Penggolongan obat


Last update: June 21, 2018

Penggolongan obat dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan dan ketepatan penggunaan obat serta pengamanan distribusi. Penggolongan obat terdiri dari obat bebas, obat bebas terbatas, obat wajib apotek, obat keras, psikotropika dan narkotika.

Highlights

  • Obat bebas dan obat bebas terbatas, termasuk obat daftar W (Warschuwing) atau OTC (over the counter).
  • Pada obat bebas terbatas terdapat salah satu tanda peringatan nomor 1- 6.
  • Obat keras nama lain yaitu obat daftar G (Gevarlijk), bisa diperoleh hanya dengan resep dokter.
  • OWA (obat wajib apoteker) yaitu obat keras yang dapat diberikan oleh apoteker pengelola apotek (APA), hanya bisa didapatkan di apotek.

Obat Bebas dan Bebas Terbatas dipasarkan tanpa resep dokter atau dikenal dengan nama OTC (Over The Counter) dimaksudkan untuk menangani penyakit-penyakit simptomatis ringan yang banyak diderita masyarakat luas yang penanganannya dapat dilakukan sendiri oleh penderita. Praktik seperti ini dikenal dengan nama self medication (swamedikasi).

Obat Bebas

Obat bebas dapat dijual bebas di warung, toko obat berizin, minimarket, supermarket, dan apotek. Dalam pemakaiannya, penderita dapat membeli dalam jumlah sedikit saat obat diperlukan. Jenis zat aktif pada obat golongan ini relatif aman sehingga pemakaiannya tidak memerlukan pengawasan tenaga medis selama diminum sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan obat. Oleh karena itu, sebaiknya golongan obat ini tetap dibeli bersama kemasannya.

2

Di Indonesia, obat golongan ini ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Yang termasuk golongan obat ini yaitu obat analgesik (parasetamol), vitamin dan mineral. Obat-obat herbal tidak masuk dalam golongan ini, namun dikelompokkan sendiri dalam obat tradisional (TR), namun bisa dibeli bebss.

Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Sebelumnya, golongan obat ini disebut dengan daftar W (Waarschuwing, bahasa Belanda) yang artinya peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.

3

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:

33

Seharusnya obat jenis ini hanya dapat dijual bebas di toko obat berizin dan apotek, karena diharapkan pasien memperoleh informasi obat yang memadai saat membeli obat bebas terbatas.

Contoh obat golongan ini adalah: pereda nyeri, obat batuk, obat pilek dan krim antiseptik.

Obat Keras

Golongan obat yang hanya boleh diberikan atas resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan ditandai dengan tanda lingkaran merah dan terdapat huruf K di dalamnya. Obat keras sebelumnya disebut daftar G (Gevarlijk, bahasa Belanda) yang berarti berbahaya. Obat keras meliputi:

  • obat generik
  • Obat Wajib Apotek (OWA)
  • narkotika dan psikotropika

4

Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Contoh : diazepam, phenobarbital

Baca: Obat Wajib Apoteker

Baca: Obat generik vs obat paten

Obat Narkotika

5

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan (UU RI No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika).

Contoh : Morfin, Petidin

Psikotropika

Psikotropika adalah merupakan zat atau obat, baik alamiah maupun sintetik bukan narkotika yang berkhasiat, psikoaktif melalui pengaruh selektif menurut susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku (UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika). Unduh: Penggolongan psikotropika

 

Daftar Pustaka

Pupitasari, I, 2006, Cerdas Mengenali Penyakit dan Obat, Penerbit B-First, Yogyakarta.

UU RI No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika

UU RI No 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika

Depkes RI, 2006, Pedoman Penggunaan Obat Bebas dan Bebas Terbatas, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta.

Advertisements

35 thoughts on “Penggolongan obat

  1. jadi sebenarnya, apakah dokter, bidan dan mantri boleh meredarkan obat kepada pasiennya??? aakah undang2 yang menjlaskan ttang hal tersebut?

    dan menurut saya, jika pembagian tugas sesuai dengan profesinya, dunia kefarmasian tidak lagi membuta di mata masyarakat.

