Obat-obat anti-inflamasi nonsteroid, NSAID

Obat-obat anti-inflamasi nonsteroid, NSAID


Last update: July 6, 2018

Obat antiinflamasi kerap kita temui, baik sebagai obat resep maupun dalam produk OTC. Ada dua macam obat anti-inflamasi, yang dibedakan berdasar struktur kimianya: obat mengandung gugus steroid (SAID) atau tidak (non-steroid, NSAID). Postingan berikut akan fokus pada obat antiinflamasi NSAID.

Apakah NSAID, nonsteroidal antiinflammatory drugs?

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan nyeri dan mengurangi peradangan. Ada berbagai macam NSAID, dan hampir semua produsen farmasi memiliki obat dalam golongan obat ini. Obat kebanyakan tersedia sebagai tablet atau sirup yang dapat dibeli tanpa resep (“over-the-counter”), dan beberapa tersedia sebagai krim atau gel topikal (dioleskan di kulit).

Karena ketersediaan dan frekuensi penggunaan NSAID yang luas, maka penting untuk menyediakan informasi penggunaan yang tepat, dosis, dan potensi efek sampingnya.

Bagaimanakah mekanisme aksi NSAID?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka saya perlu menjelaskan dulu tentang mekanisme inflamasi atau radang terlebih dahulu. Adanya rangsangan yang diterima tubuh, menyebabkan sel akan mengalami cidera. Dinding sel terdiri datas komponen fosfolipid (fosfat dan lemak), adanya cidera sel akan menyebabkan lepasnya enzim fosfolipase A2.

Enzim ini menyebabkan diproduksinya asam arakidonat oleh sel yang akan dilepaskan dalam darah. Asam arakidonat selanjutnya berubah bentuk menjadi senyawa mediator nyeri seperti prostaglandin (PG), prostasiklin (PGI), dan tromboksan A2 (TX). 

Pembentukan senyawa-senyawa ini terjadi karena dalam tubuh terdapat enzim siklooksigenase (COX). Selain melaui enzim COX, asam arakidonat bisa juga diubah bentuknya oleh enzim lain yakni lipooksigenase membentuk leukotrien (LT1).

Gambar di atas merupakan jalur molekular untuk pembentukan eikosanoid dan prostanoid. Asam arakidonat dilepas dari membran sel dimetabolisme dalam 4 jalur eikosanoid. Jalur COX bertanggung jawab terhadap pembentukan prostanoid.

Obat antiinflamasi non steroid (NSAID) bekerja untuk mengurangi nyeri dan peradangan dengan menghambat enzim COX. Dengan menghambat COX, NSAID membantu mencegah dan/atau mengurangi nyeri dan peradangan. Penghambatan enzim COX juga bertanggung jawab untuk banyak efek samping NSAID.

Ada berapa jenis NSAID saat ini?

NSAID dapat dibedakan berdasarkan struktur kimianya yaitu turunan salisilat (misal aspirin), turunan asam enolat (misal piroksikam), turunan asam antranilat (misal asam mefenamat), turunan aril propionat (misal ibuprofen), dsb. Namun pembagian ini kurang bermakna secara klinik, sedangkan pembagian berdasarkan selektif atau tidaknya terhadap isoenzim COX ternyata menjadi lebih penting.

Ada dua tipe utama NSAID, nonselektif dan selektif. Istilah nonselektif dan selektif merujuk pada kemampuan NSAID untuk menghambat jenis enzim COX tertentu; tipe utama adalah COX-1 dan COX-2.

  • NSAID non selektif – menghambat enzim COX-1 dan COX-2 pada tingkat yang sama.
  • NSAID selektif – lebih menghambat COX-2 (banyak ditemukan di situs peradangan) dibanding COX-1, jenis yang biasanya ditemukan di lambung, trombosit darah, dan pembuluh darah.
NSAID non selektif

NSAID non selektif termasuk obat-obatan yang umumnya bisa diperoleh tanpa resep, seperti aspirin, ibuprofen, serta banyak NSAID yang harus memerlukan resep. Jenis-jenis NSAID nonselektif dan contoh mereknya di Indonesia tersedia di tabel lampiran di bagian bawah.

NSAID selektif

NSAID selektif (juga disebut COX-2 inhibitor) sama efektifnya dalam mengurangi nyeri dan peradangan dengan NSAID non-selektif dan cenderung tidak menyebabkan cedera gastrointestinal. Celecoxib (Celebrex) adalah NSAID selektif yang tersedia di Indonesia. NSAID selektif lainnya yang dapat ditemukan di luar negeri yaitu etoricoxib (Arcoxia) dan lumiracoxib (Prexige).

