Cerita tentang Efek Samping Obat


Kita sering mendengar adanya larangan minum obat tertentu karena adanya efek samping. Atau mendengar iklan jamu yang berbunyi: aman, sehat, dan tanpa efek samping. Apakah efek samping begitu menakutkan? Mari, kita lihat sejarah cerita-cerita obat berikut tentang efek samping.

Anda tau Viagra? Ya obat blockbuster keluaran Pfizer ini berisi zat aktif Sildenafil sitrat ini begitu populer di dunia sebagai aprodisiaka. Tapi siapa sangka, dulu obat ini sebenarnya dimaksudkan untuk obat antihipertensi dan angina. Nah, pasien yang minum obat ini kok jadi “ceng-ceng”. Akhirnya setelah di teliti, obat ini punya sifat sebagai vasodilator sehingga punya efek “ceng-ceng” tadi.

Asetosal, obat ini dikenal sebagai AINS (Anti Inflamsi Non-Steroid = NSAID, non steroid anti inflamatory drug). Ternyata asetosal pada dosis yang rendah 80-100 mg mempunyai sifat mengencerkan darah. Akhirnya, asetosal diindikasikan sebagai anti-platelet. Makanya untuk wanita yang lagi haid, jangan minum aspirin karena nanti darahnya jadi encer dan mengalir deras.

Prometazin, semula obat ini buat antihistamin, tapi punya efek samping yaitu membuat jadi kantuk, ya sebangsa CTM gitu. Semula, ngantuk ini dianggap efek samping yang tidak dikehendaki. Tapi siapa sangka, justru sifat ini dijadikan titik tolak untuk dikembangkan menjadi psikofarmaka dari golongan klorpromazin.

Anda tau minoksidil dan finasteride, yang dipasarkan masing-masing sebagai obat hipertensi (Loniten) dan obat hipertrofi prostat (Proscar). Ternyata, keduanya memicu pertumbuhan rambut, maka jadilah kemudian obat diluncurkan sebagai obat penumbuh rambut (Regaine dan Propecia).

Jadi, apakah efek samping itu? Menurut WHO (1970), definisi efek samping adalah segala sesuatu khasiat yang tidak diinginkan untuk tujuan terapi yang dimaksudkan pada dosis yang dianjurkan. Contoh terkenal dari efek sampping yaitu drama talidomid (1960-an) yang ternyata bersifat teratogenik.

Obat ideal hendaknya bekerja dengan cepat untuk waktu tertentu saja dan secara selektif, artinya hanya berkhasiat terhadap keluhan atau gangguan tertentu tanpa aktivitas lain. Semakin selektif kerja obat, semakin berkurang efek sampingnya. Sebagai contoh, klorpromazin dengan kerja tidak selektif yang dapat mengganggu banyak proses fisiologi tubuh yang lain. Pada postingan berikutnya, akan saya bahas tentang INTERAKSI OBAT, antara klorpromazin dengan banyak obat, ya gara-gara dia gak selektif itu.

Contoh obat yang sangat selektif adalah pengeblok enzim seperti fisostigmin dan alopurinol. Tapi timbul pertanyaan, benarkah obat yang kerjanya spesifik pasti aman dengan dalih karena spesifik sehingga tidak menggangu aktivitas yang lain? Bagaimana dengan obat Coxib, yang sangat selektif terhadap COX-2 saja, tapi ternyata ditarik lantaran punya efek yang jelek pada jantung. Simak artikel ttg Rofecoxib di: Rofecoxib, tak selamanya selektif itu Indah.

Download all about efek-samping-obat

http://www.abedia.com/dd/3b.php

http://as.wiley.com/WileyCDA/Section/id-320422.html

About these ads

About admin

menebar ilmu pengetahuan

Posted on 12/18/2008, in APOTEKER. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 154 other followers

%d bloggers like this: