Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Menguak Keindahan Karanganyar (1)

Leave a comment


Ya, Karanganyar, sebuah kabupaten di utara Kota Solo memberikan pesona alam yang luar biasa. Kata teman, kabupaten yang dipimpin oleh seorang wanita, adalah surganya Indonesia. Agak lebay emang, tapi gpp beberapa hal saya setuju. Ada beberapa pemandangan menarik yang juga menyimpan keindahan mempesona. Simak cerita perjalanan saya Senin, 8 Nov 2010. Saat itu sedang hot-hotnya Merapi meletus di Yogyakarta.

…palang pintu kereta api, bukanlah rambu lalu lintas, di tempat lain masih banyak kecelakaan karena kereta api, maka berhati-hatilah..demikian pecinta kereta pasti sudah sangat populer suara perempuan yang terdengar di tiap palang pintu di tanah air ini. Sampai juga di stasiun Lempuyangan, tempat aku memulai perjalanan hari ini. Aku parkir Supra X plat F di parkiran stasiun, lalu menuju kasir dan aku kelurkan uang Rp 9000 untuk beli tiket Pramex. “Purwosari ya mbak” demikian aku sambil meraih tiket KA.

Debu merapi masih menyelimuti kota Yogyakarta dsb. Kulihat masih banyak penumpang yang memakai masker. Kereta melaju dengan tenang mengantarkan ratusan penumpang yang melakukan perjalanan ke kota Solo. Empat puluh lima menit berlalu, sampai juga di stasiun pemberhentian pertama, Purwosari.

Keluar melewati kanopi yang sepertinya belum lama dibangun. Keadaan sudah jauh berbeda 2 tahun yang lalu, kali pertama aku tiba di kota ini. Stasiun ini memang punya cerita tersendiri, dibanding Balapan misalnya. Di stasiun ini, saya bersama 3 rekan saya sekitar Juli 2006 sebagai tempat transit sebelum perjalanan yang mengesankan ke kabupaten Blora. Sekitar Maret 2007, saya juga dijemput malam-malam oleh Isa, sebuah perjalanan tanpa rencana yang tiba-tiba aku pengen ke Solo.

“Mas aku tunggu di jalan deket becak-becak, lurus aja dari kanopi”. SMS dari teman yang menjemputku, yang kebetulan sedang di Solo, ngungsi katanya dari Merapi. Alamak…

Perut keroncongan, belum sarapan ternyata. Dibawakannya aku satu pincuk daun pisang, semacam makanan tradisional khas Solo yang aku gak tau namanya, cukup mengganjal perut. Di tengah kota Solo yang cukup ramai, sampailah kita di Palur, kita ambil arah ke Ngawi/Surabaya, bukan ke Tawangmangu.

Jalanan sempit dan ramai, dipenuhi dengan bus dan truk, ternyata tak mempengaruhi kecepatan motor yang melaju dengan cepat. Hanya dengan waktu 20 menit, sampailah kita di desa Grompol, perbatasan Karanganyar dan Sragen, ada jembatan besar dan masjid LDII serta gerbang Gading yang sepertinya belum lama dibangun.

Memasuki jalan Grompol-Jambangan, suasana berubah total. Kanan kiri jalan adalah sawah hijau terbentang. Tapi perjalanan agak terganggu karena infrastruktur jalanan yang rusak parah. Berlubang, debu, dan truk yang tidak mau mengalah. Namun ada jalan alternatif yang agak memutar, namun jalanan bagusnya minta ampun. Setelah rel, sekitar 300 m ambil saja jalan ke kiri, susuri jalanan tersebut maka sampailah di Pom bensin Suroboyo, Pucuk.

Setelah pom bensin ada jalan bagus ke kanan, itu adalah jalan mau ke kota. Penasaran melewati jalan tsb, kita putuskan pas perjalanan pulang kita akan lewat jalan tersebut walau agak memutar, tapi tak apalah.

Hujan tiba-tiba datang, kontras dengan kota Solo yang cerah dan panas, memaksa kita berteduh di sebuah masjid sebelum desa Mojodoyong. Setelah agak reda, kami melanjutkan perjalanan dan sampailah di terminal Batu Jamus. Dalam hati saya berfikir, kok nama-nama daerah di sini aneh-aneh ya, belum pernah saya dengar di telinga. Tak lama kemudian sampailah kita di pertigaan lapangan, ancer-ancer yang sangat gampang untuk menuju kecamatan Kerjo.

Selepas masuk jalanan ini, wow sungguh menggoda kami untuk melepas helm. Udara yang segar, sawah terasering membentang, rumah-rumah khas pedesaan yang tertata rapi dan bersih, apalagi ya? Ni desa kalo ikut perlombaan desa pasti menang. Lima belas menit, setelah kami di suguhi pemandangan alam yang rupawan, sampailah kami ke tempat yang lebih lagi, yaitu Komplek perkebunan karet.

“Wah serasa di luar negeri”, demikian kata teman yang sejak tadi jadi sopir. Pepohonan yang tertata rapi, hijau dan sungguh sejuk berada di dalamnya. Menerobos jalanan di tengahnya benar-benar nyaman. Selepas melewati kebon karet, ada hal yang membuat kami makin tercengang. Jalan menurun menuju sungai, dengan sawah hijau yang sungguh luar biasa pemandangannya. Seakan pengen turun dan berjam-jam menikmati pemandangan asri tersebut. Namun, ternyata ada SMS dari Jogja yang memaksa kami harus mencari warnet dan mengirim dokumen yang dikirim via email. Oalah

Setelah urusan selesai, mampirlah kami di warung makan, tentunya dibungkus dan di makan di kebun karet tersebut, (bersambung)

Artikel terkait:

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s