Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Ciprofloksasin [Bagian 2]

Leave a comment


Masih membahas cipro, tapi sekarang lebih ke ROTD-nya (red: reaksi obat yang tidak dikehendaki, istilah pas jaman2 kuliah profesi bareng prof Suwaldi

“Gila nih ciprofloksasin laku kayak kacang goreng” status kawan di facebook di suatu hari.
“Aku masih heran kenapa ya pasien yang minum cipro mukanya merah-merah gitu?” teman sebelah ruangan berkomentar sambil nitip kopian pajak bumi bangunan minta diserahin ke pak RT.
“…tapi memang obat ini terkenal sekali membuat pasien sukses malas meneruskan minum obat krn mual banget ktnya….*ktny lho…. eh saya pnh dger ada kasus SJS krn golongan ini benar atau hoax ya?” salah satu komentar di group ini.
“Ttg efek samping nya pada anak bagaimana?” tanya ibu Dewi Ramdani.

Fluorokuinolon ditoleransi dengan baik dengan sedikit efek samping. Namun, agen ini dapat memiliki efek samping yang serius.

#1 Efek samping yang paling umum dari fluorokuinolon adalah mual, muntah, anoreksia, gangguan pengecap, dan diare (tapi jarang) yang terjadi pada 3-17 persen penerima.
#2 Efek samping lain yang lebih serius tapi kurang umum adalah efek sistem saraf pusat (sakit kepala, kebingungan dan pusing), fototoksisitas (lebih umum terjadi pada lomefloksasin dan sparfloxacin), kardiotoksisistas (sparfloksasin) dan hepatotoksisitas (trovafloksasin).