NSAID selektif kadang-kadang direkomendasikan untuk orang-orang yang memiliki ulkus peptik, perdarahan gastrointestinal, atau gangguan gastrointestinal ketika mengambil NSAID nonselektif. NSAID selektif memiliki potensi yang lebih rendah untuk menyebabkan ulser atau perdarahan gastrointestinal.

Perhatian terhadap NSAID selektif

Dua NSAID selektif, rofecoxib (nama merek: Vioxx) dan valdecoxib (nama merek: Bextra), ditarik dari pasaran pada tahun 2004 ketika ditemukan bahwa orang yang menggunakan obat-obatan ini memiliki sedikit peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.

Baca: COX-2 selective inhibitor, rofecoxib dan celecoxib

Perhatian terhadap NSAID secara umum

Orang dengan penyakit arteri koroner yang diketahui (misalnya riwayat serangan jantung, angina [nyeri dada karena arteri jantung yang menyempit], riwayat stroke, atau arteri menyempit ke otak) dan orang-orang yang berisiko lebih tinggi harus menghindari menggunakan baik NSAID selektif maupun nonselektif.

NSAID umumnya tidak dianjurkan untuk orang dengan penyakit ginjal, gagal jantung, atau sirosis, atau untuk orang yang menggunakan diuretik. Beberapa pasien yang alergi terhadap aspirin mungkin dapat mengambil NSAID selektif dengan aman, meskipun hal ini harus dibicarakan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan profesional.

Dosis NSAID

NSAID dosis rendah merupakan sediaan yang tersedia untuk NSAID OTC (tidak perlu resep dokter) dan ini  cukup untuk menghilangkan nyeri pada kebanyakan orang.

Jika dosis awal NSAID tidak memperbaiki gejala, dokter dapat merekomendasikan peningkatan dosis secara bertahap atau beralih ke NSAID jenis lainnya. Orang yang memakai satu NSAID tidak boleh mengambil NSAID kedua pada saat yang bersamaan.

Jika dosis rendah NSAID tidak sepenuhnya efektif, dokter mungkin menyarankan penggunaan NSAID dengan dosis lebih tinggi secara teratur selama beberapa minggu untuk meningkatkan manfaat antiinflamasi dari obat-obatan ini.

Apakah efek samping NSAID?

Kebanyakan orang mentoleransi NSAID dengan baik. Namun, efek samping bisa saja tetap terjadi. Efek samping yang paling penting sebagai berikut:

  • Sistem kardiovaskular – Tekanan darah mungkin meningkat dengan penggunaan NSAID. Pengendalian hipertensi dengan suatu obat antihipertensi dapat terpengaruh oleh penambahan NSAID selektif atau non selektif.
  • Sistem gastrointestinal – Penggunaan NSAID jangka pendek dapat menyebabkan sakit perut (dispepsia). Penggunaan NSAID jangka panjang, terutama pada dosis tinggi, dapat menyebabkan penyakit ulkus peptikum dan perdarahan pada lambung.
  • Toksisitas hati – Penggunaan NSAID jangka panjang, terutama pada dosis tinggi dapat membahayakan hati, namun jarang terjadi. Pemantauan fungsi hati dengan tes darah mungkin disarankan dalam beberapa kasus.
  • Toksisitas ginjal – Penggunaan NSAID, bahkan untuk waktu yang singkat, dapat membahayakan ginjal. Hal ini terutama terjadi pada orang dengan penyakit ginjal. Tekanan darah dan fungsi ginjal harus dipantau setidaknya sekali per tahun tetapi mungkin perlu diperiksa lebih sering, tergantung pada kondisi medis seseorang.
  • Bising di telinga – Bising di telinga (tinnitus) sering terjadi pada orang yang menggunakan aspirin dosis tinggi, meskipun hal ini sangat jarang terjadi pada orang yang menggunakan NSAID lainnya. Bising biasanya hilang ketika dosisnya diturunkan.

Apakah NSAID aman untuk semua orang?

Jawabannya tidak. Orang dengan kondisi medis tertentu harus menghindari NSAID atau menggunakannya dengan hati-hati. Orang-orang dengan beberapa masalah medis dan mereka yang memakai berbagai macam obat mengalami peningkatan risiko komplikasi yang terkait dengan NSAID. Potensi komplikasi NSAID mencakup hal-hal berikut:

Hipertensi

Seperti disebutkan di atas, penambahan NSAID selektif atau non selektif terhadap obat-obatan yang diambil oleh seseorang untuk mengontrol hipertensi dapat menyebabkan hilangnya kontrol tekanan darah.

