Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Bagaimana cara mengukur potensi vaksin?

Leave a comment


Menurut WHO, potensi vaksin adalah 1) jumlah yang terukur dari kemampuan spesifik atau kapasitas produk untuk memberikan efek biologis tertentu, 2) aktivitas biologis yang terukur menggunakan uji kuantitatif secara biologis  yang berdasarkan produk yang berhubungan dengan sifat-sifat biologisnya. Potensi vaksin juga merupakan bagian dari karakteristik dan konsistensi vaksin. Prinsip pengukuran potensi vaksin ditentukan oleh tipe vaksin:

1. Inaktivasi atau toksoid misalnya rabies dan pertusis dilakukan dengan metode klasik (classical challenge studies) menggunakan model hewan. Uji ini hanya dapat dilakukan kepada hewan dimana terdapat kelompok kontrol negatif yang tidak diberikan vaksin, selain itu juga terdapat kelompok perlakuan yang diberikan vaksin, kedua kelompok tersebut diberikan agen infeksi yang sama. vaksin diberikan pada hewan uji kelompok perlakuan, setelah 2 minggu hewan uji diberikan agen infektif yang sesuai dengan vaksin tersebut. Kemudaian diamati bobot badan, suhu tubuh dan gejala-gejala klinis yang timbul bila terinfeksi agen infeksi yang bersangkutan selama 2 minggu. Gejala  pertama nonspesifik yang timbul akibat agen infeksi antara lain munculnya bulu ruffled pada hari ke 5 dikuti dengan munculnya gejala saraf yang timbul dihari esoknya. Selain itu juga terjadi penurunan bobot badan hingga mencapai 30-40% sebelum kematian hewan uji. Sedangkan untuk suhu tubuh, tidak terjadi kenaikan temperature yang signifikan pada hewan uji, tetapi pada tahap terakhir dari penyakit akan terjadi penurunan suhu tubuh hanya bila gejala klinis sudah muncul dan bobot badan sudah berkurang.

2.   Vaksin rekombinan atau vaksin murni seperti hepatitis dan Hib mengunakan uji imonogenisitas pada hewan. Untuk mengukur potensi dari vaksin dapat digunakan metode ELISA. Dengan cara membandingkan hasil ELISA value dari vaksin yang diuji dengan vaksin standar vaksin virus yang dilemahkan (seperti: polio, measles, mumps): dilakukan dengan titrasi menggunakan dosis efektif minimum atau embrio ayam.

Uji potensi vaksin dengan menggunakan classical challenge studies hanya dapat dilakukan untuk beberapa jenis vaksin sedangkan untuk vaksin lain yang belum ada uji potensinya dapat dilakukan dengan: 1). CFU  (colony forming unit) digunakan untuk mengukur konsistensi vaksin misalnya untuk BCG; 2). Highly purified products, seperti rDNA:  dilakukan dengan mengukur konsistensi produk melalui parameter fisiko-kimianya. Tapi dengan metode ini tidak bisa diinterpretasikan sebagai potensi.

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s