Jejak MedRep Memasarkan Product Ethical


Anda tentunya udah gak asing lagi dengan profesi yang satu ini. Tapi gak tau juga, tepat gak sih kalo disebut sebagai profesi. Cos kata dosenku, bisa dikatakan sebagai profesi kalo dalam menjalankan tugas diperlukan pendidikan terlebih dahulu, perlu kuliah dulu, dan tentunya ikut program profesi dulu. Ya kayak dokter, apoteker, dokter gigi, drh, akuntan, dsb.

Oya, balik lagi ke medrep. Medrep merupakan barisan paling penting dalam marketing dari perusahaan terutama untuk memasarkan produk ethical. Kan tau sendiri kalo obat ethical kan gak boleh promosi di TV atau koran-koran layaknya produk OTC. Jadi, fungsi medrep sesungguhnya sebagai agen penjualan obat ethical kepada target pasar, yakni DOKTER. Tugas mereka jelas, memperkenalkan produk baik dari sisi fungsi, manfaat, keunggulan (maupun efek samping ? – jika ditanya).

Namun, peran mereka rupanya dari waktu ke waktu makin bergeser. Tidak lagi sekedar agen obat, melainkan juga fasilitator untuk banyak kepentingan, baik dari sisi dokter/rumah sakit maupun dari sisi perusahaan farmasi. Mereka bekerja untuk mempertemukan dua kepentingan yang sama: kata majalah SWA, apakah itu? FULUS.

Gosip yang berkembang, telah terjadi kongkalikong antara perusahaan farmasi dengan oknum dokter. Iming-iming bisa mulai dari uang tunai, rumah, mobil, laptop, keliling dunia, hingga nafsu…….. Katanya sih gitu. Terus, bentuk promosi dan strategi pemasaran obat ethical bisa dimulai dari yang halus/sopan hingga yang vulgar.

Biasanya, cara yang dilakukan untuk rumah sakit cukup halus, yakni berupa keterlibatan pensponsoran seminar, ulang tahun rumah sakit, dan sebagainya. Perusahaan farmasi bersedia memberikan sejumlah dana, tapi rumah sakit diminta memakai produk dari perusahaan yang menyumbang.

Praktik yang dijalankan medrep seolah-olah sangat wajar. Misalnya, memperkenalkan produk dengan membawa makanan kecil, map-map, bulpen-bulpen dsb ke apotek atau rumah sakit, bisa juga makan siang (ini disebut sebagai entertaint). Perkenalan diteruskan dengan bincang-bincang intens menyangkut hobi dan kesukaan. Tidak ketinggalan, meminta apotek membeli obat yang direkomendasikan dengan iming-iming diskon, atau bahkan menjanjikan setengah penjualan obat itu untuk apotek.

Ini ada potongan artikel menarik yang saya cuplik dari SWA.

Setiap langkah medrep pasti berbau fulus. Seorang dokter spesialis dari Tangerang, mengatakan, medrep sekarang makin terus terang, bergerak cepat dan langsung to the point. “Mereka tanpa ragu-ragu minta ‘bantuan’ kami,” cerita sang dokter.

Namun hebatnya, bukan berarti mereka datang tanpa data. Biasanya medrep sudah mengantongi data lengkap pasien yang berkunjung ke dokter, tempat praktik, dan informasi tentang keluarga. “Diam-diam mereka mengamati saya,” imbuh sang dokter.

Bagi dokter yang dianggap unggulan (level satu) karena memiliki potensi pasien besar (sekitar 200 pasien setiap hari), digunakan pendekatan yang lebih seru, yakni mengundang jamuan makan malam. Pada pertemuan informal itu, bukan medrep lagi yang menemui, melainkan seorang manajer atau bahkan manajer senior. Pertemuan itu dimaksudkan untuk langsung mempromosikan keunggulan obat dan hitung-hitungan reward yang bakal diberikan. “Mereka bicara blak-blakan, tanpa malu-malu. Seperti bernegosiasi,” ungkapnya. “Bisa jadi negosiasinya berupa terima gaji bulanan dari pabrik obat yang bersangkutan,” sumber SWA yang mengelak disebutkan namanya itu menambahkan.

