Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Sensasi Nikmatnya Naek Logawa

Leave a comment


LEMPUYANGAN-20 Mei 2011. Sore itu stasiun tidak terlalu ramai, membeli tiket, lewatin peron, semua berjalan dengan lancar. Waktu masih menunjukkan pukul 15.00 saya lirik tiket kereta tertulis jam keberangkatan 15:27 (mulai April 2013 jadwalnya 14:34). Setelah sholat Ashar, tepat pukul 15:25, sebuah mesin lokomatif dengan suara cukup berisik datang dari arah timur. Tujuan akhir kereta ini adalah sebuah kota di ujung barat Jawa Tengah, Purwokerto.

Tidak ada desak-desakan, semua penumpang masuk dan mendapat tempat duduk. Dapet di gerbong 6, posisi tempat duduk menghadap ke timur, berlawanan dengan arah kereta. Di depanku ada seorang ibu yang juga menuju kota yang sama, beliau dari Kertosono, Nganjuk. Di sebelahku ada seorang cewek, masih mahasiswa tampaknya menenteng helm dan mendapat salam perpisahan dari kekasihnya di balik jendela.

Kereta pun akhirnya melaju, saat melewati palang sepur di jalan, suara khas wanita sangat akrab di telinga masih lantang terdengar sampai kereta lewat “palang pintu, bukan rambu lalu lintas. Hanya sebuah alat, bla..bla… telah banyak korban kecelakaan di kereta api”.

Melewati daerah padat penduduk di sekitar kota Jogja, membelah kali Code, Malioboro, stasiun Tugu dst sampailah di stasiun berikutnya, Wates. Banyak penumpang masuk ke gerbong, tak ketinggalan para penjual asongan, pengamen, tukang sapu, dan pengemis.

Cuek saja ma orang seliweran menjajakan barang, saya asyik menikmati pemandangan sawah yang beratap langit sore cerah, warna merah orange menghiasi angkasa. Bagus, pohon kelapa yang daunnya tampak berwarna kekuningan dan siluet sejauh mata memandang.

Kereta terus melaju, hingga sampai di stasiun Kutoarjo, adzan Magrib sudah berkumandang. Seorang ibu penjual nasi pamit kepada temannya, bahwa dia akan mengakhiri jualannya karena barang sudah habis. “Saya pamit turun dulu ya yu, ini dagangan saya sudah habis. Alhamdulillah hari ini lancar, rezekinya bocah” ucap ibu tadi. Mengikuti terus perbincangan mereka rupanya ibu tadi sedang mencarikan uang buat tagihan sekolah putranya.

Tidak usah saya lanjutkan, mungkin pembaca sudah kerap menemui kisah-kisah seperti ini. Pengalaman sore itu adalah salah satu potret kemiskinan yang masih banyak di negeri ini.

Lain cerita, tapi masih berhubungan, akan saya ceritakan beberapa kereta ekonomi lain yang pernah saya naiki (plus ada jadwal dan harganya, so para pembaca dapat informasi tambahan yang bermanfaat juga update an terbaru mulai April 2013).

Sri Tanjung. Kereta ini milik DAOP Yogyakarta, berangkat dari Lempuyangan pukul 7.45 sampai Surabaya pukul 13.41, sampai Banyuwangi pukul 20.40. Harga tiket Rp 50.00 ke Surabaya, Rp 95.000 ke Jember dan Banyuwangi. Pertama kali naik kereta ini tahun 2006, waktu itu mau ke Surabaya maen tempat temen berpetualang bersama Rizal dan Haryadha. Libur akhir semester IV, tiga hari menjelajah kota Surabaya dari wisata kuliner, wisata akademik (cieh ..ke Unair dan ITS maksudnya), ke Monkasel, menikmati megahnya Tunjungan Plaza I-IV, sampai kesasar ke gang Doli (ups..dasar Haryadha). Setelah lewat gang tadi mampir sholat Maghrib di Asrama Haji (nyaris kesasar).

Naik lagi kedua kalinya awal bulan Juni 2012, saat itu naik dari Madiun-Yogya. Perjalanan sambil makan pecel madiun 3000an, sama peyek rebon/kacang. Kereta sepi, tidak ada pengamen waktu di Madiun. Memasuki stasiun Paron, Walikukun, dst mulai ada pengamen dan penjual asongan yang masuk. Dari Madiun pukul 16.45, sampai Jogja pukul 19.37. Kereta on time, saat itu. Cerita serunya? Karena durasi perjalanan yang cukup singkat, jadi tidak terasa. Paling melewati Sungai Brantas, sama mengamati sistem pertanian di daerah Sragen yang pengairannya pakai mbelik (sumur di sawah, lalu airnya dipompa pakai mesin sedot atau pompa manual).

