Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

SOHO: Menanjak Naik di Posisi 3

6 Comments


peringkat farmasi

Tentu Anda masih ingat gambar ini bukan? Ya peringkat Farmasi yang ada di Sampurno (2007) tentang peringkat industri farmasi di Indonesia. Coba perhatikan lompatan SOHO. Dari peringkat “remeh temeh”, melambung ke peringkat 7 dan sekarang menggeser Dexa Medica di posisi 3.  Lompatan-lompatan besar apa yang dilakukan perusahaan beromset Rp 1,2 triliun ini?

SOHO Group, perusahaan yang didirikan sejak  November 1946 berupaya untuk mengembangkan  sumber daya manusia menjadi human capital. SOHO Group yang terdiri dari PT Ethica, PT Soho Industri Pharmasi , dan PT Parit Padang (distributor/PBF).

Menurut  riset Majalah SWA pada 2008, selama 2002-2008 SOHO Group menempati posisi 15 besar perusahaan farmasi di Indonesia. Pada 2003 SOHO menempati posisi 13 perusahaan farmasi, pada 2004 posisi peringkat 11, dan 2007 posisi SOHO naik ke peringkat 6, dan kuartal ketiga 2008, mencapai posisi ketiga (SWA mengutip data itu dari IMS, perusahaan riset independen yang khusus melakukan riset di industri farmasi).

Implementasi Balance Score Card (BSC)

SOHO sangat serius mengembangkan SDM baik dalam masing-masing individu maupun lingkungan kerja. Tidak tanggung-tanggung, SOHO menjalin kerja sama dengan Palladium Group dan Monash University untuk membangun sumber daya manusia perusahaan. Palladium Group adalah konsultan strategi manajemen yang ditunjuk SOHO untuk membantu implementasi BSC, metode strategi yang manajemen yang dibuat Profesor Kaplan dan Profesor Norton dari Harvard University Amerika Serikat. Sedangkan Monash University dikenal dengan kualitas pendidikannya yang masuk dalam 50 pendidikan tinggi terkemuka di dunia.

Soal keberhasilan Soho, mereka selalu mengatakan, perusahaan yang mereka pimpin memang menyimpan bakat besar untuk tumbuh, berkembang dan siap menghadapi keadaan tersulit. Dan itu, ditandaskan Andreas, bukan karena kehebatan jajaran direksinya, melainkan karena didukung budaya perusahaan yang kuat, mudah dicerna dan diterapkan oleh para karyawannya. Misalnya, pentingnya kerja keras, hemat, pantang menyerah, dan selalu terbuka terhadap hal-hal baru. Selain itu, entitas bisnis ini juga memiliki tradisi entrepreneurship yang kuat, bukan cuma pemiliknya, tapi juga pada diri karyawannya.

Terdengar basa-basi, memang. Namun, fakta bahwa perusahaan ini telah teruji tetap eksis selama puluhan tahun, bahkan belakangan berkembang amat pesat, kata-kata itu ada benarnya juga. Perusahaan ini didirikan oleh Tan Tjhoen Lim sejak 1946 dan mampu melewati masa berat perekonomian dan bisnis di negeri ini. Masa sulit dihadapi pula oleh Tan Eng Liang, generasi kedua yang menerima estafet perusahaan pada 1997, ketika berkecamuk krisis kawasan.

Di tengah deraan krisis, Tan Junior pun bergerak cepat. Ia bertekad, meskipun situasi amat berat, Grup Soho tak boleh berpuas diri dengan hanya mampu bertahan, melainkan harus tumbuh dan melakukan lompatan besar. Sarjana fisika lulusan Jerman ini kemudian merekrut para profesional yang tak sekadar pintar, tapi yang lebih penting lagi adalah memiliki visi dan nilai-nilai yang sama dengan yang dianut dirinya dan perusahaannya. Ya itu tadi: kerja keras, hemat, pantang menyerah, serta terbuka terhadap perkembangan baru di dunia bisnis dan manajemen ataupun teknologi. Tan memang selalu menyebut dua hal paling penting untuk membangun bisnis: sumber daya manusia dan informasi.

