Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

From Bench to Bedside: Application of Basic Science to Clinical Practise

Leave a comment


Istilah “From Bench to Bedside” semakin terkenal dalam bidang medis beberapa tahun terakhir ini. Pada konsep ini, temuan-temuan ilmiah dasar (from bench, meja kerja scientist) diterjemahkan ke intervensi terapi untuk pasien dan untuk meningkatkan pemahaman tentang proses penyakit atau efek terapi (to bedside, ranjang pasien). Bagaimana contohnya? Berikut ini seperti yang disampaikan pagi itu oleh Ikuko Yano, apoteker sekaligus peneliti dari Kyoto University.

Clobazam (CLB) adalah anggota dari 1,5-benzodiazepin yang lebih superior dibanding 1,4-benzodiazepin (diazepam, clonazepam, dan lorazepam). Clobazam digunakan sebagai terapi tambahan (add-on) pada pengobatan epilepsi. Clobazam dimetabolisme menjadi metabolit aktif N-desmethylclobazam (N-CLB); N-CLB dimetabolisme lebih lanjut menjadi metabolit inaktif oleh enzim sitokrom CYP2C19.

Metabolisme clobazam dipengaruhi oleh (i) induksi/inhibisi enzim oleh obat lain, (ii) polimorfisme resesif gen CYP2C19 yang menyebabkan fenotip poor metabolizer (PM). Rasio konsentrasi N-CLB/CLB tergantung pada jumlah alel bermutasi dari CYP2C19 (efek dosis gen), dan rasio ini mungkin parameter yang berharga untuk skrining pasien pada risiko efek samping. Dosis rendah clobazam (2.5 mg/day) sebagai terapi add-on efektif pada pasien dengan epilepsi refractory dan bahwa derajat efektivitas berkorelasi dengan konsentrasi serum N-CLB.

Pada penelitiannya, Ikuko Yano membagi 50 pasien menjadi 3 kelompok berdasarkan polimorfisme CYP2C19 (EM, IM, PM). Kemudian dilakukan analisis hubungan konsentrasi serum CLB dan N-CLB dan frekuensi seizure.

Hasil menunjukkan efikasi dosis rendah clobazam secara signifikan dipengaruhi oleh fenotip CYP2C19. Pada fenotip PM, konsentrasi serum N-CLB lebih tinggi, begitu juga frekuenzi seizure menjadi berkurang. Secara sederhana bisa dijelaskan: pada fenotip PM, enzim memetabolisme lebih lanjut N-CBZ (aktif) secara buruk sehingga konsentrasi metabolit aktif tetaplah tinggi. Hal ini berkaitan jumlah seizure yang menurun pada fenotip PM.

Akhirnya mereka menyimpulkan efikasi dosis rendah CLB sebagai terapi tambahan secara signifikan dipengaruhi oleh polimorfisme CYP2C19. Dari sudut pandang praktis (bedside), lebih baik untuk memulai CLB dengan dosis rendah (2,5 mg/hari) pada fenotip PM dan untuk meningkatkan dosis bertujuan untuk mencapai konsentrasi N-CLB 1100 ng/mL sampai diperoleh efek yang diinginkan. Terapi individual seperti ini, dipandu oleh analisis polimorfisme CYP2C19 menjamin efek klinis yang baik tanpa efek samping pada pasien fenotip PM.

Dan tak terasa waktu 40 menit berlalu begitu cepat dan berakhirlah paparan dari beliau. Dilanjutkan dengan tea break dengan kudapan khas Asia. Penelitian diatas dipaparkan pada acara 6th AASP Conference dua tahun silam, namun teman sejawat tidak usah kahawatir untuk membaca lebih lanjut karena tahun ini sudah publish di jurnal berikut: Hashi S., et al., 2015, Effect of CYP2C19 polymorphisms on the clinical outcome of low-dose clobazam therapy in Japanese patients with epilepsy, Eur J Clin Pharmacol. 2015 Jan;71(1):51-8.[Link]

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s