Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Menguak Situs Budaya di Lereng Lawu: Candi Cetho

1 Comment


Sudah edisi kelima saya mengunjungi kebon teh Kemuning di kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar. Pertama kali bareng teman kosan si Cicus tahun 2007, mbolang sampai kesasar-sasar, bertepatan dengan mas Oki yang lagi Pimnas di Unila, kedua tahun 2008 bareng Prima dkk setelah dari BPTO ambil simplisia, ketiga bareng Fea, Nanda, Sistri tahun 2012, keempat bareng Fea dan Irfan seminggu sebelum nikah (tahun 2013).

Tapi herannya, ga bosen-bosen ke tempat ini. Kedamaian dan ketenangan menghampiri, kesejukan menyusuk ke dalam kalbu, tsah… Edisi ke kebon teh kali ini lumayan spesial, karena ga hanya berhenti di tempat biasa tapi lanjut ke atas ke situs budaya yang mengagumkan, Candi Cetho.

Jumat, 17 Januari 2014

Perjalanan dimulai dari Purwokerto, bada Jumatan bersama motor Honda Beat Matic yang sudah diservis dan diganti oli. Dikasih pancingan Pertamax 2 liter biar motor makin kenceng. Dan dahsyatnya, kita menembus hujan dari keluar kosan sampai daerah Purworejo.

Lewat jalur selatan-selatan tembus ke jalan Daendels, setelah masuk Gombong belok kanan untuk cari jalur alternatif lewat Puring dan sekitarnya. Kelebihan jalur ini sepi, rindang, dan ga ada lampu merah. Kelemahannya ada beberapa titik jalannya memang ancur, sekitar 5 km di daerah Ambal dan Ngombol Purworejo. Tapi setelah masuk perbatasan Purworejo-DIY, ketemu jalan mulus ibarat jalan tol yang luas dan lapang.

Sampai di DIY, mampir dulu di masjid didaerah POM bensin. Lanjut menyusuri jalanan Wates yang mulus dan rapi. Sampailah di kota Jogja menjelang Maghrib dan makanlah kita di Nasi Goreng notaris, Kotabaru. Ga kemana-mana malem itu, langsung menuju kosan Jogja dan tidur, mengisi energi untuk perjalanan esok hari.

Sabtu, 18 Januari

Pagi, sarapan di gudeg Jalan Kaliurang. Sambil bungkus satu buat ibu kost. Bu kost ditraktir, wah senengnya minta ampun, sering-sering aja katanya. Hahaha… Pukul 8.30 caw meninggalkan Jogja, lewat ringroad utara, jalan Solo, kota Klaten, jl Slamet Riyadi, Pasar Gede, dan tembus di Kali Bengawan Solo setelah UNS. Masuk Kab Karanganyar (Palur), Jaten, dan Kota Karanganyar.

Kota Karanganyar yang asri, di tengah kota masih ada sawah-sawah di tepi jalan besar. Ck..ck.. Rindang, karena banyak pohon-pohon di tepi jalan. Ga ada macet karena volume kendaraan masih kecil. Juga ga ada mall, cuma supermarket apa entah tapi masih gedean Mirota atau Moro. Disana juga cuma punya 1 hotel, hotel Taman Sari, yang saat itu di depannya lagi ada spanduk “Tempat Deklarasi Jokowi for President”.

Kota ini mirip banget ma Kota Metro. Pusat keramaian tersentral di taman kota yaitu Taman Pancasila. Ramai pas hari Sabtu itu, banyak orang nongkrong atau kongkow santai. Nah, sebelum meninggalkan kota jangan lupa mampir dulu di Pom bensin terakhir kota, di dekat simpang 5 percabangan mau ke arah Tawangmangu, Mojogedang, dll.

Waktu itu kami pilih jalur ke arah Mojogedang dan Kerjo, karena kita mau lewat daerah pedesaan selama perjalanan. Dan memang, baru masuk beberapa meter saja dari simpang lima tadi, aroma pedesaan sudah tercium kental. Di sebelah kanan tersaji Waduk Delingan yang luas, disusul taman Gunung Bromo, dan seterusnya sampailah di kompleks areal kebon karet milik PTPN.