Berikut penjelasan sekilas mengapa demikian dan hal-hal penting lainnya.
1. Gangguan pada gastrintestinal (GI), sudah disebut di point 1 di atas. Urutan agen dari yang paling sering menimbulkan efek ke yang paling rendah sbb: fleroksasin > grepafloksasin > trofafloksasin > sparfloksasin > perfloksasin > ciprofloksasin > gatifloksasin > gemifloksasin > levofloksasin > moksifloksasin > norfloksasin > enoksasin > ofloksasin. Note: walau data sudah diurutkan, tapi pada kenyataannya bisa berubah.
2. Efek pada CNS atau sistem saraf pusat. Secara umum fluorokuinolon berpotensi menyebabkan kejadian terkait CNS (sakit kepala, dizziness, insomnia, gangguan mood. sedangkan halusinasi, delirium, dan seizure jarang). Penjelasan mekanisme molekuler sbb: adanya kesamaan substituen pada posisi 7 inti kuinolon dengan struktur GABA. Kuinolon tertentu akibatnya dapat menggantikan GABA atau berkompetisi pada situs aktif reseptor, menghasilkan efek-efek di atas.
Potensi toksisitas fluorokuinolon lainnya adalah neuropati perifer (gejalanya pain, burning, tingling, numbness, weakness, dll).
Fluorokuinolon dihindarkan untuk pasien Mastenia Gravis karena bisa menyebabkan kelemahan otot (fluorokuinolon ternyata memimiliki aktivitas neuromuscular-blocking).
3. Reaksi alergi kulit. Ruam (rash) tidak spesifik seringkali terjadi.
Reaksi fototoksisitas (kulit jadi merah-merah), terjadi karena sinar UV A (320-400 nm). Adanya UV A bereaksi dengan senyawa fluorokuinolon menghasilkan molekul oksigen singlet dan radikal bebas yang bisa menyerang liid membran dan komponen seluler lain dan terjadilah inflamasi (merah-merah pada kulit).
Gemifloksasin menyebabkan mild rash pada 2,8 % pasien, dan 14% pada wanita dibawah 40 tahun yg menerima obat selama 7 hari atau lebih. Ada 2 agen yang sangat tinggi memunculkan efek ini yaitu lomefloksasin dan sparfloksasin. Penjelasannya karena pada kedua agen ini memiliki substituen halida pada posisi 8 dan inilah yang bertanggungjawab terhadap peningkatan fototoksisitas. Bagaimana dgn ciprofloksasin? Reaksi fototoksisitas pada cipro adalah tidak umum, namun bs juga terjadi pada individu yang sensitif. Kalau dicegah pakai sunscreen bagaimana? Ga ngaruh sih karena sunscreen cuma ngeblok UV B dan UV C aja. Sarannya, selama pakai obat jangan keluar rumah siang-siang.
4. Arthropathy (Wikipedia mengartikannya a disease of a joint). Ini dia dasar warning keamanan untuk anak-anak. Kekhawatiran tentang efek samping dari kuinolon pada sendi terutama didasarkan pada bukti eksperimental pada hewan muda. Arthropaty dengan erosi kartilago dan efusi non-inflamastori terjadi pada binatang muda yang diberikan fluorokuinolon. Tau ga bahwa cipro disetujui tahun 1989, saat itu ditulis tidak boleh digunakan untuk anak-anak. Barulah pada tahun 2004, ciprofloksasin menjadi agen fluorokuinolon pertama yang disetujui untuk digunakan pada anak 1-17 tahun. Dalam sebuah penelitian, tidak ada penyakit sendi pada lebih dari 1.000 anak-anak yang menerima ciprofloksasin (Chysky dkk, 2001). Untuk penjelasan lebih lengkap pemakain kuinolon untuk pediatri, silahkan baca ini:http://pediatrics.aappublications.org/content/128/4/e1034
5. Teninophaty dan tendon rupture.Oleh FDA, manufacturer diminta memasukkan efek ini dalam box waring.
6. Perpanjangan QT interval dan aritmia. Haha.. jujur saya pusing baca bagian ini karena cukup rumit. Kalo ada yg mau bantu jelasin, nanti bs saya kasih jurnalnya. Yang jelas, dengan munculnya efek ini membuat sparfloksasin dan grepafloksasin ditarik dari pasaran.
7. Gangguan liver. Karena efek ini pulalah si trovafloksasin ditarik dari pasar Amerika. Pada bulan Juni 1999, FDA mengeluarkan peringatan kesehatan masyarakat tentang risiko toksisitas hati dengan trovafloksasin setelah 14 kasus gagal hati akut yang terkait dengan penggunaannya. Pengumuman merekomendasikan bahwa terapi trovafloksasin (kuinolon generasi ke-empat) disediakan untuk infeksi yang mengancam nyawa, dengan pengobatan hanya untuk pasien rawat inap dan ketika manfaat trovafloksasin lebih besar daripada risiko (obat ini tidak beredar di Indonesia).
8. Homeostasis glukosa. Ternyata fluorokuinolon memiliki kemampuan menutup kanal K+ ATP pada sel beta pankreas, yang berikutnya akan melepas insulin dan menimbulkan efek hipoglikemi. Owen dkk (2005) mengatakan “Product labels for ciprofloxacin, gatifloxacin, levofloxacin, and moxifloxacin mention the possibility of hypoglycemia and hyperglycemia, whereas the product label for gemifloxacin mentions hyperglycemia only”.
9. Anafilaksis, lebih jarang terjadi dibanding antibiotik lain misalnya beta-laktam.
10. Reaksi idiosinkratik terkait imun. Ini bu Lakmsi Maharani, ketemu jawabannya. “A number of relatively uncommon immune-related toxicities have been linked with quinolone use, including hemolytic-uremic syndrome, hemolytic anemia, thrombocytopenia, leukopenia, acute interstitial nephritis, acute hepatitis, acute cholestatic jaundice, Stevens Johnson and Lyell syndromes, fixed drug eruption, cutaneous vasculitis, macular-papular exanthema, acute pancreatitis, serum sickness–like disease, angioimmunoblastic lymphadenopathy, acute exathematous pustulosis, and eosinophilic meningitis (Campi dan Pichler, 2003). Berapa persen kejadian ini bisa terjadi? Kecil, namun bisa terjadi pada individu yang lagi “apes” terkena reaksi ini.
Oke, demikian penjelasan tentang cipro dkk dan ROTD-nya. Jika ada salah mohon koreksinya. Semoga bermanfaat dan selamat beraktivitas.

Referensi:
UpToDate: Fluroquinolones
Owens dan Ambrose, 2005, Antimicrobial Safety: Focus on Fluoroquinolones, link http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15942881

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s