PPI: Omeprazole dan lansoprazole


omeprazoleLast update: May 30, 2018

Penghambat pompa proton atau Proton pump inhibitor (PPI) merupakan kelas obat yang tidak diragukan lagi efektivitasnya dalam menekan asam lambung. PPI secara efektif mengeblok sekresi asam lambung dengan mengikat secara ireversibel pompa ATPase hidrogen-kalium yang berada di permukaan luminal membran sel parietal.

Jenis PPI

Kini terdapat beberapa inhibitor pompa proton (PPI) yang dapat digunakan di klinis:

  • omeprazole (Prilosec)
  • lansoprazole (Prevacid)
  • dekslansoprazole
  • rabeprazole (Achipex)
  • pantoprazole (Protonix)
  • esomeprazol (Nexium)

Struktur kimia

PPI merupakan turunan benzimidazole (tepatnya alfa-piridilmetilsulfinil benzimidazol), dengan substituen yang berbeda-beda pada gugus piridin atau pada gugus benzimidazol, dengan sifat-sifat farmakologinya yang sama.

structure ppi

Apa beda omeprazole dan lansoprazole?

  • Dosis: omeprazol 20 mg sehari, sedangkan lansoprazole 30 mg sehari
  • Lansoprazol sebaiknya diminum saat perut kosong; absorpsi menurun hingga ~ 50% jika dikonsumsi dengan makanan
  • Nilai pKa sama (meskipun perbedaan nilai dengan anggota lain pun tidak ada pengaruh signifikansi ke efek klinis)
  • Omeprazol jumlah dipasaran Indonesia lebih banyak dibanding lansoprazol

Jadi secara keseluruhan, mereka adalah sama saja.

Penggunaan terapetik

Terapi proton pump inhibitor (PPI) diindikasikan pada situasi klinis berikut:

  • Penyakit ulser peptikum (peptic ulcer disease). PPI merupakan terapi antisekretori asam lini pertama dalam pengobatan penyakit ulkus peptikum.
  • Refluks gastroesofageal atau Gastroesophageal reflux disease (GERD). PPI diindikasikan pada pasien dengan penyakit GERD, termasuk untuk pengobatan esofagitis erosif dan sebagai terapi pemeliharaan pada pasien dengan esofagitis erosif atau esofagus Barrett.
  • Sindrom Zollinger-Ellison. PPI, sering kali pada dosis tinggi, diperlukan untuk mengontrol hipersekresi asam lambung pada pasien dengan tumor yang mensekresi gastrin.
  • Ulser terkait NSAID. PPI diindikasikan dalam pencegahan utama ulkus gastroduodenal yang berhubungan dengan penggunaan NSAID.
  • Eradikasi Helicobacter pylori. PPI merupakan komponen dari beberapa rejimen terapi lini pertama untuk eradikasi H. pylori.

Baca : Mekanisme aksi molekular proton pump inhibitor (PPI)

Farmakokinetika

PPI tidak stabil pada pH rendah. Bentuk sediaan oral (pelepasan tertunda) tersedia dalam bentuk granul salut enterik ter-enkapsulasi dalam cangkang gelatin (omeprazol dan lansoprazol) atau sebagai tablet salut enterik (pantoprazol dan rabeprazol). Granul-granul ini hanya dapat melarut pada pH basa, sehingga mencegah penguraian obat oleh asam di esofagus dan lambung.

Baca : PPI merupakan suatu prodrug (aktivasi PPI)

PPI diabsorbsi dengan cepat, banyak terikat pada protein, dan dimetabolisme secara ekstensif di hati oleh sistem sitokrom P450 (CYP2C19 dan CYP3A4). Metabolit sulfatnya dieksresikan di urin atau feses. Waktu paruh plasmanya sekitar 2 jam, tetapi durasi kerjanya lebih panjang.

Pada pasien gagal ginjal kronis (GGK) dan sirosis hati tidak menyebabkan akumulasi obat bila diberikan dosis sekali sehari. Sedangkan pada pasien dengan penyakit hati, mengurangi klirens lansoprazol secara signifikan, sehingga penurunan dosis perlu dipertimbangkan pada pasien dengan penyakit hati yang parah.

ome cyp

ome metabolism

Baca juga : Farmakodinamika PPI

Pemberian

Formulasi intravena 

Kebergantungan terhadap salut enterik memberikan tantangan dalam penggunaan rutin PPI pada pasien yang sakit kritis atau pasien yang tidak dapat menelan. Untuk kondisi seperti ini, antagonis reseptor H-2 intravena lebih disukai. Namun keadaan ini berubah karena telah hadir PPI intravena.

PANTOPRAZOLE INJ 40 MG GEN--250x250Pantoprazol, senyawa yang relatif stabil dalam asam, merupakan sediaan intravena yang pertama kali disetujui di AS. Bolus intravena tunggal dengan dosis 80 mg dapat menghambat produksi asam hingga 80% sampai 90% dalam waktu satu jam, dan efeknya bisa bertahan hingga 21 jam.

Oleh karena itu, pemberian PPI secara intravena sekali sehari (dalam dosis yang sama seperti yang digunakan secara oral) kemungkinan sudah mencukupi untuk mencapai tingkat HCl yang diinginkan. Penggunaan klinis formulasi ini pada situasi di atas membutuhkan penelitian lebih lanjut, tetapi diharapkan sama atau lebih besar dari penggunaan klinis antagonis reseptor H2 intravena.

