Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Meresapi Kedamaian di Lereng Lawu: Tawangmangu

5 Comments


Tawangmangu, sebuah kecamatan kecil di sisi barat-selatan gunung Lawu. Daerah pegunungan yang dingin, menawarkan suasana tentram dan mendamaikan. Banyak lokasi terkenal di daerah ini, yang paling kondang adalah air terjun Grojogan Sewu. Lokasi lain yang tak kalah cantik adalah cemoro sewu dan pesawahan di belakang bumi perkemahan. Di daerah ini juga ada Balai Penelitian Tanaman Obat (BPTO) yang kini makin besar dan kokoh saja bangunannya.

Sore, pasca mengelilingi situs budaya Candi Cetho-Sukuh, kami lanjutkan ke Tawangmangu lewat Karangpandan-Amanah. (Amanah adalah semacam pemancingan yang memiliki gedung pertemuan, taman bermain, rumah makan, dan sarana outbond). Lewat jalan ini langsung tembus ke daerah jalan berkelok-kelok dan sampailah kami di Terminal Agrowisata, isi perut dulu donk, makan bakso.

Bakso disini sebenarnya standar, ga enak-enak amat tapi ya garing-garing amat. Bakso kecil-kecil dan bakso besar berisi telur, dari dulu menu ini tidak berubah. Berarti sudah 3x saya makan di bakso ini: pertama pas survey makrab makan bareng 4 teman gila setelah nambal ban, kedua bareng kawan pas ambil tanaman di BPTO, dan ketiga kemarin ini, 18 Januari 2014.

Melanjutkan perjalanan, sholat Ashar dulu di masjid dekat pasar sayur dan buah. Masjid yang ramai, bersih, dan airnya jernih. Sholat jamak qoshor di masjid ini dilanjut jalan-jalan ke pasar dan terminal. Pasar yang besar dan lumayan bersih pasca dirombak besar-besaran 4 tahunan silam. Terminal satu-satunya tujuan Tawangmangu-Solo ini juga tergolong sepi, hanya beberapa bus yang mangkal. Setelah mengubek-ubek terminal, ambil jalan keluar dan memasuki perkampungan di sekitar terminal tersebut.

IMG_20140118_160026IMG_20140118_174219

Perkampungan yang padat rumah, beberapa menawarkan penginapan. Jalan-jalan setapak memadati tiap areal sehingga kampung berbentuk semacam petak-petak. Ke jalan besar lagi, di kompleks pasar-terminal tadi lah sepertinya pusat perekonomian masyarakat. Ada kantor pos, warnet, polsek, minimarket berjejer banyak, dan penjual makanan kecil di trotoar. Just info, di sini ATM yang ada BRI dan BPD Jateng. ATM Mandiri sudah ada box-nya tapi belum aktif.

IMG_20140119_073059

Hari mendekati sore, lanjut ke atas untuk mencari penginapan. Selepas dari terminal banyak sekali penginapan berbagai kelas sampai hotel bintang 3 ada di sepanjang jalan Lawu ini. Banyak tersedia kamar kosong, bisa dilihat dari papan di depan pagar bertuliskan “Ada kamar”. Harga sewa di sekitar jalan ini mungkin berkisar 50.000 ke atas. Namun kita tetap ke atas sampai melewati BPTO, pertigaan jalan baru, masih ke atas lagi, dan sampailah di penginapan warga, Wisma Harjuna. Penginapan yang bersih, berlokasi tepat di kanan jalan sebelum jembatan sekitaran arah mau ke bumi perkemahan. Harga sewa pun murah, 45.000 sudah nyaman dan bersih.

Malam, jalan turun mencari makan malam dan menikmati dinginnya udara Tawangmangu. Tak lama, hujan turun pun dengan deras. Menanti hujan reda di depan toko dengan emperan yang cukup lapang. Sang teman asyik bermain dengan smartphone-nya, melihat foto hasil jepretan tadi siang, sembari tertawa sendiri pas mendapat tweet dari teman perempuan di seberang kota Mendoan nan jauh di sana. “Tadi aku ketemu bule lho, terus kita ngobrol-ngobrol pake bahasa Inggris gitu”, begitu kira-kira canda kawan saya tadi sambil pasang muka pamer. “Ngobrolin apa?” balas teman perempuannya diseberang sana. “Tadi dia curhatin banyak tentang kamu” jawabnya menggoda. “Gombal, wekss” jawab teman perempuannya sama sekali ga percaya.

Saya pesan nasi goreng di warung kaki lima sebelah kami berteduh. Menunggu makanan disajikan, di seberang jalan ada toko Pelangi 1 dan 2. “Wah, ga di gunung ga di laut, orang Cina itu pasti jago dagang yak. Lihat itu, dari tadi tokonya ga pernah sepi. Liat juga engkong2nya tuh, dari tadi ga bisa diem, entah nulis, entah bersihin lemari kaca, entah nata-nata barang, ada aja kerjaannya”, cerocos saya ke teman, yang masih sama, masih asyik dengan smartphone-nya.

Makan selesai, hujan pun tak kunjung reda. Di seberang jalan ada pemandangan yang menarik lagi. Seorang ibu-ibu jualan bakso tusuk, ketika di-gerudug pembeli wajahnya sumringah, penuh senyum dan tawa. Ketika pembeli sepi, sepi pula hatinya, diam, menatap hujan yang tak kunjung turun, sambil berfikir keras. “Fren, ibu itu kira-kira penghasilannya berapa ya per hari? Kalo pekerjaannya cuma itu doank kayaknya cuma bisa buat hidup sehari-hari aja tuh”. “Mungkin 50an ya, tapi biasanya penduduk desa kan punya kebon, siang di kebon ato sawah, malam kerja lagi gitu”, jawab teman saya.

Fikiran malam itu mengembara, jauh tak kenal batas ruang dan waktu. Melihat jalanan, hujan, keheningan, malam, kesibukan para penjual, dan perjalanan panjang hari ini. Tak sadar bahwa saat itu saya berada di sebuh tempat yang sangat jauh dari tempat biasanya saya beraktivitas sehari-hari.

IMG_20140119_093326

Sampai jumpa lagi di traveling berikutnya..

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

5 thoughts on “Meresapi Kedamaian di Lereng Lawu: Tawangmangu

  1. Salam kenal mr.backpaker,sy eko dr klaten.baru belajar jd backpaker kecil kecilan.mo cari oenginapan murah,rencana InsyaAlloh bln nopember ini mo touring sama anak istri.mohon balasan nya.

  2. ada contact person wisma harjuna tidak??? kalo ada boleh di share donk

  3. bagus pak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s