Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Trimurjo Masuk Metro: Saya Mah Sangat Mendukung

21 Comments


Setelah memposting artikel tentang Kota Metro dua kali di Selayang Pandang Kota Metro (Bagian 1) dan Bagian 2, artikel ini ternyata direspon positif karena sering dijadikan referensi. Bahkan, Wikipedia mengambil hampir 80% kontent di postingan tersebut untuk dipajang seperti tampak di sini. Setelah membandingkan deskripsi antara Kabupaten/Kota lain di Lampung, ternyata deskripsi tentang Kota Metro paling panjang dan lengkap (Alhamdulillah.., ga percaya cari Sukadana atau Kalianda misalnya di wikipedia). Saya ikut senang pas baca update-an Wikipedia yang menambahkan informasi adanya wacana Trimurjo akan dirangkul menjadi bagian Kota Metro.

Berita di Radar Lampung edisi 25 Mei 2012 dikatakan:

rencana DPRD Kota Metro untuk memasukkan wacana ekspansi Metro atas Metrokibang, Pekalongan, dan Batanghari (wilayah Lamtim) serta Punggur dan Trimurjo (wilayah Lamteng)  ke Program Legislasi Daerah (Prolegda) 2012. “DPRD dukung perluasan wilayah Metro karena masyarakat sendirilah yang menginginkan itu,” ujar Fahmi di DPRD Kota Metro. Menurutnya, rasionalisasi perluasan Kota Metro ini sesuai dengan letak geografis dan faktor historis pembentukan Metro pada masa kolonial.

Untuk faktor sejarah pembentukan Metro pada zaman kolonial, untuk Trimurjo memang tidak bisa dipisahkan. Metro adalah “bedeng yang menjadi kota”, yang awal mula koloni berada di Bedeng 1 (Trimurjo) sampai Bedeng 67 di Sekampung. Sejarah kelahiran Kota Metro bermula dengan dibangunnya sebuah induk desa baru yang diberi nama Trimurjo. Dibangunnya desa ini dimaksudkan untuk menampung sebagian dari kolonis yang didatangkan oleh perintah Hindia belanda pada tahun 1934 dan 1935, serta untuk menampung kolonis-kolonis yang akan didatangkan berikutnya.

Kedatangan kolonis pertama didesa Trimurjo yaitu pada hari Sabtu tanggal 4 April 1936 yang ditempatkan pada bedeng-bedeng kemudian diberi penomoran kelompok bedeng, dan sampai saat ini istilah penomorannya masih populer dan masih dipergunakan oleh masyarakat Kota Metro pada umumnya. (Baca: Asal Usul)

Pada hari Selasa, 9 Juni 1937 nama Desa Trimurjo diganti dengan nama Metro, dan karena perkembangan penduduknya yang pesat. Sebagai Asisten Wedana (Camat) yang pertama adalah Raden Mas Sudarto. Penggantian nama Desa Trimurjo menjadi Desa Metro, karena didasarkan pada pertimbangan letak daerah kolonisasi ini berada ditengah-tengah antara Adipuro (Trimurjo) dengan Rancangpurwo (Pekalongan).

Lalu, ada apa di Kecamatan Trimurjo saat ini?

Nasib sebuah kecamatan di perbatasan

Trimurjo merupakan nama salah satu kecamatan di Lampung Tengah. Kecamatan ini adalah paling ujung  “mentok” dari peta Lampung Tengah. Sebelah barat dan selatan langsung menempel dengan Kota Metro. Di Desa Tempuran (bedeng 12a), di sinilah Gapura Selamat Datang Kota Metro berada. Terus ke barat Desa Liman Benawi (6d) menempel langsung dengan Mulyosari (bedeng 16a), dan Desa Depok Rejo (7a) nempel langsung dengan Sumber Sari (bedeng 27). Sementara batas di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pesawaran dan Lampung Selatan.

Kecamatan Trimurjo terbagai atas 14 desa/kelurahan dengan ibukota kecamatan di Simbarwaringin. Berikut daftar nama Desa/Kelurahan di Kecamatan Trimurjo: Simbar Waringin, Adipuro, Depok Rejo, Liman Benawi, Notoharjo, Pujo Basuki, Pujoasri, Pujodadi, Pujokerto, Purwoadi, Purwodadi, Tempuran, Trimurjo, dan Untoro.

