Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Aspirin-exacerbated respiratory disease (AERD)

Leave a comment


Penyakit pernafasan diperburuk oleh aspirin (AERD), merujuk pada tiga serangkai: asma, rinosinusitis kronis (CRS) dengan poliposis hidung, reaksi saluran pernafasan atas dan bawah. Keadaan ini dipicu oleh penggunaan aspirin atau NSAID lainnya pengeblok COX-1.

Kasus pertama sensitivitas aspirin pada pasien dengan asma digambarkan pada tahun 1902, beberapa tahun setelah masuknya aspirin dalam penggunaan klinis. Pada tahun 1968, Samter dan Beers menjelaskan tiga serangkai yang terdiri dari asma, sensitivitas aspirin, dan polip hidung, yang kemudian dikenal sebagai triad Samter.

AERD mempengaruhi 5-20% semua pasien dengan asma. Reaksi biasanya muncul 30 menit sampai 3 jam setelah menelan aspirin, yang hadir sebagai pemburukan tiba-tiba asma dan kongesti nasal.

Patofisiologi AERD masih sulit dimengerti, tapi diyakini melibatkan metabolisme asam arakidonat, menghasilkan ketidakseimbangan mediator pro-inflamasi dan anti-inflamasi, memicu inflamasi saluran nafas kronik. Aspirin dan NSAID pengeblok COX-1 mengakibatkan over-produksi leukotrien yang mendorong inflamasi saluran nafas.

Untuk pasien dengan AERD dan asma moderat sampai parah, bisa ditambahkan leukotriene ­modifying agent (LTMA) pada terapi asma lainnya. Pengobatan bisa dimulai dengan leukotriene­ receptor
antagonist (LTRA) seperti montelukast, zafirlukast. Jika tidak ada perbaikan klinis setelah 4-6 minggu, bisa diganti atau ditambahkan inhibitor LOX yaitu zileuton.

Pasien dengan AERD harus menghindari NSAID pengeblok COX-1 diantaranya: diklofenak, etodolak, ibuprofen, endometasin, ketoprofen, ketorolak, asam mefenamat, naproksen, piroksikam, dan sulindak.

Pilihan NSAID lain yang bisa digunakan adalah : (i) aktivitas pengeblok COX-1 yang buruk dan bisa muncul reaksi silang hanya pada dosis tinggi : parasetamol, diflunisal; (ii) pengeblok COX-2 tapi bisa mengeblok COX-1 pada dosis tinggi: meloksikam, nabumeton, nimesulid; (iii) inhibitor COX-2 sangat selektif: celecoxib, etoricoxib, parecoxib, lumiracoxib.

Desensitasi aspirin diikuti dengan terapi aspirin (atau NSAID lain) setiap hari bisa bermanfaat untuk kondisi pasien berikut: (i) Poliposis hidung yang memburuk atau berulang meskipun sudah diberi glukokortikoid intranasal, operasi, dan terapi lain yang sesuai, (ii) kondisi inflamasi yang memerlukan NSAID setiap hari yang tidak bisa diobati dengan COX-2 selektif inhibitor, (iii) penyakit atherosklerosis jantung/vaskuler yang membutuhkan efek dari aspirin, (iv) sakit kepala berulang yang perlu penggunaan NSAID.

Bacaan yang disarankan:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3005316/
http://www.hindawi.com/journals/ja/2012/273752/

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s