Dari pengalaman selama didekati perusahaan farmasi, seorang dokter pria “memuji”, perusahaan farmasi kini makin “pintar” memilih iming-iming hadiah. Seperti yang baru saja dialaminya, tiba-tiba ia mendapat bonus notebook Apple Mac dengan ucapan selamat hari Natal dan terima kasih telah membantu mereka. “Bagaimana mereka bisa tahu kalau anak saya membutuhkan notebook seri terbaru itu tahun lalu, padahal saya tidak pernah menceritakan kalau saya berencana akan membelinya buat anak saya,” paparnya keheranan.

Ada lagi seorang dokter muda flamboyan yang memperoleh hadiah Jaguar. Dari mana bisa? “Dokter itu memang gaya dan sangat terkenal di kotanya. Nggak tahulah, setiap tahun dia juga bisa liburan ke luar negeri dari perusahaan farmasi yang sama,” ungkap seorang pemilik apotek terheran-heran dengan hadiah yang menggiurkan itu.

Seorang mantan direktur keuangan sebuah rumah sakit swasta juga tidak heran dengan taktik medrep tersebut. Menurutnya, amat mudah melacak kebutuhan keluarga dokter. Dalam hal ini, lanjutnya, yang penting adalah hitung-hitungan bisnis. “Selama permintaan atau kebutuhan itu sesuai dengan bujet, hadiah dalam bentuk apa pun tidak masalah,” katanya. Dia mengamati, bonus bukan hanya berupa mobil mewah, tapi bisa jadi rumah mewah, dibangunkan klinik, atau malah uang tunai sehingga bisa memilih barang sendiri. “Ujung-ujungnya no limit,” ia menandaskan.

Terus, ada lagi, masih dari Majalah SWA.

Perusahaan farmasi, semakin agresif saja “menggarap” dokter, cara bermain mereka juga makin kasar. Misalnya, meminta dan mengumpulkan salinan resep dokter dari kertas karbon. Lalu, mengecek ke apotek untuk mendeteksi siapa menjual berapa, dan sebagainya.

Wooooooooooooo…….. keren bgt. Ada juga dari perusahaan farmasi yang ngasih kertas buat nulis resep, terus di bagian bawahnya sudah tercetak tulisan “Obat yang tertulis di resep tidak boleh diganti”. Lho, padahal kan ada hak pasien untuk mendapat obat yang rasional, yaitu harga yang pas untuk produk yang pas juga. Kasian donk konsumennya. Mana apoteker kan gak bisa seenaknya gonta-ganti obat, perlu nanya ke dokter dan persetujuan pasien juga. Nah kalo di resepnya udah ada tulisan kayak gitu, semakin dibatasi donk peran apoteker dan hak pasien….

Ketika mengetik artikel ini, aku berfikir? Ya gak etis lah sistem pemasaran kayak gini. Kan kasian pasien juga, mau gak mau kan kena imbasnya di harga obat. Biaya promosi akan masuk ke harga obat juga. Terus, pasien dapet obat yang mahal-mahal juga, padahal dia gak butuh obat itu. Atau betapa sakitnya perasaan sang dokter yang harus menuliskan obat X di setiap resep yang ia tulis, yang pasti ada penolakan dari hati nuraninya, tapi gimana lagi udah terlanjur dapet bonus sich.

Tapi tentu gak semua Medrep dan dokter kayak gitu.

Kata SWA, masalah pemasaran obat ethical: yang dibutuhkan di sini adalah keterbukaan perusahaan farmasi menyangkut mekanisme dan aktivitas usahanya. Bagaimanapun, konsumen yang merasakan akibat yang ditimbulkan dari terjadinya persaingan bisnis. Dan, cara pemasaran yang elegan jauh lebih bermanfaat jangka panjang ketimbang kepentingan sesaat.

Referensi

SWA majalah

About these ads

About admin

menebar ilmu pengetahuan

Posted on 12/28/2008, in PHARM MARKETING and tagged , , , . Bookmark the permalink. 46 Comments.

  1. lha teus kudu gimana? apoteker kah yang harus jadi medrep ?
    apakah itu solusinya sob/

    • apoteker menjadi medrep pun tidak bisa menjadi solusi yang ideal. karena waktu ketemu medrep dengan dokter sangat-sangatlah singkat, mungkin cuma beberapa menit di lorong atau sambil ngobrol di lift. di satu sisi memang, dokter sangat bergantung kepada medrep dalam hal update informasi obat (selain ikut seminar). jadi bagusnya, dokter kudu rajin belajar, si medrep juga jago ngasi info. si dokter jg kudu rajin menilai terapi yg dilakukan berhasil tidak pada pasien (titen). jika cocok dg satu merek ttt, bisa dipakai utk pasien yg lain dg penyakit yg sama