Kecamatan Trimurjo adalah lokasi pertama tempat transmigrasi pada zaman Belanda pada tahun 1939. Oleh karena itu penamaan dengan sistem bedeng masih populer sampai sekarang. Dimulai dari Bedeng 1 di Desa Trumurjo, bedeng 2 di lingkungan Tegalrejo dan Adirejo (Kelurahan Adipuro), bedeng 3 di lingkungan Widorokandang (Kelurahan Adipuro), bedeng 4, 5, 10 (kelurahan Trimurjo), bedeng 6, 7 (kelurahan Liman Benawi), bedeng 7 dan 8 (Depokrejo), bedeng 11 (Simbarwaringin), bedeng 12 (Tempuran), bedeng 13 (Purwodadi), bedeng 17 (Notoharjo), Bedeng 18 (Untoro), bedeng 19 (Pujoadi), bedeng 20 (Purwodadi).

Nama Trimurjo diambil dari bahasa Jawa yang berarti Tri: tiga dan Rejo: kemakmuran. Hal ini didasarkan pada adanya saluran irigasi bercabang tiga di Trimurjo yang menyebarkan air ke wilayah Lampung Tengah dan sekitarnya. Saluran irigasi menandakan kemakmuran karena padi dan pertanian dapat tumbuh subur dengan air yang tercukupi. Saluran irigasi pertama ke arah bedeng 4 sampai ke Kota Gajah, saluran irigasi pertama ke arah bedeng 6 sampai Bantul, dan di Sekampung (Lampung Timur), saluran air ketiga lurus ke arah Kota Metro.

Foto0375

Pemandangan sawah di tengah-tengah luasnya Trimurjo

Bangunan sekolah ada SMA Negeri 1 Trimurjo di Simbarwaringin (11F), SMP Negeri 1 Trimurjo di Puwodadi (13A),  SMP Negeri 2 Trimurjo di Liman Benawi (Poncowati), SMP Negeri 3 Trimurjo, dan masih ada 3 unit SMP yang lain.

Kawasan perdangan ada di Jalan Simbarwaringin-Metro yaitu minimarket (Indomaret, Alfamart, Multi M), Pusat Fotokopi dan cetak foto Natar Baru, pasar Trimurjo, Pasar Simbarwaringin, pasar Welit, dll. Fasilitas umum yaitu kantor Pos Kantor (kode pos 34172), Polsek Trimurjo, BRI Simbarwaringin, dan Puskesmas yang ber-operasi 24 jam.

Masuk ke Trimurjo, selain pemandangan sawah yang ada hanya jalan-jalan berlubang dan tak terurus oleh pemerintah. Karena “mungkin” kecamatan paling mentok di “ujung berung”, maka tidak diperhatikan dengan baik. Ambil contoh jalan menuju ke arah SMP N 2 Trimurjo. Adanya SMP di wilayah Liman Benawi ini menjadi sangat penting karena memberikan kesempatan kepada warga di daerah Trimurjo Barat-Selatan. Sebuah SMP yang penting karena di sini bisa menampung jumlah siswa hingga ratusan, kondisi jalan untuk mengakses lokasi ini bolong-bolong. SMP ini berlokasi masuk 2 km dari jalan Simbarwaringin-Metro, dengan plang tanda panah yang apa adanya, dan jembatan yang menyebrangi dam Simbarwaringin sampai-sampai tidak ada pagernya (jembatan buntung),

Apalagi jalan masuk SMP 2 jika diakses dari Tempuran (perempatan Penagan), lebih parah. Jalanan sepanjang 2 km melewati 12a, 6d, Poncowati ini kondisinya sangat jelek. Jalan dari Trimurjo bedeng 1 sampai 7a (perbatasan dengan bedeng 27), sepanjang saluran irigasi pun nasibnya sama. Pemandangan ini sangat kontras ketika sudah masuk Kota Metro. Jalan di 16a selepas 6d, atau jalan di 27 selepas 7a sampai gang-gang pun sudah beraspal.

