Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Polinacea: Based comment from user

1 Comment


Komentar telah di utarakan oleh pembaca pada artikel: 18 Imunomodulator, pilih yang mana? Stimuno, Fituno, atau Imboost? , membuat saya tertarik untuk mencari lebih lanjut tentang Polinacea.

semua cuma echinacea, kalo gw milih proza yang kandungannya polinacea yang merupakan produk berlisensi dari indena italy, dengan kandungan didalamnya echinacea, idn5405, isobutilamin 0,1%.

idn5405 mempunyai kandungan polisakarida 200.000 dalton so otomatis imunitas yang dihasilkan juga besar,

isobutil hanya 0,1% jadi tidak merusak usus

Nih dia hasil investigasi yang telah saya lakukan:

Echinacea memiliki 9 spesies tetapi hanya 3 buah yang digunakan untuk pengobatan yaitu Echinacea purpurea (Purple Coneflower), Echinacea angustifolia (Narrow leaved Coneflower), dan Echinacea pallida (Pale purple Coneflower).

Bunga memiliki variasi warna dari putih, pink sampai ungu atau merah. Bagian tumbuhan yang sering digunakan untuk pengobatan adalah akar, daun, bunga dan bagian lainnya. Sekarang ini di Indonesia ada banyak sediaan yang mengandung ekstrak Echinacea untuk berbagai macam tujuan terapi: menyembuhkan infeksi saluran pernafasan dan meningkatkan respon tubuh.

 

Bahan aktif Echinacea dan efek farmakologi

 

Penelitian terhadap konstituen aktif yang terkandung dalam Echinacea yaitu: karbohidrat, glikosida, alkaloid, poliatilen, dam lainnya seperti asam lemak, minyak atsiri dan fitosterol. Tidak semua bahan-bahan di atas memiliki efek farmakologis, bahkan beberapa diantaranya bersifat toksik. Kandungan bahan pun bervariasi antarspesies, bahkan berbeda pula dari hasil ekstraksi pada bagian tubuh yang berbeda, misal kandungan aktif di akar berbeda dengan bagian lainnya (Mills. S, et al, 1999). Secara umum, ada 3 komponen yang memiliki efek farmakologis yaitu karbohidrat, glikosida dan alkilamid (Barrett. B, 2003).

1

2

IDN adalah  polisakarida dengan bobot molekul yang tinggi

Polisakarida denga BM tinggi mengandung pektin metoksi dengan rangka alpha-(1,4) asam polygalacturonic, sebagian karboksi termetilasi (sekitar 60 %) dan sebagian terasetilasi (sekitar 9 %, bagian halus) dan bagian berambut yaitu rhamnogalacturonan tersubstitusi.

3

Beberapa ahli mempercayai bahwa karbohidrat dalam Echinacea yang memiliki efek imunostimulan adalah polisakarida yang ada di Echinacea purpurea dalam bentuk arabinogalactan dengan bobot molekul 75.000, sedangkan pada Echinacea angustifolia dalam bentuk methoxy pectin dengan rangka carboxymethil-polygalacturonic dan acetyl-polygalacturonic berbobot 200.000 dalton. Karena bobot molekul juga berbeda maka hasil modulasi imun juga berbeda di antara keduanya. Efek stimulasi terhadap sistem imun juga bergantung pada persetase polisakarida yang ter-ekstrak.

Senyawa glikosida utamanya adalah asam caveat dalam bentuk asam echinacosid dan asam cichoric. Echinacosid memiliki beberapa sifat farmakologis yaitu:

  • Aktivitas antibakterial, terutama pada gram positif (walaupun lemah) dan gram negatif, antijamur dan antivirus.
  • Aktivitas Antihyaluronidase, yaitu aktivitas menghalangi kinerja enzim dalam perusakan jaringan cement dari asam hyluronat, dan sebagai hasilny adalah mencegah penyebaran infeksi dan inflamasi.
  • Perlindungan kolagen dan mempercepat penyembuhan luka karena efek terhdap fibroblast.

Alkilamid dalam bentuk isobutilamid dipercaya memiliki efek antiinflamasi tetapi sekarang penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini tidak memiliki efek farmakodinamik, dan bahkan menyebabkan perasaan gatal di lidah dan stimulasi saluran cerna dan mengakibatkan hambatan motilitas usus.

