Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

KAPITALISASI PASAR FARMASI DUNIA: Peran Indofarma dalam produksi Obat Anti-TBC

Leave a comment


Saat ini kapitaliasi pasar farmasi di seluruh dunia mencapai US $ 643 Miliar (IMS Health, 2006) dengan pasar terbesar adalah Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), disusul oleh negara-negara Uni Eropa, Jepang dan negara Asia Pasifik. Obat merupakan komoditi dengan pertumbuhan yang cukup tinggi dibandingkan dengan komoditi yang lain.

Dari data IMS Health World Review 2007 dilaporkan bahwa pertumbuhan pasar farmasi dunia rata-rata bertumbuh 10% per tahun. Pertumbuhan terbesar adalah kawasan Asia Pasifik (minus Jepang) dan Amerika Latin yang bertumbuh 12,9%. Sedangkan Jepang pasarnya sedikit mengalami penurunan (minus 0,7%) dibanding tahun 2005. Sementara pasar Amerika Utara dan Eropa relatif stabil. Hal ini menunjukkan bahwa di kawasan Asia Pasifik dan Amerika Latin terjadi peningkatan konsumsi obat yang cukup signifikan dan menjadi lokomotif pertumbhan pasar farmasi dunia di masa mendatang. Pertumbuhan tertinggi pasar farmasi di Asia pada tahun 2006 adalah India yaitu sebesar US $ 7,3 Miliar tumbuh sebesar 17,5% dibanding tahun 2005. Hal ini menghantarkan India dari negara “sedang berkembang” menjadi salah satu “negara maju” di bidang farmasi.

Global pharmaceutical sales by region, 2006

World Audited Market 2006 Sales in US $ % Global Sales % Growth year over year
North America 289,9 47,7 8
Europe 181,8 29,9 4,8
Japan 56,7 9,3 -0,7
Asia, Africa, and Australia 52 8,6 12,9
Latin America 27,5 4,5 12,9

Sumber: IMS Health, 2007

Dari sisi industri farmasi, pangsa farmasi dunia hingga saat ini masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan farmasi di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dari 10 besar perusahaan farmasi tersebut menguasasi lebih kurang 38,30% pangsa pasar. Adanya kesejangan ini mengakibatkan pula terjadinya kesenjangan penelitian dan pengembangan obat (research and Development gap). Dengan pasngsa pasar yang sedmikian besar, perhatian para raksasa farmasi dunia tentunya lebihcondong untuk berbagai penyakit yang dominan di negara-negar maju. Seangkan berbagai penyakitdinegara miskin dan berkembang sperti penyakit infeksi maupun penyakit troopis lainnya menjadi terabaikan. Sejumlah fakta meunjukkan fenomena antara lain:

  1. Malaria, resisten terhadap klorokuin pada tahun 1981 hampir 92 negara (terutama negara-negara di Afrika dan sub Sahara)
  2. TBC, sekitar 2-4% resisten terhadap obat-obat primer (primary multi drg)
  3. Gonorrhoea, sekitar 5-98% resistensi penisilin terhadap N. Gonorrhoeae

Fakta lain meunjukkan bahwa antara tahun 1975 hingga 197 telah di-launch 1223 obat baru, namun hanya 11 obat untuk penyakit tropis.

Leading therapy classes by global pharma sales, 2006

Rank Audited World Therapy Class 2006 Sales in US $ Billion % Global Sales % Growth year over year
1 Lipid regulators 35,2 5,8 7,5
2 Oncologies 34,6 5,7 20,5
3 Respiratory agents 24,6 4 10,4
4 Acid pump inhibtors 24,1 4 3,9
5 Anti-diabetics 21,2 3,5 13,1
6 Antidepressants 20,6 3,4 3,3
7 Antipsychotics 18,2 3 10,9
8 Angiotensin-II Antagonists 16,5 2,7 15,2
9 Erythropoetin products 13,9 2,3 11,8
10 Anti-epileptics 12,1 2,1 10,8

Sumber: IMS Health, 2007

Apa peran Indofarma terkait masalah di atas?

Indofarma pada tanggal 5 Juni 2008 yang lalu meluncuran produk baru dengan nama dagang Rifazid® yang memiliki zat aktif rifampisin dan INH; dan Rifastar® dengan zat aktif Rifampicin, INH, Pirazinamide dan Etambutol. Dengan peluncuran dua produk tersebut pasien akan sangat diuntungkan mengingat harganya yang lebih terjangkau.

Produk unggulan merupakan Kombinasi Dosis Tetap (FDC: Fixed Dose Combination) yang berkualitas. Pengobatan tuberkulosis berlangsung dalam waktu cukup lama 6-9 bulan dan standart produk yang digunakan harus melakukan uji kesetaraan kualitas dengan produk inovator.

Indofarma menargetkan penjualan sekitar Rp 6 miliar di tahun pertama. Total pasar obat antituberkulosis di tahun 2007 sekitar Rp 215 miliar. Adapun target market dari kedua produk baru Indofarma tersebut adalah rumah sakit swasta maupun Pemerintah dan dokter praktek swasta yang menanggani pasien TBC.

Dalam kesempatan ini, Direktur Pemasaran Indofarma M. Munawaroh optimis bahwa dua produk baru Rifazid dan Rifastar ini dapat eksis di pasar mengingat Indofarma telah melakukan uji bioavaibility dan bioequivalen (uji ketersediaan hayati dan uji kesetaraan hayati) di laboratorium ternama untuk kedua produk tersebut dengan hasil memuaskan yaitu efek terapi produk Indofarma tersebut setara kualitasnya dengan produk inovator.

Selain itu, Rifazid dan Rifastar ini telah diformulasi sesuai dengan pedoman nasional penanggulangan tuberkulosis dari Departemen Kesehatan tahun 2007. Selain diformulasikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dan dalam dosis tepat sesuai katergori pengobatan, Rifazid dan Rifastar ini merupakan obat Kombinasi Dosis Tetap (FDC) yang akan lebih menguntungkan bagi pasien karena hanya minum 1 obat (tidak perlu lebih dari 1 obat) sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan mempermudah ketersediaan, shipping dan distribution Rifazid dan Rifastar sangat dianjurkan karena mampu mengurangi timbulnya resistensi obat yang sering timbul bila diberikan secara monoterapi.

Referensi:

Bambang Priyambodo, 2007, Dalam Manajemen Farmasi Industri, Global Pustaka Utama Yogyakarta halaman15-17

http://www.indofarma.co.id

image source: http://afandri81.files.wordpress.com/2009/10/kapitalisme.jpg

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s