Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Interaksi Obat Herbal

2 Comments


Selama ini diyakini sebagian masyarakat obat herbal adalah aman dan tanpa efek samping. Namun, pendapat demikian adalah keliru. Ada interaksi antara obat herbal dengan obat konvensional maupun dengan obat herbal lainnya. Seperti kita ketahui, sering sekali JAMU yang beredar di pasar jarang digunakan sendirian, namun dicampur dengan herbal lainnya. Lalu, apakah semua aman?

Tidak juga, memang banyak sebagian yang bermanfaat, tapi sebagian juga harus diwaspadai karena bisa menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Interaksi bisa karena antarherbal atau herbal-obat konvensional. Contoh berikut adalah interaksi antarherbal yang menghasilkan efek merugikan.

Daun senna dan daun teh

Daun Senna (Cassia senna) mengandung antrakinon senosida yang bersifat laksansia. Sedangkan daun teh (Camellia sinensis) mengandung tanin EGCG (Epi Gallo Catechin Gallate) yang berefek konstipasi. Jika mereka berada dalam satu  ramuan maka tidak efektif karena saling menetralkan.

Interaksi jangan hanya dipandang ketika adanya pencampuran dalam lebih dari 2 bahan. Dalam satu bahan pun, bisa terjadi interaksi. Hal ini mudah dipahami karena pada tumbuhan terdapat banyak komponen zat-zat aktif. Anda tahu tanaman temu lawak (Curcuma xanthorrhiza)? Di dalam tanaman tersebut ada kandungana kurkuminoid dan minyak atsiri. Namun fungsi dari kedua kandungan tersebut saling bertolak belakang. Kurkumionoid bisa menurunkan kolesterol. Sedangkan minyak atsiri bisa menambah nafsu makan, semua di makan, kolestrol bisa naik.

Jadi, jika Anda menginginkan efek menurunkan kolestrol maka pada saat pengolahan (misal direbus) yaitu panci dibuka biar minyak atsirinya menguap. Namun jika akah digunakan untuk menambah nafsu makan maka panci ditutup. Kaitannya dengan penerapan teknologi ekstraksi bagi produsen jamu, maka bisa dimodifikasi pada cara ekstraksinya dengan penggunaan sifat polaritas dan volatilitas kandungan kimia. Kurkuminoid bersifat semi polar, sedangkan minyak atsiri bersifat non polar dan mudah menguap.

Selanjutnya akan dibahas interaksi yang merugikan dari pencampuran bahan obat herbal, namun ditinjau bukan dari item campuran tapi dari mekanisme interaksi yang terjadi.

Penghambatan absorbsi

Penggunaan bahan penyusun ramuan yang mengandung tanin misal teh, buah jati belanda, kayu rapat. Tanin akan bereaksi dengan protein dan membentuk senyawa yang melapisi dinding usus. Keadaan tersebut akan menghambat absorpsi kandungan zat aktif lain, misal protein, vitamin, mineral. Bahkan pada dosis besar bisa menimbulkan konstipasi atau malnutrisi.

Pengurangan waktu transit di usus

Penggunaan bahan penyusun ramuan yang mengandung Antrakinon atau serat larut air akan mengurangi waktu transit obat lain dalam usus. Antrakinon bersifat laksansia yaitu mempermudah pengeluaran feses. Contoh tanaman yang mengandung antrakinon adalah senna dan lidah buaya. Sedangkan serat larut air bersifat bulk laxative, yaitu juga mempercepat keluarnya feses. Tanaman yang memiliki serat larut air adalah biji daun sendok.

Jika bahan obat lain dicampur dengan tanaman di atas maka waktu transit di usus berkurang, feses cepat dikeluarkan, kesempatan absorpsi zat aktif berkurang dan efak farmakologinya akan berkurang.

Contoh interaksi obat herbal-obat konvensional adalah sebagai berikut:

  1. Echinacea, jika digunakan lebih dari 8 minggu dapat menyebabkan hepatotoksisitas dan karena itu tidak boleh digunakan dengan obat-obatan lain yang bersifat hepatoksik, seperti steroid anabolik (yang sering dipakai pegulat), amiodarone (obat aritmia jantung), methotrexate (antikanker), dan ketoconazole (antijamur). Namun, Echinacea tidak memiliki 1,2 jenuh cincin necrine, sehingga sifat hepatotoksik dihubungkan dengan alkaloid pyrrolizidin.
  2. Obat NSAID, dapat meniadakan kegunaan feverfew dalam pengobatan sakit kepala migrain.
  3. Feverfew, bawang putih, biloba, jahe, dan ginseng dapat mengubah waktu pendarahan dan tidak boleh digunakan bersamaan dengan natrium warfarin. Selain itu, ginseng dapat mengakibatkan sakit kepala, tremulousness, episode manic pada pasien yang diobati dengan sulfat phenelzine. Ginseng juga tidak boleh digunakan dengan estrogen atau kortikosteroid karena kemungkinan efek aditif.
  4. Karena mekanisme kerja wort St John belum pasti diketahui, penggunaan bersamaan dengan inhibitor monoamine oxidase (MAOI) dan inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) tidak disarankan.
  5. Valerian tidak boleh digunakan bersamaan dengan obat tidur karena sedasi berlebihan dapat terjadi.
  6. Kyushin, licorice, pisang, akar uzara, hawthorn, dan ginseng dapat mengganggu digoksin.
  7. Evening primrose oil dan borage tidak boleh digunakan dengan antikonvulsan karena mereka mungkin melemahkan ambang kejang.
  8. Shankapulshpi, suatu sediaan Ayurvedic, dapat menurunkan kadar fenitoin serta mengurangi khasiat obat.
  9. Kava bila digunakan dengan alprazolam bisa mengakibatkan koma.
  10. Imunostimulan (misalnya, Echinacea dan zinc pada sediaan Imboost force) tidak harus diberikan dengan imunosupresan (misalnya, kortikosteroid dan siklosporin).
  11. Asam tannic yang ada pada beberapa tumbuhan (misalnya, wort St John dan Sawpalmetto) dapat menghambat penyerapan zat besi.
  12. Kelp sebagai sumber yodium dapat mengganggu pada terapi penggantian tiroid.
  13. Licorice dapat mengimbangi efek farmakologis dari spironolactone.
  14. Banyak jamu (misalnya, karela dan ginseng) dapat mempengaruhi tingkat glukosa darah dan tidak boleh digunakan pada pasien dengan diabetes mellitus.

