Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Conotoxin, Analgetik Lebih Kuat Dibanding Morfin

1 Comment


Conotoxin merupakan racun dari sejenis keong laut keluarga Conidae. Gejala umum jika keracunan adalah rasa terbakar hebat, pusing-pusing, lumpuh, atau tidak dapat menggerakkan anggota badan sampai yang paling fatal yaitu kematian.

Conotoxin bersifat paralisis dan kematian sel otot, analgetik.

Macam-macam conotoxin:

  1. Alpha-conotoxin
  2. Delta-conotoxin
  3. κ-conotoxin
  4. Mu-conotoxin
  5. Mu-O-conotoxin
  6. Omega-conotoxin

Alpha-conotoxin

Alpha-conotoxin mempunyai 2 sistein dan 13-15 residu asam amino. Alpha-conotoxin mempunyai afinitas yang tinggi terhadap sisi alpha dan gamma dari reseptor asetilkolin dan bersifat selektif.

Mekanisme Alpha-Conotoxin

  1. Alpha-conotoxin berkompetisi dengan antagonis reseptor asetilkolin yaitu d-tubocurarin dan alpha-bungarotoxin
  2. Alpha-conotoxin berikatan dengan reseptor asetilkolin nikotinik
  3. Menginduksi terjadinya paralisis dan kematian sel otot lebih cepat dibandingkan alpha-bungarotoxin

Ach

Gambar Mekanisme kontraksi otot oleh aksi asetilkolin

Delta-conotoxin

Ada yang mempunyai  afinitas tinggi pada kanal Na+ yang tidak teraktivasi voltase (contoh : delta-conotoxin SVIA dari C. striatus), ada yang beraksi pada kanal Na+ yang sensitif terhadap voltase (misal : delta-conotoxin PVIA dari C. purpurascens).

κ-conotoxin

Pada C. Purpurascens bertanggung jawab pada kakunya mangsa setelah disengat. Bekerja dengan menghambat kanal kalium shaker. Keadaan ‘kaku’ dikarakterisasi oleh shock eksitotoksik dan sindrom STOP (Sudden Tetanus of Prey)

Mekanisme kerja κ-conotoxin:

  1. Kombinasi kerja κ-conotoxin dan delta-conotoxin menyebabkan meningkatnya masukan Na+ dan menurunnya keluaran K+
  2. Depolarisasi yang sangat kuat
  3. shock eksitotoksik yang cepat
  4. sindrom STOP (kejang, kontraksi terus-menerus, tidak mampu berelaksasi) à kaku (terjadi secara cepat)

Mu-conotoxin

Mu-conotoxin terbagi menjadi tiga tipe : G3A, G3B dan G3C. Mekanisme kerja Mu-conotoxin:

  1. ketiga tipe Mu-conotoxin berikatan dengan binding site pada kanal Na+
  2. influks natrium ke dalam sel terhambat
  3. paralisis organisme

Mu-O-conotoxin

Merupakan family dari O-superfamily conotoxin. Mekanisme kerjanya : Memblok Kanal Na+ à Influks Na+ ke sel terhambat à paralisis sel

Omega-conotoxin

 

omegaMekanisme kerja:

  1. omega-conotoxin menyekat kanal Ca2+ teraktivasi voltage di presinaptik
  2. penghantaran neurotransmitter terhambat, terutama asetilkolin pada sinapsis saraf
  3. impuls saraf terhenti

Tipe-tipe Omega-conotoxin

  • SVIB   dari C. striatus
  • GVIA   dari C. geografus
  • MVIIA  dari C. magus
  • MVIIIC dari C. magus
  • MVIIID dari C. magus
  • MVIID  dari C. magus
  • MVIIB  dari C. magus
  • MVIIIA dari C. magus
  • CVID   dari C. catus

Ziconotide

Obat yang sudah dikembangkan dari conotoxin yaitu ziconotide dengan nama dagang PRIALT. Merupakan obat anti nyeri (sakit) pada pasien kanker, AIDS yang diterapi dengan morfin tetapi tidak teratasi, digunakan juga untuk pasien dengan nyeri kronis, analgetik.

Efek samping dari ziconotide menyebabkan pusing (33%), melemahkan daya ingat (22%), gangguan dalam berbicara (14%), aplasia (12%), dan halusinasi (12%).

ziconotide

Ziconotide adalah omega conotoxin MVIIIA yang memblok kanal kalsium tipe N (N-type calcium channels) di sel saraf yang berperan dalam pelepasan neurotransmitter pada presinaptik. Omega-conotoxin tipe MVIIA dapat menghambat transport kalsium di dalam sel saraf yang akan menghantarkan sinyal rasa nyeri, otak tidak dapat memerintahkan organ tubuh untuk mengekspresikan rasa sakit. Omega-conotoxin memiliki kemampuan analgetik 1000X  lipat lebih ampuh dibanding morfin

Keunggulan dari Omega-conotoxin dari morfin adalah senyawanya mirip dengan neuropeptida sehingga akan terhindar dari resiko ketergantungan/ketagihan akan obat tersebut.

Mekanisme kerja: Omega-conotoxin tipe MVIIIA bekerja dengan mengeblok kanal Ca2+ tipe N ini sehingga tidak terjadi pelepasan neurotransmitter. Dengan dihambatnya pelepasan neurotransmitter sebagai penghantar impuls nyeri, maka conotoxin ini bisa menimbulkan efek analgesik (penghilang rasa sakit).

Gambar Regulasi kanal Ca++ terhadap pelepasan neurotransmitter

Referensi:

Pharmacokinetics and Pharmacodynamics of Intrathecal Ziconotide in Chronic Pain Patients

Ziconotide Infusion for Severe Chronic Pain: Case Reports

Pubmed

zico approvel EMEA
Marinebiotech.org

The Role of Interventional Therapies in Cancer Pain Management

Safety and efficacy of intrathecal ziconotide in the management of severe chronic pain

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

One thought on “Conotoxin, Analgetik Lebih Kuat Dibanding Morfin

  1. kirimin yang lebih bagus lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s