  2. sekarang ini posisi medical reps/detailer kurang mempunyai daya tawar di mata dokter…berbeda dengan tahun 80-an,dimana posis medical reps setara dgn dokter karena saling membutuhkan…banyak farmasi bermunculan,harga bersaing,dan iming-iming buat dokter,.komposis obat sama,tapi harga berbeda…ini karena sistem yang sudah rusak di negara kita…coba,seorang medrep berada di posis pasien,apa mau diresepkan obat yang mahal?.pasti mau murah khan….NGERI,kalau dikamar dokter antara medrep/farmasi dan dokter,seperti ngerjain PASIEN….lagian sekarang jadi medrep untuk farmasi lokal,ijasah SMA cukup…ngelus dada…

  3. Hidup ini pilihan….20 years in pharmaceutical company… marketing jobs is much interesting cause in connection with peoples..and our self. Think how we act and react. quess how they act and how to react. Just do what you can do is not enough, inovation is the key for the success.
    Please be honour what people choice for their life, by evaluate ourself. thanks for the comment of this Job. Medical Representatives…MERDEKA…!

  4. Gag semua yang diomongkan artikel ini benar,,,saya udah jadi medrep selama 2tahun…dan produk yg saya bawa adalah orisinal jadi tidak perlu susah2 menawarkan uang atau bahkan tubuh saya untuk di ajak tidur dokter…jadi cukup mampu yu bekal ilmu kesehatan yg baik maka produk saya bisa dipakai,,,,artikel ini terlalu memojokkan medrep,,,,dan satu hal lagi biasanya hanya medrep yang bernaung di perusahaan dalam negeri Yan mempunyai moral seperti artikel diatas…kalo diperusahaan saya tidak mungkin seperti itu karena peraturan perusahaan saya asing dan perusahaan asing mempunyai pakem2 yg harus dipatuhi dari negara

  5. yang terjadi sebenarnya seperti hukum marketing klasik,,, penawaran lebih banyak dari permintaan…persis seperti yang dikatakan oleh saudara Amir Kadal. Dengan demikian bargaining position prescriber dan apotek/RS lebih tinggi, sehingga diperlukan ongkos promosi lebih agar produknya laku diresepkan dan tersedia di apotek/RS. Medreps yang menjadi perpanjangan tangan kebijakan yang telah diambil perusahaan farmasi, menjadi bagai pelanduk yang mati di tengah-tengah ketika para gajah berperang, Kode etik di kalangan profesi dokter dan perusahaan farmasi menjadi kertas kosong yang tak bermakna. Konsumen/pasien menjadi penderita di buntut semua ini… sungguh miris menyaksikannya. Pemerintah sendiri tak mampu berbuat apa… sebagai regulator dan pengawas,,, mereka hanya bisa prihatin… dan kembali prihatin

  6. klo saran saya untuk perusahaan
    1.rubahlah sistem perusahaan tersebut jgnlah selalu membuat iming2 terhadap tenaga medis klo sistem salah hancurlah dunia kefarmasian
    2. perekrutan med.rep mulailah dari pengetahuan tentang knowledge karena image tenaga medis yg sekarang bukan karena knowledge tp image tenaga medis yg sekarang terhadap perusahaan farmasi adalah pensuport dana
    3. perekrutan medrep klo bs sesuai dgn bidangnya klo farmasi ya farmasi jgn dari bidang lain yg direkrut jadi tidak akan dipandang sebelah mata oleh tenaga medis

    saran saya thd medrep
    1.jagalah wibawa anda karena anda punya harga diri yg tidak hanya sekedar mempromosikan, dan menjual product tp juga memberikan tenaga medis tentang pengetahuan obat terbaru. sehingga anda tidak akan dipandang sebelah mata.

    • Mbak Elsa,
      1. kalau gak kasih iming-iming, apa ya laku produknya nanti? sementara ada satu obat yang dijual oleh puluhan perusahaan farmasi, seperti amoxicillin dan amlodipin, dengan merk dagangnya masing2,,, persaingan sudah tidak sehat. Posisi prescriber lebih tinggi, mereka tinggal milih produk mana dari sekian puluh produk dari perusahaan farmasi tersebut?
      kenapa perusahaan farmasinya yang harus merubah sistem? apakah semua kesalahan ini wajar ditimpakan ke perusahaan farmasi? di mana posisi pemerintah? IDI?