Di tingkat operasional, visi itu dijabarkan dengan menggalakkan budaya hemat dan konservatif dalam setiap uang yang dikeluarkan perusahaan (1997-1998). Namun, untuk hal yang krusial, ia tak mau main-main. Misalnya, ketika perusahaan lain di negeri ini kala itu masih mikir-mikir untuk menerapkan teknologi informasi (TI), Tan Eng Lian justru tak mau setengah-setengah dalam penerapan TI di kelompok usahanya. Dengan landasan itulah, Soho kemudian melakukan lompatan besar. Yakni, menjadi pionir di industri farmasi yang menggunakan bahan baku alami (herbal) seperti temulawak, daun jambu biji, dan lainnya. Hebatnya lagi, Soho berhasil meyakinkan produk-produk herbal ini kepada para dokter. Bersamaan dengan itu, Soho mulai terjun di bisnis obat bebas (over the counter/OTC) dengan meluncurkan produk konsumen dengan merek-merek yang belakangan sukses besar di pasar seperti Curcuma Plus, Diapet, Fitkom, dan Lelap. Lompatan selanjutnya, sejak 2005, Soho menerapkan Balance Scorecard dalam sistem manajemen perusahaan

Tan Eng Liang dan Andreas paling sering mengungkapkan, SDM adalah segala-galanya bagi Soho. Dan hal itu diterjemahkan dengan cara yang simpel tapi menyenangkan. Untuk membangkitkan motivasi, misalnya, perusahaan mengajak para karyawan jalan-jalan ke Bali. Belum lama ini, perusahaan malah membagi-bagikan duit Rp 1 juta kepada seluruh karyawan, mulai dari presdir hingga tukang sapu.

Kepercayaannya yang begitu besar atas potensi karyawan juga diungkapkan melalui lomba membuat merek produk. Merek-merek yang kini berkibar di pasar – seperti Diapet, Lelap dan Fitkom – semuanya dijaring dari ajang ini. Jadi, merek-merek hebat tersebut adalah murni ciptaan karyawan Soho sendiri, bukan pesan kepada konsultan atau ahli merek.

Melihat rekam jejak perusahaan ini dan kultur yang dibangunnya selama puluhan tahun, “mimpi” pemiliknya bahwa untuk lima tahun ke depan Soho ditargetkan mampu membukukan omset Rp 10 triliun, tampaknya bukan hal yang mustahil untuk dicapai. Sebab, mengacu pada pemikiran Jim Collins, penulis buku legendaris Built to Last dan Good to Great, Grup Soho memiliki karakteristik perusahaan hebat yang berhasil menundukkan berbagai tantangan zaman yang dilewatinya.

Menurut Coolins, di tengah krisis dan masa tersulit, perusahaan yang dikategorikan hebat (great) tetap memiliki nilai-nilai yang kuat, talenta-talenta terbaik, serta ditopang orang-orang yang memandang posisi di perusahaannya sebagai tanggung jawab, bukan sebagai pekerjaan. Karakteristik seperti inilah, yang paling tidak, cukup terlihat di Soho.

Refrensi:

SWA majalah

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

6 thoughts on “SOHO: Menanjak Naik di Posisi 3

  1. Up date kabar terbaru ttg soho dong..
    Gimana setelah joint venture? Kabarnya bagi2 doku 1 jt mau dihapus?

  2. yang paling unik itu sanbe farma…human resources/sdm buruk tapi juara di obat resep…one man show dari owner sanbe sangat kuat…sdm hanya dijadikan tukang pos…

  3. emang bener ape yang di bilang di sini…? di sini di bilang yang muluk2!!!!!! knp mereka bisa sehebat itu…????????? krn mereka KOLUSI DGN PARA DOKTER!!!!!!! itu yang gue tau dari temen gue yang ada di sono begitu katanye!!! itu yang menyebabkan harga obat tinggi!!!!!!!!!! mereka bisa kasih jutaann ke para dokter!!! mana itu tanggung jawab dokter2 yang gak punye nurani, kasih pasien obat yang mahal!!!! biar bisa seneng jalan2 ke luar negeri!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  4. mas, punya link tentang laporan keuangan soho group gak? tq mas

  5. great mr tang..

  6. i agree with Mr Tan Eng Liang and Mr Andreas, human resources’s everything..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s