Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

R&D Perusahaan Farmasi Domestik Indonesia

Leave a comment


Industri farmasi domestik Indonesia bergerak terutama pada produksi dan pemasaran branded generic (obat yang sudah off patent), obat generik dan obat lisensi dari perusahaan farmasi di luar negeri. Industri farmsi domestik Indonesia adalah industri formulasi, bukan research-based company. Oleh karena itu kegiatan R&D yang dilakukan sangat terbatas dengan dukungan pembiayaan rata-rata di bawah 2% dari total penjualan. Riset yang dilakukan terbatas hanya pada formulasi produk, bukan pengembangan bahan baku baru. Ke depan implikasinya adalah perusahaan farmasi domestik Indonesia tidak akan pernah bersaing pada segmen pasar obat paten/obat inovatif.

R&D industri farmasi Indonesia tidak feseable untuk diarahkan pada penemuan obat-obat molekul baru (New Chemical Entity/NCE). Kendala utamanya adalah besarnya biaya penelitian yang dapat mencapai lebih dari US$ 300 juta untuk setiap NCE. R&D industri farmasi Indonesia dapat diarahkan terutama untuk pengembangan new delivery system (NDS) dan penelitian obat herbal. NDS yang sangat mungkin dikembangkan adalah teknologi pelepasan lambat (sustain released) untuk obat tertentu.

Pengembangan obat herbal ke arah fitofarmaka (dilakukan uji klinis lengkap) mempunyai prospek yang sangat baik. Sebagai contoh ekstrak Curcuma xanthoriza (ekstrak temu lawak) yang telah dipisahkan minyak atsirinya (essential oil) berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh UGM ternyata menurunkan LDL kolestrol pada manusia sebanyak 26% dengan penggunaan selama satu bulan. Khasiat ini dapat disejajarkan dengan Lipitor yang diproduksi oleh Pfizer yang mempunyai penjualan global US$ 7 miliar per tahun.

Demikian pula ekstrak meniran (Phylantus ninuri) berdasarkan hasil uji klinis yang telah dilakukan ternyata berkhasiat untuk memperbaiki sistem imunitas. Sebagai fitofarmaka, obat herbal ini sudah dipasarkan dengan nilai penjualan yang cukup besar. Masalah utama dari obat herbal ini adalah stadardiasi yang harus dimulai dari waktu budidaya, pemanenan dan seluruh mata rantai produksi. Standardisasi budidaya diperlukan untuk menajga agar kandungan bahan aktif tanaman obat relatif konstan.

R&D industri farmasi tidak harus dilakukan sendiri oleh perusahaan farmasi. Perusahaan farmasi dapat melakukan aliansi dan kolaborasi dengan lembaga penelitian di perguruan tinggi/universitas. Korean Green Cross-perusahaan produk biologi (vaksin) Korea berkembang pesat karena melakukan kerja sama R&D dengan universitas. Demikian pula Peking University melakukan aliansi stratejik dengan perusahaan farmasi mendirikan manufaktur farmasi biotekologi yang beroperasi secara komersial. Aventis mengelola aliansi portal (web) yang kompleks dengan 300 universitas dan perusahaan bioteknologi. Pada perusahaan seperti ini, pengelolaan aliansi menjadi kompetensi kunci.

Bahan baku masih impor

Sebagian besar (lebih dari 90%) kebutuhan bahan baku obat Indonesia mesih diimpor terutama dari RRC, India dan beberapa negara Eropa. Bagi Indonesia tidak mudah untuk mengembangkan industri bahan baku obat karena industri kimia dasar di Indonesia belum berkembang. Implikasinya bila akan memproduksi bahan baku obat maka Indonesia harus mengimpor bahan antara (intermediate substances) dengan harga yang mahal yang menyebabkan produk akhir bahan baku obat tidak kompetitif bila dibandingkan dengan harga bahan baku impor. Saat ini impor bahan baku obat dikenakan bea masuk berkisar 0-5%.

Sementara itu jenis bahan baku obat yang diperlukan oleh industri farmasi Indonesia lebih dari 1300 item dengan kuatum relatif tidak besar. Sebagian besar item bahan baku tersebut sangat tidak ekonomis untuk diproduksi hanya untuk memenuhi pasar Indonesia. Sementara RRC dan India mampu mengekspor ke pasar dunia dengan harga yang relatif murah. Di Asia hanya 4 negara yang mempunyai kemampuan memproduksi bahan baku obat dengan pemasaran ekspor yang besar yaitu China, India, Jepang dan Korea Selatan.

Sumber

Sampurno, 2007, Peran aset nirwujud pada kinerja perusahaan: studi Industri farmasi Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hal. 61-73

sumber gambar: http://www.ahava-cosmetics.ch/discover-ahava/research-development.jpg

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s