  2. bisakah sy dijelaskan???
    mana yg lebih tinggi tingkatnya : metoklopramid atau domperidon???
    mohon penjelasannya
    terima kasih

  3. yah ,,, nama generik obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras, obat narkotika dan psikotropika nya gak dibahas jelas ya ?

  4. peran dan fungsi strategis apoteker itu seprti apa?
    dan bagimana peran apoteker selama ini dalam upaya menciptakan regulasi yg benar kepada BPOM tentang bnyk obat yg beredar namun tidak berstandrisasi???

  5. keren keren keren….cuma kurang contoh2 obat dari gol OWA, psikotropika, ma narkotika (contohnya kurang banyak maksudnya). Mungkin bisa dibikin pembahasan terpisah utk masing2 golongan tersebut.
    Ngomong2 soal tenaga kesehatan yg tdk berhak mendispensing, jadi penasaran, seperti apa pendistribusian obat di Indonesia? Apakah tidak ada persyaratan ttg siapa saja yang boleh membeli obat2an dari PBF?

  6. Terima kasih atas infonya.. sekalian promosi blog saya, bahwa info farmasi, penggolongan obat, info apotek dan rumah sakit, industri semua ada disini.. download e-book farmasi gratis, dan alat kesehatan

  7. tolong pak,d tmbah lagi golong obat bebas,,bebas terbatas,,narkotika..cthnya gol.narkotika 1,2, dan 3…..tolong jelaskan ya pak…..

  8. Ya, saya faham dan maklum tetapi justru Undang-undang Oke tetapi aplikasinya dilapangan sulit khan untuk itu Perlu Koordinasi dg Dinkes/Balai POM dan Kepolisian serta profesi untuk duduk bersama sehingga tidak ada perselisihan faham kepolisian dan perawat yang menjadi korban.
    Diapotek pun masyarakat udah faham untuk apa diapotik juga bebas dapat obat yang dia mau ? memang sih kecuali narkotika.
    Nek rumit ………………….ya ……………………udah?

  9. koq g lengkap sech nama2 obatx.ditambahn ya yg banyak nama obatx.oya nama obat essensialnya mana?????

  10. ko g lengkap? harus nya kan obt bebas,obt bebas terbatas, bat keras, OWA, PSIKOTRPIKA, narktika

    lho, bukannya udah ada ya mbak, tuh di atas

  11. please ditambah dong daftar OWA-nya….. n jelasin dong kenapa OGB bisa lebeih murah dari obat dengan nama dagang

  12. Mohon sangat ISFI, untuk dapat menertipkan upaya peredaran obat terutama untuk dokter praktek, bidan praktek, dan mantri praktek, sehingga tidak menimbulkan efek hukum kepada profesi lain. Karena UU Kesehatan 23 tahun 1993, banyak mempengaruhi kehidupan kesehatan di Indonesia tetapi konsistensi baik daripemerintah ataupun organisasi profesi aparat penegak hukum tidak melakukan koordinasi yang diharapkan untuk masyarakat. Tetapi keberadaannya menjadikan upaya paksa yang justru merugikan masyarakat.

    Itu adalah persoalan terberat di dunia kefarmasian di indonesia. dimana distribusi obat terjadi secara liar. Ini terjadi karena adanya permintaan (demand) maka akan timbul supply. Demand muncul krn masyarakat butuh dan belum memahami obat sbg substansi yg perlu pengaturan scra ketat. (Obat hnya sbg komoditas). Kondisi ini dimanfaatkan oleh “tenaga kesehatan” (dokter, perawat, bidan, mantri) utk menangguk untung. padahal kan dokter gak boleh dispensing, palagi perawat! Celakanya apoteker jg gak memahami peran dan fungsi strategisnya, sbg pintu utama distribusi obat. Apoteker panel, hanya mndapat 2% dia mrasa bhgia tetapi merusak sistem dan jalur distribusi obat.Kondisi makin parah ketika law enforcement gak jalan.
    Jadi kuncinya Masyarakat sadar bahwa Obar keras hanya bisa didapatkan di apotek (dan RS) kalo gak di apotek berarti ilegal BAHAYA bagi pasien. Hukum harus ditegakkan dan pemahaman tenaga kesehatan dan diadvokasi oleh organisasi profesi. Rumit memang….!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s