Ancer-ancer saya untuk ke daerah Ngargoyoso adalah lapangan di Batujamus. Tapi sekarang bagian depan lapangan sudah ditutupi toko-toko semipermanen, jadi kemaren kelewatan sampai pasar. Akhirnya putar arah dan ambil ke arah Ngargoyoso, masuk ke atas.

Masuk daerah ini pemandangan lebih keren lagi. Jajaran sawah sengkedan menghiasi di kanan kiri jalan. Desa-desa di sini aneh, walau jauh dari pusat kota tapi kok bersih-bersih ya. Ada desa yang saya ingat misalnya desa Jaten, jalan-jalannya rapi tidak ada lubang dan ga ada sampah.

Terus naik dan sampailah di daerah yang super keren area-nya. Ga bosen-bosen lewat daerah ini karena memang mengagumkan. Jajaran sawah sengkedan berwarna hijau menghadang perjalanan kami. Ga kami lewatkan donk, ambil gambar yang banyak di tepi jalan. Dan ga jauh dari situ, wow.. masuk ke area kebon karet. Bulan Januari, jadi kebonnya rindang dan hijau. Sangatlah asri dan menentramkan jiwa.

IMG_20140118_101936 IMG_20140118_102011 IMG_20140118_102228IMG_20140118_102741

Setelah puas ambil gambar, lanjut terus ke atas, dan sampailah di daerah Kemuning. Pas masuk area kebon teh, kabut pekat menghadang selama perjalanan. Jadi pemandangan yang biasanya hijau nan indah, sama sekali ga terlihat waktu itu. Jarak pandang hanya 2 meter, so mampirlah kita ke warung warga untuk pesan teh dulu menghangatkan badan.

Minum teh di kebon teh, kayak mana ya rasanya? Ditemani hujan gerimis dan kabut yang masih tebal saja. Sambil ditemani suara radio milik penjual dan tape recorder dari penjual “some” (mirip siomay  tapi ukuran mini), suasana cukup hidup ga sepi-sepi amat. Para ibu-ibu pemetik teh tetap lanjut kerja dan beberapa ngobrol sambil asyik memetik daun teh.

IMG_20140118_105015 IMG_20140118_111238 IMG_20140118_113650

Bosan di warung, kami pun menembus kabut jalan kaki sambil menikmati alunan dangdut oplosan dari penjual some tadi. Gile ni musik, ga dilaut ga digunung, terkenalnya minta ampun. Tapi lumayanlah bisa bikin joget tangan dan jari, mulai dari “pokoke joget” sampek “tutupen botolmu, tutupen oplosanmu, emanen nyawamu, ojo mbok terus teruske, mergane ora ono gunane..”. Eh, ibu-ibu pemetik teh juga latah ikut nyanyi lagu-lagu ini. Tapi ga nyampe hadap kanan terus pinggul maju-mundur gitu kan? Soimah parah..

Lanjut ke atas, kawasan Candi Cetho. Masih sama, jalan masih tertutup kabut tebal dan jarak pandang hanya 1 meter. Jalanan nanjak tajam di beberapa tempat, sampai motor ga kuat. Tapi semua itu terbayarkan dengan keindahan candi yang satu ini. Gapura menjulang tinggi khas pura seperti di Bali, dan patung serta relief yang menarik. Ada lingga dan yoni yang terukir vulgar di candi ini.

IMG_20140118_120527 IMG_20140118_121527 IMG_20140118_122936 IMG_20140118_124220 IMG_20140118_133354

Pas di tingkat kedua, nongol bule dari Rusia yang sudah searching dulu di Youtube tentang candi ini. Nice place and beautiful, katanya. Pas di tingkat atas, ketemu anak ITB yang lagi maen ke Solo dan ngobrol-ngobrol bareng sampai ke Taman Saraswati dan candi Kethek.

Asyiknya, pas turun kabutnya udah ilang. Jadi pemandangan sekarang benar-benar bersih dan hijau. Sungguh indah ciptaan sang Maha Kuasa ini.

IMG_20140118_135132 IMG_20140118_135435 IMG_20140118_140923 IMG_20140118_141038

…to be continued…

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

One thought on “Menguak Situs Budaya di Lereng Lawu: Candi Cetho

  1. semangaat paakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s