Aktivitas masyarakat Trimurjo pun lebih mudah ke Metro dibanding ke ibukota Lampung Tengah. Untuk mencapai Metro cukup waktu 15 menit, sedangkan ke Gunung Sugih menempuh 60 menit, dengan kondisi jalan yang sama “ancurnya” di desa 17 dan 18. Untuk mengurus surat-surat misal akte kelahiran, perpanjangan SIM/STNK, bayar pajak, urus surat SKCK, kartu kuning, dll harus ke Gunung Sugih, padahal warga berharap ini akan sangat efisien jika Trimurjo masuk Metro, cukup 15 menit perjalanan.

Bahkan, akses kesehatan misalnya, warga akan lebih mudah ke RS di kota Metro, sebut saja RS Mardi Waluyo atau RS Muhammadiyah menjadi langganan warga berobat. Apalagi aktivitas perekonomian, masyarakat akan lebih senang berbelanja dan berdagang ke Metro.

Akses sekolah bagaimana? Kecamatan Trimurjo, yang luasnya nyaris sama dengan Kota Metro (Trimurjo 68,43 km2; Metro 68,74 km2), membentang dari bedeng 7a sampai 13a, akses sekolah masih terbatas. Hanya ada 1 SMA negeri di kecamatan yang luas ini. Dulu ada SMP Al Ikhlas di 11d, namun kini sudah tutup. SMP swasta yang lain yaitu SMP Muhammadiyah Trimurjo dan SMP Purnama. Sementara di Metro sudah ada 7 SMA negeri dan 10 SMP negeri dan banyak sekolah swasta di Kota sekecil Metro.

Apa akibatnya? Banyak pelajar yang memilih sekolah di Kota Metro. Namun, lagi-lagi terjadi masalah karena di Kota Metro sendiri ada sistem kuota, Dinas Pendidikan Metro lebih memprioritaskan pelajar dari kota Metro, sedangkan untuk pelajar yang berasal dari Kabupaten lain dibatasi hanya 25% saja.

Ini membawa dampak, hanya pelajar yang benar-benar cerdas saja yang bisa mengakses pendidikan di Kota Metro. Untuk pelajar yang UAN SMP dari Trimurjo misal 35 tetap akan kalah dengan nilai 30 asal dia warga Metro. Keadaan ini tidak akan terjadi jika Trimurjo masuk ke Metro, maka kuota itu akan hilang karena sama-sama warga Kota Metro.

Lalu, keberatan apa Lampung Tengah untuk melepas Trimurjo, jika Metro ingin merangkul Trimurjo masuk ke Metro? Jika ditanya ke warga, saya yakin 98% masyarakat akan setuju. Jika Lampung Tengah tidak bisa “mengurus” Trimurjo, buat apa “di-gondeli”.

Lalu, apa sebenarnya potensi Trimurjo? Kecamatan ini memiliki lahan yang sangat luas. Membentang luas memisahkan bedeng 1, bedeng 2, dst dengan sawah-sawah yang hijau. Karena adanya irigasi yang bagus inilah, sistem cocok tanam padi tidak begitu terpengaruh dengan musim hujan. Dam besar Trimurjo menginduk di bendungan Way Rarem. Mungkin Metro wilayah Metro sudah hampir “jenuh” karena memang wilayahnya sangat sempit, dan Trimurjo mampu memberikan space cukup untuk pasokan pertanian.

Selain itu Trimurjo mempunyai potensi dari lokasinya yang lebih dekat ke Jalan Lintas Sumatra karena berbatasan langsung dengan Kab Pesawaran. Jika Trimurjo jadi masuk Metro, maka gerbang kota akan pindah ke daerah Trimurjo di bedeng 1. Lokasi Trimurjo juga membawa keuntungan karena di sini bisa dibangun “pusat perdagangan baru” karena lokasinya hanya 30 menit dari Bandara Branti.

Jika pemerintah tetap komitmen untuk kukuh pada Visi Kota menjadi Kota Pendidikan, bisa dibangun sebuah universitas di wilayah Trimurjo (misal di daerah yang kini persawahan di antar Simbarwaringin-Tempuran). Dan ini lokasi ini strategis karena berada di “muka” kota Metro saat ini. Metro bisa menawarkan lokasi beberapa kampus Institut Teknologi Sumatra (ITERA) untuk dibangun di Metro saja, karena lebih dekat dengan bandara (30 menit), berbeda dengan Kalianda yang butuh waktu 2,5-3 jam dari Bandara Branti.

