Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Uji Endotoksin Bakteri Menggunakan LAL Test

Leave a comment


Endotoksin bakteri adalah molekul lipopolisakarida, yang merupakan komponen dinding sel bakteri gram negatif, yang dapat menimbulkan respon pirogenik (demam).

Endotoksin adalah toksin pada bakteri gram negatif berupa lipopolisakarida (LPS) pada membran luar dari dinding sel yang pada keadaan tertentu bersifat toksik pada inang tertentu. Lipopolisakarida ini disebut endotoksin karena terikat pada bakteri dan dilepaskan saat mikroorganisme mengalami lisis atau pecahnya sel. Beberapa juga dilepaskan saat replikasi bakteri. Komponen toksik pada LPS adalah bagian lipid atau lemak, yang disebut lipd A. Komponen lipid A ini bukanlah struktur makromolekuler tunggal melainkan terdiri dari susunan kompleks dari residu-residu lipid.

Endotoksin hanya ada pada bakteri gram negatif berbentuk basil/batang dan kokus dan tidak secara aktif dilepaskan dari sel serta dapat menimbulkan demam, syok, dan gejala lainnya.

Deteksi dan eliminasi endotoksin telah menjadi masalah bertahun-tahun bagi industri farmasi. Contohnya pemberian obat yang terkontaminasi dengan endotoksin dapat berakibat pada komplikasi bahkan kematian kepada pasien. Prosedur tersebut harus sangat sensitif sehingga dapat mendeteksi endotoksin sampai dengan 0,25 endotoxin unit (EU) atau setara dengan 0,025 ng/ml.

Endotoksin dapat dideteksi dengan menggunakan LAL (Limulus Amoebocyte Lysate) test. Prosedur ini akurat dan lebih praktis dibanding metode kuno sebelumnya yaitu menggunakan kelinci. LAL test didasarkan pada observasi pembentukan gel beku sewaktu endotoksin bersentuhan dengan protein pembeku dari amoebocytes Limulus yang bersikulasi. Perangkat uji ini terdiri dari kalsium, enzim propembekuan (proclotting) dan senyawa propenggumpalan/prokoagulan (procoagulan).

Enzim proclotting akan teraktivasi oleh endoktoksin dan kasium unuk membentuk enzim pembeku (clotting enzyme) yang akan memotong prokoagulan menjadi subunit polipeptida (koagulogen). Subunit-subunit tersebut akan bergabung membentuk ikatan disulfida membentuk gel beku. Jika diperlukan, bisa dilakukan metode spektrofotometri untuk mengukur jumlah protein yang tergumpalkan pada lisat tersebut yang mana bisa terdeteksi hingga 10pg/ml lipopolisakarida.

Pada industri farmasi, pengujian endotoksin dilakukan terhadap bahan kemas, bahan baku (termasuk WFI), bulk product, dan produk jadi (sediaan infus dan injeksi). WFI disampling di 25 titik sampling setiap minggu untuk diuji endotoksinnya. WFI yang berada dalam tangki SVP dan LVP disampling setiap pagi dan diuji endotoksinnya.

Uji dilakukan dengan menggunakan LAL reagen yang memiliki sensitivitas 0,25 EU/mL. Metode ini bisa dilakukan dengan single test vial (STV) dan multi test vial (MTV). Untuk MTV, sampel diambil 0,1 ml dan ditambahkan 0,1 ml LAL reagent, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C±1ºC selama 60±2 menit. Sampel dinyatakan positif mengandung endotoksin (> 0,25 EU/mL) bila terbentuk gel dan sampel dinyatakan negatif endotoksin (< 0,25 EU/mL) bila tidak terbentuk gel setelah tabung dibalik 180º secara perlahan.

Referensi

Prescott LM, Harley JP, Klein DA. 2002. Microbiology 5thedition. Boston: McGraw-Hill.

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s