Gaya Baru Malam. Naik kereta ini pertama kali tahun 2006, saat pulang dari Surabaya menuju Jogja. Kereta ini aslinya ke Jakarta, sudah menerapkan tiket bernomor, tidak seperti lainnya tiket berdiri (saat itu). Dulu dari Surabaya abis Jumatan, sholat di Gedung PLN, abis jalan-jalan tempatnya Nana. Sampai Jogja Lempuyangan sekitar pukul 20. Kalau sekarang harga tiket Rp 120.000,-. Gaya baru malam, kalau dari Jogja berangkat pukul 17.10 sampai Jakarta Kota 2.09. Kalau arah ke timur, dari Jogja jam 20.52, sampai Surabaya pukul 1.50, harga Rp 50.000,00.

Kahuripan. Pertama kali naik ini juga tahun 2006, waktu itu mau mendaki gunung Gede Pangrango. Naik jam 21 sampai Kiaracondong pagi-pagi jam 7. Ini pertama kalinya naik gunung, pertama kalinya naik kereta. Bareng anak-anak Mapala Teknik, Satu Bumi, bersembilan dengan orang-orang yang baru kenal sehari nekat naik gunung. Sekarang, jadwalnya adalah pukul 19.10, sampai Kiaracondong pukul 4.36, harga Rp 85.000,-. Kebalikannya kalau mau ke Kediri, dari Jogja kereta ini lewat pukul 4.55 sampai sana pukul 9.27 (harga Rp 55.000). Selain Kahuripan, ada juga kereta ekonomi ke Bandung yaitu Pasundan (Surabaya-Bandung), harga sama Rp 90.000,-. Berangkat jam 12:08 sampai sana pukul 22.22. Kebalikannya dari Jogja pukul 20.52 sampai Surabaya 1.50 (harga 60.000)

Logawa. Pertama kali naik, saat  itu mau ke Jember, main ke tempat kakak kelas yang jadi dosen di Universitas Jember. Berangkat jam 10an sampai sana pukul 22an. Dulu harganya masih 31.000,-. Sekarang kereta ini dari Lempuyangan berangkat lebih pagi yaitu jam 9.00, sampai Surabaya pukul 14.46, sampai Jember juga lebih awal, 20:13, harga tiket Rp 50.000.- sampai Surabaya. Kebalikannya kalau dari Jember berangkat jam 5 pagi.

Progo. Kereta paling laris, karena kendaraan paling murah ke Jakarta (sekarang ga murah lagi). Kereta ini selalu ramai, dan tiket tidak bisa beli langsung, harus pesan dulu jauh-jauh hari karena sudah banyak di booking orang. Sekarang harga tiketnya 85.000, berangkat 15.30, sampai Pasar Senen pukul 23.49. Kebalikannya, kalau dari Jakarta pukul 22.00, mampirPurwokerto pukul 4an pagi, sampai Jogja pukul 6.26.

Bengawan. Kereta ke arah Jakarta turun di Stasiun Tanjong Priok. Dulu naik dari Solo turun di Jogja, alias gratis, he..he.. Abis dari Solo, ngejar Prameks ga dapet karena kesorean, akhirnya diajarin ma tukang parkir untuk nebeng kereta Bengawan. Harga tiket sekarang  95.000, start dari Solojebres. Kereta ini mampir di Jogja pukul 16.33, sampai Pasar Senen pukul 00.53. Kebalikannya, dari Pasar Senen pukul 13.00, mampir Purwokerto sekitar jam 17.30, sampai Jogja pukul 21.46.

Gajah Wong. Ini adalah kereta ekonomi AC, jadi harganya cukup mahal setara bisnis. Tapi memang asyik keretanya, bersih dan ada running text di dalam kereta, ada info di stasiun mana kereta saat itu. Naik gajah Wong gara-gara ada tiket promo, langsung telpon Gama Wisata untuk pesan, Alhamdulillah dapet. Harga beda-beda tergantung hari libur atau tidak, rata-rata sekitar 130ribu. Berangkat dari Jogja pukul 19.30, sampai Purwokerto pukul 22an. Ada juga kereta ekonomi AC tujuan Jakarta yaitu Bogowonto, tapi startnya dari Stasiun Tugu. Harga tiket sama, keberangkatan pukul .

Sekian info tentang kereta ekonomi, kalau Bisnis dan Executif belum banyak diulas karena belum banyak mencoba (krik..krik..).

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s