      2. saya setuju semmm,, kali kalau medreps perlu diberikan product knowledge yang baik, agar bisa menjelaskan produknya dengan komprehensif

      3. kalo cuman dibuka buat kalangan farmasi….berapa banyak sih para pencari kerja yang siap bekerja dengan target kunjungan harian dan target penjualan??? apa lulusan sarjana farmasi siap bekerja dengan sistem tersebut? naik motor kemana-mana, kepanasan, kehujanan, sudah nunggu lama, belum tentu diterima dokter…jaman sekarang aja, banyak perusahaan farmasi yang kesulitan mencari medreps,

      saya menerima dengan baik saran saudara untuk medreps agar bisa menjaga wibawa. Sebenarnya pada proses marketing, yang dijual bukan hanya produknya, tapi juga penjual dan perusahaannnya itu sendiri.

      saran buat dokternya sendiri apa nih?

  7. Karena beberapa faktor, termasuk didalamnya biaya promosi, harga obat bermerek jadi jauh lebih mahal daripada obat generik.
    Tapi kadang kala, harga yang mahal itu justru jadi “tool” marketing. Di masyarakat luas sudah terbentuk pemikiran bahwa obat yang harganya mahal pasti lebih manjur daripada obat yang harganya murah.
    Tentang aktivitas medrep sendiri, hmm… pergerakan mereka bukannya udah direncanakan sama orang-orang product management ya?
    Dan di product management itu biasanya dihandle orang-orang yang berlatar pendidikan farmasi. Walaupun gak semua orang product manag. adalah orang farmasi.

  8. tai khomi

  9. jgn salahkan medrep..mereka hanya ingin bekerja.salahkan sistim yg sudah merusak…akibat keserakahan dari masing”perusahaan farmasi,dan oknum”dr,apotek,rumah sakit
    yg ingin memperkaya diri sendiri.

  10. saya bukan orang dari medis apoteker dan farmasi..tapi sy senang bisa membaca dan mempelajari apa itu MR dan semua yg terjadi pada pernyataan kawan2 ada putih ada abu2 yang jelas mari kita kembalikan kepada niatnya..saya ingin jadi bagian dari MR satu saat nanti dengan tidak ada lagi menjustifikasi satu sama lainnya dan mewujudkan indonesia sehat..

  11. mantap,yg penting heppy.

  12. Coba bayangkan, satu jenis generik obat hipertensi : Amlodipin, tersedia lebih dari 25 merk dagang.dan ada lebih dari 10 yang dijual dengan nama generik. per butir di jual oleh pabriknya dengan rentang harga Rp 150,- hingga Rp 6.000,-

    Padahal semua Amlodipin yang ber-merk maupun generik oleh Badan Pengawas Obat & Makanan, dinyatakan berkhasiat. Tentunya sama manfaatnya untuk mengendalikan hipertensi. Pertanyaannya, mengapa rentang harganya begitu jauh ?

    jawabannya, selisih harga tersebut digunakan untuk biaya promosi. Lihat saja, pertemuan-pertemuan dokter di Hotel-Hotel mewah, sumber dananya dari mana ? Kalau bukan dari Perusahaan Farmasi. Biaya menginap, biaya transportasi, dan segala sesuatunya dari Perusahaan Farmasi.

    Analogi sederhana untuk mengerti rentang harga obat, sama dengan harga minuman ringan bersoda. harganya bisa sangat bervariasi. Di warung pinggir jalan, sebotol di hargai Rp 1.200,- sesuai yang tertera di tutup botol. Itu pun pengecer-nya sudah untung Rp 200,-.
    Minuman ringan bersoda dalam botol itu dijual di Warteg di hargai Rp 2.500,- Di Restaurant Padang di hargai Rp 5.000,- Di Hotel Bintang Lima di hargai Rp 15.000,- Di Diskotik di hargai Rp 25.000,-

    Begitulah harga obat di Indonesia. yang dapat untung terutama para dokter bila ybs praktek di tempat pribadi. Bila di Rumah Sakit yang otoriter, yang memaksakan para dokternya menggunakan obat yang sudah disediakan Rumah Sakit, maka yang untung adalah Pemilik Rumah Sakit. Tetapi bila di Rumah Sakit Pemerintah, maka banyak pihak yang dapat minta bagian dari Perusahaan Farmasi.