Jika NSAID diperlukan, obat harus digunakan pada dosis efektif terendah dan untuk durasi terpendek yang diperlukan untuk indikasi yang diberikan. Jika diperlukan penggunaan NSAID jangka panjang, mungkin diperlukan perubahan dalam obat tekanan darah.

Penyakit kardiovaskular

Siapa pun yang berisiko atau yang memiliki penyakit kardiovaskular (penyakit arteri koroner) mungkin memiliki peningkatan lebih lanjut dalam risiko serangan jantung saat mengambil NSAID. Hal ini termasuk orang-orang yang pernah mengalami serangan jantung, angina (nyeri dada karena arteri menyempit di jantung), prosedur untuk memperlebar arteri tersumbat, stroke, atau arteri menyempit ke otak.

Akibatnya, orang yang memiliki atau yang berisiko tinggi untuk penyakit arteri koroner umumnya disarankan untuk menghindari NSAID atau, jika itu tidak mungkin, untuk mengambil NSAID dosis serendah mungkin untuk waktu sesingkat mungkin.

Meskipun aspirin adalah NSAID, rekomendasi untuk menghindari atau membatasi penggunaan NSAID TIDAK berlaku untuk orang yang telah disarankan untuk mengonsumsi aspirin dosis rendah untuk mengobati atau mencegah serangan jantung atau stroke. Namun, penggunaan setiap dosis aspirin plus NSAID dikaitkan dengan peningkatan risiko perdarahan.

Ada juga peningkatan risiko perdarahan ketika NSAID digunakan pada pasien yang memakai obat lain yang mengurangi pembekuan darah, seperti antikoagulan (misalnya, warfarin) atau agen antiplatelet (misalnya, clopidogrel). Ada juga beberapa kekhawatiran bahwa NSAID nonselektif dapat mengurangi manfaat kardiovaskular aspirin dosis rendah.

Penyakit ulkus

Mereka yang pernah mengalami sakit lambung atau usus dapat mengalami peningkatan risiko ulkus lainnya ketika menggunakan NSAID. Orang yang dirawat karena ulkus harus berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional tentang keamanan mengambil NSAID atau obat yang mengandung aspirin. Orang-orang yang berusia di atas 65 tahun memiliki peningkatan risiko mengembangkan ulser saat mengonsumsi NSAID.

Bagaimana mengurangi risiko ulkus? Risiko mengembangkan ulkus dapat dikurangi dengan mengambil obat anti-ulkus. Agen anti-ulkus yang mengurangi kerusakan gastrointestinal dari NSAID meliputi:

  • H2 bloker dosis tinggi seperti famotidine, ranitidine
  • proton pump inhibitor (PPI) dosis biasa seperti omeprazole atau lansoprazole.

Obat-obat tersebut dapat mengurangi risiko terkena maag (terkait dengan penggunaan NSAID).

Perdarahan

Orang-orang yang mengalami perdarahan pada lambung, usus bagian atas, atau kerongkongan memiliki peningkatan risiko perdarahan berulang saat mengonsumsi NSAID.

Orang dengan gangguan trombosit seperti penyakit von Willebrand, fungsi platelet abnormal dari uremia, dan jumlah trombosit yang rendah (trombositopenia) disarankan untuk menghindari NSAID.

Bagaimana hukum menggunakan NSAID sebelum operasi?

Kebanyakan dokter menyarankan menghentikan semua NSAID sekitar satu minggu sebelum operasi elektif untuk mengurangi risiko perdarahan yang berlebihan. Hal ini biasanya termasuk aspirin, ibuprofen, naproxen, dan sebagian besar NSAID yang diresepkan. Instruksi khusus mengenai NSAID dan operasi harus didiskusikan dengan dokter bedah dan dengan dokter yang meresepkan NSAID.

Bagaimana interaksi NSAID dengan obat lainnya?

