Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

Belanja R&D Perusahaan Farmasi Global

Leave a comment


 

Pada 30 tahun terakhir ini, industri farmasi mengalami perubahan yang dramatis. Kemajuan pada sains biologi dan hadirnya bioteknologi merupakan revolusi ini. Dimulai penemuan double helix stucture of DNA dan pengembangan teknik rekayasa genetik maka kemampuan untuk memahami mekanisme aksi obat dan biokimia serta biologi molekuler banyak penyakit menjadi meningkat sangat cepat. Hal ini menciptakan peluang untuk pengobatan baru yang sangat bermakna bagi persuahaan pada industri farmasi.

Industri bioteknologi bertumpu pada kemajuan revolusioner yaitu penemuan rekayasa genetika (genetic engineering) dan teknolgi antibodi monoklonal (monoclonal antibody). Perubahan terpenting terutama adalah ditemukannya target molekul pada enzim dan reseptor. Obat diarahkan pada sasaran nuclear sebagai nucleic acids, faktor-faktor transkripsi dan reseptor-resptor intraseluler. Perusahaan-perusahaan farmasi yang berbasis riset (research-based company) mengintegrasikan teknologi ini dan melakukan investasi secara besaar-besaran.

Produk bioteknologi makin berperan dominan dalam penemuan obat baru di AS. Pada awal tahun 1990-an produk bioteknologi ini hanya mencakup sekitar 10% dari obat-obat baru yang disetujui FDA, pada tahun 2001 telah meningkat pesat mencapai lebih dri 40%. Kecenderungan ini akan masih mneningkat pada dekade mendatang dan ini kana banyak mewarnai persaingan industri farmasi global.

Pada tahun 1995, perusahaan farmasi membelanjakan US$ 3,5 miliar untuk mangakuisisi perusahaan bioteknologi dan membayar US$ 1,6 miliar untuk perjanjian lisensi R&D. Bioteknologi ini memberikan kontribusi pada pengembangan produk baru-mencapai 35% pada tahun 2001. Rekayasa genetika memberikan kepada ilmuwan (scientist) suatu alat baru untuk lebih mempercepat pemahaman mereka tentang genetik dan mekanisme suatu penyakit. Dengan penemuan gen yag bertanggung jawab terhadap penyakit Hutington’s, maka kini pintu telah terbuka untuk pengobatan dengan cara baru ini. Dengan “alat” yang sama dapat dilakukan identifikasi target molekul pada virus dan bakteri yang menjadi penyebab penyakit infeksi. Pada kenyataannya cara pengobatan baru ini sebagai hasil penelitain genetik memiliki presisi yang tinggi. Dalam konteks ini, industri farmasi saat ini dalam posisi dapat membuat kemajuan yang cepat dalam pengobatan karena peluang yang ditawarkan oleh terobosan sains dan teknologi yag lebih besar dibandingkan dengan dekade yang lalu.

Pada taun 1995, sepuluh perusahaan farmasi terkemuka membelanjakan masing-masing lebih dari US$ 1 miliar untuk R&D. Sebagai hasil merger antara Holding Glaxo dean Burrough Wellcome pada tahun 1995, Glaxo Wellcome yang baru pada akhir 1996 membelajakan sekitar US$ 2 miliar untuk R&D. Kebangkitan R&D dalam industri farmasi ini dipercepat oleh kemajuan teknolgi. Sejalan dengan itu penjualan produk farmasi di pasar dunia dan AS juga meningkat.

Pada tahun 1975 penjualan farmasi dunia tercatat US$ 30 miliar, tahun 1995 meningkat menjadi US$ 250 miliar dan tahun 2005 meningkat lagi menjadi US$ 620 miliar. Demikian juga pasar AS mengalami kenaikan yang cukup besar. Pada tahun 1975 total penjualan di AS tercatat US$ 6,5 miliar, tahun 1995 meningkat menjadi US$ 30 miliar dan pada tahun 2005 meningkat menjadi US$ 265 miliar.

Industri farmasi global tampaknya mengkerucut ke arah “oligopolis” yakni sejumlah perusahaan menguasai pangsa pasar yang besar. Pada tahun 1992, sebanyak 32 perusahaan menguasai 50% pasar dunia dan pada tahun 2001 hanya 13 perusahaan besar menguasai 50% pasar dunia. Keadaan ini antara lain akibat terjadinya merger dan akuisisi yang terjadi pada industri farmasi global.