    Maka tidak mengherankan, obat yang harganya mahal (padahal bukan obat yang dipasarkan pertama/penemu/originator) lakunya luar biasa. Masuk di akal, karena selisih harga yang luar biasa itu bisa di bagi-bagi ke Dokter yang menulis resep, Apoteker, AA, Direktur Rumah Sakit.

    Sementara itu MedRep yang harus mengelola bagi-bagi tersebut, gajinya kecil sekali, mayoritas di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Tetapi Pemilik Perusahaan Farmasi umumnya pandai mengakali para MedRep-nya. yaitu dengan menggabungkan gaji dengan uang transport/bensin, uang sewa motor pribadi, Sehingga seolah-olah gajinya sedikit di atas UMR.

    MedRep akan dapat tambahan penghasilan yang lumayan bila dapat mencapai target. Tetapi itu sangat jarang terjadi, karena target yang ditetapkan Perusahaan Farmasi biasanya sangat tinggi untuk bisa di capai. Sekitar 5 – 20% saja yang bisa mencapai target.

    Ini semua terjadi, persaingan bebas dan semua pabrik farmasi bisa menjual obat apapun sepanjang mendapat ijin Pemerintah (dalam hal ini Oknum-Oknum Badan POM).

    Jadi untuk yang berniat jadi MR teruskan saja, dari pada ngganggur. Siapa tahu bisa segera naik pangkat, gajinya bisa bertambah. Syukur-syukur bisa jadi Direktur Marketing Farmasi, rentang gaji Rp 35juta s/d Rp 85juta ……. lumayan kan !

    • komentar Anda tepat sekali,,, hal-hal yang Anda sampaikan membuat posisi tawar medreps menjadi lebih rendah, sehingga prescriber bisa “jual mahal”, hehehe…. situasinya berbeda pada era 80-an,, di mana pemainnya tidak sebanyak kini….

  13. saya kena asma…d apotik RSUD saya harus bayar rp.30.000 buat nebus salbutamol kurang lebih 12 biji…setelah salbutamol sy habis pakai..saya beli d apotik dekat rumah habis rp.1600 dapet 10 biji….

  14. hmmm….. kerja sama antara perusahaan farmasi dengan dokter sudah menjadi rahasia umum di kalangan Medical Representative.. hal ini terjadi karena supply produknya sudah jauh lebih besar dari kebutuhan, sangat berbeda jauh dengan kondisi di tahun 80-an. Kini, bargaining position yang lebih tinggi membuat perusahaan farmasi bermain mata agar jangan sampai perusahaan kompetitor yang menang…

  15. saya baru akan menjadi medrep, membaca artikel ini saya jadi berfikir, akan menjadi sia sia dong seorang medrep yang hanya murni berjuang dengan skill jualannya kalah telak dengan pihak2 yang UUD (ujung2 duit). di berbagai lini marketing memang tidak di pungkiri si, dalam memperoleh target achiev mereka menghalalkan segala cara, tapi apakah memang caranya demikian??

  16. saya MedRep. saya bawa obat yang kasusnya sangat jarang (malah byk jg dokter yg blm bisa mendiagnosa penyakit tsb).
    -saya detailing ke dokter anak hari senin, saya jelaskan tentang obat yg saya bawa dan juga penjelasan tentang penyakitnya.
    -malam selasa saya di tlp dokter tersebut bahwa dia butuh obat yg saya sudah jelaskan kemarin (cito), saya langsung menuju bangsal rumah sakit tersebut (kondisi hujan lebat dan tengah malam).
    -saya menjelaskan kpd orangtua pasien tentang penyakit yg diderita putrinya, akhirnya si orangtua pasien mau menggunakan obat yg saya bawa, tentunya dengan menawar serendah mungkin.saya negosiasi ke atasan saya agar semua diskon dihabiskan utk pasien.
    -ketika obat datang, dokter dan perawat tdk ada yang bisa cara menggunakan obat tersebut, kemudian saya menjelaskan cara pemberiannya.
    -setelah diberikan, kondisi pasien membaik (tdk bisa sembuh, karena memang penyakit yg tdk bisa disembuhkan).
    kesimpulannya MedRep sebenarnya pekerjan mulia, penyelamat nyawa, pemberi informasi ke dokter, perawat, apoteker dll. kembali ke individunya masing-masing.