  • Warfarin dan heparin – Orang yang menggunakan obat antikoagulan seperti warfarin (nama merek: Coumadin, Jantoven) dan heparin; antikoagulan yang lebih baru seperti dabigatran (nama merek: Pradaxa), rivaroxaban (nama merek: Xarelto), apixaban (nama merek: Eliquis) atau edoxaban (nama merek: Savaysa); atau obat anti-platelet seperti clopidogrel (nama merek: Plavix), umumnya tidak boleh menggunakan NSAID atau aspirin karena peningkatan risiko perdarahan ketika kedua kelas obat digunakan bersamaan. Celecoxib mungkin aman dalam hal ini, tetapi harus digunakan dengan hati-hati dan di bawah pantauan dokter.
  • Aspirin – Seperti disebutkan di atas, kombinasi aspirin dosis rendah dan NSAID dapat meningkatkan risiko perdarahan. Untuk menjaga manfaat aspirin dosis rendah untuk jantung, aspirin harus diminum setidaknya dua jam sebelum NSAID.
  • Fenitoin (obat ayan) – Mengambil NSAID dan fenitoin (nama merek: Dilantin, Phenytek) dapat meningkatkan kadar fenitoin. Akibatnya, orang yang memakai fenitorin harus melakukan tes darah untuk memantau kadar fenitoin ketika memulai atau meningkatkan dosis NSAID.
  • Siklosporin (obat penekan sistem imun) – Orang yang memakai siklosporin (misalnya, untuk mencegah penolakan setelah cangkok/transplantasi organ atau untuk penyakit rematik seperti rheumatoid arthritis) harus berhati-hati saat mengambil NSAID. Ada risiko teoretis kerusakan ginjal ketika siklosporin dan NSAID diambil bersama. Untuk memantau komplikasi ini, tes darah mungkin disarankan.
  • Orang yang memakai satu NSAID tidak boleh mengambil NSAID kedua pada saat yang bersamaan karena meningkatnya risiko efek samping.
  • Obat diuretik – Orang dengan kondisi medis yang memerlukan diuretik, termasuk gagal jantung, penyakit hati, dan kerusakan ginjal, berada pada peningkatan risiko mengembangkan kerusakan ginjal saat mengambil NSAID nonselektif (misalnya, ibuprofen) serta NSAID selektif (misalnya, celecoxib [Celebrex]).

Siapa saja yang tidak direkomendasikan menggunakan NSAID?

Orang dengan penyakit ginjal

NSAID dapat memperburuk fungsi ginjal pada orang yang ginjalnya tidak berfungsi normal. Kebanyakan orang dengan penyakit ginjal kronis disarankan untuk menghindari semua jenis NSAID.

Alergi aspirin

Orang yang memiliki gatal-gatal (urtikaria) atau gejala lain dari alergi terhadap aspirin umumnya harus menghindari NSAID, kecuali sudah berdiskusi secara khusus dengan tenaga kesehatan profesional.

Orang-orang dengan tipe reaksi tertentu pada satu NSAID mungkin dapat mengambil NSAID lain dengan aman. Bisa juga berkonsultasi dengan spesialis alergi yang memiliki pengalaman dengan reaksi alergi terhadap NSAID.

Aspirin dan NSAID lainnya juga dapat menyebabkan perburukan asma dan gejala terkait pada beberapa orang dengan kondisi ini. Ini bukanlah alergi sejati tetapi bisa menjadi masalah penting bagi sebagian orang, yang mungkin perlu menghindari obat-obatan ini jika ini terjadi.

Baca: Apakah Aspirin-exacerbated respiratory disease (AERD)?

Celecoxib mungkin menjadi alternatif yang aman untuk aspirin pada orang-orang seperti itu, tetapi harus digunakan dengan hati-hati di bawah pengawasan seorang dokter.

Kehamilan dan menyusui

NSAID umumnya tidak dianjurkan untuk wanita hamil selama trimester ketiga karena peningkatan risiko komplikasi pada bayi baru lahir. NSAID aman digunakan selama menyusui.

Apa yang terjadi jika saya menggunakan NSAID lebih dari dosis yang disarankan (overdosis)?

Mengambil lebih dari dosis yang dianjurkan dari NSAID mungkin tidak menyebabkan masalah serius. Tapi itu bisa membuat efek samping lebih mungkin tanpa banyak membantu gejala Anda. Di sisi lain, terlalu banyak mengonsumsi aspirin atau jenis antinyeri lain seperti parasetamol/acetaminophen (contoh nama merek: Panadol) bisa berbahaya atau bahkan menyebabkan kematian.

Apa sajakah jenis anti-inflamasi nonsteroid nonselektif?

