Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Predatory Journal yang (Cukup) Meresahkan

9 Comments


Hallo para akademia kampus, yang sering diwajibkan baca jurnal ma dosen-dosen. Atau para dosen dan peneliti yang diwajibkan baca jurnal ma pemerintah untuk update keilmuan, yang ditunjukkan dengan proposal atau publikasi yang bagus. Proposal bagus, salah satu parameternya lolos didanai. Bisa didanai kalau proposal ada kebaruan (novelty) dan isu seiring dengan perkembangan ilmu di dunia atau masalah yang harus segera diselesaikan. Nah, proposal bagus tentunya didukung dengan referensi terpercaya dan terbaru.

Publikasi yang bagus kalau pembahasannya (discussion) bagus. Syarat pembahasan bagus, harus ada referensi yang cukupan, alias peneliti harus banyak membaca. Kalau bacaannya dikit, bagaimana bisa membahas.

Dalam mencari jurnal, para akademisi pasti pernah mengunjungi Google. Ya, situs yang sangat terkenal ini sekarang sudah memiliki Google Scholar juga bisa menampilkan pencarian sumber data ilmiah. Ketika memasukkan keyword di Google misal Curcuma longa for hepatoprotector, maka akan ada puluhan PDF sudah menganga tersedia dan siap di download. Eits, tunggu dulu, apa benar semuanya bisa kita pakai untuk referensi kita??

Nah, ada masalah saat ini adalah munculnya Predatory Journal alias jurnal abal-abal. Sudah banyak postingan yang membahas tentang Predatory Journal, bahkan ada situs yang ditulis oleh pustakawan di luar negeri sana yang konsen mendeteksi jurnal tergolong predatory jurnal atau bukan (http://scholarlyoa.com/). Bahkan DIKTI pun merujuk ke situs tersebut, dalam pengumumannya ke perguruan tinggi di Indonesia.

Lalu, apa sih yang membuat kita harus “hati-hati” dalam membaca artikel dari Predatory Journal? Wah gawat saudara-saudara. Artikel di jurnal tersebut “kadang” tanpa melalui proses review, tanpa di saring, dan tanpa-tanpa lainnya. Si pemilik manuskrip punya duit sekian, Terbit. Glek…glek.. So, kita mikir simpelnya aja, kalo gak di review, bagaimana tingkat kebenaran dan kevalidan datanya donk?

Pernah ada kejadian, seorang kawan mencoba membuat proposal penelitian dengan mengadopsi metode dari jurnal abal-abal dari negara Afrika sana. Dan ketika dicoba di lapangan metode-nya, gagal tidak sesuai harapan alias non-reproducible. Jadi, metode penelitiannya ternyata keter-ulangannya rendah bung.

Itu bahaya di level proposal, lalu bagaimana bahaya lain jika digunakan untuk referensi di publikasi? Membingungkan dan bikin “kacau” ilmu pengetahuan. Karena beberapa berlawanan dengan teori yang sudah disepakati bersama di kalangan ilmuwan. Dan tentunya kita sudah prior knowledge dan bisa menilai “Ini jurnalnya salah deh”. So, mari kita mengeliminir paper abal-abal dari Dapus manuskrip kita.

Lalu, bagaimana ini, ketika masukkan ke Google mereka bermunculan dengan indah sebagai file PDF dan kadang sesuai dengan apa yang kita cari. Sabar..sabar..diteliti dulu ya. Ini beberapa tipsnya:

1. Lihat nama jurnalnya apa, udah populer belum di kalangan kita. Misal Cancer Letter atau International Immunopharmacoology yang terindeks di Scopus, ini mah ga masalah. Bisa langsung dipakai. So, carilah artikel di jurnal yang sudah terindeks Scopus.

2. Jika menemui jurnal yang belum familiar di telinga kita, telusuri saja website-nya, meyakinkan apa tidak. Parameter meyakinkan bisa dilihat dari jumlah Volume di arsipnya, negara mana host nya, dll. Kriteria lain juga memenuhi (full kriteria klik di sini (1) dan di situ (2)). Untuk lebih meyakinkan lagi cek di website yang saya sebutkan di atas (yang sudah diteliti ma pustakawan luar negeri itu).

3. Nah, ini lebih simpel. Sebagai kalangan civitas akademika, tentunya kita bisa menilai, jurnal yang kita baca bagus atau bukan. Misal nemu artikel dalam bentuk Review kok referensinya cuma 20 biji, ya jelas ini paper abal-abal donk. Yang namanya Review pasti banyak bacaan dari paper-paper, minimal 100 lah. Apalagi kalau baca Annual Review sampai 200 dapusnya, buset. Ha.ha..

4. Cari artikel di publisher yang sudah terpercaya misal Science Direct, Springer, Wiley, Nature, dsb atau PubMed. InsyaAllah “aman”.

Pengalaman pribadi, bahwa Google Scholar memberikan fasilitas Lansiran. Artinya kita cukup memasukkan keyword tertentu, dan setiap Google menemukan artikel baru tentang keyword tsb, akan dikirimkan ke email kita. Fasilitas canggih sebenarnya, namun in some day dikirimi link seperti ini:

lansiran google

Saya klik dan muncullah PDF-nya bisa klik di sini (hati-hati, ini quistionable lho ya…)

Saya baca artikelnya, kok agak aneh ya. Ini review kok bentukannya aneh, ada bullet and numberingnya dan parahnya dapusnya cuma 36 biji (paper tahun 2013 tapi kok pustakanya jadul-jadul), dan masih ada tulisan page-nya (lay outer lupa menghapusnya).

bentuknya aneh

dapus dikit

masih ada Page

Iseng memasukkan nama Jurnal nya, di cari di Google ketemu webnya seperti ini.

arsip

Alert !! (Woo… abal-abal.detected), arsipnya dikit amat ..

