Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Suro Jalan-Jalan Pagi

Leave a comment


Tidak seperti biasanya Suro bangun sepagi ini. Hari Minggu yang cerah disambut dengan nyanyian burung dan mentari yang hangat memberi ide Suro mengajak pacarnya, Suranti, pergi ke Pasar Sunday Morning di Kompleks GOR Satrio. “Mejeng yuk, sambil cuci mata” SMS Suro.

Suro udah dandan cool, sepatu dan baju kinclong plus gadget dan serba-serbinya sudah ready di tas gaulnya. Mulailah lari menyusuri jalan Campus yang sudah rame ma anak-anak muda yg juga mau ke pasar.

Suranti yang sudah nungguin di depan kompleks perumahan bawah turunan, tampak senyum-senyum nungguin yayangnya sudah sampai depan RS Untu. Namun pas di turunan jalan abis RS, Suro tampak larinya lebih kenceng. Lari tunggang langgang seperti dikejar sesuatu, dan upps, benar ternyata Suro dikejar ma serombongan tawon. Beberapa tawon berhasil menggigit Suro dan membuat Suro jatuh tidak berkutik di depan Suranti.

Sepuluh menit kemudian Suro merasa pusing dan mulai gatal di bawah lengannya dan di kulit kepalanya. Dia merasa gatal-gatal dan merasa sesak di dada, sehingga dia diantar menuju RS di jalan Benjamin. Namun apalah daya, Suro akhirnya kolaps di kursi taksi. Di ruang gawat darurat, denyut nadinya hampir tidak terdeteksi.

Ada apa dengan Suro?

Suro mengalami kejadian syok anafilaksis diinduksi oleh racun dari tawon. Ini sebenarnya adalah reaksi hipersensitivitas tipe I, namun pada level yang mengancam nyawa. Jika tidak ditangani dengan cepat, Suro bisa “lewat” dan Good bye.

Reaksi hipersensitivitas tipe I, dimediasi oleh antibodi IgE. Ceritanya: mungkin dulu waktu kecil atau entah kapan, Suro suka main di kebon so pernah “dientup” tawon. Waktu itu, Suro ga kenapa-kenapa, paling pol nangis dan bentol doang. Tapi racun tawon yang udah masuk ke badan Suro ga mau diam ternyata. Racun tawon (suatu alergen) merangsang sel-sel imun tubuh, dalam hal ini adalah sel Th2 dan TFH (sel T helper follikular) untuk memproduksi IgE.

Begini ceritanya: alergen (racun tawon) ditangkap oleh sel dendritik di epitelial (di bawah kulit). Sel dendritik merupkan sel penyaji (APC) yang sangat efektif, jalan-jalan dari kulit menuju ke kelenjar getah bening terdekat (misal lokasinya di ketiak), sambil membawa alergen. Di kelenjar getah bening, alergen diolah dan disajikan ke sel Th naif yang kerjaannya muter-muter seluruh tubuh mencari “mangsa penjahat” yang cocok dengannya (alergen atau antigen). Sel Th naif berikatan dengan sel dendritik, menjadi aktif dan berdiferensiasi menjadi sel Th2 dan sel TFH.

Sel Th2 dan TFH kemudian bertemu dengan sel B spesifik alergen racun tawon. Sel B spesifik alergen yang sudah aktif ini selanjutnya menjalani pengalihan kelas dan memproduksi IgE. IgE bersirkulasi sebagai antibodi bivalen dan secara normal berada di plasma pada konsentrasi di bawah 1 μg/ml. Namun pada kondisi Suro, dimana dia adalah individu sensitif, levelnya bisa meningkat menjadi ribuan μg/ml. IgE spesifik alergen kemudian menempel pada reseptor Fc pada permukaan sel mast jaringan, sehingga sel-sel ini “peka” dan siap untuk bereaksi dengan alergen yang akan hadir selanjutnya di kemudian hari.

Nah, kejadian “apes” terjadi di pagi itu (Suro digigit ma tawon), dimana alergen yang sama (racun tawon) menempel di reseptor Fc pada sel mast jaringan (sel yang sudah tertempeli IgE hasil paparan pertama). Sel mast menjadi aktif, mengeluarkan amin vasoaktif (misal histamin) dalam jumlah besar. Mediator-mediator ini menstimulasi ujung-ujung saraf sehingga Suro mengalami gatal-gatal di kulit. Mediator-mediator juga membuat jalur pernafasan berkontriksi, membuat Suro kesulitan bernafas. Ini yang lebih parah, mediator-mediator mendilatasi pembuluh darah secara meluas (sistemik), menaikkan permeabilitas vaskuler (volume darah menjadi turun) dan muncullah kejadian seperti yang dirasakan Suro pagi itu: penurunan resistensi vaskular, tekanan darah yang menurun (drop), dan syok.

Namun dokter-dokter di UGD segera memberikan pertolongan yang cepat dan tepat, EPINEFRIN. Epinefrin melemaskan otot polos, mengkonstriksi pembuluh darah, dan merangsang jantung. Suntikan epinefrin ke tubuh Suro membuat nyawa Suro kembali “mendarat” di dunia. Suranti disebelahnya yang tadi sudah menangis tersedu-sedu, kini tersenyum gembira.

Kisah sedih di hari Minggu, Suro yang malang, niat mau “mejeng” eh malah “dimejengin” dulu ma IgE. Cepat sembuh ya Suro…
(Bersambung)

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s