PPI intravena diindikasikan sebelum evaluasi endoskopi pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal atas yang signifikan secara klinis dari ulkus peptikum yang dicurigai. Pantoprazole dan esomeprazole merupakan PPI yang tersedia sebagai formulasi IV di Amerika Serikat, sedangkan omeprazole intravene tersedia di negara lain. Bagaimana dengan di Indonesia?

Waktu pemberian dan dosis

PPI harus diberikan 30 hingga 60 menit sebelum sarapan untuk penghambatan maksimal pompa proton.

Pengurangan dosis mungkin dapat dilakukan pada populasi Asia, terutama untuk pemeliharaan penyembuhan esofagitis erosif. Polimorfisme pada gen CYP2C19 umum di Asia, yang meyandi isoenzim sitokrom P450 yang memetabolisme PPI yang berbeda. Mutasi gen seperti itu akan membuat seseorang menjadi “pemetabolisme lambat” dan memperpanjang efek antisekresi PPI.

Hindari pemberian bersama agen antisekretori asam lainnya

PPI tidak boleh diberikan bersamaan dengan agen antisekresi termasuk antagonis reseptor histamin-2 (H2RAs), analog prostaglandin E (misal misoprostol), dan analog somatostatin (misalnya oktreotid), karena adanya penurunan yang bermakna dalam efek penghambatan asam.

Obat antisecretori dapat digunakan dengan PPI asalkan ada interval waktu yang cukup antarpemberian mereka. Sebagai contoh, suatu H2RA dapat diambil sebelum tidur atau pada malam hari oleh pasien yang melaporkan gejala-gejala terobosan nokturnal seperti sakit maag setelah minum PPI di pagi hari atau sebelum makan malam.

Mengapa perlu diminum minimum 4 hari?

Karena tidak semua pompa atau semua sel parietal berfungsi pada saat yang bersamaan, maka dibutuhkan beberapa dosis obat agar menghasilkan supresi sekresi asam yang maksimal. Dengan dosis sekali sehari, untuk mencapai tingkat penghambatan yang tetap (steady-state) membutuhkan waktu 2-5 hari, yang mempengaruhi sekitar 70% pompa. Pencapaian tingkat penghambatan yang tetap dapat dipercepat dengan pemberian dosis yang lebih sering (misal 2 kali sehari).

Karena ikatan metabolit aktif obat dengan pompa bersifat tak terbalikkan (irreversible), penghambatan produksi asam akan berlangsung selama 24-48 jam atau lebih, hingga pompa baru disintesis kembali. Oleh karena itu, durasi kerja obat-obat ini tidak secara langsung berkaitan dengan waktu paruh dalam plasma.

Efek samping

  • Penggunaan PPI dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko diare terkait Clostridium difficile (CDAD). Berita FDA
  • kolitis mikroskopik. Referensi
  • Pengobatan jangka panjang PPI dikaitkan dengan malabsorpsi vitamin B12. Ref1, Ref2
  • malabsorpsi magnesium. Ref
  • malabsorpsi kalsium tidak larut air dan risiko fraktur
  • malabsorpsi besi
  • Hipergastrinemia (>500 ng/liter) muncul pada sekitar 5-10% pengguna omeprazol jangka panjang. Gastrin merupakan faktor tropik bagi sel-sel epitel dan secara teoretis muncul kekhawatiran bahwa pengingkatan kadar gastrin dapat memicu pertumbuhan berbagai macam tumor di saluran gastrointestinal. Pada tikus yang diberi PPI jangka panjang ditemukan adanya perkembangan hiperplasia sel mirip enterokromafin dan tumor karsinoid gastrik akibat hipergastrinemia yang terus berlangsung. Namun, terdapat data yang bertentangan mengenai risiko dan implikasi klinis hiperplasia sel mirip enterokromafin pada pasien yang diterapi dengan PPI jangka panjang. Ref

 

  • Gastritik atopik.
  • penyakit ginjal
  • lupus diinduksi obat.
  • demensia. hubungan tidak jelas, ref
  • pneumonia. tapi hanya karena faktoe pengacau saja, ref
  • kematian, ref

Interaksi obat

PPI menghambat aktivitas beberapa enzim sitokrom P450 di hati dan karenanya dapat menurunkan klirens benzodiazepin, warfarin, fenitoin dan banyak obat lainnya.

Baca : Profil interaksi farmakokinetika dari PPI

 

  • Interaksi PPI dan clopidogrel tidak bermakna secara klinis. Baca beritanya di KalbeMed berikut: PPI dan clopidogrel
  • HIV protease inhibitor. PPI dapat menurunkan penyerapan protease inhibitor HIV tertentu. PPI merupakan kontraindikasi pada pasien yang diobati dengan rilpivirine. Atazanavir tidak boleh digunakan pada pasien yang membutuhkan dosis PPI setara dengan omeprazole> 20 mg setiap hari.
  • Metotreksat – Pemberian suplemen PPI dengan metotreksat dosis tinggi tampaknya berkorelasi dengan eliminasi metotreksat yang tertunda dan berpotensi menyebabkan toksisitas metotreksat jika tidak dipantau secara tepat.

Referensi

Hoogerwerf WA dan Pasricha PJ, 2003, Obat-obat pengendali keasaman lambung serta pengobatan ulser peptik dan penyakit refluks gastrointestinal, dalam Goodman and Gilman Dasar Farmakologi Terapi Edisi 10, edisi terjemahan], EGC Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta

Welage LS.,Pharmacologic Features of PPIs and Their Relevance to Clinical Practice, Medscape

Welage LS, Pharmacologic Properties of Proton Pump Inhibitors

25 tahun PPI

Advertisements

One thought on “PPI: Omeprazole dan lansoprazole

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s