Sementara itu belanja (expenditure) untuk R&D di AS, Eropa dan Jepang juga terus meningkat secara signifikan. Komitmen terhadap R&D sangat jelas ter-refleksikan dengan meningkattnya persentase belanja R&D terhadap total penjualan berkisar 11,5% dan selama tahun 1980-an dan tahun 1992 mendekati 17%. Pada tahun 1995 dan 1996 meningkat lagi menjadi sekitar 19%.

ranking

Pencapaian penting hasil riset obat dewasa ini antara lain adalah:

  1. Selective serotonin-reuptake inhibitor (SSRI) yang digunakan untuk depresi
  2. Calcium antagonists dan angiotensin-converting enzymes inhibitor (ACE-I) untuk hipertensi dan penyakit jantung
  3. Reverse transcriptase inhibitors dan protease inhibtor untuk AIDS
  4. Histamin-2 antagonists untuk mengontrol asam lambung dang mengurangi risiko tukak lambung (ulcers)
  5. Blood lipid-lowering “statin” untuk antikolestrol
  6. Imunoupresan yaitu obat yang memungkinkan transplantasi organ
  7. Antibiotika, antifungal dan antiviral baru.

Riset sekarang telah terjadi pergeseran dari penyakit akut ke arah penyakit kronis termasuk Alzeimer, kanker, obesitas, AIDS, migrain, asma, rhematoid arthritis,penyakit neurologis, osteoporosis, dll.

Perusahaan farmasi menghadapi kondisi demanding dalam R&D dan harus melakukan investasi dalam jumlah yang besar. Untuk menemukan obat baru-new chemical entity (NCE) sampai menjualnya di pasar diperlukan biaya antara US$ 350-800 juta. Faktor yang menyebabkan meningkatnya biaya inovasi antara laian adalah:

  1. Teknologi
  2. Bahan aktif baru yang lebih kompleks
  3. Riset berfokus pada penyakit kronis dan degeneratif dengan biaya yang mahal
  4. Persyaratan regulatori yang lebih ketat

Berdarkan gambar di atas terlihat hanya sekitar 10% obat baru yang disetujui untuk diproduksi dan dipasarkan. Ini berarti mahalnya biaya penelitian obat termsuk untuk membiayai kegagalan penelitian dengan jumlah yang besar. Kesemua itu pada akhirnya harus dibebankan pada harga obat baru yang telah mendapat persetujuan untuk diproduksi dan dipasarkan. Meningkatnya biaya untuk pengembangan obat baru ternyata tidak paralel dengan jumlah obat baru yang mendapat persetujuan dari otoritas farmasi (terutam FDA).

Perusahaan farmasi dengan belanja R&D yang besar dan konsisten pada kenyataannya menjadi pemimpin industri. Hal ini karena intensitas R&D mempunyai relevansi dengan pertumbuhan penjualan dalam tahun 1995, industri farmasi menunjukkan peningkatan penjualan dalam tahun 1995, industri farmasi menunjukkan peningkatan penjualan 9,7% per tahun, dengan kenaikan harga pada tingkat sedang. Keuntungan yang diperoleh shareholder juga baik dengan kenaikan 113% per saham. Pfizer mengalami kenaikan yang dramatis yaitu 260% per saham sejak tahun 1991. Sebagian pertumbuhan Pfizer dari penjualan produk inovatif baru.

ok

The holly grail R&D perusahaan farmasi oleh Holand dan Lazo (2004) disebut sebagai obat blockbuster yaitu geuine advances yang mempunyai kecepatan dan kedalaman dalam penetasi pasar. Karena kinerja market yang superlative, blockbuster dianggap sebagai kemujuran individual perusahaan. Glaxo berangkat dari sebuah permain kecil (small player) dan pada awal tahun 1980-an menjadi perusahaan farmasi nomor satu yang berada di 50 negara-dengan satu produk obatnya yang kuat di pasar yaitu Zantac untuk tukak lambung (Holand et al., 2004).

Obat blockbuster tipikal untuk pengobatan jangka panjang yang menawarkan keunggulan dalam khasiat dan tolerabilitas, dipasarkan secara global dengan penjualan tahunan yang sangat besar nilainya. Pada tahun 2001, sebanayk 35 item obat blockbuster mempunyai penjualan Top 10 sebesar US$ 77,478 miliar atau 45,6% dari total penjualan. Pada gambar di atas terlihat Pfizer, Merck dan Astra Zeneca penjualan produknya sangat tergantung pada obat blockbuster.

Referensi:

Sampurno, 2007, Peran aset nirwujud pada kinerja perusahaan: studi Industri farmasi Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s