Golongan salisilat, contoh: asetosal atau aspirin

Semua jenis obat ini bersifat sangat asam sehingga harus dihindari oleh penderita yang mempunyai gangguan di lambung dan usus (dispesia, maag/gastritis, tukak petik/ulkus). Ke-asamannya sangat tinggi akan memicu bahkan memperparah gangguan di lambung dan usus tersebut.

Perhatian khusus: penderita asma jangan diberi obat golongan salisilat. Mengapa? Karena semua jenis golongan salisilat menyebabkan penyempitan bronkus (asma) sebagai akibat cara golongan ini dalam menghambat COX sehingga leukotrien terbentuk. Leukotrien ini adalah senyawa yang menyempitkan brokus (bronko-konstriksi) sehingga meyulitkan pernapasan.

Efek samping yang paling sering terjadi berupa iritasi mukosa lambung dengan risiko tukak lambung dan perdarahan samar. Selain itu juga, asetosal menimbulkan efek spesifik, seperti reaksi alergi kulit dan telinga berdering/bising (tinnitus). Efek yang lebih serius adalah kejang-kejang bronkus hebat, yang pada pasien asma dapat menimbulkan serangan, walaupun dalam dosis rendah. Hal ini dinamakan penyakit pernafasan diperburuk oleh aspirin (Aspirin-exacerbated respiratory disease, AERD), bisa dibaca di link.

Anak-anak kecil yang menderita cacar air atau flu/selesma sebaiknya jangan diberikan asetosal (melainkan parasetamol) karena beresiko terkena Sindroma Rye yang berbahaya. Sindroma ini bercirikan muntah hebat, termangu-mangu, gangguan pernapasan, konvulsi dan adakalanya koma.

Wanita hamil tidak dianjurkan menggunakan asetosal dalam dosis tinggi terutama pada triwulan terakhir dan sebelum persalinan karena lama kehamilan dan persalinan dapat diperpanjang juga kecenderungan perdarahan meningkat.

 

Asam mefenamat

Sudah dibahas lengkap di posting ini, misal merek: Mefinal, Ponstan

Diklofenak

Sudah dibahas lengkap di posting ini, misal merek: Cataflam dan Voltaren

Fenilbutazon

Tidak dipasarkan lagi karena efek sampingnya besar.

Propifenazon

Propifenazon merupakan turunan fenazon dengan daya analgesik dan antipiretik yang sama. Beberapa negara melarang penggunaan obat ini karena terkait efek samping. Negara-negara tersebut yaitu Srilanka, Malaysia, Thailand, Turki.

Ibuprofen

Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan pertama kali di banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek anti inflamasinya terlihat dengan dosis 1200-2400 mg sehari.

Baca: Kenali obat Anda lebih mendalam: Ibuprofen

Lampiran: nama generik NSAID dan contoh obat di pasaran

Zat aktif Golongan Merk
Asetosal, natrium salisilat, kolin magnesium trisalisilat, salsalat, diflunisal, sulfasalazin, olsalazin Turunan asam salisilat Asetosal (OG), Aspirin, Aspilet, Puyer 16, Naspro
Piroksikam, meloksikam Asam enolat Piroksikam (OG), Feldene, Mevicox (mekoksikam)
Asam mefenamat, asam meklofenamat Asam antranilat (fenamat) Asam mefenamat, Ponstan, Mefinal
Ibuprofen, naproksen, flurbiprofen, ketoprofen, fenoprofen, oksaprozin Asam arilpropionat Ibuprofen (OG), Proris (Pharos)
Na diklofenak, K diklofenak, tolmetin, ketorolak, tinoridine Asam asetat heteroaril Na-diklofenak (OG), Cataflam (berisi K diklofenak, Novartis), Nonflamin (berisi toniridine, Takeda), Voltaren (berisi Na diklofenak, Novartis), Voltadex (berisi Na diklofenak, Dexa Medica)
Propifenazon Paramex
Antalgin dan tramadol Antalgin (gol Dypyron); tramadol (semi-narkotik) Neuralgin, Tramadol (OG), Tramal
Indometasin, sulindak Asam asetat indol dan inden
Coxib Rofecoxib (gol furanon tersubstitusi diaril); celecoxib (gol pirazol tersubstitusi diaril) Viox (ditarik dari pasar), Celebrex
Etodolak dan nimesulid Etodolak (gol asam asetat indol), nimesulid (gol sulfonanilid)

Referensi

Image: https://www.medicinehow.com/nsaids/

Advertisements

7 thoughts on “Obat-obat anti-inflamasi nonsteroid, NSAID

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s