Trimurjo masuk Metro: saya mah sangat mendukung !!

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

21 thoughts on “Trimurjo Masuk Metro: Saya Mah Sangat Mendukung

  1. 17 notoharjo. pengen masuk metro. demo pie ki.

  2. Ia sya jga sngat stuju,.demi mewjudkan msyarkat yg makmur dan dmai di slruh plsok negri ini,.klo da rencna baik tk mnju khdpan yg lbih baik HARUS WAJIP KITA DUKUNG,.

  3. Hoax nih, dari dulu wacana doang

  4. wkwkwkwwk dari jaman jebot “trimurjo masuk metro” hanya sekedar WACAnA ntah kapan, gk jelas

  5. Setuju banget3x
    13a dari jaman aku kecil mpe skrg jlnnya masih ancur

  6. Ralat bro…..
    bedeng 17 (Notoharjo)
    bedeng 18 (Untoro)
    bedeng 19 (Purwo Adi)

  7. setuju ,,

  8. Reblogged this on Bedeng 7, Koloni sejak 1939 | salah satu dari 67 | and commented:
    Ijin share ya gan..
    saya jg sangat setujuu.. terutama bedeng 7🙂

  9. Setuju,saya pendatang dari jawa kebetulan istri saya depokrejo trimurjo,sebetulnya saya keberatan tinggal di depokrejo karena kondisinya yang parah ditambah aparatur pemerintahnya yg kurang bagus dimana kantor desa buka 1minggu cuma 3kali,jadi saya sangatsetuju jika bergabung dengan kota metro untuk perubahan yg lebih baik.

  10. takseperti yang ku bayangkan

  11. bener banget…mana ada wilayah lampung tengah yang jalanya bagus….setuju ikut kota Metro

  12. bener banget tuh kalo trimurjo masuk ke metro karena kl masih ikut lamteng nasibnya sangat menyedihkan alias kurang ter urus

  13. Jalan desaku Untoro 18a Kec Trimurjo remuk redam 😦

  14. Yoo setuju banget. Walaupun skrg g tinggal disana, tapi tiap tahun pulkam dan ngenes klo nglewati jln masuk trimurjo. bner2 g ada perubahan dari jaman masih SMP dulu.
    apa perlu di bikin petisi khusus dari warga Trimurjo untuk menyuarakan diri supaya masuk ke kodya Metro?

    • masyarakat trimurjo kayaknya pasrah aja ma jalan-jalan jelek di sana mas, ga mau se-frontal masyarakat pekalongan yang lebih kompak.. Padahal, Trimurjo secara historis adalah cikal bakalnya kota Metro. Bedeng 1,2,3 dst adalah awal kolonis ini ditempatkan, dan Bedeng 1, 2,3 dst ini awalnya dimulai dari Trimurjo..

  15. saya sangat setuju kl kec.Trimurjo masuk wilayah metro karena utk disamping dekat jg buat mensehjaterakan masyarakatnya….dan utk meningkatkan pembangunan supaya sarana dan prasarana terutama jalan bs menjadi lebih baik

  16. Saia sbgai warga simbarwaringin sangat mnginginkan cepat masok wilayah metro..soalnya metro sangat maju pesat..jln2 pun bagus smua…salut to pemerintah kota metro & walikota…

  17. Gue setuju banget gitu loh bergabung bedeng satu (1) sampai dengan bedeng enam tujuh (67) mudah mudahan para pemangku kepentingan mendengar aspirasi rakyatnya

  18. sangat setuju sekali perluasan wilayah kota metro

  19. menurut saya penggabungan wilayah di sekitar kota metro masuk kedalam kota metro tidak merugikan kabupaten lampung tengah dan lampung timur karena akan mengurangi beban kedua kabupaten tersebut dalam membangun wilayahnya karena terlalu luas, sehingga bisa lebih fokus terhadap wilayah2 lain yang sangat memerlukan perhatian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s