Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Kemoprevensi Kanker Kulit oleh Kurkumin

Leave a comment


Kanker masih menjadi penyebab kematian dunia, bahkan di negara berkembang justru lebih besar dibanding penyakit kardiovaskuler. Penyakit ini telah menyerang 10 juta orang, dan 7 juta meninggal per tahun. Studi epidemiologis dan preklinis menunjukkan ada hubungan antara kanker kolorektal (CRC) dengan faktor diet. Sehingga modifikasi diet merupakan strategi pencegahan yang cantik.

Sudah banyak bukti mengungkap bahwa konsumsi buah atau sayuran tertentu mampu menurunkan risiko kanker kolon. Ada banyak alasan mengapa ini semua secara biologis masuk akal. Namun mekanisme yang mendasari efek tersebut adalah sangat kompleks, yang pasti terjadi interaksi antara metabolit aktif yang terkandung pada buah dan syuran dengan tubuh. Bahan-bahan tersebut meliputi curcuminoid, karotenoid, terpenoid, tokoferol, isotiosianat, senyawa allium, dan sterol tumbuhan, yang semuanya memiliki potensi kemoprevensi. Fitokimia tersebut ada dalam diet kita dalam jumlah yang besar, menariknya adalah tidak memberikan toksisitas yang bermakna (aman). Mereka mampu menjadi prevensi primer pada kanker kolon pada populasi besar sebaik prevensi skunder pada pasien polip.

Kita juga sudah banyak memahami tentang karsinogenesis, sehingga banyak intervensi yang mungkin bisa dilakukan sepanjang multistep tersebut (mulai dari inisiasi, promosi, dan atau progresi). Konsep prevensi kanker sebelum terjadinya tumor terdeteksi secara klinis makin banyak memperoleh perhatian sebagai sebuah pendekatan menarik dan masuk akal untuk pengendalian kanker.

Penggunaan medicinal plant atau ekstraknya sudah banyak dipraktekkan secara tradisional oleh berbagai etnis di belahan dunia. Tanaman obat tersebut digunakan sebagai upaya pencegahan atau pengobatan terhadap penyakit-penyakit kronis. Di Asia Selatan (India) dan Asia Tenggara (Indonesia don tentunya), kunyit (tumeric) sudah banyak digunakan secara luas dalam makanan (bumbu dan pewarna) dan mengobati peradangan dan penyakit kronis.

Curcumin (diferuloylmethane; 1,7-bis-[4-hydroxy-3-methoxyphenyl]-1,6-heptadine-3,5-dione) adalah pigmen utama pada kunyit, yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Aktivitas ini terkait pembersihan elektrofil reaktif dan radikal oksigen, modulasi produksi eikosanoid, dan induksi apoptosis. Efikasi preklinik mengindikasikan pemberian curcumin mampu menghambat tumor yang terinduksi karsinogen pada model kanker kulit, kolon, kelenjar mamae, dan oral cavity.

Efikasi kemopreventif curcumin berdasarkan banyak mekanisme, termasuk diantaranya adalah menghambat peroksidasi lipid, formasi radikal bebas, lipooksigease (LOX) dan oksigenase (COX) dan protein kinase C (PKC).

Studi preklinis pada karsinogenesis kulit

Uji-uji yang telah dilakukan menggunakan model tikus terinduksi karsinogen seperti polisiklik aromatik hidrokarbon (PAH) dan 12-O-tetradekanoilphorbol (TPA). Huang melakukan penenlitian menggunakan dosis topikal 1, 2, atau 10 umol kurkumin bersamaan dengan TPA 2 kali seminggu selama 20 minggu. Hasilnya adalah pemberian kurkumin memberikan penghambatan kanker kulit/CD mouse sebesar 39, 77, dan 98% (berturut-turut sesuai kadar di atas). Selain itu juga menurunkan insidensi tumor sebesar 21%, 66%, dan 82% (dihitung berdasarkan jumlah tikus dengan tumor kulit).

Penelitian lain menggunakan karsinogen lain yaitu DMBA (7,12-dimethylbenz[a]anthracene) dan TPA, pemberian 10 umol kurkumin 2x/minggu selama 19 minggu secara penuh menurunkan insidensi dan multiplikasi kanker kulit. Selanjutnya, pemberian topikal 3 atau 10 umol kurkumin awal menurunkan multiplikasi tumor sebesar 58% dan 62% (masing-masing pada benzo[a]pyrene (B[a]P) atau DMBA dan TPA.

In most of these studies, curcumin was found to be less than 85% pure. The mechanism by which curcumin inhibits skin carcinogenesis is not fully understood, but it is known that inhibition of skin tumorigenesis is associated with inhibition of TPA-induced DNA synthesis and ornithine decarboxylase (ODC) activity in the epidermis, and also with TPA- and arachidonic acid (AA)-induced edema of mouse ears. It has also been shown that curcumin strongly inhibits epidermal COX and LOX activities in vitro. This suggests that curcumin may inhibit the enzymes that metabolically activate B[a]P and DMBA. Thus, the chemopreventive properties of curcumin against skin carcinogenesis could be related to its potent inhibitory effect on AA-induced inflammation and on Aa metabolism through both the COX and LOX pathways in mouse epidermis.

Referensi

Cancer Chemoprevention, Volume 1: Promising Cancer Chemoprevention Agents, Edited by: G. J. Kelloff, E. T. Hawk, and C. C. Sigman © Humana Press Inc., Totowa, NJ

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s