 

Kontroversi sediaan Echinacea

Banyak penelitian klinis telah dilakukan untuk mencari terapi menggunakan Echinacea dan hasilnya menimbulkan kontroversi. Di satu sisi mengatakan bisa menaikkan sistem imun, di satu sisi dikatakan tidak ada efeknya pada tubuh.

Analisis dilakuakn terhadap berbagai macam sediaan Echinacea yang ada yaitu ekstrak segar, ekstrak kering, decocta, infus, dsb, dan banyak yang tidak menyabutkan presentase bahan aktif yang sesuai dengan persyaratan rekomendasi farmakope untuk echinacosid misalnya tidak boleh kurang dari 3,5% (Next Generation Herbal Medicine by Daniel B. Mowrey).

Sampai saat ini, proses ekstraksi juga tidak tepat sehingga kandungan aktif yang terkestraksi menurun. Hal ini menyebabkan keberadaan atau tidak adanya efek farmakodinamik. Penelitian dilakukan pada 25 produk yang sudah dijual di pasar menunjukkan bahwa hanya 14 sediaan yang ditemui memenuho persyaratan sedangkan  lainnya tidak menyabutkan jumlah Echinacea, bagian tumbuhan yang digunakan, dan jenis spesies Echinacea yang digunakan. Sehingga, ini penting untuk diketahui, bagian mana yang digunakan, jenis spesiesnya apa, dan persentase bahan aktif.

 

Polinacea

Polinacea adalah produk inovatif dari yang berasal dari 4 merupakan ekstrak hidroetanolik terstandar baru yang diperoleh dari akar Echinacea angustifolia berisi echinacoside (> 4%), polisakarida dengan berat molekul tinggi IDN 5405 (> 5%) dan fraksi isobutilamida (<0,1%).

5

Untuk tes vitro, bakteri bebas lipopolisakarida (LPS-free) Polinacea ™ telah disiapkan untuk menghindari respon spesifik dari sel immunocompetent.
LPS-free Polinacea ™ ditingkatkan fungsi kekebalan yang disorot oleh kecepatan proliferasi dan produksi interferon-γ pada kultur sel murine T-lymphocyte distimulasi dengan anti-CD3. LPS-free Polinacea ™ tidak memiliki peran langsung pada respon makrofag diukur dengan tes produksi nitric oxide menggunakan sel makrofag J774. Secara in vivo, Polinacea ™ menunjukkan aktivitas merangsang kekebalan dengan mengurangi kematian oleh Candida albicans baik pada tikus normal maupun tikus dengan perlakuan siklosporin.

 

Efek Polinacea™ (pemberian oral) pada immunocompetent and immunosuppressed candida albicans infected mice

6

Efek polinacea™ (pemberian intra peritonial) pada immunocompetent Candida albicans infected mice

7

Purified spleen T lymphocytes: IFN-γ production (semua sampel LPS free)

8

Beberapa penelitian klinis menunjukkan Polinacea memiliki efek proteksi terhadap infeksi Leishmania dan Candida albicans. Sementara itu, penelitian eksperimental telah membuktikan bahwa Polinacea mempunyai efek terhadap sel T dan produksi Interferon gamma (IFN-γ).

Sebagai sediaan immunobooster, Polinacea memproduksi perlindungan terhadap kematian oleh Candida albicans hingga 30-40%.

Efek terhadap sel T merupakan hasil dari aktivitasnya dan proliferasi, dan secara klinis, hal ini dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dengan penemuan Polinacea, keraguan dari kefektivan klinis dapat dieliminasi bahan aktif material sudah terstandardisasi berdasarkan persyaratan yang diminta (PDR for Herbal Medicines, 2000).

Referensi:

Landson, The Most Innovative and Standardized Echinacea’s Pure Extract, http://landson.co.id/products/lite1.php

MIMS Information guide, Proza

Ethical Digest No.5 Year II July 2004 Page 58-59.

Morazzoni, P., Cristoni, F. Di Pierro, C. Avanzini, D. Ravarino, S. Stornello, M. Zucca, Musso, T., 2005, In vitro and in vivo immune stimulating effects of a new standardized Echinacea angustifolia root extract (Polinacea™)

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

One thought on “Polinacea: Based comment from user

  1. test comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s