Moko Apt

Menebar Ilmu Pengetahuan

PERJALANAN MENUJU APOTEKER: SEGUDANG CERITA PKP DI APOTEK UGM

1 Comment


Kami, 18 orang calon apoteker dengan pasukan 3 tim telah mengarungi samudra nan biru di Apotek UGM. Banyak cerita, ya tentunya. Ada cerita sedih, gembira, asmara, BETE, biasa aja, dsb. Gak sabar pengen tahu misterinya, mari kita kupas satu-satu ! Pertama, akan saya ceritakan tiap personel dari anggota tim kami. Terutama temen 1 shift karena sering interaksi selama 30 hari kemarin.

Winda

Terkenal dengan sikapnya yang rajin dan cekatan. Karena S-1 nya dari FKK so lebih banyak menguasai obat-obatan dan farmakologi. Winda lebih banyak berperan pada hal administratif dan masalah kelompok. Misal: menghubungi Mb Meti, membuat dan meng-kopi jadwal untuk kita semua dll. Winda baik, tidak sombong dan sering membantu saya terutama di pos 3, dia suka ngambilin obat sesuai isi resep.

Seva

Cenderung gak banyak bicara, tapi banyak kerja. Tapi kalo lagi BETE, ternyata anak ini bisa “keluar” juga omongannya. Dan ternyata seru juga. Inget bener pas di sebel ma salah satu “reseptir”. Kemudian dia curhat dan ternyata seru juga !!

Novika

MENKET !! itu adalah bahasa khas dari Novika, yang artinya : Mana Ke tehe (mana ku tau?). Lebih mudah berkata-kata {baca: cerewet), suka cerita panjang lebar, tentang kuliahnya yang di S1 UMS, tentang Malang kota asalnya, tentang teman-temannya yang tidak aku kenal (hingga kadang2 aku serasa minum CTM ato Otede sekalian) ketika mendengar ceritanya. He… Novika  sering cerita tentang Mbak Ambar yang “baik hati, ramah, dan tidak sombong”.

En_Ha

Kirain orangnya kalem, ternyata rame juga. Suka berdiskusi masalah web, IT dsb. Juga suka godain dan ketawa-ketawa ketika aku lagi nyerahin obat ke pasien.

Ibna

Gadis dari Kebumen ini low profile bgt. Tidak sombong dan “manut” kalo dimintai tolong. Jadi enjoy kerja sama ma temen-temen semua.

Setelah tau gimana gambaran personel-nya, sekarang saatnya cerita tentang perjalanan kita, hari-hari menyenangkan di Apotek UGM !! Bertemu banyak orang dengan berbagai karakter. Demikian petikan beritanya.

Mbak Ambar

Hari pertama di Administrasi. Masuklah ke ruangan bu Ambar. Kok sepi, kayak nama penyanyi yang lagu Lupa-Lupa Ingat. Diserahinlah aku tugas ngurutin faktur, dicocokin ma nama PBF, masukin Bantex berjudul APRIL.

Ok tugas selesai. Terus, kan hari pertama masih semangat 45. Pengennya nanya-nanya banyak, sesuai silabus yang dikasih ma Mbak Meti, bahwa di Pos Administrasi kerjaannya kayak gini, kayak gitu.

“Mbak, boleh tanya tentang system konsinyasi mbak?”

Konsinyasi artinya titipan.

Kemudian sms temen yang sudah pernah PKL di apotek. Dia membalas dengan kurang lebih seperti ini :

“Mbak-nya emang gitu, kita semua dulu jug dicuekin. Mending kamu tanya aja ma Mbak-nya, ada yang bisa dibantu lagi gak? Kalo gak ada minta izin aja, bantuin ke pos laen. Semangat ya !.

Dengan keadaan demikian, akhirnya semangat untuk nanya2 lebih dalem tentang Admnistrasi kandas sudah. Tiga hari berturut-turut selalu bersama Mbak Ambar terus.  Tapi seru sih jadi hapal nama-nama PBF: Parit padang, AAM, Tegalrejo, Kebayoran, dsb.

Bu Bondan

Wah ibu ini sungguh berwibawa, saking berwibawanya kadang malah sampe takut. Ibu yang disiplin, ibu yang selalu memakai jas Apoteker warna kuning gading ketika tampil di depan. Pas diskusi baru tahu fakta-fakta kejadian Apotek di Jogja, bahwa emang beda kondisi antara teori dan praktek sehari-hari. Jadi kata kunciny adalah “LEGE artis”. Pernah suatu saat jaga shift malam, aku nyari obat tapi gak ketemu2. kayaknya Bu Bondan gemes gitu, ni anak nyari obat gini aja kok gak ketemu-ketemu.

Waktu aku jaga di pos pelayanan resep, ibu Bondan ada aja kerjaanya. Misal buang kardus dobel yang 1 obatnya mau habis, atau menata-nata susunan obat biar tampak rapi. Walau sebenarnya ibu Bondan cuma numpang lewat di ruang resep, tapi disempatkan untuk mampir bentar dan membenahi susunan obat. Wah, patut di tiru nih.

Bu Mastiah

Ibu yang bijaksana, masih ingat aku ketika beliau sampling mas-mas PKL untuk bikin copy-resep bisa ato gak. Ya kok kebetulan aku yang ditarik, dan pas aku gak bisa. “Wah, pas bgt. Padahal aku tadi cuma asal comot, ternyata kamu gak bisa tho mas?” Wah, sejak itu aku diajarin bikin copy resep ma Sundari dan mbak Sofi. Untuk hari berikutnya, langsung bilang “Sini, aku aja yang bikin copy-resepnya”. He,,,

Mbak Ziah

Mbak Ziah sedikit bicara, tapi banyak bekerja. Justru dari situ kadang2 agak canggung juga mau ngobrol. Serius bgt bawannya. Aku pernah di diskon beli Ades air minum, walo 100 rupiah ..krik..krik..

Mbak Meti

Mbak yang satu ini sabar dan menyenangkan, murah senyum dan suka ngajari cara nyerahin obat. Tapi kalo sms, singkat2. Misal: Mbak, jaga sift kapan mbak? Jawab: Pagi. Mbak, tgl 30 abis pos test kita jaga gak mba? Jawab: Jaga

Pak Yanto dan Pak Yon

Mungkin temen2 yang laen sudah banyak sekali yang bahas pak Yon. Jadi aku mau bahas pak Yanto aja ah. Pak Yanto bertolak belakang ma Pak Yon, maksudnya masalah keramahannya. Bapak yang satu ini friendly, bisa buat becandaan, ngasih tau dengan nada gak “sok ngajari”, jadi kita open-open aja. Mungkin bapak satunya, yang demen bener ma sinetron “Melati Untuk Marvell” perlu diikutkan training Public speaking kali.

Mungkin ini sedikit pengalaman berinteraksi dengan orang-orang di Apotek UGM, yang bisa menjadi cerita menuju Apoteker 2009.

Author: admin

menebar ilmu pengetahuan

One thought on “PERJALANAN MENUJU APOTEKER: SEGUDANG CERITA PKP DI APOTEK UGM

  1. bapak ternyata pkpa di apotek ugm juga?? hahahay,, sama pakk.. mantapp

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s