Memastikan lagi biar lebih yakin, mengunjungi situs pustakawan luar negeri itu.

ijpsi

Woo ternyata nama jurnal itu nongkrong di nomor kesekian ratus yang di blacklist “meragukan” (full list klik ini, list update tahun 2013 di sini).

Artikel lain yang terkait:

http://www.kopertis12.or.id/2012/08/30/waspadai-daftar-jurnal-hitam-berikut.html

http://publikasiinternasional.wordpress.com/2012/08/13/integritas-akademik-dan-publikasi-internasional/

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

9 thoughts on “Predatory Journal yang (Cukup) Meresahkan

  1. Ibu Jeane
    Beberapa jurnal yg terindex scopus juga dimasukkan oleh Bealls kedalam predatory, apakah ini fair?
    Bagi saya elsiever, Sciendirect, T&F lebih predatory, bayangkan untuk fee publish mereka paling murah $1000 sampai $3200.
    Dan edaran Dikti untuk penilaian juga memakai list bealls sebagai salah satu penilaian jurnal yang meraguksn, bagaimana jika suatu jurnal termasuk list bealls namun terindex di scopus?

    Mohon pencerahan

  2. Sangat bermanfaat tulisannya bapa’, mohon ijin untuk reblog tulisan ini..😀

  3. Sangat bermanfaat ulasannya. Terimakasih utk sharing nya dan ditunggu artikel lain yg mencerahkan.

  4. Yth. Mas Moko,
    Wah, mau publikasi jadi sulit ya, harus periksa2 dulu jurnal yang dituju.
    Numpang tanya Mas, apakah pada jurnal yang dijadikan contoh itu penulis harus membayar? dan kalau boleh tahu, berapa bayarnya? Kalau harus bayar, dan bayarnya mahal, lalu tidak diedit dengan benar, ya pastilah itu jurnal predatory. Harus kita hindari

    Akan tetapi, kalau tidak bayar, baru punya 3 volume, bisa juga berarti itu jurnal baru yang sedang bertahan untuk hidup, makanya kualitas tidak terlalu diutamakan. Yang penting untuk mereka, mereka punya cukup artikel sehingga bisa terbit tepat waktu. Masalah jurnal baru adalah kekurangan artikel, sehingga untuk bisa terbit terkadang kejar tayang, karena jumlahnya pas2an atau mungkin malah tidak cukup untuk satu edisi, sehingga mengedit tidak bisa maksimal.

    Sebagai salah seorang pengelola jurnal nasional terakreditasi, kami sangat memahami kesulitan tersebut dan lebih bisa berempati dengan mereka. Diharapkan, dengan berjalannya waktu, jurnal akan bertambah kuat, mampu bertahan, dan meningkat kualitasnya. Malah mungkin bisa masuk ke scopus atau pubmed.

    Saya malah pernah memasukkan ke jurnal berbayar yang baru lahir, dan saat itu masih gratis. Memang dikelola dengan baik, terbukti dari komentar reviewer yang meminta perbaikan besar. Akan tetapi, saat artikel published, jurnal itu sudah meminta bayaran 1000 dolar per artikel, dan 1 tahun sesudahnya sudah terindeks di scopus, dan tidak (belum) termasuk dalam daftar blacklist.

    Memasukkan ke jurnal Internasional bergengsi kan sulit. Memasukkan ke jurnal berbayar, sedikit lebih mudah. Akan tetapii, daripada susah2 memasukkan ke jurnal Internasional, membayar mahal, yang kemungkinan di kemudian hari dicap black list, lebih baik masukkan ke jurnal nasional terakreditasi ya. Kumnya memang lebih kecil, tapi lebih aman.

    Jadi saya mau kampanye: ayo ramai2 masukkan ke jurnal nasional, supaya jurnalnya bisa masuk ke scopus dan naik pangkat jadi Internasional. Penulis ikut untung kan!

    Jeanne A. Pawitan
    Editor Med J. Indones

    • Yth Bu Jeanne
      Terima kasih dan salam kenal. Setelah saya cek di website jurnal tsb, For Online Publishing Charges sebesar 75 USD (http://www.ijpsi.org/publication-charges.html). Saya kira nilai ini masih bisa dikatakan murah, namun ada beberapa jurnal yg jelas2 predatory karena mengenakan charge dari 200-400 USD, bahkan ada yg meminta 2000 USD, dan kualitas review nya jelek.
      Ya benar sekali, sy jg mengelola jurnal di kampus saya dan pengelaman ibu persis sekali saya alami di sini. Wah, sy dukung kampanye tuh, emang bener sih, memasukkan artikel ke jurnal nasional terakreditasi is very very safe.. Tapi klo kita ada hasil penelitian yg bagus, boleh lah di coba ke jurnal internasional yang valid, spy bisa mengangkat nama Indonesia (he..he..) dan cakupan pembaca yg lebih besar di seluruh dunia🙂. Salam menulis

      Sarmoko
      Dewan Redaksi Acta Pharmaciae Pharmindo
      http://issn.pdii.lipi.go.id/issn.cgi?daftar&1363665199&1&&

  5. mas moko ini artikel yang mantap n banyak membantu dan memberi pencerahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s