Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Aspirin Sebagai Agen Kemopreventif untuk Kanker Kolorektal

Leave a comment


Karsinoma kolorektal (kanker usus besar) dini adalah keganasan usus besar yang masih terbatas pada lapisan mukosa dan submukosa dinding usus, dengan bermacam bentuk manifestasi, diantara berbagai tipe kanker kolorektal dini, tipe depress merupakan tipe yang paling sulit dikenali khususnya dengan pemeriksaan endoskopi konvensional.

Pemahaman tentang proses karsinogenesis mengawali upaya pengembangan strategi baru yang menjanjikan untuk pencegahan kanker yaitu penemuan senyawa kemopreventif. Senyawa kemopreventif merupakan suatu senyawa yang dapat digunakan untuk menghambat, menunda, atau membalikkan proses terjadinya kanker (Surh, 2003). Senyawa kemopreventif dibagi menjadi dua kategori yaitu blocking agent dan suppressing agent. Blocking agent mencegah karsinogen mencapai target aksinya baik melalui aktivitas penghambatan aktivasi metabolisme atau menghambat interaksi dengan target makromolekul seperti DNA, RNA, atau protein. Suppressing agent menghambat pembentukan malignan dari sel yang telah terinisiasi pada tahap promosi atau progresi. Beberapa senyawa kemopreventif memiliki mekanisme keduanya (Surh, 1999).

Gambar 1. Mekanisme aksi blocking agent dan suppressing agent pada tahapan proses karsinogenesis (Surh, 1998)

Senyawa kemopreventif dapat berupa bahan alam atau sintetik. Makanan terutama sayuran dan buah merupakan senyawa kemopreventif yang menjanjikan untuk mengurangi risiko terkena kanker. Senyawa fenolik khususnya yang ada pada makanan (sayur dan buah) dan tanaman obat dilaporkan memiliki potensi antikarsinogenik dan antimutagenik. Aktivitas antioksidan dan antiinflamasi dari senyawa fenolik tampaknya yang mendukung potensi kemopreventif (Surh, 1999).

Aspirin merupakan salah satu agent kemopreventif karena dapat menghambat kanker dengan menghambat enzim COX-2 sehingga menghambat proliferasi sel kanker dan menghambat Ikb kinase sehingga kemampuan survival sel kanker menurun.

Sekilas tentang Aspirin

Aspirin atau asetosal adalah obat golongan salisilat yang sering digunakan sebagai analgesik, antipiretik, anti inflamasi, dan juga sering digunakan dalam waktu lama dan dosis kecil untuk mencegah gangguan hati dan kanker. Aspirin merupakan produk paten yang diproduksi oleh perusahaan farmasi raksasa Jerman, Bayer. Di beberapa negara, obat tersebut digunakan dalam bentuk obat generik.

Mekanisme Kerja Aspirin dalam Mencegah Kanker

Aspirin merupakan suatu antiinflamasi non-steroid yang bekerja dengan menghambat kedua enzim siklooksigenase. Salah satu produk COX-2 adalah PGH-2 yang akan diubah lagi menjadi PGE-2 yang akan mengaktivasi reseptor EP2 yang merupakan suatu G protein coupled receptor. Subunit Ga berinteraksi dengan aksin, suatu protein yang membentuk kompleks molekuler besar dengan gen adenomatosis polopisis koli. Interaksi ini menyebabkan kompleks tersebut melepaskan  glikogen sintase kinase 3b (GSK3b). Secara bersamaan subunit Gb dan 3g secara langsung menstimulasi fosfatidil inositol 3-kinase dan kinase AKT yang memicu fosforilasi dan inaktivasi GSK3b. Terpisah dari kompleks aksin dan terinaktivasi, GSK3b tidak bisa lagi memfosforilasi dan menginaktivasi faktor transkripsi b-katenin. b-katenin yang terstabilkan dapat mengadakan translokasi ke nukleus dan berinteraksi dengan faktor transkripsi TCF dan ELF untuk mengaktifkan gen yang mempromosikan proliferasi sel kanker kolon. Oleh karena itu jika enzim COX-2 dihambat, proses seperti yang telah disebutkan tidak terjadi dan proliferasi sel kanker kolon dapat dihambat.

