke, fits/kejang). Melihat efek-efek ini, sebenarnya mudah dilogika karena reseptor dopamin terekspresi pada SSP, sistem kardiovaskuler, dan saluran GI.

Walaupun beberapa informasi di atas telah tercantum pada informasi produk, EMA merekomendasikan kepada profesional kesehatan untuk mempertimbangkan hal-hal berikut:

1. Bromokriptin hanya digunakan secara oral dengan kekuatan sampai 2,5 mg untuk menghambat laktasi bila diindikasikan secara medis, seperti pada kasus intrapartum loss, kematian neonatal atau ibu dengan infeksi HIV. Produk dengan kekuatan 5 mg atau 10 mg tidak diindikasikan untuk penggunaan tersebut.
2. Bromokriptin tidak boleh digunakan secara rutin untuk menekan laktasi atau mengurangi gejala nyeri setelah melahirkan dan pembengkakan, yang bisa diatasi dengan intervensi non-farmakologis dan analgesik.
3. Penggunaan dikontraindikasikan untuk pasien hipertensi tidak terkontrol, hipertensi pada saat kehamilan (termasuk eklampsia, pre-eklampsia, atau hipertensi akibat kehamilan), hipertensi setelah melahirkan dan masa nifas, riwayat penyakit arteri koronoer atau kondisi kardiovaskuler berat lainnya atau gangguan psikiatrik berat.
4. Tekanan darah harus dimonitoring secara hati-hati khususnya selama hari pertama terapi.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi teman sejawat sekalian.
nb: mohon postingan ini tidak di-share.

Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Leading article, survey pharmacovigilance bromokriptin, baca di sini:http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25761676

Info dari BPOM: http://e-meso.pom.go.id/web/page/viewfile.php…

Berikut laporan dari Pharmacovigilance Risk Assessment Committee (PRAC), materi 19 halaman menjelaskan secara lengkap keamanan bromokriptin.

WC500172002

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s