  17. Bukan cerita baru… Sudah tradisi……
    Apalagi sekarang, tiap perusahaan farmasi (PMDN) merekrut banyak Medrep baru yang tanpa dibekali teknik detailing yang mumpuni. Pokoknya asal bisa pendekatan ke dokter, rajin kunjungan dan bisa “deal” itu sudah cukup. Padahal mereka tugasnya menginformasikan produk obat, padahal prinsip yang harus selalu dipegang adalah obat sama dengan racun.
    Makin kacaulah dunia perdetaileran kita………

  18. semua lini bisnis seperti itu, bukan hanya di farmasi. ada yang “bener”, ada yang “keblinger”. saya mengalami langsung: distribusi obat di rumah sakit2 itu “dipermainkan”.

    contoh: rumah sakit membutuhkan obat+alkes dengan budget 100juta. “oknum pejabat” yg berwenang di RS akan order ke pihak ketiga(bkn lgsung ke distributor), tentu dengan meminta “diskon ekstra”. kalau diskon regular 20%, maka dia minta 40%, bahkan 70%. nah, laporan yang masuk ke manajemen RS ya 20% itu. sisanya? ya masuk kantong….kok bisa?hehehe…PIHAK KETIGA ini bisa perusahaan milik adik, kakak, ipar, keponakan, kakek, nenek, atau justru milik “oknum pejabat” itu sendiri. simple kan?

  19. rady sang petualang

    yang jelas semua tu tergantung dari cara pangdang kita aja,….semua jdi seperti rantai makanan….ada yg di korbankan,,,ada juga yang di untungkan….semua masih berjalan baik2 saja…..

  20. Terus terang sebagai seorang Apoteker, saya agak miris melihat kejadian di atas……setau saya entah apakah di indonesia sudah diberlakukan atau belum tetapi sudah ada beberapa negara yang melarang dokter untuk menulis resep….karena untuk menetapkan obat yang akan diberikan kepada pasien itu adalah tugas seorang Apoteker….Tugas seorang Dokter hanyalah mendiagnosa penyakit pasien…
    Saya tidak tau dimana yang salah..apakah belum ada pembicaraan mengenai hal ini baik dari IAI maupun dari IDI ataupun dari pemerintah.
    Dan mengenai sistem kerja medrep, saya tidak terlalu menyalahkan personil medrep tersebut karena mungkin medrep tsb “terpaksa” melakukan hal tsb karena tuntutan pekerjaan atau bahkan memang dr perusahaan obat itu sendiri yang membuat sistem spt itu…
    Tapi saya berharap semoga di masa depan semua akan kembali ke tempat yang sebenarnya sesuai dengan Tugas dan tanggungjawabnya msg2….
    Amin..
    Mas moko, salam kenal ya..

  21. Saya seorang manager di perusahaan farmasi. Perihal plus dan minus profesi medrep, sebenarnya imbang dengan plus minus profesi lain. Buat yang mau bekerja sebagai medrep, bekerjalah 100% untuk diri anda. Jangan hanya terpaku pada pencapaian target yang ujung ujungnya berbuat segala cara. Dan sangat penting juga untuk diketahui oleh profesi lain, jangan melihat sebelah mata profesi medrep. Dari mana seorang dokter maupun apoteker atau rumah sakit mengetahui perkembangan obat yang sangat cepat? Salah satu sumber utama adalah dari Medrep. Entah melalui detailing, simposium, seminar, dsb. So ambil sisi positifnya, jangan hanya dilihat sisi negatifnya.

  22. Pdhl aq br mo dftr jd medrep..yg sbnrnya bgaimana sich…?

  23. bangga jd seorang medrep karena menurut saya medrep itu sebagai duta besar dari perusahaan farmasi yg memperkerjakannya…..BRAVO

  24. pdhl, sy barusan diterima jd medrep. jd ragu2 neh.coba q cr info lain dlu deh…

  25. ya mungki gak sebagian Medrep berperilaku seperti itu, mungkin hanya segilintir oang yg memanfaatan kesempatan itu untuk berbisnis.

