Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Metformin: Mari Kita Tinjau Lagi Risk and Benefit-nya

Leave a comment


Metformin, sangat sering kita bahas di Group ini. Obat ini keren dan murah, namun adanya efek samping parah yaitu asidosis laktat membuat teman-teman dokter mikir-mikir kalo mau meresepkan metfomin bagi penderita diabetes.

Mekanisme aksi metformin adalah meningkatkan sensitivitas insulin. Metformin adalah adalah obat yang pertama kali diberikan pada penderita yang baru diketahui menderita DM. Selain itu metformin juga bekerja menghambat terbentuknya glukosa oleh hati (dalam bentuk glikogen). Untuk proses glukoneogenesis dibutuhkan juga laktat. Dengan dihambatnya proses pembentukan glikogen maka laktat di dalam darah akan meningkat.

Efek samping terberat pada penggunaan metformin adalah asidosis laktat. Jika ginjal mengalami gangguan (tidak dapat mengeluarkan asam melalui urin) maka dapat terjadi keadaan asidosis laktat. Namun keadaan ini tidak selalu disebabkan oleh metformin, biasanya terdapat keadaan lain yang meningkatkan risiko sehingga terjadi keadaan asidosis laktat. Faktor risiko ini antara lain adalah gangguan hati, gangguan ginjal, riwayat penggunaan alkohol, dan lain-lain.

Tanda-tanda asidosis laktat yaitu merasa sangat lemah, lelah, atau tidak nyaman, nyeri otot, sesak napas, perut tidak nyaman, badan merasa dingin, pusing dan detak jantung tidak teratur.

Metformin dikontraindikasikan bagi pasien dengan risiko asidosis laktat, yaitu pasien DM tipe 2 dengan penyakit kardiovaskuler dan penyakit ginjal. Tingginya prevalensi penyakit makro- dan mikrovaskuler pada pasien DM tipe 2 menjadikan cukup besar proporsi pasien yang menjadi kontraindikasi pemberian metformin, tetapi beberapa studi menduga hal tersebut cukup berlebihan dibandingkan manfaat yang didapat dari pemberian metformin (Risk and benefit berbicara).

Lalu, apa saja kelebihan metformin?
1. Efek sampingnya kecil dan relatif tidak berbahaya. Kejadian hipoglikemia sangat rendah dibandingkan dengan obat anti diabetik lainnya.
2. Metformin tidak mengakibatkan kenaikan berat badan. Berat badan ideal merupakan salah satu pilar pengobatan DM sehingga keunggulan ini sangat berguna. Obat hipoglikemia oral golongan sulfonilurea seperti glibenklamide dapat menaikkan berat badan bagi penggunanya. Demikian juga dengan insulin yang dapat menaikkan berat badan hingga 6 kg dalam 10 tahun pengamatan pada pasien yang menggunakannya secara teratur.
3. Meftormin juga merupakan obat anti diabetik pertama yang terbukti menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung, dan berguna juga menurunkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida.
4. Harganya yang murah dan terjangkau bagi masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut, dilakukan studi yang menilai risk and benefit obat-obat penurun glukosa darah termasuk insulin, dalam studi kohort yang melibatkan 51.675 pasien DM tipe 2 dalam praktik klinis dan dievaluasi khusus pada subkelompok pasien dengan derajat perbedaan kelainan fungsi ginjal. Studi ini dilakukan pada kelompok pasien yang terdaftar dalam Swedish National Diabetes Register. Luaran utama yang diukur dalam studi ini adalah risiko penyakit kardiovaskuler, mortalitas dengan sebab apa pun, dan asidosis/infeksi serius, terkait tiap-tiap regimen terapi, yang dianalisis per subkelompok dengan prakiraan laju filtrasi glomerulus yang berbeda-beda.

Hasil studi menunjukkan bahwa, dibanding monoterapi metformin, HR (hazard ratio) untuk penyakit kardiovaskuler fatal/non-fatal dan mortalitas dengan sebab apa pun pada monoterapi menggunakan kombinasi OHA (oral hypoglycemic agent, obat hipoglikemik oral; sekitar 80% sulfonilurea) mana pun adalah sebesar 1,02 (95%CI 0,93-1,12) dan 1,13 (1,01-1,27); pada monoterapi dengan insulin, HR untuk kedua risiko tersebut tercatat sebesar 1,18 (1,07-1,29) dan 1,34 (1,19-1,50).

Metformin, dibandingkan dengan terapi lain, menghasilkan pengurangan risiko asidosis/infeksi serius (adjusted HR 0,85, 95%CI 0,74-0,97) dan mortalitas dengan semua sebab (HR 0,87, 95%CI 0,77-0,99) pada pasien dengan eGFR 45-60 mL/mnt/1,73 m2. Tidak dijumpai peningkatan risiko mortalitas dengan semua sebab, asidosis/infeksi serius, ataupun penyakit kardiovaskuler pada pasien dengan eGFR 30-45 mL/mnt/1,73 m2.

Simpulannya, terapi metformin menunjukkan risiko penyakit kardiovaskuler dan mortalitas dengan semua sebab yang lebih rendah ketimbang insulin, dan risiko mortalitas dengan semua sebab yang sedikit lebih rendah dibanding OHA lain, pada 51.675 pasien yang di-follow up selama 4 tahun. Pasien dengan gangguan ginjal tidak memperlihatkan peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler, mortalitas dengan semua sebab, ataupun asidosis/infeksi serius. Dengan demikian, pembatasan ketat pemberian terapi metformin pada pasien gangguan fungsi ginjal perlu dipertimbangkan kembali.

Referensi:

Ekstrom N, dkk, 2012, Effectiveness and safety of metformin in 51 675 patients with type 2 diabetes and different levels of renal function: a cohort study from the Swedish National Diabetes Register, BMJ Open. 2012; 2(4): e001076. [Link]

Internis Magazine, Keunggulan Metformin Dibandingkan Obat Anti Diabetik Lainnya

KalbeMed, Efektivitas dan Keamanan Metformin pada DM Tipe 2 dengan Gangguan Fungsi Ginjal

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s