Rangkuman tambahan

Namun ada juga sifat dari herbal yang sinergis:

Selederi dan kumis kucing

Pada tanaman seledri terdapat kandungan favonoid apiin dan apigenin yang bekerja sebagai vasodilator sehingga tekanan darah turun. Sedangkan kumis kucing (Orthosiphon stamineus) mengandung flavonoid polimetoksi : sinensetin, eupatorin; garam kalium; dan inositol. Flavonoid sinensetin, eupatorin bersifat spasmolitik dan hasilnya adalah diuretika. Garam kalium besifat retensi air dan hasilnya adalah diuretika. Inositol sendiri bersifat dieresis. Kedua tanaman menghasilkan penurunan tekanan darah dan efeknya menjadi optimal.

Akar valerian dan biji pala

Akar valerian mengandung valepotriate yang berefek sedatif. Biji Pala mengandung miristisin yang juga bersifat sedative. Jika digabung efek sedatifnya akan optimal.

Herba thymi (Thymus vulgaris)

Kandungannya adalah senyawa fenol : timol, karvakrol yang bersifat antimikroba. Juga mendgandung minyak atsiri yang berkhasiat mucolitik/pengencer dahak. Juga ada kandungan flavon polimetoksi yang bersifat spasmolitik/meredakan batuk. Dari berbagai kandungan, semuanya saling melengkapi (komplementer) sebagai pbat batuk. Sehingga banyak ditemui produk obat batuk di masyarakat sering ditambahakan herba thymi.

Peningkatan absorbsi

Penggunaan bahan penyusun ramuan yang mengandung seskuiterpen (dari minyak atsiri), resin (temu-temuan) dan bromelin (nanas) akan mensunpensikan zat aktif (obat lain) hingga  membuat bulk yang lebih lipofilik, Akibatnya adalah meningkatkan absorpsi kandungan aktif lain dan kadar dalam darah meningkat.

Peningkatan bioavailabilitas melalui penghambatan sitokrom p450

Contohnya adalah piperin terhadap kurkumin. Piperin mampu menghambat aktivitas enzim CYP. Akibatnya adalah metabolisme kurkumin di hepar berkurang, ketersediaan hayati kurkumin meningkat, kadar dalam darah meningkat 10 kali lipat dan efek farmakologi (meningkat?). hal serupa terjadi pada interaksi antata lada hitam dan cabe jawa .

Peningkatan bioavailabilitas melalui penghambatan glutathion s-transferase (GST)

GST adalah enzim pemetabolisme fase II yang berperan penting dalam pengeluaran obat. Sehingga metabolit obat yang beracun bisa dikeluarkan dari tubuh. Namun jika ada obat yang aktif lalu bertemu dengan GST maka akan merugikan karena obat cepat dikeluarkan, sehingga bioavaibilitasnya jadi rendah dan belum sempat berefek pada tubuh.

Ada banyak bahan alam seperti kurkumin (pada kunyit), temulawak, kunyit, bangle, temugiring yang bersifat menghambat aktivitas GST. Dengan GST dihambat, maka metabolisme obat lain akan berkurang sehingga meningkatkan ketersediaan hayatinya. Akibatnya konsentrasi dalam darah meningkat, dan efek Farmakologi (meningkat?) Efek ini dinamakan potensiasi.

Interaksi obat herbal-obat konvensional yang menguntungkan

Interaksi rhubarb/akar kelembak yang mengandung tannin menunjukkan efek yang sinergis dengan obat-obatan ACE Inhibitor seperti captopril untuk mengurangi kadar kreatinin dalam serum.

Interaksi buah pare (Momordica charantia) dengan obat diabetes oral maupun dengan tanaman brotowali (Tinospora cordifolia) untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes.

Interaksi antara kunyit dengan asam, dimana kurkuminoid yaitu zat aktif dalam kunyit yang bersifat labil distabilkan oleh asam.

Kombinasi antara kunyit dengan bawang putih dapat menurunkan kolesterol total, penurunan kadar LDL, trigliserida, glukosa darah dan peningkatan kadar HDL.

Daftar Pustaka

Miller, LG., 1998, Herbal Medicinals: Selected Clinical Considerations Focusing on Known or Potential Drug-Herb Interactions,  Arch Intern Med.;158:2200-11

source image:

ion.ac.uk

ebmedicine.net

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

2 thoughts on “Interaksi Obat Herbal

  1. MAs Moko yang budiman,
    mau tanya Mas kalo leunca (Solanum nigrum Linne) ada efek samping merugikannya gag ya, hehe. makasih sebelumnya
    tetep semgt buat nulis ya, semoga bisa terus memberi menfaat. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s