  26. Mambaca artikel dan semua komentar di atas memang memprihatinkan…. akan tatapi kembali ke filosofi semua aktifitas pasti mempunyai tujuan… perusahaan farmasi adalah jelas perusahaan bisnis bukan perusahaan sosial yang segala sesuatunya ada perhitungannya… bagi teman-teman dan pembaca yang mempelajari ilmu bisnis dari tingkat slta/smk bahkan sampai ke perguruan tinggi pasti paham dengan apa yang terjadi pada perusahaan farmasi atau profesi medical representative (medrep). Melihat pernyataan-pernyataan dari artikel diatas dan koment dari teman-teman, memang benar adanya bahwa sebagian perusahaan farmasi ada yang melakukan berbagai cara untuk mencapai Goal mereka… Tapi perlu teman-teman tahu tidak hanya di perusahaan farmasi atau profesi lainpun ada aliran kanan dan kiri dimana aliran kanan sesuai dengan kaedah dan prosedur perusahaan maupun perundangan dan hakekat kemanusiaan dan dimana aliran kiri di artikan menyimpang atau kebalikan dari aliran kanan.

  27. saya br mw daftar jd medrep..
    Tp stlah baca artikel ini..saya malah jadi takut.. :'(

  28. Saya baru jadi medrep,, saya merasa semakin ingin mengetahui lebih dalam lagi arti posisi medrep ini,, thanks bgt bwt artikelnya..

  29. Dunia farmasi memang penuh grey area, akan tetapi saya rasa bukan hanya difarmasi, bisnis lain pun pada prakteknya banyak kemiripan. Tapi saya yakin sekarang sdh banyak perusahaan farmasi terutama PMA yang cukup ketat dalam memasarkan obat ethical, sangsinya jelas jika terbukti melanggar.

  30. Sy sangat prihatin melihat perekonomian bangsa ini(terpuruk), dimana masyarakat yg butuh kesehatan dg pengobatan yg rasional malah di’komersial’kan oleh produsen dan oknum medis yg mementingkan diri sendiri. Sampai-sampai terjadi fenomena produk unggulan saat ini ‘PONARI SWEAT’. Kalau cost promotion yang bias itu dapat diterimakan pada orang-orang yang membutuhkan pasti Kesehatan bangsa ini akan tangguh dan menghasilkan generasi masa depan sehat-cerdas… gt

  31. mudah2an terwujud cita2mu,krn sesungguhnya cn itu sama dengan korupsi,jelas hitam gak abu2 lg. i prihatin mas,apoteker rs bs jg didetail.pdhal hrsnya kan apoteker bs obyektif memilih obat dg pertimbangan farmakoekonomi. beratt ngadepin temen sejawat kyk gt

  32. Wow..saya dukung niatan mas. setuju bgt,
    tapi saya juga bingung, kalo sistem yang terbentuk udah seperti itu. emang, simbiosis mutualisme juga sih.
    saya dapet cerita juga dari seorang dokter, katanya dia suka Rep yang:
    – sopan, detailing gak lama-lama
    – Rep yang bisa memasok pengetahuan buat dia, ttg info obat baru. Prinsipnya kita harus mumpuni terhadap obat, dari indikasi, interaksi obat. ya intinya hingga akhirnya obat kita di pertimbangkan oleh sang dokter.
    – dokter ternyata gak butuh yang kayak barang2 kecil, mungkin bisa dikatakn gak mutu kayak bulpen, map, ato kecil2 lain lah. mending dikasih buku MIMS kek atau DIH yang lebih berguna untuk memasok pengetahuan sang dokter.

    ok, semangat mas. saya doakan semoga sukses !!

  33. iya benar banget “fakta”, saya sekarang bekerja di sebuah perusahaan farmasi milik Bumn dan sedang mengikuti training selama 2 minggu (ceritanya). trainingnya tentang pengetahuan dunia medis: anatomi, obat, penyakit, speialisasi dokter, sampai komponen rumah sakit. selain itu saya juga ditraining tntang bagaimana membangun hubungan yang baik dengan pakar medis: cara ngomong, sikap, berpakaian, tapi ujung-ujungnya kesitu juga “agar produk dipakai rumah sakit ya mau-tidak-mau harus ikut juga sistem “kongkalingkong”. Parahnya dokter dan hampir seluruh karyawan rumah sakit sendiri minta duluan dan mewajibkan aturan itu. bingung kan!?
    saya sebagai anak perantauan bingung dan merasa terjepit melihat betapa pahitnya hidup di kota besar seperti Jakarta ini, jika saya mencari profesi yang lain. Saya berharap mampu mengubah kenyataan yang sudah ada. saya akan berjuang mengembalikan arah jalan praktisi medis ini baik dokter ataupun saya medical representative ke arah yang mulia, bermoral, dan lurus. kebajikan pasti pemenangnya, yakinlah pasti bisa. Tuhan pasti merestui kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers

%d bloggers like this: