Masuk Ramai-Ramai, Mati Ramai-Ramai?

Kamis, 23 Februari 2006
Oleh : Simon Jonatan

Sudah lama sektor consumer goods selalu diwarnai ingar-bingar produk baru yang dikembangkan karena tren yang berlangsung pada suatu saat. Anda pasti ingat, tahun 2003 ada produk seperti air minum dalam kemasan (AMDK) seharga Rp 10 ribu/botol memosisikan dirinya sebagai “Air Beroksigen dengan Teknologi Jerman, Berkhasiat Menyegarkan Tubuh dan Menyehatkan”. Waktu itu, saya menanyakan kepada Pak Willy Sidharta (Aqua), apakah air beroksigen itu benar bermanfaat, dia menjawab, “Oksigen tidak diserap tubuh oleh pencernaan, tapi oleh paru-paru. Coba minum AMDK dalam kemasan 2 X 600 ml per hari secara rutin, pastilah hasilnya sama dengan AMDK beroksigen 2 X 600 ml per hari.”

Toh, minuman AMDK beroksigen menjadi tren dan hampir semua pengusaha mencoba keberuntungannya di produk ini, kecuali Grup Aqua, Club, AdeS dan 2 Tang. Sebut saja, O2, OxyFine, Cleo, Air Ox, Hi O2 dan Hexagonal. Mereka memasuki pasar pada saat yang bersamaan, dengan kemasan PET yang mirip (warna biru, kecuali Cleo), merek mirip dan harga yang mirip juga. Apa yang terjadi? Saya kira sekarang semua kehabisan napas dan meredup. Kini, tren air oksigen hilang hampir tak berbekas.

Tren sekarang adalah minuman isotonik. Sebut saja, ProSweat (Grup Orang Tua), Powerade Isotonik (Coca-Cola), Kino Sweat (Grup Kino), Vitozone (Mayora), MiZone (Grup Aqua), Optima Sweat (Grup Sinar Mas), X-Ion (Dankos) dan Hi Calcium Isotonik (PT Modern Food). Mereka semua masuk pada saat yang sama, warna yang sama (biru), merek yang sama dengan “Isotonik” atau “Sweat” (kecuali Vitozone, MiZone dan X-Ion), klaim yang sama: pengganti cairan tubuh dan pengganti ion (kecuali X-Ion dengan pengusir capai dan MiZone dengan konsentrasi 100%), dan harga yang mirip. Pasar isotonik/sweat menjadi menarik karena hampir semua pemain besar ikut bertarung di pasar.

Lalu, tren yang tak kalah heboh adalah pasar teh hijau. Sebut saja, Green-t (Sosro), Zestea (Grup 2 Tang), NU Tea (dari President Group Taiwan), Green Tea (dari Pokka) dan Yeofs, juga beberapa produk dari perusahaan kecil lain. Semua produk ini menawarkan teh hijau yang warna kemasannya semua hijau.

Pertanyaannya, apakah produk-produk baru yang mengikuti tren tersebut bakal bertahan atau mengalami hal yang sama dengan air oksigen? Agak susah menjawabnya. Yang jelas, meluncurkan produk baru memang menjadi idaman setiap pemasar dan pemain bisnis. Peluncuran selalu dianggap sumber pertumbuhan perusahaan.

Masalahnya, produk/bidang apa yang akan dimasuki. Dari pengalaman saya menjadi pelaku pemasaran, beberapa hal harus diperhatikan. Pertama, janganlah terpaku melihat tren bisnis yang sedang ramai, karena Anda pasti akan ketinggalan kereta. Biasanya, setiap tren produk selalu ada masa start, tumbuh, matang dan turun. Jadi, kalau sekarang sedang tumbuh, tren berikutnya pasti segera matang, dan kemudian turun. Lain halnya pemain besar dengan napas panjang; masa perjalanan hidup mereka biasanya lebih panjang pula.

Kedua, kita harus melihat tren masa depan, seperti orang berselancar. Kalau Anda ada di atas ombak, Anda tengah riding the wave. Bila sebaliknya, Anda ditelan ombak. Sehingga, mengherankan ketika Unilever masuk ke pasar obat nyamuk bakar Domestos No Mos dengan dana gila-gilaan untuk berperang melawan Tiga Roda. Pasalnya, pasar sudah masuk area senja (turun).

Ketiga, memperhatikan pergerakan pasar di luar negeri. Misalnya, melihat produk apa yang sedang bergerak naik tapi belum sampai di Indonesia. Dulu Lipovitan dari Taiso menguasai Jepang. Sekarang kategori minuman energi di sana sudah digantikan C-1000 dari Takeda, yang tengah dipromosikan besar-besaran oleh partner Takeda di Indonesia, Asia Perdana Sejahtera, yang juga pemegang lisensi Red Bull/Krating Daeng. Satu hal menarik, tren di Jepang juga terjadi di Korea. Dulu, produk nomor 1 di Negeri Ginseng adalah Bacchusdi, sekarang Vita 500, yang konon melejit sampai 40 juta botol/bulan, padahal penduduk Korea hanya 50 juta jiwa.

Keempat, masuk ke puncak tren pada waktu yang tepat. Sejujurnya, tidak ada istilah tepat waktu untuk peluncuran bisnis dan produk. Yang ada adalah tepat strategi. Tidak ada kata “pertama di pasar” dalam peluncuran, yang ada adalah “pertama di benak”. Tidak ada kata “tren” dalam peluncuran, yang ada adalah “proposisi penjualan yang unik”.

CEO Brandmaker.

URL : http://www.swa.co.id/swamajalah/tren/details.php?cid=1&id=3997

  1. Sejujurnya, tidak ada istilah tepat waktu untuk peluncuran bisnis dan produk. Yang ada adalah tepat strategi. Tidak ada kata “pertama di pasar” dalam peluncuran, yang ada adalah “pertama di benak”. Tidak ada kata “tren” dalam peluncuran, yang ada adalah “proposisi penjualan yang unik”.

    keren hasil kesimpulan – nya ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers

%d bloggers like this: