Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Seleksi Klon

Leave a comment


Klon adalah segolongan sel yang berasal dari satu sel dan memiliki genetik yang identik. Selama perkembangannya dalam jaringan limfoid primer, sel B dan sel T memperoleh reseptor permukaan spesifik untuk satu antigen yang akan memberikan kemampuan untuk bereaksi terhadap antigen tersebut.

Reseptor sel T (TCR) tersebut akan menetap selama sel hidup, tetapi imunoglubulin permukaan (Surface IgM) pada sel B dapat berubah oleh mutasi somatik. Hal tersebut dapat dilihat dari pengalihan produksi imunoglobulin bila sel terpejan dengan antigen spesifik. Sel yang berikatan dengan antigen spesifik akan berproliferasi, berdiferensiasi dan menjadi sel efektor yang matang. Sel yang dirangsang antigen dan berproliferasi akan menurunkan sel-sel yang yang genetik identik (=klon). Fenomena tersebut dinamakan seleksi klon.

Sel memori merupakan sel B dan sel T yang pernah dirangsang antigen dan hidup lama. IgG ditemukan pada permukaan sel memori B yang berfungsi sebagai reseptor antigen dengan afinitas yang lebih besar dibandingkan dengan IgD dan IgM. Sel memori T memiliki molekul CD45RO dan menunjukkan peningkatan molekul LFA-3dan VLA-4.

Sel perawan yang belum dirangsang antigen terpejan dengan antigen yang dipresentasikan APC akan berkembang menjadi sel efektor. Sebagian sel perawan beserta sel memori tersebut disebar ke seluruh jaringan tubuh melalui sirkulasi darah dan limfe sehingga dapat memantau jaringan tubuh terhadap serangan mikroorganisme. Proliferasi sel efektor dan sel memori tersebut di atas disebut respons primer.

Akhirnya sel B berkembang menjadi sel plasma. Sel plasma jarang terlihat dalam sirkulasi (kurang dari 0,2% seluruh jumlah leukosit) dan biasanya terbatas pada organ limfoid sekunder dan jaringan. Imunoglobulin yang dibentuk sel plasma dapat ditemukan dalam sitoplasma dan permukaan sel dengan teknik imunofluoresens. Biasanya sel B akan dirangsang menjadi sel plasma yang membentuk antiodi atas pengaruh antigen dan sel T (independen). Sel B dapat pula membentuk antibodi dan rangsangan antigen tanpa bantuan sel T (independet).

Respon imun humoral dapat dicegah oleh impan balik antigen; ikatan kompleks antigen dan antibodi oleh reseptor FFc-g mencegah sinyal BCR.

Referensi

Baratawidjaja KG dan Rengganis I., 2010, Imunologi Dasar Edisi Ke-9, FKUI, Jakarta

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s