Selain itu aspirin  menghambat aktivtas IkbKa dan IkbKb sehingga menghambat aktivasi Ikb yang berikatan dengan NFkb sehingga NFkb tdak dapat terlepas sehingga kemampuan survival sel kanker menurun. Penghambatan  COX-2 oleh aspirin juga meningkatkan ketersediaan asam arakidonat yang dapat memicu apoptosis sel kanker.

Pengujian Aspirin sebagai Cancer Chemopreventive

Dalam beberapa kasus NSAIDs diketahui dapat mencegah terjadinya kanker kolorektal jika obat tersebut digunakan dalam waktu yang lama. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of The American Medical Association (JAMA) menemukan bahwa aspirin yang digunakan secara teratur (2 tablet atau lebih @325 mg setiap minggu) secara signifikan mengurangi risiko kanker kolorektal sebesar 23 %  pada kelompok wanita yang tidak mempunyai riwayat kanker sebelumnya. Hasil studi tersebut telah dimasukkan dalam Nurses Health Study (NHS) dan telah dijadikan acuan selama 20 tahun.  Aspirin akan memperlihatkan khasiat yang jelas bila diberikan dalam waktu yang lama (10 tahun atau lebih dan dengan peningkatan dosis).  Aspirin akan memberikan efek yang lebih baik dari pada obat-obat standar yang lain. Kanker kolorektal menempati urutan ketiga sebagai penyebab kematian seseorang karena kanker. Kanker kolorektal menyebakan kematian 10 % dari kematian seseorang akibat kanker.

Dosis kecil aspirin (81-325 mg) dapat mengurangi gejala kambuh dari polyps (zat berbahaya yang potesial dalam kolon yang dapat menyebabkan kanker) pada pasien yang mempunyai riwayat adenomas atau kanker kolorektal (Sandler, 2003).

Studi yang telah dikemukakan baru-baru ini dalam Seminar American Society of Clinical Oncology menemukan bahwa pasien pengidap kanker kolon yag menggunakan aspirin dengan dosis rendah secara teratur setelah operasi, menjadi lebih baik dan mengurangi resiko penyakit tersebut kambuh lagi bahkan sampai meninggal dunia dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan. Hasil dari studi tersebut adalah sebagian dari fakta-fakta yang menjelaskan bahwa aspirin dapat mencegah timbulnya berbagai kanker, termasuk payudara, lambung, ovarium, prostate bahkan leukimia.

Penelitian aspirin yang lebih lanjut sangat dibutuhkan sebelum aspirin tersebut benar-benar dipatenkan untuk khasiat tersebut (chemoprevention). Lebih jauh lagi, studi mengenai efek samping yang ditimbulkan seperti pendarahan/bleeding dalam gastro intestinal, dan lain-lain juga masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Evaluasi dosis mengenai terapi-toksik dalam penggunaan aspirin juga membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Sehingga seseorang harus meminta petunjuk/saran dari dokter mengenai faktor-faktor yang berisiko menyebabkan kanker dan strategi pencegahannya. Ketika menggunakan aspirin, seseorang harus meminta petunjuk dari dokter dahulu supaya dapat menghindari efek toksik yang ditimbulkan.

Daftar Pustaka

Novak, K., Chemoprevention: G Force, Nature reviews Cancer.

Simon, M. P., et al, 1999, Inhibition of Cyclooxygenase 2 Expession iin Colon Cells by the Chemopreventive Agent Curcumin Involves Inhibition of NF-kB Activation via the NKK/IKK Signaling Complex, Oncogene volume 18, no. 44, pp 6013-6020.

Surh, Y.J., 1998, Cancer Chemoprevention by Dietary Phytochemicals a Mechanistic Viewpoint, Cancer J., 11(1), 6-10.

Wright, K., 2001, Does Aspirin Help Prevent Cancer? Discover Magazine.

Vachani, C., 2006, Colon Cancer: The Basics, Abramson Cancer Center at The University of Philadelphia.

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s